
"Dokter, tekanan darah pasien menurun drastis."
Satu kalimat dari paramedis yang bertugas membuat tubuh Raffi limbung. Yang biasanya terjadi, tekanan darah Lendra akan melonjak tajam. Jadi yang mereka persiapkan adalah obat untuk menurunkan tekanan darah.
Raffi melirik monitor di sebelah kiri Lendra. Di mana angka tekanan darah Lendra mulai menurun. Panik seketika menyergap dokter itu.
"Hubungi bank darah! Minta mereka stand by! Siapkan tranfusi sekarang!"
Paramedia bergerak cepat. Satu kantong darah mulai dibuka. Sampai satu orang berteriak panik.
"Dokter! Pasien mengalami henti jantung!"
Raffi seketika berbalik, melihat monitor detak jantung Lendra mulai menunjukkan garis lurus.
"No! No! Defibrillator!" Raffi memberi instruksi.
Satu rak ditarik mendekat. Sebuah alat kejut jantung disiapkan.
"200 joule?" Raffi mengangguk.
"Bersiap untuk perdarahan ekstra." Raffi mengingatkan teamnya. Luka Lendra baru saja selesai dijahit. Namun dengan kejutan dari alat kejut jantung yang akan mereka gunakan. Bisa saja membuka kembali luka Lendra.
"Ready?!"
Satu kali alat itu diletakkan di atas Lendra.
"No respon!"
"Lagi!"
Sementara di luar sana, tangis Livia pecah saat mendengar penjelasan Christo soal Lendra.
"Lendra tidak bisa dibius total. Tubuhnya merespon berlebihan pada kandungan obat bius." Wanita itu kini memeluk Retno, sementara Retno hanya bisa diam, menatap penuh arti pada Christo. Keluarga itu sedang berada dalam masa khawatir dan ketakutan yang memuncak.
"Kembalilah, aku mohon. Aku akan memberimu kesempatan kedua jika kamu kembali bersama Irish." Satu bait permohonan Livia panjatkan dalam hati.
Terlebih saat Christo memberitahu, kalau Lendra selalu menghindari obat bius. Tapi demi Irish, dia rela mengambil resiko paling buruk yang pernah ada, kematian.
Ruang operasi
__ADS_1
"No respon!"
Raffi hampir putus asa. Dua kali dia berusaha mengembalikan detak jantung Lendra. Namun benda itu masih saja setia di posisi lempeng, belum mau menunjukkan lukisan artistik yang membuat semua orang bisa menarik nafasnya lega.
"Ayolah, Ndra. Masak iya lu mau nyerah. Irish sudah pasti bangun. Masak elu gak!" Raffi berteriak saking frustrasinya.
"Again!"
Raffi memberi instruksi. Sekali lagi defibrillator disiapkan.
"Ayo Ndra, elu bisa!"
Kembali ke ruang tunggu.
"Aku datang! Aku datang! Aku datang!" teriakan seorang gadis membahana di ruang tunggu. Semua orang mengalihkan perhatiannya pada seorang gadis yang kini berlari ke arah mereka.
Lira berhasil sampai setelah minta seorang tukang ojek yang melintas untuk mengantar dirinya ke rumah sakit.
"Lira....!" Christo berteriak. Antara terkejut juga lega. Gadis itu segera mengulurkan kotak yang sejak tadi di peluknya.
"Selamatkan kakakku!" kata Lira sendu. Gadis itu mulai menangis, saat Christo berlari masuk ke ruang operasi Lendra.
Ruang operasi
"Still no respon!"
"Oh ayolah, Ndra! You can through this! Jangan menyerah sekarang!"
Sekali lagi, Raffi tahu ini kesempatan terakhirnya. Jantung Lendra sudah beberapa detik berhenti. Aliran darah dan oksigen sudah pasti terhambat. Keadaan akan sangat berbahaya jika hal ini terus berlanjut. Dalam keadaan itu, telinga Raffi menangkap laporan dari seorang timnya.
"Serum dari Shanghai sudah sampai."
