Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Kalian Sedang Apa?


__ADS_3

"Jika kamu ingin berhubungan dengan Livia, selesaikan masalahmu dengan Natalie."


"Nenek ingin aku bercerai dengan Natalie?"


"Terserah bagaimana pendapatmu. Yang jelas Livia tahunya kamu sudah menikah. Dan dia tidak mau menjadi pelakor. Kau paham?"


Perkataan Vera kembali membuat Lendra pusing. Dari perbincangan mereka kembali, sang nenek menegaskan syarat kalau dirinya ingin berhubungan dengan Livia. Menceraikan Natalie tanpa sebab yang jelas, bisa-bisa dia digantung Vi di pohon mangga depan rumah.


Perbincangan dengan Vera berlangsung di ruang kerja wanita itu di pabrik Tania & Co. Satu waktu yang membuat Vera memanyunkan bibirnya. Selain membuat heboh karyawannya, apa lagi tujuan Lendra datang ke pabriknya selain ingin melihat Livia.


Dan benar saja, senyum Lendra mengembang saat melihat Livia yang berjalan keluar dari ruang produksi bersama Meta, sang aspri. Karena Vera kembali, maka Atta lebih memprioritaskan Vera. Semakin dilihat, Livia semakin menarik di mata Lendra. Bahkan ketika Vera terus bicara. Lendra sama sekali tidak mendengar.


"Sudah pergi sana! Kalau dia melihatmu nanti dia curiga."


Sang cucu menurut. "Boleh ya Nek aku main ke rumah Nenek?" Bujuk Lendra sebelum masuk ke ke mobilnya. "Tidak!" Penolakan Vera membuat Lendra merengut. Karena sang nenek belum mau mengekspose siapa dirinya. Maka Vera tidak pernah mengizinkan Lendra untuk berkunjung ke rumahnya. Namun alasan yang utama adalah karena ada Irish di rumah. Vera tidak berani menunjukkan Irish pada orang lain tanpa persetujuan Livia.


"Siapa, Nek?"


Tanya Livia melihat mobil Lendra melaju, keluar dari pabrik tempatnya bekerja. "Oh, itu klien. Mungkin satu hari nanti kalian harus berbincang soal kerjasama kita dengan mereka."


Kata Vera sembari melangkah masuk ke ruang kerjanya. Langkah Vera diiringi oleh Livia sambil menerangkan keadaan pabrik. Pemandangan itu tidak lepas dari pengamatan Pramana. Dia kesal karena Vera kembali ke pabrik. Jika sudah begitu, akan sulit untuk merebut kursi dirut di pabrik itu. Ditambah ada rumor yang beredar kalau Livia-lah yang akan naik jadi pemimpin.


"Wanita itu rupanya belum kapok setelah aku beri peringatan hari itu."


*


*


Hari berganti dan Irish melompat senang ketika sang Ibu memberitahu, kalau gadis kecil itu akan meneruskan sekolahnya di sini. Karena wanita itu setuju untuk pindah ke sini. Mengurus pabrik di Rungkut yang ternyata banyak sekali hal yang harus dibenahi.

__ADS_1


"Beneran Bu, kita akan pindah ke sini?"


Tanya Irish dengan binar mata bahagia. Dengan begini, dia bisa terus dekat dengan ayahnya. Satu hal yang membuat Irish bisa tersenyum lebar setelah kepergian sang kakak. Livia mengangguk mendengar pertanyaan sang putri.


Dan minggu berikutnya, menjadi hari pertama sekolah untuk Irish. Setelah semua surat kepindahan selesai diurus oleh Christo dan dikirim via e-mail. Irish bisa bersekolah di sebuah taman kanak-kanak dengan standar international.


Irish berjalan sambil melompat-lompat kecil saking senangnya. Disampingnya Livia tampak tersenyum saat mengantarkan sang putri. Dalam pada itu, Diaz yang akan bertugas mengantar jemput Irish. Di samping Irish yang sudah akrab dengan Diaz, pria itu juga yang dipercaya Vera untuk menjaga Irish.


Pertemuan Diaz dan Livia tentu menjadi menjadi momen yang menyenangkan untuk keduanya. Mereka sejenak berbincang sambil mengenang masa lima tahun lalu. Livia sendiri merasa berhutang budi pada Diaz. Karena Diaz adalah salah satu penolong Livia di masa lalu. Tanpa wanita itu ketahui kalau Diaz adalah anak buah Vera. Entahlah, apa reaksi Livia saat tahu ada banyak kebohongan di sekitarnya.


