
Kredit Pinterest.com
Makan siang berlangsung penuh kecanggungan, lebih tepatnya tidak nyaman. Terlebih Vera dan Natalie. Vera sudah tahu kalau Natalie-lah, orang yang sudah menabrak Livia lima tahun lalu. Hasil dari kerja keras Diaz, pemilik kafe tempat Livia bekerja lima tahun lalu. Ingin rasanya Vera menenggelamkan Natalie ke Samudera Hindia. Dengan alasan apapun, Vera pikir tindakan Natalie salah.
Akhirnya di sinilah Vera dan Lendra berada. Ruang kerja sang cucu. Lendra meminta waktu untuk bicara pada sang nenek, berpikir kalau keduanya harus bicara. Pria itu menarik nafasnya dalam. Menatap wajah Vera yang masih terlihat segar di usia lanjut. Vera benar-benar menjaga gaya hidupnya. Yoga dan pola hidup sehat aktif selalu Vera lakukan.
Vera sendiri menatap Lendra dengan tatapan sulit diartikan. Pria matang dan tampan berusia 29 tahun. Semua orang menganggap kehidupan Lendra sangatlah sempurna. Hanya satu yang belum pria itu miliki, keturunan. Padahal dua anak sudah Lendra miliki dari Livia tanpa pria itu tahu.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan dengan Nenek. Oh ya sebelumnya Nenek akan memberitahumu kalau saham di Sidney, kamu dan Lira mendapat 25 %, 50% Nenek berikan pada Christo. Juga untuk Tania & Co...."
Lendra mengangkat tangannya. Dia tidak mau mendengar pembahasan soal saham. Dia sudah cukup pusing dengan saham dan perusahaan yang sekarang dia kelola.
"L tidak berminat pada saham Nenek. Berikan saja pada Christo. Dia yang sudah mengurusi dan menemani Nenek."
Ada nada sendu dalam suara Lendra. Dia tahu, dirinya dan Lira tidak banyak menghabiskan waktu dengan sang nenek. Bahkan ketika Vera diopname dua hari bulan lalu. Lendra tidak bisa datang menjenguk. Keterlaluan mungkin.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan?"
Lendra memandang wajah sang nenek intens. "Ini soal Livia."
Vera seketika mengubah mode wajahnya menjadi serius. Meski Vera seharusnya bisa menduga kalau Lendra mampu menangkap ada hubungan antara dirinya dan Livia. Terlebih setelah laporan Atta soal Lendra yang sudah bertemu Livia.
"Livia siapa?"
"Nenek jangan pura-pura tidak tahu, jangan menghindar. Livia Kaira, dia dulu sekretaris L. Dia pergi lima tahun lalu."
"Lalu?"
Lendra mengangkat wajahnya. Jawaban Vera menegaskan kalau wanita itu tahu soal Livia.
"Kenapa Nenek tidak memberitahu L kalau Nenek kenal Livia?"
Vera menghela nafas. "Apa itu akan mengubah semua?"
__ADS_1
"Tentu saja Nek, jika L tahu di mana Livia. L akan mengejarnya...L akan minta maaf."
"Nyatanya kamu tidak melakukannya L. Kamu malah menikah dengan Natnat."
"L pikir dia menikah dengan Pasha. Jadi mana berani L mengganggunya."
"Dan kamu percaya?"
Lendra terdiam. Satu kesalahan lagi dia buat. Percaya pada ucapan Pasha tanpa menyelidikinya lebih dulu. Melihat wajah putus asa sang cucu. Vera menghela nafasnya.
"Lima tahun lalu, nenek dan Christo menemukan Livia menjadi korban tabrak lari. Kami membawanya ke rumah sakit. Dan setelahnya kami membawa dia ke Sidney. Sebab dia bilang kalau ingin pergi dari sini."
Lendra menatap tidak percaya pada Vera. "Dan Nenek tidak memberitahuku. Nenek...."
"Livia tidak pernah menyinggungmu. Bahkan menyebut namamu pun tidak. Selama lima tahun ini kami tidak pernah mendengar namamu dari bibirnya."
Lendra terdiam. Tanpa terasa, air mata itu luruh di pipi Lendra. "L menyakitinya Nek. L memacarinya karena ingin menang taruhan."
