Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Bingung


__ADS_3

Air mata Livia meleleh di pipi tanpa dia sadari. Saat dia ikut masuk ke ruangan Lendra, dilihatnya pria itu tengah berada dalam pelukan Lana, sang mama. Lendra telah sadar. Meski terlihat lemah dan pucat, namun ada senyum yang terukir di bibir pria itu. Hingga semua orang bisa bernafas lega. Satu masalah sudah bisa diatasi.


Beberapa perawat tampak merapikan alat-alat yang menempel di tubuh Lendra. Sementara Rafi tengah memeriksa kondisi Lendra. Livia seketika memundurkan diri, keluar dari sana secara diam-diam. Satu nafas lega lolos dari hidung wanita cantik itu. Setidaknya Lendra sudah lolos dari bahaya.


Tanpa seorangpun tahu, satu perawat masuk ke ruang rawat Irish. Perawat yang tak lain adalah Natalie itu begitu geram melihat putri Lendra. Marah jelas wanita itu rasakan. Natalie telah dibutakan oleh rasa benci pada mantan suaminya.


"Kau harus mati!" tangan Natalie terulur untuk melepas selang oksigen Irish. "Dengan begini kau pasti akan mati." Batin Natalie memandang wajah Irish. Tak lama Natalie keluar dari kamar itu. Meninggalkan Irish yang perlahan membuka mata.


"Kak...." lirih gadis kecil itu. Isac tersenyum melihat sang adik baik-baik. Setelah itu seorang perawat masuk. Betapa terkejutnya dia melihat selang oksigen Irish yang terlepas.


"Astaga, untung anak ini baik-baik saja." Gumam perawat itu cemas.


Di sisi lain Natalie sangat bahagia, sebentar lagi akan ada kabar menghebohkan. Putri Lendra dikabarkan meninggal setelah dioperasi, begitulah sekiranya yang ada di pikiran Natalie. Wanita itu tampak bersenandung dengan riang. Tanpa tahu kalau Irish baik-baik saja, sebab Isac selalu menjaga sang adik.


Livia masuk ke kamar Irish, meninggalkan kamar Lendra setelah memastikan pria itu baik-baik saja. Begitu wanita itu sampai di samping bed pasien Irish, Livia membekap mulutnya sendiri. Irish nampak tersenyum padanya.


"Irish sayang...." Tangis Livia kembali tumpah. Wanita itu memeluk tubuh Irish. Satu tangan Livia menekan tombol yang terhubung dengan ruang dokter dalam hal ini ruangan Rafi.


"Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit? Katakan pada Ibu." Livia berkata sambil menciumi wajah sang putri.


"Irish tidak apa-apa, Bu. Irish..."


"Ada apa Via?" Suara panik Rafi memotong ucapan Irish. Meski detik berikutnya, pria itu bisa bernafas lega. Melihat Irish yang tersenyum padanya.


"Halo om..." Senyum Rafi mengembang seketika, melihat bagaimana gadis kecil itu telah bangun. Bahkan menyapanya. Sepertinya Irish masih ingat padanya.


"Nona kecil sudah bangun? Ada yang sakit?" tanya Rafi mulai memeriksa keadaan Irish. Keadaan Irish jauh lebih baik dibanding sang ayah.


"Sakit, bu." Keluh Irish menunjuk bekas operasi di atas perutnya. Livia tersenyum, mengusap kepala Irish.

__ADS_1


"Tidak apa-apa cuma sebentar. Setelah ini tidak akan sakit lagi." Hibur Livia. Wanita itu menatap sendu pada Irish. Rasa bersalah itu terasa sangat besar.


"Maafkan ibu Irish. Ibu tidak tahu kamu sakit. Ibu bersalah pada Irish." Kata Livia dengan air mata mengalir di pipi wanita. Sementara Rafi hanya terdiam, mendengar interaksi ibu dan anak itu.


Pria itu sibuk melepaskan alat monitoring detak jantung yang tertempel di dada Irish. Menggantinya dengan sebuah gelang yang sama fungsinya.


"Tidak apa-apa, Bu. Ibu jangan menangis lagi. Kakak tidak suka." Jawab Irish lesu. Sang kakak terlihat tidak menyukai wajah sedih sang ibu.


