Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Hadiah Dariku


__ADS_3

"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Livia dengan wajah bersungut-sungut. Sejak tadi Lendra membawanya berputar-putar tidak jelas. Livia tahu pria itu sengaja melakukan itu padanya.


"Tuan Aditama yang terhormat, hentikan mobilnya atau saya lompat!"


Ancam Livia. Lendra sesaat tidak menggubris ucapan Livia. Lagipula dia sudah mengunci pintu bagian wanita itu. Mau lompat bagaimana. Namun setelah beberapa waktu, Livia mengubah mode protesnya. Wanita itu diam tanpa sepatahkata pun. Ini yang membuat Lendra kebingungan. Diabaikan oleh orang yang sedang ia dekati.


"Via, say something. Please. Aku gak betah kamu cuekin." Kata Lendra pada akhirnya. Namun Livia yang terlanjur jengkel tidak menanggapi. Hingga Lendra menghentikan mobilnya.


"Via...." Yang dipanggil namanya hanya diam, wanita itu lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela mobil Lendra. Sejenak hanya ada keheningan di antara mereka. Lendra begitu menikmati menatap tiap jengkal wajah Livia. Lendra baru sadar kalau tiap inci wajah Livia begitu menarik untuk di pandang. Seulas senyum terukir di bibir Lendra.


"Via...untuk kejadian lima tahun lalu. Aku minta maaf."


Untuk pertama kali, Lendra menyinggung soal kejadian yang begitu menyakitkan bagi Livia. Peristiwa yang membuat Livia berubah. Dia yang awalnya sosok lembut, kini berubah menjadi sosok yang keras kepala. Dengan sikap egois mendominasi.


"Lupakan saja. Aku tidak mau mengingatnya."


"Berarti kamu memaafkan aku?" tanya Lendra penuh harap. Livia menarik nafasnya, memaafkan Lendra? Entahlah, dia sudah memaafkan pria itu atau belum. Yang jelas, Livia tidak bisa menutupi fakta kalau Lendra adalah ayah dari anak-anaknya.


"Tidak semudah itu memaafkan. Kamu tahu rasanya saat tahu kalau aku hanya bahan taŕuhan?" perkataan Livia terasa menusuk hati Lendra.


"Maaf... Berikan aku kesempatan untuk menebusnya Via. Aku akan perbaiki semua."


Mohon Lendra. Pria itu menatap wajah Livia dalam. Hingga sebaris kalimat meluncur dari bibir Lendra. "Karena aku sadar kalau aku mencintaimu."


Livia seketika menatap wajah pria yang tampak bersungguh-sungguh saat mengatakan hal itu. Ada jeda sejenak waktu itu. Livia tahu benar kalau kata cinta sangatlah mahal untuk seorang Lendra. "Jangan ngaco kamu." Kalimat itu yang akhirnya keluar dari bibir Via sebagai jawaban.


Dalam hati Via, mungkin tak seorang pun tahu. Nama siapa yang terukir di sana. Via sendiri tidak pernah mengungkapnya. Karena wanita itu cukup tahu diri. Kalau pria yang bersemayam di hatinya sangat mustahil ia dapatkan.


"Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku." Detik selanjutnya, tanpa Livia sangka. Lendra melakukan hal yang membuat dirinya kembali dilanda dilema. Pria itu berani mencium Livia. Satu tindakan yang membuat Livia marah. Wanita itu mendorong kuat tubuh Lendra tapi badan besar Lendra bergeming sama sekali.


Pria itu begitu menikmati setiap pagutan yang ia lakukan pada bibir Livia. Satu hal yang membuat pria itu rindu pada sosok wanita itu. Hingga satu sentakan dari Livia membuat ciuman itu terurai.


"Kau gila ya!" maki Livia tanpa ragu. Sementara yang dimaki justru tersenyum puas. Sudah lama pria itu ingin mencium Livia untuk membuktikan perasaannya. Nyatanya benar, dia mencintai Livia bukan Natalie.

__ADS_1


"Kamu benar, aku memang gila. Empat tahun aku menikah dengan Natalie. Kami sering bercinta, tapi hanya kamu yang ada di otakku. Aku membayangkan itu kamu."


Livia mendelik mendengar ucapan frontal Lendra. "Kau ini...." Perkataan Livia terhenti ketika Lendra memotongnya.


"Aku tidak tahu atas dasar apa aku menikahinya. Tapi sejak aku melihatmu di hari pertunanganku, percayalah... aku tidak pernah berhenti mencarimu."


