
Di sisi lain, Natalie langsung membanting barang yang ada di kamarnya. Satu laporan dari anak buahnya mengabarkan kalau Lendra ternyata memiliki anak dari Livia. Wanita itu menggeram marah. Pantas saja, Lendra sibuk mengejar wanita itu. Satu rencana kembali tersusun di otak Natalie. Wanita itu tidak akan membiarkan Lendra bahagia, setelah pria itu mencampakkanya.
"Lihat saja, aku akan mengambil apa yang paling berharga dalam hidupmu." Seulas senyum mengerikan terbit di bibir Natalie. Rasa benci sudah menguasai hati wanita itu. Baginya, tidak ada yang boleh merasa bahagia selama dirinya tersiksà.
Di tempat Pasha pula, pria itu justru termangu setelah mendapat telepon dari Natalie kalau Livia punya anak dari Lendra. "Jadi malam itu kau benar-benar menidurinya? Hebat!" kata Pasha.
Berbeda dengan Natalie yang semakin benci, Pasha justru penasaran dengan putri Lendra dan Livia. Pria itu kini tengah menunggu laporan dari anak buahnya yang sedang mencari tahu soal anak Lendra.
Tak berapa lama ponsel Pasha berbunyi. Pria itu terdiam mendengar laporan orang suruhannya. "Di rumah sakit?" gumam Pasha selanjutnya. Beberapa dugaan muncul di benak Pasha. Sakit apakah gadis kecil itu, sampai dirawat intensif di rumah sakit. Bahkan pengawalan ekstra ketat diberikan di lantai tempat putri Lendra dirawat.
*
*
Livia membuka mata, rasa pegal menyerang punggungnya. Dia tidur dengan posisi duduk. Satu hal yang membuat wanita itu tersenyum adalah jarinya yang berada dalam genggaman Irish. Di tambah tangan Lendra menggenggam tangannya dan Irish. Sebuah perlindungan yang coba Lendra berikan untuk dua orang yang kini sangat dia cinta.
Meski detik berikutnya, senyum Livia pudar. Melihat kulit dan kuku Irish yang sudah berwarna kekuningan. Satu tanda khas dari penyakit yang menyerang hati. Hati Livia kembali terasa sakit. Wanita itu membekap mulutnya saat tangisnya mulai tak terbendung. Apa yang kini dapat dia lakukan untuk sang putri? Semua yang terjadi pada putra dan putrinya adalah salahnya.
"Jangan terus menyalahkan diri." Satu suara membuat Livia menoleh. Saat itu dilihatnya Lendra yang tengah memandang dirinya. Mata pria itu berkaca-kaca. Sama seperti Livia, pria itu juga menangis. Bisa dikatakan Lendra tidak tidur saat menunggu Irish. Pria itu lebih banyak menyesali segala tindakannya.
Bagaimana dia tidak pernah mencari Livia sama sekali setelah hari itu. Hari di mana Livia mengatakan akan menikah dengan Pasha. Bagaimana dia dengan bodohnya percaya bahwa Livia tinggal di Thailand, tanpa dia tahu kalau selama ini Livia tinggal di Sidney bersama sang nenek. Bersama-sama membesarkan Irish dan Isac.
"Aku ini bodoh sekali!" umpat Lendra pada dirinya sendiri. Pria itu menatap wajah sang putri yang nampak terlelap. Lendra teringat bagaimana manisnya Irish saat tersenyum. Senyum Livia.
"Nyatanya ini memang salahku." Kata Livia lirih. Wanita itu menundukkan wajah. Menyembunyikan tangis yang kembali menderanya. "Yang Christo katakan benar. Aku egois." Sambung Livia.
__ADS_1
"Kalau begitu mari perbaiki semuanya setelah semua ini berakhir. Kita singkirkan ego kita. Dan mulai dengarkan dia." Perkataan Lendra membuat Livia mengangkat wajahnya. Melihat pria yang sudah bersemayam di lubuk hatinya sejak enam tahu lalu. Satu-satunya pria yang Livia benci sekaligus cinta.
Tangan Lendra perlahan terulur, mengusap air mata yang mengalir di pipi Livia. Lendra tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Livia. Juga berapa banyak derai air mata saat Livia kehilangan Isac. Tidak bisa Lendra bayangkan bagaimana Livia berjuang menghadapi kesedihan seorang diri.
"Mari mulai semua dari awal, saat Irish sembuh." Pinta Lendra. Pria itu tidak akan melepaskan dua orang ini dari hidupnya. Dua mata itu saling pandang untuk kesekian kalinya. Hingga Livia memutus kontak mata mereka. Tanpa berucap sepatah kata pun.
