
Lendra menangis tersedu saat diizinkan melihat Irish. Pria itu tak mampu memendam rasa bahagia sekaligus pilu dalam hatinya. Lendra, pria itu menjadi yang pertama melakukan tes untuk menjadi pendonor untuk Irish.
"Sayang, bangun. Ini ayah." Lirih Lendra saat pria itu menggenggam tangan mungil Irish. Sebuah masker oksigen terpasang di hidung gadis kecil itu. Infus dan berbagai macam selang yang tertempel di tubuh Irish menambah sakit hati Lendra. Dia merasa gagal, sebagai ayah dia tidak pernah mencari tahu keberadaan Irish. Tidak pernah memberikan kasih sayang pada putri kecilnya.
Tangis Lendra semakin kencang manakala teringat kalau Irish, ternyata sudah tahu kalau dia ayahnya.
Di luar ruangan, Livia hanya bisa tertunduk saat Christo meluapkan amarahnya. "Sudah berapa kali kubilang. Dengarkan Irish. Tapi kamu tidak pernah menghiraukan suara hati Irish. Kami tidak bisa melakukan apa-apa karena itu semua hak kamu."
"Sudahlah, Chris." Retno mengusap lengan sang kekasih. Sementara Vera memeluk tubuh Livia. Menyesal, masih bergunakah kata itu sekarang.
"Maaf." Lirih Livia.
"Jangan minta maaf padaku!" Judes Christo. Pria berusaha menahan emosinya."Aku memang bukan ayah kandungnya. Tapi aku yang menggendongnya begitu dia lahir ke dunia. Aku yang mengajarinya berjalan. Aku....." Christo terduduk dengan derai air mata mengalir di pipi. Pria itu menunduk dengan tangan menopang dahinya.
Untuk sesaat ruangan itu hanya berisi isak tangis tanpa kata. Christo berulang kali mengusak wajahnya kasar. "Sudah, sekarang yang lalu biarlah berlalu. Kita ada di sini untuk Irish. Kita akan melakukan yang terbaik untuk barbie hidup kita. Kita tidak akan membiarkan kejadian Isac....." Perkataan Vera tercekat.
"Nek...." Livia memeluk Vera erat.
"Irish kita akan baik-baik saja." Ucap Vera pada akhirnya. Keempatnya kembali terisak. Sampai suara pintu dibuka, dan keluarlah Lendra dari dalam ruangan Irish. Wajah pria itu terlihat sembab. Tidak ada lagi wajah tampan dan berkharisma seorang Lendra. Yang ada hanyalah wajah seorang ayah yang tengah putus asa melihat keadaan putri tunggalnya.
"Kita harus bicara." Pinta Lendra pada Livia.
Dan di sinilah keduanya. Ruangan di sebuah tangga darurat lantai tempat Irish di rawat. "Jadi bisa kamu jelaskan?"
"Gak ada yang perlu dijelaskan." Jawab Livia singkat.
Lendra seketika menarik nafasnya dalam. Mencoba menahan diri agar tidak melampiaskan kemarahannya pada Livia.
__ADS_1
"Maaf...." Satu kata dari Lendra kembali memancing air mata Livia. Wanita itu menundukkan wajahnya agar Lendra tidak melihatnya menangis. Namun yang terjadi selanjutnya, tangis Livia justru terdengar semakin keras saat Lendra merengkuh tubuh wanita itu. Memeluk raga langsing yang kini terisak dalam dekapannya.
"Maafkan semua kesalahanku. Maafkan aku yang tidak mencari kalian. Maafkan aku yang membuatmu menjalani ini semua sendiri. Maaf...maaf." Lendra turut tersedu. Dua orang itu akhirnya larut dalam tangis kesedihan.
"Aku yang memilih jalan ini. Jadi semua yang terjadi adalah salahku. Sakitnya Irish, kepergian Isac.... semua adalah salahku. Aku bukan ibu yang baik. Aku tidak becus menjadi ibu!" teriak Livia menumpahkan segala rasa sesak di dada.
"Isac? Siapa Isac?" tanya Lendra.
Livia tergugu, tidak sadar dengan ucapannya sendiri. "Siapa Isac, Livia?" kali ini Lendra harus tahu semua soal kehidupan Livia.
