Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Terungkap


__ADS_3

Lendra berjalan memasuki sebuah restauran. Senyum terukir di bibir pria itu. Satu lagi klien yang mampu dia tangani hingga mau menjadi investor di perusahaannya. Dia akan bertemu Bian setelah keduanya berpisah jalan karena ada dua klien yang mereka temui di waktu yang sama. Beberapa hari ini, mood Lendra sangat bagus. Sebuah perubahan yang cukup kentara karena sebelumnya pria itu begitu gusar karena gagal menemukan bukti soal kelakuan Natalie di belakangnya.


Perubahan mood Lendra terjadi sejak dia bertemu Irish hari itu. Wajah Irish selalu terbayang di pelupuk mata Lendra. Sedetikpun Lendra tidak bisa menghilangkan senyum manis gadis kecil itu. Wajah Irish seolah langsung melekat di benak Lendra.


Bian sendiri sudah mencari tahu siapa Irish. Tapi dia tidak bisa menemukan data soal Irish. Satu-satunya hal yang bisa Bian temukan hanyalah Irish bersekolah di sebuah TK di kota itu. Nama TK-nya pun tidak disebutkan. Christo benar-benar menutup akses data Irish. Pria itu mengunci data Irish dengan sebuah password yang andai orang itu tahu, maka orang tersebut bisa membuka file Irish.


Bukan tanpa tujuan Christo melakukan hal itu. Hanya orang terdekat Livia yang tahu soal password itu. Hal itu dimaksudkan Christo, agar hanya orang terdekat Livia yang bisa tahu soal Irish. Dengan begitu, tidak ada orang yang ingin menyakiti Irish.


Tentu saja Bian dibuat pusing karena hal itu. File Irish dia temukan, tapi dia tidak bisa membukanya. Ada tiga password berlapis yang Christo rancang untung menghadang para peretas yang mencoba untuk mencari tahu soal Irish.


"Siapa sih dia sebenarnya? Sampai aksesnya sudah seperti putri presiden. Private and secret. Hiisshhh, ini malah membuatku semakin kepo!"


Kata Bian sambil menunggu Lendra. Tapi pria yang ditunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Beberapa kali Bian menatap ke arah pintu masuk restauran itu. Sebuah tempat makan yang terkenal dengan suasananya yang sangat nyaman.


Sementara pria yang tengah Bian tunggu malah menghentikan langkahnya, saat melihat seseorang yang dia kenal, masuk ke tempat itu tanpa melihatnya. Melihat gelagat yang mencurigakan, Lendra berinisiatif untuk mengikuti mereka.


Setelah mengirim pesan pada Bian. Lendra berjalan perlahan menuju tempat dua orang itu. Sebuah sekat tersedia untuk melindungi pandangan tamu lain. Hanya saja tamu lain masih bisa mendengar pembicaraan orang di sebelah mereka. Ditambah penempatan sofa yang cukup tinggi membuat Lendra merasa terlindungi saat "menguping" pembicaraan orang di sebelahnya.



Kredit Pinterest.com


"Siapa sih yang kamu kepoin?" Tanya Bian setelah pria itu mendudukkan diri di depan Lendra. Sementara Lendra seketika memberi kode diam pada sang asisten. Lendra langsung menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.


Mereka mulai mendengar pembicaraan samar dari pengunjung di sebelah mereka. "Natnat?" Bian bertanya setengah berbisik setelah mendengar suara dari meja sebelah. Lendra mengangguk pelan.


Awalnya tidak ada yang aneh dengan pembicaraan antara Natalie dan....Pasha. Hingga setelah beberapa waktu, baik Bian maupun Lendra sama-sama mengerutkan alisnya.


"Dengar Pasha, aku pikir kita harus menghentikan semuanya sampai di sini."


Ucapan Natalie menjadi awal mula keingintahuan duo asisten dan bos itu. Perlahan Bian mengeluarkan ponselnya. Mode "record" diaktifkan oleh Bian. Pria itu pikir akan mendapat kejutan yang wow hari ini.


"Maksudmu apa?"


Suara Pasha menimpali ucapan Natalie. Ada nada gusar dan enggan dalam intonasi suara Pasha.

__ADS_1


"Aku ingin fokus pada kehamilanku."


Baik Lendra maupun Bian langsung saling pandang. Natalie hamil? Ini big news. Ada sekelumit rasa bahagia dalam hati Lendra. Natalie hamil anaknya. Namun senyum yang sesaat tersungging di bibir Lendra seketika pudar begitu mendengar jawaban Pasha.


"Apa kau yakin itu anak suamimu?"


"Tentu saja. Bukankah kau selalu pakai pengaman saat kita melakukannya?"


Duaaaarrr


Jantung Lendra serasa diremat. Mendengar perkataan enteng dari Natalie. Jadi dugaannya benar, selama ini Natalie berselingkuh dengan Pasha di belakangnya. Pria itu ingin berdiri dari duduknya tapi Bian mencegah. Mereka harus mengumpulkan bukti yang cukup.


