
Pemberitaan soal Lendra dan Natalie yang akan bercerai semakin meluas. Dengan nama Livia yang muncul di sana, membuat wanita itu ikut-ikutan menjadi korban kekepoan warganet. Beberapa malah semakin penasaran akan sosok Livia.
Wajah Livia mulai dikenal publik. Hal itu membuat dirinya tidak nyaman. Tiap keluar rumah pasti ada yang menyapa. Meski Livia selalu membalas sapaan orang padanya. Lama-lama pegel juga meladeni tingkah banyak orang.
"Mereka yang ribut kenapa aku yg dibawa-bawa sih." Gerutu Livia saat mengantar Irish dan Retno.
"Resiko jadi orang cantik, Via." Celetuk Retno asal.
"Kalau begitu aku akan jadi buruk rupa aja deh." Balas Livia asal.
"Jadilah buruk rupa. Makin banyak yang kepo sama kamu." Potong Christo cepat.
Livia mencebik kesal, sedang Retno terkekeh dengan Irish yang terlihat mengerutkan dahinya. Pertanda dia tidak paham dengan perkataan orang-orang di sekelilingnya.
"Pembicaraan orang dewasa memang membagongkan." Suara Irish menyeruak di antara suara orang dewasa yang tengah berbincang itu. Tawa seketika meledak begitu Irish selesai bicara. Mereka heran, dari mana Irish tahu kata membagongkan yang merupakan plesetan dari kata membingungkan.
"Teman Irish anak gaul semua." Gadis itu kembali menyahut saat Christo bertanya. Dan tawa kembali terdengar.
*
Lendra mengerutkan dahi saat menerima laporan kalau Livia mengantarkan seorang anak kecil ke sekolah yang kemarin Livia kunjungi. Buntut dari kejadiaan kemarin, Lendra kembali meminta seseorang untuk mengikuti Livia. Hari pertama dan Lendra langsung mendapat kabar yang cukup mengejutkan.
"Christo?" Lendra bergumam lirih saat si anak buah mengirimkan sebuah foto. Di mana terlihat Christo yang menggendong Irish. Seketika timbul praduga, Christokah ayah Irish? Atau, apakah Livia menikah dengan Christo? Atau Irish anak Livia dan Christo?
Lendra mengusak wajahnya kasar. Sejenak pria itu berpikir, Livia tinggal di Sidney lima tahun dengan Vera. Otomatis Livia dekat dengan Christo, bisa jadi mereka menikah. Aaarrghhhh!! Tidak! Hati kecil Lendra menolak mentah-mentah kenyataan itu. Dia tidak mau percaya kalau misalnya Livia dan Christo menikah bahkan sampai punya anak.
Namun kalau Livia dan Christo menikah kenapa tidak ada pemberitahuan atau undangan pernikahan mereka. Atau berita mereka menikah, setidaknya. Kenapa kasusnya jadi sama dengan Pasha yang mengaku menikah dengan Livia tapi ternyata tidak.
Rasa bimbang itu semakin meninggi, Lendra harus mencari tahu. Kalau tidak, dia bisa mati penasaran. Lendra baru saja meraih ponselnya, ketika nama Christo muncul di layar ponselnya, memanggil.
__ADS_1
Lendra sesaat terdiam, mendengar perkataan Christo dari ujung sana. Hingga kata "baiklah" terucap dari bibir Lendra. Pria itu melangkahkan kaki keluar dari ruangannya. Bian yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Jangan buat keonaran lagi." Bian memperingatkan. Sebuah cengiran sebagai kode "tidak janji" Bian dapatkan.
"Umur dah tua, tapi kelakuan seperti anak teka" Gerutu Bian.
Di sebuah restauran, tampak seorang pria berwajah Asia sedang memerika ponselnya. Christo, pria itu memang lahir di Sidney tapi sang ibu yang berasal dari Asia membuat pria itu memiliki paras oriental dengan sentuhan warna mata berwarna biru pudar. Jika tidak diperhatikan benar-benar, orang akan mengira Christo memiliki warna mata coklat atau hitam.
Kredit Pinterest.com
Perkenalkan Christo Mark Print
"Sudah lama?" Satu panggilan membuat Christo mengangkat wajahnya. Tampak Lendra yang sudah mengambil tempat duduknya di depan Christo, bahkan ketika pria itu mempersilahkan.
