Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Siapa Irish?


__ADS_3

Rafi datang tergesa-gesa saat Bian menghubungi, kalau Livia pingsan di kantor Lendra. Pria itu sedikit menggerutu pada Bian, saat pria itu menjemput Rafi di lantai bawah. Rafi menjelaskan kalau Livia punya asam lambung yang parah. Wanita itu sangat ceroboh soal waktu makan. Bian hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Rafi.


Lima belas menit kemudian Rafi keluar dari kamar pribadi Lendra. Pria itu menatap penuh tanya pada sang sahabat.


"Apa yang kau lakukan padanya?"


Pertanyaan Rafi membuat Lendra menelan ludahnya kasar. Namun begitu, Lendra memilih diam. Tidak menjawab pertanyaan Rafi.


"Jangan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Kemarin dia kabur ke Sidney. Jika kau menyakitinya lagi kali ini. Aku tidak tahu ke mana lagi dia akan lari."


Peringatan Rafi sangat jelas untuk Lendra. Rafi meminta Lendra untuk membawa Livia ke rumah sakit setelah wanita itu sadar. Livia perlu pemeriksaan lebih lanjut soal asam lambungnya. Saat ini Rafi telah memasang infus yang digantungkan di tiang yang biasanya digunakan Lendra untuk menggantung jasnya.


"Jangan menyakitinya lagi, dia sudah menderita lima tahun ini." Rafi menepuk pelan bahu Lendra sebelum berlalu dari ruangan sang teman.


Ditabrak Natalie, menjalani kehamilan sendiri, melahirkan seorang diri. Dan kehilangan satu dari anak kembarnya. Bagi Rafi itu sangat menyakitkan. Meski itu adalah jalan yang dipilih oleh Livia sendiri. Tetap saja itu berat untuk Livia jalani.


Setengah jam berlalu. Bian sudah kembali pada pekerjaannya. Sementara Lendra malah melamun di ruang kerjanya. Tidak ada niat Lendra untuk bekerja. Pikirannya terfokus pada Livia yang belum sadarkan diri.


"Malah melamun. Kerja dong. Habis ini kamu harus mengantar Via ke rumah sakit." Gerutu Bian yang masuk ke ruangan pria itu. Bermaksud minta tanda tangan pria itu. Eh si bos malah melamun.


"Malas." Jawab Lendra kesal. Kenapa ada banyak hal yang tidak Lendra ketahui soal Livia. Hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Pria itu pikir masih ada hal lain yang tidak dia tahu soal Livia dan kehidupan wanita itu.


"Perasaan ada banyak hal yang tidak aku ketahui soal Livia." Gumam Lendra lirih, setelah menandatangani berkas yang dibawa Bian.


"Kau itu memang tidak peka pada keadaan sekitarmu." Ledek Bian. Lendra baru saja akan menyahut, ketika ponsel yang berada di tas Livia berbunyi. Dua pria itu saling pandang. Hingga perlahan Lendra mengambil ponsel Livia.


"Jadi saksi ya." Kata Lendra menunjukkan ponsel Livia. Tidak terkunci, hingga pria itu bisa membuka ponsel Livia. Lendra tertegun dengan wallpaper milik Livia. Di mana terlihat wanita itu tengah menggendong dua bayi dalam pelukannya. Berpikir kalau itu anak Livia dan Christo.


Lendra menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel Livia dengan nama "Retno" tertera sebagai pemanggil. Lendra hanya menempelkan telinganya di ponsel Livia. Ketika satu suara dari ujung sana membuat mata Lendra membulat.


"Ibu, ibu ingat hari ini kan? Aku dan kakak menunggu ibu di rumah. Cepat pulang ya."


"IRISH!" seru Lendra terkejut. Bian melongo mendengar suara Lendra yang hampir berteriak. Sementara Irish langsung terdiam di tempatnya.

__ADS_1


"Ayah..." Lirih gadis kecil itu. Mata Irish mengembun. Tepat di hari ulang tahunnya, sang ayah yang mengangkat teleponnya.


"Aku dapat kado ulang tahunku yang keenam. Kak, aku bicara dengan Ayah."


"Irish? Itu kamu?" tanya Lendra.


"I-iya, Om." Jawaban Irish seketika tercekat di tenggorokan. Sementara Lendra langsung terduduk di sofa. Irish memanggil Livia ibu, apa Irish anak Livia dan Christo. Tapi kenapa wajah Irish adalah perpaduan wajahnya dan wajah Livia.


"Kenapa, Ndra?"