Livia terdiam, sesaat memandang wajah pria yang sudah menorehkan luka sekaligus bahagia dalam hidup seorang Livia. "Berikan aku kesempatan. Aku dan Natalie akan berpisah. Bukan karena adanya kamu. Tapi karena dia selingkuh dengan Pasha, mengaborsi bayinya...."


Livia seketika menutup mulutnya. Natalie menggugurkan anaknya. Ini bahkan lebih gila. Andai itu anak Lendra, Livia tidak bisa membayangkan semarah apa dirinya.


"Aku bukan pria baik, kamu tahu benar itu. Tapi selama aku menikah dengan Natalie, aku belajar setia. Aku tidak main sana sini dengan wanita lain. Aku hanya bercinta dengan Natalie. Meski yang ada di otakku adalah kamu."


Lendra nyengir ketika Livia melotot padanya. "Jadi berikan aku kesempatan. Akan kuselesaikan masalahku dengan Natalie, lalu menikah denganmu."


"Siapa juga yang mau menikah denganmu." Balas Livia cepat.


"Kamulah...siapa lagi."


"Aku tidak mau jadi pelakor ya."


Alamak Livia salah ngomong. Seharusnya Livia tahu dengan kejelian Lendra soal pemilihan kata.


"Nggak!" kata Livia tegas. Lendra tersenyum. Pria itu lantas kembali mendekat ke arah Livia. Tanpa ragu, Lendra menangkup wajah Livia, hingga wanita itu kembali dibuat ngap-ngap-an dengan sikap Lendra. Debar jantung Livia terasa begitu kencang, saat manik mata Lendra menatap wajah Livia.


"Tatap mataku dan katakan kalau kamu tidak pernah punya rasa padaku."


Ucapan Lendra membuat Livia menelan ludahnya. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu. Jika dari pertama, Lendralah pemilik hatinya.


"Aku tidak mencintaimu!" jawab Livia tegas. Lendra terbahak, pasalnya Livia mengatakan hal itu sambil menutup matanya.


"Yakin? Tidak mau mengubah jawaban?"


Livia menggeleng. Bagaimanapun dia tidak akan semudah itu untuk percaya pada mulut manis seorang Lendra. Yang ada nanti dia di php-in lagi. Kang pemberi harapan palsu.

__ADS_1


"Kalau begitu tetap tutup matamu. Diam dan rasakan."


Livia seketika membuka matanya, detik berikutnya dia ingin mengelak tapi terlambat. Bibir Lendra kembali menjajah miliknya. Livia mendorong bahu Lendra. Tapi pria itu tidak bergerak. "Rasakan Via...." Bisik Lendra lembut. Pria itu kembali memainkan bibirnya di atas bibir Livia. Hingga cengkeraman di bahu Lendra menguat kala Livia mulai membalas ciuman Lendra. Senyum kemenangan terukir di bibir Lendra di sela ciuman pria itu yang makin panas.


*


*


"Oh ayolah, Via. Jangan marah lagi. Baru juga rekonsilisasi masak berantem lagi. Senyum, nanti aku beri hadiah."


Livia mendengus geram, wanita itu melipat tangan sambil memalingkan wajahnya dari Lendra. Enggan melihat wajah pria itu. Livia begitu merutuki kebodahannya, kenapa bisa terlena dalam permainan bibir Lendra.


"Jangan marah lagi, nanti dia tidak mau bertemu denganmu." Goda Lendra.


"Siapa?" Livia reflek bertanya. Mereka dalam perjalanan ke suatu tempat yang Livia tidak tahu.


"Orang yang penting dalam hidupmu."


Livia seketika menoleh ke arah Lendra. Orang yang sangat penting bagi Livia adalah sang putri. Apa Lendra akan membawanya bertemu sang putri? Tidak mungkin! Lendra tidak tahu apa-apa soal Irish.


"Siapa?" Kepo Livia. Tidak ada jawaban. Lendra tidak menjawab, sebagi jawabannya pria itu membelokkan mobilnya. Masuk ke car port di sebuah rumah minimalis yang tidak Livia ketahui milik siapa.


"Rumah siapa ini?"


"Turunlah dan kau akan tahu. Hadiah dariku karena kamu mau menerimaku." Bisik Lendra sambil membukakan pintu untuk Livia.


Livia melengos mendengar pernyataan narsis Lendra. Awalnya Livia enggan turun. Tapi sebuah suara membuat wanita itu mengubah pikirannya.


"Dia...dia...ada di sini?" tanya Livia lirih. Lendra mengangguk pelan.


****


Up lagi readers,

__ADS_1


Jangan lupa ritual jempolnya ya. Terima kasih.


****


__ADS_2