Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Tidak Mungkin


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Pasha hanya bisa terdiam, melihat Natalie yang mengamuk di hadapannya. Melempar barang yang ada di ruang tamu apartemennya. Sejak tadi wanita itu tidak berhenti menyalahkannya. Sementara Pasha sendiri sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia seharusnya tahu, bagaimanapun suatu saat perbuatannya dengan Natalie akan ketahuan.


"Pasha jangan diam saja. Lakukan sesuatu. Aku tidak mau bercerai dengan Lendra. Aku mencintainya." Pekik Natalie, wanita itu sangat frustrasi. Ingin berteriak, mengumpat.


"Aku tidak yakin kau mencintainya. Nyatanya kau tidak pernah menolak setiap ajakanku bercinta." Kata Pasha enteng. Dia sendiri tidak tahu, perasaan apa yang dia punya untuk Natalie. Cinta atau sekedar friend with benefit, teman yang saling menguntungkan.


Natalie mendelik mendengar jawaban santai Pasha, bagaimana bisa pria itu bersikap biasa-biasa saja, saat dirinya berada di ambang perceraian. Natalie menarik kerah baju Pasha, "Kau memang brengsek. Kau memanfaatkanku. Dan sekarang kau membiarkanku saat aku kesulitan." Tuntut Natalie.


Pasha tersenyum mendengar makian Natalie. Pria itu menepis tangan Natalie yang mencekal kerahnya. Menariknya mendekat, hingga hidung keduanya saling bersentuhan. "Kita ini saling menguntungkan, jadi jangan menyalahkanku. Bukankah lebih baik kau bercerai dengannya. Kau bisa bebas ke manapun dan melalukan apapun. Termasuk......"


Natalie memejamkan mata, saat tangan Pasha menerobos masuk ke dalam gaunnya. Menyentuh area yang dengan mudah membangkitkan hasratnya. "Kau lihat, kau sangat bergantung padaku."


Natalie menjauhkan diri dari Pasha. Natalie mengakui kalau Pasha begitu lihai menyenangkan dirinya di atas ranjang. Tapi hanya permainan Lendra yang mampu membuat Natalie menggila tiap saat mereka bercinta.


"Aku tidak seperti itu!" Sanggah Natalie. Pasha tersenyum, "Benarkah?" Pria itu kembali menarik tubuh Natalie. "Kalau begitu mari kita buktikan. Jika Lendra ingin menceraikanmu. Ikuti saja. Toh kau tidak rugi apapun."


"Aku tidak mau bercerai dengannya. Aku mencintainya......."


Ucapan Natalie menggantung karena Pasha sudah membungkam bibir Natalie dengan ciuman. Natalie berontak, tapi Pasha tak tinggal diam. Satu tarikan dari dari pria itu membuat Natalie sudah berada dalam kungkungan Pasha.

__ADS_1


"Mungkin benar kau mencintainya. Tapi aku yang selalu ada saat kau menginginkannya. Seperti sekarang."


Pria itu melepas pakainnya sendiri. Lantas mencium bibir Natalie. Natalie sekuat tenaga menolak, tapi otak dan tubuhnya sayangnya tidak sependapat. Saat ciuman Pasha turun ke leher Natalie, saat itulah suara laknat itu mulai terdengar. Sangat merdu bagi telinga Pasha.


"Aku tahu kau tidak pernah bisa menolak, sentuhanku." Pasha semakin menggila, waktu Natalie melepaskan desahannn. Natalie tidak bisa menahan diri lagi. Sampai penyatuan itu kembali terjadi di atas sofa. Keduanya bergumul panas dengan pakaian bertebaran di mana-mana.


Dua hari berikutnya, Bian sedang berjalan bersama Lendra. Keduanya membahas Natalie yang sepertinya terima Lendra ceraikan. Satu hal yang membuat Lendra menarik nafasnya lega. Setidaknya dia tidak mencari-cari alasan saat ingin berpisah dengan wanita itu. Karena semua bukti yang ia dapat benar-benar membuat Lendra yakin, kalau menceraikan Natalie adalah keputusan tepat. Dia tidak mau hidup dengan wanita yang tidak setia pada ikatan pernikahan mereka.


Natalie tidak lagi protes dengan keputusan Lendra. Meski sampai sekarang, wanita itu belum mau menandatangani surat perceraian mereka. Tapi itu tidak masalah. Lendra sama sekali tidak mau melanjutkan hidup bersama Natalie.