Terdengar gelak tawa Pasha dari sebelah. "Kau pikir aku sebodoh itu untuk menuruti permintaanmu. Aku tidak mungkin melewatkan kenikmatan yang kau berikan padaku. Sayang sekali...."


Raut wajah Natalie seketika menggelap. Dia tidak menyangka jika Pasha berani melakukan hal itu. "Jadi kau selama ini?"


"Sejak beberapa bulan ini aku tidak pernah memakainya. Jadi aku bisa menjamin kalau anak itu adalah anakku."


Suara gebrakan meja sedikit menarik perhatian pengunjung lain. Tapi Natalie tidak peduli. Dia sangat marah dengan pengakuan Pasha.


Lendra mengetatkan rahangnya, pria itu tentu terkejut dengan pembicaraan Natalie dan Pasha. Dia tidak menyangka jika selama ini, dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh Natalie dan Pasha. Pun dengan Bian, pria itu menggelengkan kepalanya, bersusah payah untuk percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


*


*


"Selidiki soal keguguran Natalie waktu. Dan aku sendiri yang akan mengurus perceraianku."


Ucap Lendra mantap. Dua hal ini sudah cukup menjadi alasannya untuk mendepak Natalie dari hidupnya. Seliar-liarnya dirinya, Lendra masih berpikir untuk setia pada ikatan pernikahan mereka. Lendra tidak pernah menyentuh wanita lain selain Natalie sejak mereka menikah.


"Bullshiittttt dengan kata cinta yang kau ucapkan padaku tiap kita bercinta!"


Lendra memaki dirinya yang terlalu bodoh, hingga percaya begitu saja dengan semua perkataan Natalie. Untuk beberapa waktu, Lendra hanya bisa terdiam. Menetralkan rasa marah yang rasanya sangat sulit untuk dia hilangkan. Inhale dan ekhale, berulang kali dia lakukan, tapi hal itu tidak cukup meredakan amarahnya.


Hingga pria itu menyambar jasnya, meraih kunci mobilnya. Lantas melajukan mobilnya dari kantornya. Menyusuri jalanan tanpa arah. Dia hanya ingin mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya.

__ADS_1


Sampai dia menemukan sesuatu yang membuat rasa marahnya menguap seketika.


*


*


"Apa maksudmu L sudah bertemu Irish?"


Vera sesaat gamang setelah Diaz melaporkan, kalau Irish dan Lendra pernah bertemu. Retno, baby sitter Irish bercerita soal kejadian yang hampir mencelakai Irish. Saat itulah Lendra datang menolong. Awalnya Diaz tidak bisa menebak siapa orang yang telah menolong Irish. Sampai dia menunjukkan foto Lendra, dan Retno langsung mengatakan kalau pria itu yang sudah menolong Irish.


"Jadi.....apa yang harus kita lakukan?"


Vera masih diam saat Diaz bertanya. Lendra jelas punya hak untuk bertemu anaknya. Yang dia takutkan adalah reaksi Livia. Perempuan itu, Vera akui sangat keras kepala dan egois. Meski Irish tidak pernah protes dengan apa yang dilakukan sang ibu. Tapi Vera tahu, di lubuk hati Irish, dia juga ingin tahu soal ayah kandungnya.


Vera tahu benar, dua cicitnya mewarisi kecerdasan dua orang tuanya. Di usia sebelia itu, Isac dan Irish paham, jika Christo bukan ayah kandung mereka.


"Biarkan saja dulu. Irish berhak tahu siapa ayahnya. Juga dengan Lendra. Pertemuan mereka di luar kendali kita. Jadi biarkan saja mereka menikmatinya. Livia kita urus belakangan."


Diaz mengangguk paham. Apa yang dialami Livia lima tahun terakhir mengubah Livia menjadi sosok keras kepala dan cenderung mengabaikan perasaan si kembar. Dia tidak tahu jika itu sudah menyakiti perasaan anak-anaknya.


"Bahkan ketika aku sudah menempatkan pengawasan ketat untuk Irish, mereka masih bisa bertemu juga. Apa semua akan terungkap dalam waktu dekat ini?"


Batin Vera, tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi wanita itu selain melihat keempat orang tersebut bisa tertawa bersama. Setitik kristal bening luruh di sudut mata Vera. Dia ingin melihat sang cicit tersenyum bahagia. Gadis kecil itu sudah terlalu lama menderita. Karena ketidaktahuan Lendra, keegoisan Livia dan ketidakberdayaan dirinya untuk menyatukan mereka. "Maafkan Nenek Irish dan Isac."


***



Kredit Pinterest.com


Up lagi readers,


Jangan lupa tinggalkan jejak, ritual jempolnya ditunggu selalu.


***

__ADS_1


__ADS_2