Kantor Adhitama Grup


Lendra mengerutkan dahinya kala menerima laporan dari Bian. Ini soal sang istri. Jika dulu orang yang menjadi mata-mata Natalie selalu melaporkan hal baik soal sang istri. Kali ini sebaliknya. Lendra telah menyuruh orang lain untuk mengawasi Natalie. Lebih tepatnya orang yang sama yang mengawasi Livia waktu itu.


"Kau tidak salah ini?"


Bian menghela nafasnya. Dia sendiri juga tidak percaya dengan laporan anak buahnya. Dalam laporan itu, ada beberapa foto yang menampilkan Natalie tengah berpesta pora di sebuah klub malam. Bersama dengan Pasha, pria yang selama ini mereka anĝgap suami Livia. Yang kemungkinan bukan.


"Sepertinya dia menyuap mata-mataku yang dulu."


Kesimpulan paling masuk akal yang bisa Lendra ambil. Bian pun sependapat dengan dugaan Lendra. Sebuah pesan masuk ke ponsel Bian. Pria itu menatap sang tuan antusias.


"Mau berpesta malam ini?"


Lendra menyeringai penuh arti. Dia tahu maksud perkataan Bian. Jika ada hal yang bisa Lendra jadikan alasan untuk menceraikan Natalie maka dia akan mencari tahu. Celah sekecil apapun akan dia ulik.


Malam itu keduanya mulai membuntuti Natalie. Wanita itu masuk ke sebuah klub malam. Padahal saat Lendra menghubungi Natalie, sang istri mengatakan dia ada deadline yang harus dikejar. Malam ini harus selesai.


"Natnat si ular."

__ADS_1


Maki Bian blak-blakan. Tidak peduli ada Lendra di sampingnya. Mereka memilih menunggu di luar klub malam. Enggan masuk ke dalam. Mereka bahkan sampai membeli cemilan untuk menemani acara detektif dadakan mereka.


"Kemping pindah ni ceritanya." Kekeh Bian sembari memakan satu kantong besar kripik kentang. Sementara Lendra lebih memilih menunggu sambil memeriksa e-mail yang masuk. Sesekali meneguk kaleng soda yang Bian beli.


"Besok schedule-nya nge-gym ni." Sambung Bian lagi. Keduanya asyik dengan kegiatan masing-masing. Hingga waktu menunjukkan hampir tengah malam, ketika mereka melihat Natalie keluar dari klub malam itu bersama....Pasha.


Lendra menggeram kesal. Jadi selama ini dua orang itu ada main di belakangnya. Kurang ajar! Lendra ingin turun dari mobil, ingin melabrak dua orang itu. Tapi Bian mencegah. "Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan selanjutnya."


Lendra terdiam, lantas mengangguk. Mobil Bian mengikuti mobil Natalie yang melaju menuju...apartemen Pasha. Lendra mengepalkan tangan. Kalau dugaannya benar, maka dia akan menceraikan wanita itu. Tidak peduli alasan Natalie.


Mobil Natalie berhenti di depan apartemen Pasha. Kedua orang itu keluar dengan tubuh sempoyongan. Bisa dipastikan jika mereka mabuk. Lendra dan Bian menunggu kira-kira setengah jam. Lantas keduanya naik ke unit Pasha. Mereka sangat yakin kalau dua orang itu melakukan hal yang tidak-tidak.


"Jangan pencet belnya."


"Orang yang habis begituan juga kelihatan."


Potong Lendra. Bian terdiam sejenak. Sesaat berpikir, lalu manutlah dengan keinginan Lendra. Bel ditekan, mereka menunggu sebentar. Lendra sudah menyiapkan mentalnya jika memang Pasha dan Natalie selingkuh di belakangnya. Terdengar suara pintu dibuka.


"Siapa?"


Terdengar suara Pasha yang menyahut. Lendra dan Bian merangsek masuk. Mendorong tubuh Pasha minggir. Bola mata Lendra membulat melihat pemandangan yang ada di depan mereka.


"Kalian sedang apa?"


***


Up lagi readers,


Jangan lupa ritual jempolnya...

__ADS_1


****


__ADS_2