
Rafi tersenyum lebar melihat kondisi Irish. Gadis kecil itu melalui masa operasi dengan baik. Sang istri juga berkata tidak menemukan kesulitan yang berarti saat menangani Irish. Hingga sepuluh jam waktu operasi Irish berjalan sangat lancar. Semua orang saat ini sedang harap-harap cemas menanti dua orang itu sadar. Dalam pengamatan Raffi dan tim dokter, seharusnya dua orang itu akan baik-baik saja. Meski Irish belum melewati masa kritisnya, namun keadaan gadis kecil itu sangat stabil. Hal ini berbanding terbalik dengan Lendra, pria itu masih mengalami pasang surut denyut jantung dan tekanan darah. Sampai suntikan serum dari Alex mengatasi keadaan Lendra.
Pun dengan Irish, tubuh Irish merespon baik serum dari Alex. Serum itu menurut Alex, sedikit melemahkan sistem kekebalan tubuh Irish, tapi tidak mengurangi tingkat ketahanan tubuh Irish dalam menghadapi kemungkinan infeksi yang bisa saja menyerang tubuh Irish.
Sistem kekebalan tubuh perlu diturunkan agar tubuh Irish lebih mudah menerima hati baru yang didonorkan padanya. Jika sistem kekebalan tetap pada kondisi biasa, dikhawatirkan kalau tubuh akan segera menolak benda asing yang masuk ke tubuh Irish. Melawannya lantas menghancurkannya. Ini tentu tidak akan bagus. Meski sebagian besar transplantasi hati sukses di lakukan.
"Bagaimana?" Lana bertanya, saat Raffi memeriksa kondisi Lendra. 1×24 jam dan pria itu belum sadar juga. Pada lazimnya bius total akan hilang pengaruhnya kurang dari 12 jam.
"Keadaannya stabil, Tan. Cenderung membaik. Kita tunggu saja, jika sampai nanti siang dia belum sadar kita akan berkoordinasi dengan tim dokter. Untuk mengambil tindakan medis susulan. Dia harus segera bangun." Jelas Rafi sedikit cemas.
Lana menghela nafasnya. Wanita itu juga khawatir seperti Rafi. Di luar ruangan tampak Livia yang ragu untuk masuk. Wanita itu baru saja dari tempat Irish, menengok gadis kecilnya yang baru saja melewati masa kritisnya.
Livia menundukkan wajahnya, hingga ketika Lana sudah berdiri di hadapannya, wanita itu tidak tahu.
"Masuklah." Satu kalimat dari Lana membuat Livia mengangkat wajahnya. Dilihatnya Lana yang tengah tersenyum padanya.
"Dibandingkan aku. Dia pasti lebih ingin mendengar suaramu." Livia tertegun. Meski detik berikutnya, wanita itu sudah berada di samping bed pasien Lendra. Pria itu masih setia terpejam, dengan tubuh setengah topless, karena banyaknya selang yang menempel di dada Lendra. Ditambah bekas luka operasi yang nampak dibalut perban putih.
Livia bergeming, menatap wajah pucat Lendra yang masih terpasang selang oksigen. Perlahan tangan Livia terulur, menyentuh tangan pria itu. Sungguh, perasaan Livia sangat sukar untuk digambarkan. Ada haru, sedih, cemas dan sederet rasa yang dia sendiri tak mampu menceritakannya.
"Bangunlah." Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari bibir Livia. Wanita itu mulai terisak, mengingat bagaimana Rafi bercerita kalau Lendra sempat mengalami gagal jantung saat operasi.
Untuk beberapa waktu, hanya isak lirih Livia yang terdengar. Hingga satu gerakan di tangan Livia membuat wanita itu mengalihkan perhatiannya pada Lendra. Pria itu masih memejamkan mata. Namun wanita itu yakin, kalau tadi jari Lendra bergerak dalam genggamannya.
"Jadi apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?" Christo bertanya di tengah makan siang mereka. Ada Retno di antara mereka. Livia mengedikkan bahunya. Tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tidak ada rencana lain dalam kepala Livia selain menjaga Irish sepenuh hati. Dia tidak mau lagi kecolongan seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
"Apa kamu akan menerimanya?" tanya Retno. Livia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia juga tidak tahu bagaimana akan menghadapi itu.