"Isac di sini?" tanya Livia heran. Pun dengan Rafi. Keduanya saling pandang.


"Kakak nggak pernah ninggalin Irish kalau Irish lagi sendirian." Kembali jawaban Irish membuat Livia dan Rafi saling tatap.


"Apa mungkin Irish indigo?" Rafi berbisik setelah Irish kembali tertidur.


"Indigo? Maksudmu bisa melihat begituan?" Livia memastikan. Rafi mengangguk. Bisik-bisik keduanya terputus ketika Vera masuk ke ruangan Irish. Baru Livia dan Rafi yang tahu kalau Irish sudah sadar. Rafi menyarankan untuk merahasiakan dulu soal sudah bangunnya Irish, agar gadis itu benar-benar lebih baik. Ada banyak hal yang akan Irish hadapi setelah ini. Setidaknya fisik Irish harus lebih kuat.


"Via...Lendra ingin bertemu." Vera memberitahu. Satu kode dari Rafi, dan Livia melangkah gontai keluar dari ruangan Irish. Berbelok masuk ke pintu di sebelah ruangan Irish, Livia menghentikan langkahnya, saat matanya bersirobok dengan manik mata Lendra.


"Jangan menangis. Aku masih hidup. Gak jadi mati....aaarrgghhh...sakit Via." Keluh Lendra lirih. Pria itu masih lemah. Bergerak saja belum bisa. Namun Livia dengan cueknya mencubit dadanya.


"Siapa juga yang menyuruhmu mati." Gumam Livia.


"Jadi aku boleh hidup ni?" tanya Lendra tengil.


"Apaan sih?!" Cebik Livia kesal. Lendra terkekeh sambil meringis. Luka operasinya masih terasa nyeri. Meski setelahnya Lendra mengukir senyum di bibirnya. Pria itu sungguh lega bisa melihat Livia lagi dan tentu saja sang putri. Kesempatan kedua yang tidak akan Lendra sia-siakan.


"So...janjinya masih berlaku lo." Lendra melirik cincin yang masih berada di jari Livia.


"Lagi gak mau ngomongin yang itu." Sergah Livia cepat. Wanita itu mengamati keadaan Lendra yang masih bertelanjang dada. Hingga dada bidang berotot itu terekspose sempurna.

__ADS_1


"Pakai baju napa?" Livi berkata kesal. Mendengar protes Livia, Lendra kembali tersenyum. Ada rasa bahagia dalam hati Lendra saat Livia mengutarakan apa yang tengah dia pikirkan.


"Nanti, setelah ini diganti." Lendra menunjuk perban juga alat-alat yang menempel di dadanya. Livia melipat tangannya tidak suka. Satu hal yang membuat Lendra kembali mengulum senyumnya. Sampai pria itu teringat akan Irish.


"Putriku sayang, mana?" tanya pria itu.


"Siapa? Kau gak punya anak!" Jengkel Livia.


Rahang Lendra mengeras, bahkan sampai detik ini, Livia masih ingin menyembunyikan Irish darinya.


"Masih ingin menyangkal? Bahkan setelah Nenek menunjukkan hasil tes DNA Irish dan Isac. Kau masih tidak mau mengakui kalau aku ayah anakmu?" Wajah Lendra sudah berada dalam mode serius. Livia hanya terdiam.


"Menyangkallah, maka akan kujerat kalian sampai tidak bisa lari lagi."


"Lendra!"


"Apa?! Seharusnya aku yang marah padamu! Mereka anakku. Tapi kau tega membawanya pergi dariku. Aku brengsek Via, tapi aku masih punya rasa tanggung jawab. Kau pikir aku akan mengabaikan kalian? Tentu saja tidak. Kamu, kalian anugerah paling indah yang pernah ada dalam hidupku."


Livia memalingkan wajah saat bulir bening itu ingin mengalir lagi, mendengar pengakuan Lendra.


"Apa yang bisa kulakukan saat aku merasa sakit hati padamu?" wanita itu berbalik. Saat itu mata Livia menangkap satu sosok yang sepertinya sejak tadi ada di sana. Mendengarkan percakapan mereka.


Livia bingung harus bagaimana. Sementara Lendra seolah tidak percaya, melihat siapa yang tengah berada di depan matanya.


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2