"Irish, kemungkinan anak Livia." Lirih Lendra. Bian ikut terkejut. Dua pria itu seketika terdiam. Sejenak terhanyut dalam pikiran masing-masing.


"Ndra....kau bilang, kau dan Livia pernah bercinta lima tahun lalu. Apa...kamu tidak berpikir kalau Livia bisa saja.... hamil anakmu."


Perkataan Bian membuat Lendra terkejut. Satu hal yang tidak pernah terlintas di pikiran Lendra. Livia bisa saja mengandung darah dagingnya. Jika Irish benar anak Livia, apakah mungkin Irish adalah putrinya.


Jantung Lendra berdebar kencang, menyadari kalau kemungkinan dia punya seorang putri dari Livia. "Bi, apa itu mungkin? Kami melakukannya satu kali...."


"Tapi puncakmu berkali-kali. Sama saja, berapa juta kecebong yang kamu tanam di sana. Siapa tahu ada satu yang nyangkut. Jadi Irish. Sumpah Ndra, Irish tu elu versi perempuan. Minus mata dan bibirnya, milik Livia."


"Kita akan lakukan tes DNA, aku harus tahu siapa Irish." Putus Lendra pada akhirnya. Sebuah keputusan yang langsung mendapat anggukan persetujuan dari Bian.


Bian sendiri tahu pasti, bagaimana Lendra sangat menginginkan anak dalam hidupnya. Dan kini bisa dibayangkan bagaimana perasaan Lendra, saat dia mengetahui ada kemungkinan dia punya anak dari wanita yang dia cinta, Livia Kaira.


Saat Lendra dan Bian masih berkutat soal Irish, pintu kamar Lendra terbuka. Livia tampak berjalan tertatih. Jelas wanita itu masih lemah.


"Via, ada yang ingin aku tanyakan." Kata Lendra dengan tidak sabaran. Namun Livia yang masih marah pada pria itu memilih diam. Livia masih tidak terima dengan perlakuan Lendra padanya barusan. Merasa diabaikan, Lendra kembali emosi. Terlebih hal yang akan dia tanyakan sangat penting.


"Via......" Panggilan Lendra tercekat, saat Bian menyenggol lengannya. Melihat wajah Livia, bisa dipastikan kalau keadaan Livia tidak baik-baik saja.


"Via, aku antar ke rumah sakit ya. Rafi bilang kamu perlu pemeriksaan lebih lanjut soal..."


"Tidak perlu. Aku harus pulang." Livia menjawab tegas. Lendra seketika mengingat ucapan Irish, bahwa ia dan kakaknya menunggu di rumah.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya soal Irish."


Deg, jantung Livia berpacu cepat secara tiba-tiba. Bagaimana bisa Lendra tahu soal Irish. Bukankah mereka belum pernah bertemu dan tidak ada yang memberitahu Lendra soal Irish.


"Irish siapa?" Lendra seketika menarik sudut bibirnya. Reaksi Livia adalah satu dari banyak cara untuk menghindari jawaban.


"Anakmu dan Christo." Bian dan Livia melongo. Bian tidak tahu jika Livia dan Christo "menikah" Sementara Livia tidak tahu menahu soal sandiwara yang Christo lakukan.


"Kau menikah dengan Christo?" tanya Bian.


"Tidak!" Giliran Lendra yang melongo. Pria itu mengerutkan dahinya. Dia jelas mendengar Christo yang mengatakan....Sial! Christo mengerjainya. Awas kau Christo. Eh...tunggu, jika Livia dan Christo tidak menikah. Lalu siapa ayah Irish.


"Kau ini bicara apa sih?" tanya Livia tidak mengerti.


"Oke...kau dan Christo tidak menikah. Lalu siapa ayah Irish. Dia tadi menghubungi ponselmu. Dan aku yang mengangkatnya..."


"Lendra kau lancang!" raung Livia. Wanita itu sadar kalau cepat atau lambat, Lendra akan bisa menemukan darah dagingnya sendiri. Namun wanita itu tidak menyangka kalau Lendra akan tahu soal Irish secepat ini.


"Yang menelepon namanya Retno. Aku pikir itu penting. Jadi aku menjawabnya. Sekarang jawab siapa Irish?" Sorot mata Lendra menajam. Pria itu benar-benar menuntut jawaban dari Livia.


"Dia bukan siapa-siapa?" Kilah Livia.


"Dia jelas memanggilmu Ibu. Apa dia anakku?" Suara Lendra bergetar saat bertanya soal hal ini.


Livia memejamkan mata. Mencoba mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Lendra


***


Up lagi readers


Selamat menunaikan ibadah puasa ya guys


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2