"Baru saja."
Setelah berputar-putar, akhirnya Lendra masuk ke pertanyaan yang sejak tadi mengganjal hatinya. "Ada hubungan apa kamu dengan Livia?"
Christo menarik dua sudut bibirnya. Christo tahu benar kalau Lendra mengirim seseorang mengawasi Livia. Kalau benar begitu, berarti Lendra sudah menerima laporan kalau dia dan Livia mengantar Irish tadi pagi.
"Menurutmu?"
"Apa kalian menikah?" Satu pertanyaan yang cukup sulit untuk diucapkan oleh Lendra. Dia takut kalau jawabannya akan mematahkan hatinya sekali lagi.
Sementara Christo tersenyum mendengar pertanyaan Lendra. "Memangnya kenapa kalau aku dan Livia menikah?" Pancing Christo. Pria itu ingin memastikan kalau Lendra benar-benar pantas untuk Livia. Untuk Irish, gadis kecil itu sudah pasti akan menerima Lendra sebagai ayah kandungnya dengan tangan terbuka. Tapi Livia, tunggu dulu.
Lendra mendengus geram, Christo membalikkan pertanyaannya. "Ceraikan dia!" Kata Lendra tegas.
__ADS_1
Tawa Christo pecah mendengar perintah Lendra. Bukan sebuah permintaan, tapi perkataan Lendra terdengar seperti sebuah dikte yang harus Christo patuhi. Menilik sifat Christo, pria itu tidak akan menurut dengan mudah pada Lendra. Meski Lendra lebih tua atau bahkan mengingat Lendra adalah cucu Vera. Yang notabene kedudukan Lendra lebih tinggi dari Christo.
"Enak saja. Suruh-suruh cerai. Emangnya aku kamu." Ledek Christo. Ingin sekali dia mengerjai Lendra dan sepertinya ini waktu yang tepat.
"Kau tahu jelas sebab aku menceraikan Natalie..."
"Kalau begitu, aku tidak punya alasan untuk menceraikan Livia. Mau cari di mana model istri kayak dia. Cantik, pinter masak, rajin kerja, dan yang penting.....seksi dan hot diranjang."
Christo meringis kala Lendra menerjang kakinya yang ada di bawah meja. Lendra sungguh geram saat Christo menyebut Livia seksi dan panas. Tentu saja itu benar, Lendra masih ingat dengan jelas bagàimana dirinya yang lepas kendali lima tahun lalu. Bayangan tubuh Livialah yang memenuhi otak Lendra tiap kali bercinta dengan Natalie.
"Apa sih main tendang-tendang. Dia kan istriku. Jadi wajar dong jika kami bercinta." Komporan Christo semakin menjadi. Pria itu bersorak dalam hati melihat ekspresi kesal bercampur cemburu dari Lendra.
"Tidak boleh!"
"Tidak boleh apanya? Nyatanya kami melakukannya tiap hari waktu di Sidney. Dan semalam....." Christo menghentikan perkataannya. Saat melihat sorot tajam mata Lendra yang serasa ingin membunuh Christo.
"Christo keparaaat. Beraninya kau menceritakan hal seperti itu padaku."
"Hei, kau dan aku sudah dewasa. Hal begituan biasa buat kita. Jangan polos-polos amat napa sih. Biasanya seneng polosan juga." Kekeh Christo.
"Aku berikan waktu dua bulan. Urus perpisahan kalian di Sidney. Aku dan Natalie akan selesai bulan depan. Aku ingin menikahi Livia." Kata Lendra tegas. Raut wajah Christo seketika berubah serius.
"Apa kau tetap akan menikahi Livia andai dia tidak bahagia. Jika kau mencintai dia, seharusnya kau akan membuat dia bahagia. Meski itu bukan bersamamu. Bagiku kebahagian Livia adalah yang utama. Jika dia tidak bahagia denganku. Aku akan berpisah dengannya. Tapi jika sebaliknya, sampai mati pun aku tidak akan melepaskannya."
Sebuah balasan menohok Lendra terima. Bagi Christo, Livia sudah seperti adiknya sendiri. Jadi dia akan membuat Livia bahagia. Bersama siapa pun asal Livia dan Irish bahagia, Christo akan merestuinya.
***
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima masih.
****