
Lendra masuk ke kamarnya hampir tengah malam. Saat dia masuk, didapatinya Natalie yang sudah tidur. Mengenakan lingerie kurang bahan seperti biasa. Tapi hari ini, dan mungkin seterusnya dia tidak akan tertarik lagi dengan tubuh sang istri. Apalagi penyebabnya , jika bukan kembalinya Livia.
Setelah kejadian yang menimpa Livia tadi sore, ditambah laporan dari anak buahnya yang mengatakan tabrakan itu disengaja. Membuat Lendra ekstra waspada. Pria itu bahkan memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Livia dua puluh empat jam.
Ditambah lagi dengan keterangan Pasha yang membuat Lendra semakin curiga dengan pria itu. Pasha dan Livia tidak pernah menikah. Dan dia harus bisa menemukan bukti. Lendra menatap cincin pernikahannya. Perlahan dia menyadari, Livia tidak memakai cincin apapun di jarinya. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa semakin Lendra memikirkannya semakin Lendra dibuat penasaran olehnya. Livia kembali membuat hati Lendra goyah.
Pria itu menghembuskan nafasnya pelan. Lantas beranjak dari duduknya. Masuk ke kamar mandi, mulai ritual membersihkan diri.
Keesokan harinya, Livia meringis sembari mengacak-acak isi laci dan tasnya.
"Aduh di mana sih?"
Wanita itu kembali mencari dengan rasa perut semakin tidak karuan. Asam lambungnya kumat. Gegara kemarin malam dia tidak mengambil makan malamnya. Suara ponsel menambah gerutuan Livia. Wanita sedikit berteriak ketika Atta yang menghubunginya.
"Aku masih di rumah."
Dan tak lama suara bel berbunyi. "Kau kenapa?" Atta bertanya heran, melihat Livia yang terlihat pucat dengan ringisan yang keluar dari bibir berpoles lip balm rasa strawberry.
"Asam lambungku kambuh."
Lirih Livia. Wanita itu kembali mencari obatnya namun tidak ketemu. Hingga akhirnya Atta meminta Meta yang otewe ke tempat Livia membelikan obat untuk wanita.
"Obatnya cuma bisa dikeluarin sama dokter gastroentero hepatology-ku."
"Ha? Apa itu?"
"Dokter ahli lambung. Aduuuhhh....apa tidak kebawa ya. Habislah aku."
"Makanya waktunya makan ya makan. Trus ini gimana?"
Livia menatap memelas pada Atta. Hingga setengah jam kemudian, Atta mengucapkan terima kasih pada Rafi yang mendapatkan obat asam lambung untuk Livia. Sementara Atta mencarikan makan dan minum untuk Livia. Rafi kembali berbincang dengan wanita cantik itu.
__ADS_1
Rafi mengatakan kalau kemungkinan Lendra curiga dengan Livia. Mendengar perkataan Rafi, Livia hanya bisa menghela nafas. Hingga satu permintaan dari Livia membuat Rafi mengangguk. "Jangan katakan apapun pada Lendra. Terlebih dia sudah menikah. Aku tidak mau mengganggu pernikahan mereka."
Meski dalam hati, Rafi menganggap kalau Livia terlalu egois. Anak Lendra berhak tahu soal siapa ayah kandungnya. Tapi Rafi tidak bisa berbicara banyak. Itu hak Livia. Melihat bagaimana sikap Livia pada Lendra. Bisa dipastikan kalau Livia memiliki sakit hati yang cukup dalam pada Lendra.
"Jadi hari ini kita gak ngantor nih?" Tanya Atta. Livia mengangguk. Hari ini Irish akan datang jadi dia akan menjemput gadis kecil itu.
"Kau kembalilah ke kantor. Aku akan istirahat."
Atta mengangguk paham. Apalagi Rafi tadi memang menganjurkan Livia untuk istirahat. Tanpa Atta tahu, sepeninggal pria itu, Livia langsung mengambil taksi lalu pergi ke bandara. Senyum mengembang di bibir Livia, membayangkan Irish yang sebentar lagi akan kembali bersamanya.
Setengah jam menunggu, akhirnya wajah yang selama seminggu ini memenuhi benak Livia menjadi nyata di depan wanita 26 tahun itu. Senyum Irish mengembang sempurna kala melihat sang ibu yang juga tersenyum padanya. Hingga pelukan penuh sukacita itu mewarnai pertemuan mereka.
"Ibu rindu Irish."
"Irish juga."