Terdengar dengusan geram dari Christo. Pria itu sedikit jengkel dengan sifat Livia yang keras kepala.
"Nama belakang Irish dan Isac adalah Aditama. Secara hukum mereka adalah keturunan keluarga itu. Tes DNA bahkan sudah kami lakukan saat si kembar berusia tiga tahun."
"Mereka memang anak Lendra, tapi itu tidak membuatku harus menerima ayah mereka menjadi pendampingku kan. Aku memerlukan cinta untuk menerima seorang pria menjadi suamiku."
"Dan kau memilikinya untuk Lendra. Berhentilah membohongi dirimu sendiri, Via. Sudah cukup, kau membuatmu dirimu menderita karena kerasnya hatimu pada dirimu sendiri."
Livia terdiam mendengar pendapat dari Retno. "Kau mencintainya, karena itu kau tidak bisa menerima pria lain dalam hidupmu. Bahkan ketika Jeff terus mengejarmu dengan semua lamaran gila yang dia lakukan untukmu." Sambung Retno.
Ya, ada seorang pria bernama Jeff yang sangat mencintai Livia di Sidney. Berapa kali pria itu melamar Livia. Namun wanita itu selalu mematahkan angan Jeff untuk bisa hidup berdua dengannya. Sampai akhirnya pria itu menyerah setelah Livia menegaskan kalau tidak akan pernah menerima lamaran Jeff.
"Pikirkan lagi. Semua tidak akan lagi sama setelah ini. Sebentar lagi, Om Vi pasti akan membuat press konference soal Irish dan Isac. Yang mereka pertimbangkan saat ini adalah bagaimana menjelaskan pada publik soal dirimu. Ibu dari cucu keluarga Aditama. Pengacara sedang bergerak untuk memvalidasi semua hal soal si kembar. Mereka akan masuk dalam jajaran penerus Aditama Group."
Livia termenung di samping tubuh Irish. Sang putri masih juga belum sadar, meski kondisinya sangat baik. "Apa yang harus Ibu lakukan I. Semua ternyata tidak semudah yang ibu bayangkan. Ibu hanya ingin menjalani hidup dengan baik bersama kalian. Bersamamu. Tapi kenapa semua jadi rumit begini." Livia menghembuskan nafasnya kasar.
"Rumit apanya? Kau tinggal bilang iya dan semua akan beres."
Suara Rafi membuyarkan monolog Livia. "Apa sih yang kau ragukan soal dirinya?" Rafi bertanya sambil membenarkan selang infus Irish. Pria itu menatap lembut pada Irish. Terakhir kali dia bertemu gadis kecil itu, wajah ceria Irish yang terbayang di benak Rafi.
"Gadis cilik yang cantik. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana rupa Isac. Apa dia Irish versi cowok."
Livia tergelak. "Isac adalah Lendra versi mini."
__ADS_1
"Kau mengakuinya kan?" Livia terdiam seketika.
Untuk sejenak, keduanya kembali terdiam. "Bukan hanya karena cinta, dua orang memutuskan untuk bersama. Bisa jadi karena mereka memiliki tujuan yang sama."
Rafi menatap Livia penuh arti. "Cinta bisa tumbuh karena seringnya bersama dan terbiasa. Sedangkan tujuan yang sama sering kali susah di capai ketika visi dan misi dua kepala itu sudah berbeda."
Livia tidak menjawab satu kata pun mengenai pandangan Rafi soal hidup bersama dalam artian menikah. Wanita itu sibuk mencerna soal tujuan apa yang mereka miliki seandainya dia mempertimbangkan permintaan Lendra. Suasana hening itu tiba-tiba buyar setelah sebuah panggilan masuk ke ponsel Rafi.
"Tuan Aditama? Aku akan ke sana sekarang."
Rafi keluar dari ruangan Irish, disusul Livia setelah wanita itu mencium kening sang putri.
"Ada apa?" Rafi menggeleng, mendengar pertanyaan Livia.
***
Kredit Instagram.com @queen_fff
Livia Kaira
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***