Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Ancaman


__ADS_3

Mata Lendra berkaca-kaca melihat Irish yang ada di depannya. Tangan pria itu terulur, mengusap pipi gadis kecil yang juga tengah menangis.


"Ayah...," lirih Irish. Demi apapun, Lendra ingin sekali memeluk tubuh mungil itu, jika tidak mengingat kondisinya. Menghujani Irish dengan pelukan dan ciuman. Lendra tidak pernah menyangka di usianya yang memasuki kepala tiga, dia punya seorang putri yang sangat cantik. Juga seorang putra, seharusnya.


Irish ingin merangkak naik ke tempat sang ayah, namun Rafi mencegah. "No...no....jangan I, nanti lukanya terbuka lagi. Please, Om mohon," pinta Rafi lembut.


"Pengen peluk ayah, Om," rengek gadis kecil itu.


Semua orang seketika tergelak mendengar suara manja Irish. Air mata yang tadi berurai karena terharu melihat pertemuan ayah dan anak itu, seketika berubah menjadi lengkung senyum yang membuat hati Livia tercubit. Salahkah dia dengan membawa Irish dan Isac pergi? Wanita itu buru-buru menundukkan kepalanya. Saat rasa bersalah itu membawa bulir bening kembali turun di pipinya.


"Jangan terus menyalahkan diri." Livia menoleh ke samping, di mana Vera terlihat menatapnya. Vera sendiri paham, rasa bersalah kini bersarang di hati Livia. Namun semua sudah terjadi. Andai pengulangan itu ada. Tentu Livia ingin pulang ke masa lalu, memperbaiki kesalahannya.


Di depan mereka kini Vi, si kakek tampan yang memeluk sang cucu. Pria itu jelas terharu melihat seorang cucu cantik, putri si biang kerok ada di hadapannya.


"Biang kerok betullah kamu ini." Maki Vi melihat pada Lendra yang hanya bisa tersenyum kecut. Semua salahnya, hingga gadis kecil dan putranya menderita. Air mata pria itu kembali mengalir, saat mengingat Isac. Bagaimana keadaan sang putra di sana? Apa dia baik-baik saja?


"Kakak baik-baik saja. Jangan khawatir." Kata Irish tiba-tiba. Gadis kecil itu melihat ke arah sang kakak yang berdiri di samping Lendra. Terang saja, perkataan Irish membuat semua orang saling pandang.


"Irish bisa lihat Kakak?" tanya Livia. Wanita itu pikir harus memastikan sesuatu.


"Iya, kakak ada di samping ayah." Kali ini semua terkejut dengan pengakuan Irish.


"Yang benar, bie." Christo yang menyahut.


"Isshh, papa tidak percaya Irish ya."


Lendra mendelik mendengar panggilan Irish pada Christo. "Hei, bagaimana bisa anakku manggil papa padamu. Aku ini ayahnya." Protes Lendra.


"Jangan berdebat sekarang!" Satu kalimat dari Livia membuat dua pria itu kicep. Mereka tidak berani melawan Livia.

__ADS_1


"Yah, diam dulu. Kakak pengen meluk ayah." Lagi, ucapan Irish membuat semua orang saling pandang. Apa Irish benar-benar indigo alias bisa melihat makhluk tak kasat mata. Sementara Lendra tubuhnya langsung menegang kala hawa dingin seolah menyerangnya. Detik berikutnya, pria itu merasa sesuatu menyentuh tubuhnya.


"Terima kasih sudah mengantarku." Bisik Isac. Dua mata Lendra melotot mendengar suara sang putra. Andai pria itu bisa melihat Isac, pria itu pasti bangga, Isac adalah Lendra versi mini, persis seperti kata Livia.


"Isac kamu di sini?" batin Lendra.


"Ya, ayah aku di sini."


Lendra terkesiap mendengar suara Isac. Dia bisa mendengar suara sang putra. "Maafkan ayah, Isac. Ayah tidak bisa menemuimu. Ayah tidak bisa memelukmu." Perih jelas tersirat dalam perkataan Lendra dalam hati. Untuk beberapa waktu, semua orang terdiam, melihat Lendra yang terisak seorang diri. Padahal saat itu, Isac tengah memeluk sang ayah.