Pria itu memegang dua lengan Livia yang setia menunduk. Tidak berani menantang sorot mata Lendra seperti biasanya.
"Katakan padaku. Aku ingin tahu semua!" Tiap kata Lendra ucapkan penuh penekanan. Satu tanda kalau pria itu menuntut jawaban. Sementara itu Livia hanya terdiam. Dia sangat sulit mengatakan hal yang satu ini.
"Oke, kalau kau tidak mau memberitahuku. Aku akan mencari tahu!" Lendra berbalik, berjalan menuju pintu.
"Apa kamu bilang? Mereka kembar?" Pria itu melihat Livia yang sedang berusaha menahan jatuhnya kembali bulir bening itu dari matanya.
"Kembar sepasang paling tampan dan paling cantik yang pernah kulihat. Tapi aku lagi-lagi bukan ibu yang baik. Aku tidak bisa menjaga putraku. Dia meninggal karena kecelakaan."
Petir serasa menyambar tubuh Lendra. Pria itu terhuyung ke belakang dua langkah. Dunia Lendra serasa berhenti di tempat. Dia juga punya seorang putra, seharusnya. Pada akhirnya Lendra hanya bisa jatuh terduduk di lantai. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan rasa bersalah juga sesak di dadanya. Lendra sadar sudah melewatkan banyak hal berharga lima tahun ini. Menangis sebanyak dan selama apapun, tidak akan mampu memutar waktu. Dan mengembalikan sang putra.
"Isac....." Lirih Lendra.
Tanpa mereka tahu, sosok Isac berdiri di depan Lendra. Mengusap lembut kepala sang ayah. Bocah kecil itu tersenyum, pada akhirnya sang ayah tahu kehadiran.
"Ya, Ayah. Sebenarnya Isac ingin berada di sisi Ayah. Tapi Isac tahu, itu tidak bisa. Jadi bisakah Isac minta satu hal. Jaga Irish untuk Isac." Kata Isac.
__ADS_1
Lendra seketika mengangkat wajahnya. "Isac, kamukah itu?" Insting Lendra mengatakan kalau sang putra ada di sini. Di dekatnya. Sementara Isac sendiri sudah berjalan mendekati sang ibu.
"Ibu, jangan menangis lagi. Isac tidak suka. Ibu adalah ibu terbaik yang Isac punya. Isac tidak mau ibu bersedih. Berbahagialah jika mau Isac senang." Bocah kecil itu memeluk Livia.
Perlahan tubuh Isac sirna. Meninggalkan Livia yang kini memukuli dadanya sendiri. Sesak itu terasa nyata. Andai dia bisa mati dengan rasa sesak ini, Livia rela. Namun kenyataannya tidak bisa. Rasa ini hanya menyiksa hati Livia. Sepanjang dua tahun terakhir ini, siapa yang tahu kalau Livia hidup dalam rasa bersalah yang teramat dalam.
Semua orang mungkin memandangnya egois, tapi apa mereka tahu, apa yang Livia rasa. Betapa besar penyesalan yang wanita itu tanggung. Berapa banyak andai yang Livia mohon, agar dia diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Mungkin tidak ada yang tahu.
"Hentikan itu Via, kamu menyakiti dirimu sendiri." Lendra menahan tangan Livia yang terus saja memukuli dadanya sendiri.
"Biarkan saja. Aku sudah muak dengan hidupku. Aku gagal. Aku hancur. Aku tidak bisa melakukan semua hal dengan baik. Aku...."
"Berhenti! Berhenti bicara kalau itu tidak ada gunanya. Kau terus mencaci dirimu. Lalu bagaimana denganku. Apa aku perlu mati untuk menebus kesalahanku. Kalau iya, bunuh aku sekarang juga! Tapi jangan sakiti dirimu."
Perkataan Lendra membuat Livia terdiam.
"Jangan berpikir kalau hanya kau seorang yang menderita. Irish, Isac, aku dan semua orang juga menderita. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Jangan egois!"
Livia bungkam seribu bahasa mendengar ucapan menohok dari Lendra. Perkataan Lendra telak menampar Livia. Wanita itu hanya bisa diam dengan rasa hampa yang kini mengisi hatinya. Ke mana rasa sesak itu pergi.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1