Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Operasi


__ADS_3

Waktu berlalu, dua jam sebelum operasi pencangkokan hati untuk Irish.


"Via, bisa kita bicara sebentar." Lendra berkata penuh harap. Berharap kalau Livia mau bicara padanya. Wanita itu mengecup kening Irish sebentar sebelum keluar dari ruang ICU Irish. Persiapan operasi mulai dilakukan. Operasi akan dilakukan di ruang itu juga. Tanpa perlu keluar. Semua peralatan sudah tersedia. Mereka tinggal menunggu tim dokter yang akan mengoperasi Irish.


Livia berbalik saat berada di sisi jendela ruang rawat Irish. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Livia. Sungguh, dia sedang tidak ingin meninggalkan Irish terlalu lama, sebelum gadis itu masuk ke ruang operasi.


"Apa kamu khawatir padaku?" tanya Lendra balik. Pria itu menelisik wajah Livia. Kini dia sadar, wajah wanita inilah yang sudah mengisi relung hatinya.


"Tentu saja aku mengkhawatirkan kalian berdua. Kenapa masih tanya?" judes Livia.


Senyum Lendra mengembang. Meski Livia belum mau terbuka soal perasaannya pada pria itu. Setidaknya kebersamaan mereka selama dua hari satu malam ini, mulai membuka jalan yang selama ini tertutup untuk hubungan mereka.


"Kalau begitu, maukah kamu memberiku satu kesempatan untuk memperbaiki semua. Kita mulai dari awal. Kalau...kalau aku bisa keluar dari sana baik-baik saja."


"Kamu ini bicara apa sih? Kalian akan keluar dari sana, baik-baik saja."


Senyum Lendra semakin lebar. "Kalau begitu berjanjilah padaku...."


Livia tertegun, saat Lendra tiba-tiba berlutut di hadapannya. Sebentuk cincin sudah berada dalam genggaman pria itu.


"Apaan sih Ndra?" Livia bingung, wanita itu menoleh ke sana ke mari. Takut ada yang melihat ulah Lendra yang menurut Livia sangat konyol. Padahal lantai itu sudah disterilkan oleh pihak rumah sakit.


"Katakan saja iya. Kita tidak punya waktu lagi." Desak Lendra. Dia harus masuk ruang operasi lebih dulu. Karena Irish akan mulai dibedah setelah dirinya.


Livis sesaat bimbang. Hingga entah keberanian dari mana, wanita itu mengulurkan tangannya. Ada bulir bening yang muncul di sudut mata Lendra.


"Aku harap, bisa melakukan ini dalam keadaan yang lebih baik. Setelah Irish sembuh, aku ingin melamarmu dengan cincin yang kamu sukai." Ada sesak saat Lendra mengatakan hal itu.


"Aku tidak janji." Livia menjawab ragu.


"Setidaknya ini cukup untuk menjadi bekalku." Kata Lendra menatap cincin sederhana yang kini melingkar di jari Livia. Pria itu mengusap air mata yang turun di pipinya. Lendra perlahan berdiri, lantas mengecup singkat kening Livia.


"Aku mencintaimu, Livia Kaira."

__ADS_1


*


*


Ruang operasi.


Lampu operasi sudah dinyalakan. Menyorot bagian diafragma. Dimana titik bedah akan dilakukan. Raffi, dokter bedah yang menangani operasi untuk Lendra, sementara sang istri, Alina, dokter spesialis bedah anak yang akan menangani Irish.


Lendra memejamkan mata, teringat wajah sang putri. "Ayah berharap, bisa bertemu lagi denganmu, putri ayah." Bulir bening nampak mengalir di sudut mata Lendra.


"Siap?" Raffi bertanya. Dan Lendra mengangguk.


"Santai Ndra, ini penting untuk mencegah reseptormu merespon biusnya terlalu cepat."


Lendra memiliki toleransi kurang baik pada obat bius. Bisa dikatakan Lendra berbahaya jika bersentuhan dengan obat bius. Tubuhnya bereaksi berlebihan pada anastesi. Hingga menyebabkan tekanan darah Lendra bisa melonjak drastis. Beberapa tahun berlalu sejak Lendra mengetahui hal itu. Namun kali ini Alex Liu, berhasil menciptakan obat bius khusus untuk Lendra. Meski masih kurang sempurna, dibanding serum yang tengah dibawa Lira.