Irish tampak diam melihat sang kakak akhirnya bisa memeluk ayah mereka.


"Jangan pergi, Kak," pinta Irish.


Isac tersenyum. Dalam dua tahun kematiannya, anak itu sedikit tahu soal dunia tempatnya kini berada. Dia dan Irish mungkin bisa terhubung karena ikatan kembar di antara mereka. Saling terkait, tapi anak kecil itu juga tahu. Di sini bukan tempatnya. Dia harus pulang ke tempat seharusnya dia berada. Dan itu jelas bukan di sini. Bukan di tempat sang adik dan keluarganya berada.


Dua hari berlalu, Natalie kembali mengamuk sendiri di kamarnya. Satu kabar wanita itu terima. Putri Lendra masih hidup. Tidak mati seperti yang dia harapkan.


"Jangan melakukan hal gila lagi, Nath." Suara Pasha terdengar masuk ke ruangan itu. Natalie seketika melayangkan pandangan tajamnya pada Pasha. Wanita itu sungguh kesal. Pasha masih saja membela Livia.


"Bukan urusanmu!" pekik Natalie geram.


Pasha lantas mengeluarkan ponselnya. Sebuah headline pria itu tunjukkan di benda pipih miliknya. Satu berita yang membuat Natalie rasanya ingin menghancurkan semua benda yang ada di hadapannya.


"Syailendra Yue Aditama resmi bercerai dengan Natalie Andira."


Begitu tajuk berita online yang kini viral di jagat maya. Padahal Natalie sama sekali belum menandatangi surat perceraian mereka. Namun pihak Lendra sudah berani mengeluarkan pernyataan yang benar-benar membuat Natalie hancur.


Sekarang tidak ada lagi nama Aditama yang akan mendukung dirinya. Bahkan mungkin majalah fashion yang dia kelola sekarang akan ditarik balik oleh pemiliknya. Karir Natalie dipastikan anjlok sampai ke titik terendah. Hanya karena sebuah statement dari pihak Lendra.

__ADS_1


Lain Natalie, lain Livia. Wanita itu saat ini duduk di hadapan Lana dan Vi dengan raut wajah pias setengah mati. Dua tangan Livia sejak tadi tidak berhenti saling bertaut dan meremass saking gugupnya. Di sisi lain, tampak Lendra dan Irish yang tidur saling berpelukan. Sejak mereka di pertemukan, gadis kecil itu merengek untuk dijadikan satu kamar dengan ayahnya. Ada pula yang bisa mencegah keinginan cucu Aditama itu. Bahkan Rafi yang biasanya straight pun, tidak berkutik ketika Irish merayunya dengan sebuah ciuman di pipi pria itu.


"Anakmu benar-benar...." Rafi tidak bisa menemukan kata yang pas untuk menggambarkan tingkah Irish, yang sungguh menggemaskan.


"Jadi... kami ingin memberitahukan soal status Irish pada publik." Vi memulai pembicaraannya.


Livia seketika mengangkat wajahnya. Melihat Vi dan Lana yang tampak serius.


"Dan kami ingin menanyakan apa kamu keberatan dengan hal itu. Irish dan Isac putra kandung Lendra. Jadi kami ingin membuka identitas mereka."


Livia menarik nafasnya dalam. Lantas memandang dua orang tua Lendra yang duduk di hadapannya. Hanya ada keheningan di antara mereka. Sampai suara Livia membuyarkan kesunyian itu.


"Saya....."


*


*


"Hai, Via."


Satu suara membuat Livia menoleh. Wanita itu baru saja kembali dari membeli anggur permintaan Irish. Diantar Bian, tapi pria itu langsung kembali ke kantor. Meeting dadakan dengan klien.


Livia mengerutkan dahi melihat sosok itu berdiri di depannya. Sombong dan angkuh seperti biasa. Namun hal itu tidak membuat Livia takut. Apa yang dia lakukan kini semata-mata untuk melindungi sang putri. Salah satunya dari ancaman orang yang ada di hadapannya.


"Apa yang kau inginkan kali ini?" tanya Livia tegas.


***


Up lagi readers

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2