Vera memejamkan mata mendengar pengakuan sang cucu. Untuk sesaat tidak ada pembicaraan antara keduanya. "L menyesal Nek. Sangat menyesal. L tidak tahu kalau sikap L menyakiti Livia. Tapi L sungguh mau minta maaf. L ingin memperbaiki kesalahan L."
"Apa yang akan kamu lakukan kalau bertemu dia?"
"Minta maaf."
"Sudah dilakukan?" Lendra mengangguk. "Hasilnya?" Vera meledakkan tawanya ketika Lendra memberi kode kalau Livia tidak menggubrisnya.
"Tahu rasa kamu." Melihat rasa bersalah Lendra yang besar, akhirnya Vera sedikit menurunkan kemarahannya. Selanjutnya Lendra bercerita kalau dia bertemu Livia kemarin. Dari situ dia tahu kalau Livia tinggal di unit Vera. Lendra juga tahu jika Livia bekerja di pabrik sang nenek.
"Sebenarnya apa yang kamu rasakan pada Livia?"
Potong Vera cepat. Lendra seketika terdiam. Lagi-lagi dia tidak tahu pasti apa yang dia rasakan pada Livia.
"Apa kamu mencintainya?"
*
__ADS_1
*
Pertanyaan dari Vera terngiang di telinga Lendra. Beberapa hari sejak perbaikan hubungan keduanya, meski begitu Vera tidak serta merta membantu Lendra mendekati Livia. Bahkan wanita itu juga tidak memberitahu di mana mereka tinggal. Sebab mata-mata yang dikirim oleh Lendra langsung diberhentikan oleh Vera.
"Tapi kejadian kemarin disengaja."
"Nenek yang akan menjaganya. Sekarang pikirkan saja soal dirimu sendiri."
Lendra membuang nafasnya kasar. Membiarkan pikirannya melayang entah ke mana. Hingga suara Bian membuyarkan semuanya. Meeting akan segera di mulai.
Sementara itu, dengan izin Vera, Irish diperbolehkan untuk jalan-jalan. Memanggil Diaz, Vera meminta pria itu untuk menjadi supir Irish hari itu. Diaz tentu terkejut saat melihat Irish. Gadis itu begitu mirip dengan sang ayah. Diaz adalah salah satu orang yang tahu banyak soal Livia. Pria itu juga tahu kalau saudara kembar Irish sudah meninggal.
Saat berada di depan Irish, Diaz tidak bisa menahan rasa harunya. Hingga pria itu langsung memeluk Irish tanpa ragu. Irish sedikit bingung hingga pria itu menjelaskan kalau dulu Diaz tahu Irish saat masih dalam kandungan sang ibu.
"Benarkah? Berarti aku masih bayi waktu itu."
Jawab Irish imut. Diaz dan Retno hanya terkekeh mendengar ucapan Irish. Ketiganya mulai berputar-putar di kota Pahlawan itu. Dengan Diaz yang menjelaskan tempat-tempat yang ditunjuk oleh Irish.
"Om...Om...itu apa?"
Irish menunjuk deretan gedung perkantoran di kawasan pusat kota Surabaya. Diaz pun menjelaskan deretan kantor yang berjejer di sana. Padahal Irish hanya menatap satu kantor tanpa berkedip. Ingin rasanya Irish turun di tempat itu. Lalu menerobos masuk mencari sang ayah. Tapi hal itu tidak bisa dia lakukan.
Hingga nasib naik sepertinya berpihak pada Irish. Gadis kecil itu melihat sang ayah keluar dari kantornya. Bersama Bian. Terlebih mobil Diaz sempat berhenti di depan kantor Aditama Grup karena lampu merah. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Irish bisa melihat sang ayah. Meski hanya sebentar. Karena Lendra langsung masuk ke mobil bersama Bian.
Semua itu tidak luput dari perhatian Irish. Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, saat mobil Lendra melintas di hadapannya. Rasa rindu itu semakin terasa. Hingga pertanyaan kenapa sang ayah dan ibunya tidak tinggal bersama muncul di pikiran sederhana Irish. Kenapa dia tidak bisa seperti teman-temannya, yang tinggal bersama ayah dan ibunya.
"Kenapa?"
Tes, satu tetes air mata itu lolos dari mata bulat Irish tanpa seorangpun tahu. Dia ingin ayah dan ibunya bersama. Kenapa itu tidak bisa terwujud?
***
Up lagi readers,
Jangan lupa ritual jempolnya...
__ADS_1
****