Raffi menggangguk pada dokter anastesi yang bertugas. Dokter itu mulai menyuntikkan obat bius melalui pembuluh darah di lengan Lendra. Dengan riwayat medis Lendra, semua tim siaga di pos masing-masing. Semua mengawasi monitor yang berada di sebelah kiri Lendra. Menit demi menit berjalan, detak jantung, suplai oksigen, tekanan darah normal. Lendra mulai masuk dalam pengaruh obat biusnya.


Semua orang menarik nafasnya lega."Kita mulai." Raffi mulai membuat sayatan di bagian kiri atas diafragma.


Di ruang tunggu, semua orang menunggu dengan cemas. Kecuali Livia dan Retno, yang lain merasakan cemas tiga kali lipat. Terlebih Lana dan Vi juga Vera. Christo masih dalam perjalanan dari pabrik menuju rumah sakit.


Vi tampak menggenggam tangan Lana erat, berusaha memastikan kalau mereka akan baik-baik saja. Dua jam pertama berlalu, lampu di atas kamar Irish menyala, operasi untuk Irish di mulai. Lana dan Vi menarik nafasnya. Lendra berhasil melewati bagiannya. Kini tinggal operasi Irish.


Untuk Irish, waktu operasi akan lebih panjang. Karena Alina harus mengambil jaringan hati yang bermasalah lalu menggantikannya dengan yang baru, milik sang ayah. Dalam beberapa waktu ke depan, jaringan hati milik Lendra dan Irish akan mulai memulihkan diri. Untuk Lendra, hati akan menumbuhkan kembali bagian yang hilang. Sedang Irish, setelah hati beradaptasi dengan tubuh Irish, organ itu juga akan tumbuh mendekati ukuran normal setelah beberapa waktu.


"Bagaimana?" Christo bertanya dengan nafas tersengal. Hanya beberapa orang yang diizinkan naik ke lantai tempat Irish di rawat.


"Lendra oke." Jawab Vi. Wajah Christo menampilkan raut kelegaan. Mereka tinggal menunggu operasi Irish.


"Ya, Bi....." Christo mengangkat panggilan dari Bian. Pria itu ditugaskan menjemput Lira dan Hugo.


"Kalian kena macet? Ada antrian kecelakaan?" tanya Christo lagi.

__ADS_1


Bagaimanapun serum itu harus sampai ke sini secepatnya. Ada tiga serum yang Alex buat, obat bius, serum untuk menetralkan bius juga dua botol serum masing-masing untuk Irish dan Lendra.


Christo berjalan mondar mandir tidak karuan. Padahal Lira dan Hugo sudah berada di jalan menuju rumah sakit. Mungkin sekitar lima belas menit jika perjalanan lancar.


Saat itulah, beberapa orang tampak berlari masuk ke ruang operasi di mana Lendra berada. Kecemasan jelas terlihat di wajah paramedis tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana piasnya wajah Lana. Wanita itu langsung menangis dalam pelukan Vi.


"Dia akan baik-baik saja." Kata Vi. Vera mulai menangis, sedang Christo jelas semakin panik.


"Aku akan kirimkan orang untuk membuka jalan."


"Kirimkan saja orang untuk mengambil serum ini." terdengar suara Hugo yang bicara.


"Baik!" Christo mengakhiri panggilannya lantas mnghubungi seseorang. Meminta orang tersebut mengambil barang di titik yang sudah Christo kunci.


"Dia akan baik-baik saja, Nek." Kata Christo di depan Vera, pria itu berjongkok di hadapan sang nenek.


"Apa yang kuminta terlalu banyak? Apa aku terlalu serakah? Aku ingin cucu dan cicitku kembali padaku dalam keadaan baik?" derai tangis wanita itu tak terbendung lagi.


"Ma...." Lana langsung memeluk Vera. Keduanya bisa merasakan hal yang sama. Sementara Livia dan Retno saling pandang melihat kejadian itu.


"Hubungi bank darah! Minta mereka untuk standby!" terdengar satu kalimat dari seorang paramedis yang lewat.


Suasana begitu panik dan kacau saat itu. Ditambah dengan tangis Vera dan Lana. Sementara Vi dan Christo hanya bisa saling pandang. Meski dua hati mereka berkecamuk tidak karuan.


"Semua akan baik-baik saja."


***


Organ hati bisa tumbuh lagi, walau hanya ada 25% sisa organ yang masih berfungsi. Proses regenerasi ini terjadi karena hepatosit, sel utama yang membentuk hati, mampu menggandakan diri. Hepatosit ini bekerja seperti sel induk (sel punca) dalam artian hepatosit dapat membelah diri.


Sumber halodoc.com


Up lagi readers

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2