"Kita tidak bisa melakukannya, jika kandidatnya kamu!" Rafi tegas menolak saat hasil tes menyatakan kalau Lendra adalah pendonor yang tepat untuk Irish.
"Kenapa? Aku pasti bisa bertahan. Itu sudah lama berlalu. Sekarang tentunya jauh berbeda." Lendra berusaha membujuk Rafi. Irish harus segera dioperasi. Dan Lendra akan mengambil semua resiko, asal Irish bisa sembuh. Tidak peduli bahkan jika itu nyawanya sendiri sebagai taruhan.
"Tapi Ndra, kamu tahu benar kalau kamu tidak bisa melakukan ini. Tante Lana dan Om Vi tidak akan mengizinkannya. Resikonya terlalu besar."
"Lalu apa kita harus menunggu Lira? Lira baru sampai besok. Irish tidak bisa menunggu lagi."
Pilihan pendonor kedua adalah Lira. Adik Lendra, wanita itu tengah berusaha sampai Surabaya secepatnya. Shanghai tengah mengalami badai musim dingin yang cukup hebat. Otoritas bandara setempat sudah melarang penerbangan ke dan dari Shanghai. Bisa dipastikan bagaimana kacaunya keadaan di sana. Meski calon suami Lira punya kekuasaan di Shanghai. Namun soal safety mereka tidak bisa membantah.
Salah satu tujuan Lira pulang adalah untuk mengantarkan serum itu. Serum buatan sepupu ayah Hugo yang berprofesi sebagai ilmuwan.
"Kak bagaimana ini? Jika kakakku naik operasi tanpa serum ini, sama saja dia bunuh diri." Kata Lira sendu.
"Jangan cemas dulu. Om Alex sedang terhubung dengan Om Rafi. Mereka sedang berkoordinasi untuk membuat serum ini untuk kakakmu. Kita jelas tidak bisa sampai sana tepat waktu."
"Tapi kata Om Alex, ada satu bahan yang tidak ada di lab rumah sakit om Rafi. Cuma ada di sini." Lira sungguh khawatir sekarang. Gadis itu tentu bahagia saat diberitahu kalau dia sudah punya keponakan meski keadaan Irish kritis. Semua bertambah gawat saat nama Lendra, sang kakak yang naik dan memenuhi persyaratan untuk mendonorkan hati untuk Irish.
"Kita akan menemukan jalannya. Jangan khawatir. Badai mulai mereda. Dalam dua atau tiga jam kita bisa pergi." Bujuk Hugo.
__ADS_1
"Sama saja sampainya besok, Kak." Sungut Lira.
"Daripada tidak sama sekali." Sambung Hugo.
Lira terdiam. Yang dia pikirkan adalah nasib sang kakak. Bagaimana jika sang kakak nekad demi menyelamatkan sang putri, pria itu mengabaikan keselamatannya sendiri.
Sementara itu, Lendra sedang bersimpuh di hadapan Lana, sang Mama dan tentunya Vi. "Apa tidak ada jalan lain?" tanya Vi. Pria itu jelas sedang dilema. Satu sisi putranya, penerusnya. Di sisi lain Irish. Cucu keluarga Aditama yang juga penerus keluarga itu. Keduanya sama pentingnya, namun bagaimana jika keadaan memaksa mereka memilih salah satu.
"Sejauh ini masih diusahakan." Jawab Lendra sendu. Lana dan Vi saling pandang. Pilihan yang sangat sulit untuk Lana dan Vi, terlebih Lana.
"Ma, izinkan Lendra, biarkan aku berusaha menebus kesalahanku, Ma." Mohon Lendra.
Tangis Lana mulai terdengar. Andai dia ada di posisi Lendra. Dia juga akan melakukan hal yang sama. Melakukan apapun untuk menyelamatkan anak mereka.
"Semua keputusan ada padamu." Pada akhirnya hanya kalimat itu yang Lana ucapkan, setelah Vi mengangguk setuju. Lana segera memeluk Lendra, putra sulungnya. Tangis wanita itu pecah mengingat bisa jadi ini terakhir kalinya mereka bertemu.
Saat itulah Rafi berlari masuk ke ruangan itu. "Serumnya siap. Setidaknya itu akan berbeda dengan obat bius biasa. Alex benar-benar luar biasa. Dan kabar gembiranya. Lira dan Hugo sudah dua jam mengudara. Saluran komunikasi baru saja terhubung."
Senyum merekah di wajah semua orang. Kini semua beres. Terlebih Lendra. Keputusan sudah diambil, dan dia siap menghadapi resikonya. termasuk hal paling menakutkan untuknya, kematian.
***
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***