
Lendra meringis ketika Rafi membersihkan luka di pinggang pria itu. Luka sedalam tiga senti itu lumayan membuat Lendra mengerang tiap kali Rafi menyentuhnya.
"Pelan Raf." Protes Lendra. Sedang Rafi langsung berdecih pelan melihat kelakuan Lendra. Temannya ini memang tidak tahan sakit. Luka kecil saja Lendra sampai meraung-raung saat diperiksa.
"Alah nyakitin hati banyak cewek, lu B aja. Sekarang cuma kena gores pisau aja lu teriak-teriak kayak bayi." Balas Rafi cepat.
"Eh anaknya pak Riko sama Bu Kanaya, ini luka tiga senti." Tukas Lendra tidak mau kalah.
"Heleh....dulu bapakmu sepuluh senti waktu nyelamatin nyokap lu. Udah diam ah jangan banyak protes."
Lendra kicep seketika. Pria itu tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Sementara di depan sana, tampak Livia yang bicara pada Bian. Pria itu langsung meluncur ke rumah sakit tempat Rafi bekerja. Setelah Livia menghubunginya menggunakan ponsel Lendra. Ditambah Atta yang juga berada di sana.
"Kau tahu mereka suruhan siapa?" Atta bertanya setelah pria itu kembali dari gudang tempat lima orang itu disekap. Bantuan Atta datang tepat waktu hingga keadaan Lendra dan Livia baik-baik saja.
Livia menggeleng, sampai Atta menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Wanita itu melotot tidak percaya melihat siapa yang sudah melakukan hal menakutkan itu.
"Lalu sekarang bagaimana?" Livia bertanya.
"Ya, semua tergantung Bu Vera." Atta menjawab.
"Enak saja. Aku harus ngasih perhitungan dulu sama mereka." Suara Lendra membuat ketiga orang itu menoleh.
"He, jangan ngadi-ngadi ya lu. Lukanya baru aja diperban. Jangan aneh-aneh. Jangan banyak gerak." Rafi muncul memberi peringatan pada Lendra.
"Siapa juga yang mau banyak gerak. Kan gue bisa nyuruh mereka buat ngerjain tu preman jalanan. Enak aja, Lexus gue bonyok tu."
Sungut Lendra penuh emosi. Ketiganya pun melangkah keluar dari tempat itu. Cukup paham dengan apa yang atasan mereka mau. Lagi pula mereka sudah lama tidak dapat samsak hidup. Lumayan buat olahraga gratis. Atta dan Bian tersenyum arti.
__ADS_1
"Kalian mau ke mana sih?" Livia bertanya. Ketiga pria itu menghentikan langkahnya. Memberi kode kalau ini urusan laki-laki. Livia berdecih kesal. Wanita itu lantas keluar dari ruangan Rafi setelah pamit pada dokter itu.
Saat ada di luar rumah sakit, Livia memilih mencari taksi tapi Atta memanggil. Pria itu akan mengantar Livia pulang.
Sementara itu, di sebuah gudang tua, tampak Lendra yang tengah menikmati pertunjukkan di hadapannya. Kelima preman itu disuruh saling hajar hingga babak belur. Sudah hampir satu jam dan Lendra belum mengizinkan mereka berhenti. Tubuh para preman itu sudah penuh luka dengan darah mengalir di mana-mana.
"Pak, tolong ampuni kami. Kami cuma melaksanakan tugas." Mohon seorang pria yang sudah tidak sanggup berdiri lagi.
"Nggak lanjutkan. Kau buat Lexusku masuk bengkel. Sudah bagus aku cuma suruh saling hajar. Kalau aku suruh kalian buat bayar biaya perbaikan Lexusku, mampus kalian!"
Bian terkekeh mendengar kemarahan sang atasan. Lexus oh Lexus, kau jadi kambing hitam kali ini. Padahal semua biaya perbaikan Lexus Lendra ditanggung asuransi. Sa ae lu, Ndra.
"Kira-kira apa yang akan Nenek lakukan?" Bian bertanya setelah bisa menghentikan tawanya.
"Apalagi, pecat saja. Buang ke luar angkasa."
"Akan kupastikan dia dapat reward yang setimpal." Seringai Lendra penuh arti.
"Jangan mulai lagi deh, Ndra. Lu gak gila kan?"
"Otewe, Bi. Makanya gue perlu pelampiasan." Geram Lendra.
Sementara itu, di rumah Livia.
"Bu....kenapa baru pulang?"
Atta melongo melihat Irish yang menyambut Livia, dan memanggilnya ibu. Setahu Atta, Livia masih single statusnya. Lalu itu anak siapa? Segala tanya di kepala Atta sepertinya tidak akan mendapat jawaban sebab Livia memilih masuk ke rumah tanpa kata sambil menggandeng gadis kecil manis itu.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Irish Isabell Adhitama
Terdengar gumaman Irish soal Atta. Samar Irish bertanya, apa dia yang bernama om Atta? Atta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Anak itu tahu soal dirinya. Ini aneh.
Atta masih bisa melihat bagaimana sayangnya Livia ke gadis kecil itu. Pertanyaan itu masih berputar di kepala Atta ketika pria itu melajukan mobilnya keluar dari rumah Livia.
Keesokan harinya di pabrik Tania & Co. Rapat pemegang saham darurat digelar. Dalam waktu dua jam seluruh pemegang saham hadir di sana. Termasuk Lendra. Pria itu punya 12.5%, bersama Lira sang adik mereka punya 25%.
Livia tentu heran melihat Lendra yang duduk di barisan kursi pemegang saham. Dia tidak tahu ada nama pria itu dalam list pemegang saham Tania & Co.
Tidak ada basa basi dalam rapat itu. Sebab Vera sudah terlalu geram dengan kelakuan Pramana. Semua bukti sudah terkumpul dan pihak polisi sudah menerima laporannya pagi ini. Selain penyerangan pada Livia, pria itu juga bertanggungjawab dalam penyelewengan dana, yang seharusnya menjadi tunjangan bagi karyawan outsourching yang diangkat jadi pegawai tetap. Bukannya diberikan pada yang berhak, uang itu justru masuk rekening pribadi Pramana setelah kepala departemen keuangan menyetujui.
Beberapa peserta rapat terkejut dengan kelakuan Pramana tetapi bagi antek-antek Pramana mereka tentu sudah hafal dengan aksi pria itu. Pramana jelas menyangkal segala tuduhan yang dilayangkan padanya meski semua bukti mengarah padanya. Bukti akurat, tak terbantahkan.
Pada akhirnya meski Pramana berusaha melawan dan meronta dari cekalan polisi, pria itu tidak bisa berkutik kala dua anggota polisi menyeret pria itu keluar dari ruang meeting. Keluar dari kawasan Tania & Co.
"Livia kau dengar aku! Aku akan balas dendam! Ingat itu!" teriak Pramana saat diseret dari ruang rapat. Inilah akhir perjalanan seorang Pramana.
***
Maaf dikit. Mata gak bisa melek guys.
Up lagi readers.
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
***
__ADS_1