Raffi bergegas menyiapkan alat kejut jantung tersebut. "Kau dengar? Serummu sudah datang. Jadi kembalilah!" Tubuh Lendra melenting, saat alat itu membuat kejutan ekstra untuk membuat detak jantungnya kembali.
"Respon!"
Raffi memejamkan matanya, mendengar monitor mulai menunjukkan garis-garis abstrak yang menurut sebagian orang tidak berguna. Tapi bagi tenaga kesehatan manapun, hal itu lebih indah dan membahagiakan daripada lurusnya jalan tol yang bebas hambatan. Disertai bunyi khas mesin itu.
"Pendarahan ekstra, Dokter."
__ADS_1
Raffi dan asistennya kembali bekerja, luka jahitan diperiksa ulang. Transfusi darah mulai dilakukan. Suplai oksigen naik perlahan. Detak jantung stabil, meski masih dibawah rata-rata denyut jantung orang dewasa.
"Oke. Kita lihat, oleh-oleh apa yang diberikan Om Alex dari Shanghai." Raffi mulai membuka kotak serum yang baru saja diulurkan oleh seorang anggotanya.
Empat tabung kecil, Raffi memasukkan kembali botol dengan label dope (obat bius) ke dalam kotaknya. Pria itu mengambil botol dengan label cure (menyembuhkan). Lantas membawanya mendekat ke arah Lendra.
Pria itu memeriksa monitor Lendra. "Ini berisi sebuah formula yang bisa membuat keadaan Lendra menjadi lebih baik, I call this miracle."
Raffi tersenyum samar, membaca tulisan Alex. "Oke, kita lihat. Keajaiban apa yang bisa kamu lakukan."
Pria itu menerima satu set alat injeksi dari asistennya. Raffi sudah memeriksa keadaan Lendra. Stabil meski lemah. Perdarahan masih sesekali terjadi. Dan denyut jantung Lendra masih dibawah rata-rata. Sebuah suntikan intravena Raffi lakukan.
"Bersiap dengan kemungkinan terburuk." Semua tim kembali waspada. Dua hal yang bisa terjadi pada pasien, tiap ada satu obat yang dimasukkan ke dalam tubuh mereka. Menolak atau menerima. Terlebih dalam hal ini, serum yang masuk ke tubuh Lendra belum pernah diujikan kepada siapapun. Sebab serum tersebut memang Alex buat berdasarkan keadaan tubuh Lendra.
Satu menit, lima menit. Sepuluh menit. "Dok....."
Ujung bibir Raffi tertarik. Perlahan, denyut nadi Lendra merangkak naik. Suplai oksigen mulai.
terpenuhi, setelah angkanya juga merayap naik.
"Ini benar-benar sebuah keajaiban."
Prediksi Raffi, dengan keadaan Lendra yang seperti tadi. Pria itu memerlukan waktu lebih dari 24 jam untuk memulihkan kondisinya. Tapi lihatlah, tak kurang dari tiga puluh menit. Kondisi Lendra berangsur membaik dan stabil. Serum milik Alex bekerja pelan namun pasti. Benda itu seolah mengawal setiap organ dalam tubuh Lendra untuk pulih secara perlahan. Tidak tergesa-gesa hingga bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi Lendra.
Semua orang menarik nafas lega. Boleh dikatakan, ini adalah empat jam yang penuh dengan thriller, bak adegan film action serta sedikit scene horor yang pernah mereka lalui.
"Good job guys!" Raffi memberikan apresiasi untuk teamnya. Semua orang bertepuk tangan, saling tersenyum satu sama lain. Sebuah kelegaan luar biasa terlihat dari wajah mereka. Beberapa dari mereka nampak menarik nafas bersamaan.
"Jangan lengah. Kita akan mengobservasinya dalam 2 × 24 jam." Instruksi terakhir dari Raffi. Sebelum pria itu keluar dari ruang operasi itu.
"Siap Dokter!" Senyum Raffi kembali mengembang mendengar jawaban penuh semangat dari timnya. Meski ada sedikit kesalahan, tapi itu akan menjadi pelajaran untuk mereka ke depannya.
***
Double up guys, author sedang kesurupan 🤭🤭
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1