Ibu dan anak itu saling tatap. Seolah memindai wajah masing-masing. Hingga tawa itu lolos dari keduanya. "Nenek apa kabar?" Livia bertanya sembari mencium punggung tangan juga pipi Vera. Bahkan cucunya sendiri tidak pernah mencium tangannya. Vera tersenyum getir mengingat Lendra dan Lira jarang menemuinya. Salahnya juga sih memilih tinggal di Sidney ketimbang ikut tinggal di Green Hills.
"Nenek baik, jangan khawatir. Yang tidak baik sepertinya dirimu."
"Jangan terlalu khawatir, Nek. Via tidak apa-apa."
Vera tersenyum ketika ketiganya sudah berada di dalam taksi di kursi belakang. Sementara Retno duduk di kursi depan. Vera tidak memberitahu anak dan cucunya kalau dia kembali hari ini. Selama perjalanan itu Irish bercerita kalau Christo menangis saat mengantar gadis kecil itu ke airport. Irish mengatakan kalau Christo pasti akan sangat merindukan dirinya.
"Padahal Papa selalu bertengkar dengan Irish. Bagaimana bisa lindu dengan Irish?"
Baik Livia dan Vera terkekeh mendengar pertanyaan sederhana dari Irish. "Dia begitu karena sayang pada Irish." Irish membuat mimik wajah menggemaskan. Terlihat lucu saat gadis itu mengerutkan dahinya. Dengan dua alis naik bersamaan.
"Sayang kok gitu ya."
"Caranya Papa Christo begitu, sayang."
__ADS_1
Si kecil itu mengangguk-anggukan kepalanya, paham dengan penjelasan sang Ibu. Melihat ke arah jalan, Livia bertanya karena ini bukan jalan ke apartemen.
"Nek, kita tidak pulang ke apartemen?"
"Kita akan pulang ke rumah nenek yang lain. Apartemen kurang baik untuk Irish. Udara segarnya kurang."
Untuk hal ini Livia setuju. Dia sebenarnya tengah mencari rumah, tapi lagi-lagi Vera mendahuluinya. Mereka sampai di sebuah rumah minimalis tapi halaman sampingnya luas, setelah 45 menit berkendara. Jauh dari bandara tapi lebih dekat ke pabrik.
Irish tampak senang sekali dengan rumah baru itu. Terlebih ada ayunan di halaman samping. Vera sengaja menyiapkan hal tersebut. Wanita itu tahu kalau Irish sangat suka bermain ayunan. Begitu masuk ke rumah, Irish langsung menuju ayunan itu. Lantas memainkannya.
"Kakak, aku di Surabaya. Besok kita akan mulai cari ayah."
Irish membatin sedih, meski bibirnya tersenyum lebar. Gadis itu benar-benar pintar menyembunyikan perasaan hatinya. Gadis kecil itu terus bermain ditemani Retno. Hingga suara sang ibu memanggil membuat Irish melangkah masuk ke rumah.
****
Vera masuk ke Green Hills hari berikutnya. Kebetulan weekend, hingga semua orang berada di rumah. Bahkan Lira pun sedang ada di rumah. Mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai asisten Hugo, adik Helena. Kedatangan Vera tentu membuat heboh Green Hills. Lana dan Vi langsung memeluk sang mama, pun dengan Lira. Gadis itu juga ikut bergabung dalam pelukan ramai-ramai itu.
Kebahagiaan terpancar dari raut wajah tiga orang itu. Tapi tidak dengan Lendra dan Natalie. Natalie jelas tidak suka dengan kedatangan Vera. Namun Lendra, pria itu heran dengan kepulangan Vera yang tiba-tiba. Tanpa memberi kabar.
Vera dan Lendra terlibat adu pandang, saat semua orang pergi ke dapur menyiapkan makan siang. Termasuk Natalie yang memilih kabur dari sana. Lendra dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ada hubungan apa antara sang nenek dan Livia.
Sementara Vera memandang sang cucu dengan bara kecewa di hati. Bagi Vera sebuah kesalahan besar sudah Lendra buat. Mempermainkan hati Livia, itu membuat Vera meradang. Terlebih sampai Livia hamil.
"Ada yang ingin Nenek katakan?"
Lendra akhirnya bertanya. Keduanya bak musuh yang sedang adu tanding. Meski di sini, Lendra tetap menyadari posisinya. Hingga rasa hormat itu pun masih terpatri di hati pria 29 tahun itu.
***
Up lagi readers,
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempolnya.
*****