"Bagaimana soal Irish?" Lendra bertanya. Keduanya sering begadang untuk mencari tahu soal gadis kecil itu. Tapi sama sekali belum membuahkan hasil. Bian menggeleng pelan. Dia sama puyengnya dengan Lendra.


"Anak sapalah tu. Sampe diproteksi sampe segitunya."


Dua pria itu masih terus berbincang, hingga Bian menghentikan langkahnya. Keduanya ada di lobi sebuah hotel. Satu tarikan dari tangan Bian membuat Lendra ikut berhenti. Di depan sana, mata Lendra langsung berbinar cerah. Melihat siapa yang ada di hadapannya. Livia dan asisten pribadinya.


Lendra langsung mengayunkan langkahnya, begitu seorang wanita yang menjadi tamu Livia undur diri. Cantik, kembali mata Lendra dibuat tidak berkedip. Menatap kecantikan Livia yang lagi-lagi membiusnya. Haruskah dia mengakui kalau Lendra sudah jatuh cinta pada Livia sejak lima tahun lalu.


Livia masih memeriksa berkas yang ada di atas meja. Bersama Meta, keduanya kembali meneliti dokumen kerja sama yang baru saja mereka tanda tangani. Meta ingin bersuara ketika Bian memberinya kode untuk diam. Meta tahu siapa Lendra dan Bian. Cucu dan asisten pemilik pabrik tempatnya bekerja.


"Aku tidak menduga kalau kita bisa bertemu di sini." Kata Lendra sembari mendudukkan diri di hadapan Livia. Sedang Livia, hanya sejenak menghentikan pekerjaannya. Tanpa melihat ke arah Lendra. Pria itu keki diabaikan Livia.


"Ah ayolah Via, masak berkas itu lebih menarik dari padaku." Perkataan Lendra membuat Bian hampir tersedak. Sedang Meta langsung menatap kepo pada dua bos itu.

__ADS_1


"Lebih menarik berkas ini. Kau kan tahu, aku sejak dulu membencimu, tuan CEO." Jawab Livia. Bian mengulum senyumnya. Setelah dikabarkan pulang dari luar negeri. Mungkin ini adalah kali pertama Bian bertemu Livia. Bian akui Livia berbeda dari lima tahun lalu. Wanita itu tentu sudah meng-upgrade dirinya. Dari segi penampilan, Livia jelas terlihat dewasa dan matang. Dari segi kemampuan pun, Bian yakin jika Livia sudah menaikkan standar pendidikannya. Jika tidak, Vera tidak akan mudah memberikan jabatan sepenting itu pada Livia. Terlebih Christo. Ahh mengingat Christo, jadi selama lima tahun ini Livia dan Christo sudah menjadi rekan kerja. Atau keduanya mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman? Bian mulai kepo dengan hubungan Christo dan Livia.


Lendra menarik nafasnya mendengar jawaban Livia yang masih sama jika ditanya soal dirinya. Livia seolah tidak peduli dengan kehadiran Lendra. Wanita itu terus melakukan analisa bersama Meta, sesekali terhubung dengan Atta. Selama itu pula, Lendra intens memperhatikan Livia.


"Via...Via...." Livia mengangkat wajahnya, menanggapi panggilan Lendra. Saat itulah, mata keduanya beradu pandang. Ya, Lendra semakin yakin kalau mata Irish adalah mata Livia. "Apa kamu memiliki seorang anak?"


Satu pertanyaan berani dari Lendra membuat Livia terkejut. Berkas yang ada di tangannya meluncur turun begitu saja. Jatuh di atas karpet lobi hotel. Sesaat Livia dan Lendra terus berpandangan. "Apa yang sudah pria ini tahu soal diriku? Apa diam-diam Lendra menyelidiki diriku?" Batin Livia panik.


Sementara Lendra tertegun, reaksi Livia atas pertanyaannya, justru menegaskan kebenaran dari pertanyaan itu sendiri. "Jadi benar dia punya anak. Tapi dia menikah dengan siapa?" Giliran Lendra yang membatin.


Dalam keadaan seperti itu tanpa mereka tahu sepasang mata melihat kejadian itu. Untuk sesaat, pemilik mata itu hanya bisa diam membisu, memperhatikan Lendra dan Livia yang saling pandang. Hingga kaki itu memundurkan langkahnya. Kembali masuk ke dalam lift.


"Tidak mungkin!"


*****



Double L, Lendra dan Livia


Up lagi readers


Ritual jempolnya jangan lupa. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2