
Irish berlari ke arah sang ayah. Gadis itu langsung masuk ke dalam gendongan Lendra. Pria yang kini akan selalu ada untuk Irish. Irish tersenyum lebar sambil memandang wajah sang ayah.
"Kakak...." lirih Irish dalam hati.
Isac muncul dan tersenyum pada Irish.
Seminggu berlalu, keadaan ayah dan anak itu sudah membaik. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kalau tubuh Irish menerima dengan baik donor hati dari sang ayah. Tidak ada reaksi penolakan dari tubuh Irish sejauh ini.
Pun dengan Lendra, keadaan pria itu juga pulih dengan cepat. Luka operasi keduanya juga sembuh lebih cepat dari perkiraan Rafi dan Alina. Semua berkat serum yang Alex buat. Pria itu membuat proses penyembuhan Lendra dan Irish di luar perkiraan Rafi. Serum Alex meminimalkan reaksi penolakan tubuh Irish tanpa mengurangi ketahanan tubuh gadis itu. Serum itu juga mempercepat proses penyembuhan luka akibat operasi keduanya.
"Mau pulang?" tanya Lendra. Irish mengangguk antusias. Gadis itu sangat senang saat Rafi memberitahu kalau dia boleh pulang. Meski pemeriksaan rutin akan terus dijalankan untuk memantau keadaan Irish.
Senyum Lendra mengembang mendengar jawaban sang putri. Mulai hari ini, pria itu tidak akan membiarkan sang putri jauh darinya. Lendra akan menebus enam tahun yang hilang selama ini.
"Sayang, bisa main dulu sama tante Lira dan om Hugo, sebentar." Pinta Lendra.
Dalam sekejap, Irish sudah dekat dengan semua keluarga sang ayah. Kakek, nenek, om dan tante semua sangat menyayangi Irish. Bahkan keluarga yang lain sangat antusias dengan kabar Lendra yang sudah memiliki anak. Pun dengan ibu Livia, Asna. Meski cukup terkejut, namun perempuan itu tetap menerima kehadiran Irish dan Isac, tanpa menyalahkan Livia.
Irish masuk dalam gendongan Hugo, keluar dari kamar rawat Lendra diiringi Lira. Bersamaan dengan Livia yang keluar dari kamar mandi. "Mana Irish," tanya perempuan itu sambil menata peralatan makan yang baru saja dia cuci. Kamar itu sudah seperti rumah kontrakan saja. Hampir dua minggu mereka tinggal di sana. Bahkan bekerja pun Livia dan Lendra lakukan dari sana.
"Keluar dengan Hugo dan Lira."
Hugo sendiri bolak balik Shanghai-Surabaya. Pria itu baru datang tadi pagi dan akan kembali besok. Kali ini Lira akan ikut serta. Keadaan sang kakak dan keponakannya sudah membuat Lira sangat lega. Hingga wanita itu bisa kembali ke pekerjaannnya sebelum kembali libur untuk mengadakan pernikahannya.
"Mari pulang ke Green Hills. Mama dan Papa sudah menyiapkan semua untuk Irish. Mereka ingin Irish tinggal di sana mulai sekarang."
"Pulanglah. Itu memang rumah Irish, tapi aku tidak. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kita selain kita orang tua kandung Irish," Livia menjawab lirih.
Ada jeda sesaat. Sampai Lendra menarik nafasnya pelan. Pria itu mendekat ke arah Livia. Sementara Livia malah mundur menghindar. Lendra benar-benar salut dengan sifat Livia. Konsisten sampai akhir. Bahkan dengan status ibu dari anaknya, wanita itu masih bisa menolak dirinya. Padahal wanita lain akan berlomba untuk mendapatkan posisi itu.
__ADS_1
"Masih ingat janjimu?" Lendra bertanya pelan.
"Ingat. Kesempatan kedua bukan berarti aku harus menerimamu dalam konteks hubungan yang mengharuskan kita tinggal satu atap. Aku mengizinkan identitas Irish dan Isac dipublikasikan tanpa namaku di sebutkan. Ini untuk menghindari namamu tercemar. Kau memiliki anak di luar nikah."
Lendra tersenyum mendengar ucapan Livia. "Kau bahkan sangat peduli dengan diriku. Tapi kenapa kau tidak pernah mau mengakui kalau kau punya rasa padaku?" Livia memundurkan tubuhnya, karena Lendra bertanya sembari meletakkan kedua tangannya di kiri dan kanan tubuh Livia. Memenjarakan tubuh wanita itu.
Dua mata itu saling tatap. Lendra jelas bisa melihat binar cinta di sana. Namun seberkas keraguan juga bertengger di sana.
"Tidak ada rasa itu dalam hatiku." Livia memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan Lendra yang bisa saja meruntuhkan pertahanan hati yang susah payah dia bangun selama ini.
"Apa aku benar-benar harus mati agar kau mau mengakui perasaanmu padaku?"
"Jangan bicara soal kematian padaku. Aku benci." Livia mendorong tubuh Lendra menepi. Hingga wanita itu bisa bebas dari kurungan pria yang kini resmi mempublikasikan diri menjadi ayah dua anak.
"Aku mohon, lakukan demi Irish dan Isac." Langkah Livia terhenti saat Lendra berlutut di tempatnya.
"Pulanglah ke rumah. Irish tidak akan mau pulang ke sana tanpa dirimu. Jika dirimu pulang, keluarga kami akan berkumpul seperti dulu."
"Bu, pulang ya." Suara bergetar Irish membuat Livia membuka mata yang sedari tadi terpejam. Gadis itu turun dari gendongan Hugo. Berjalan ke arah Livia. Perlahan menarik tangan sang ibu, membawanya mendekat ke arah Lendra. Irish meraih tangan sang ayah, lantas menyatukan keduanya.
"Irish dan Kak Isac mau kita sama-sama sekarang. Irish tidak mau sendirian lagi. Irish tidak mau ibu saja atau ayah saja. Irish mau kalian." Tangis Irish pecah meski hanya isakan lirih.
Lendra seketika memeluk sang putri, membawanya dalam dekapan penuh perlindungan seorang ayah. "Jangan menangis, ibu hanya belum bisa tinggal sama kita. Nanti lama-lama ibu juga akan bersama kita."
"Nggak ayah, ibu selalu berkata benar. Jika A ya A, kalau nggak ya nggak." Isak Irish sesaat membuat semua melongo. Bagaimana bisa anak enam tahun begitu tepat membidik tepat karakter ibunya sendiri.
"Nggak gitu I," Livia buru-buru ikut berjongkok di depan Irish.
"Ibu mah begitu. Jangan keras kepala terus napa sih? Cuma tinggal bilang iya aja kok susah."
__ADS_1
Livia langsung memerah wajahnya. Lira dan Hugo mengulum senyum masing-masing sambil saling pandang. Bisa dibayangkan bagaimana senangnya Lendra. Livia kena sleding verbal dari putrinya sendiri.
"Irish kok gitu sama ibu," Livia berucap sambil menahan malu. Senyum Lendra semakin lebar, melihat Livia yang kelabakan menghadapi tingkah Irish.
"Habisnya kalau gak dipaksa ibu gak bakalan mau." Ketus Irish.
Lendra hampir menyemburkan tawanya. Skak mat, Livia benar-benar terpojok dengan perkataan Irish. Di depan sana, Lira dan Hugo sudah terpingkal-pingkal.
"Gini ni kalau IQ dan sifat di monopoli kakakku." Lira berbisik pada calon suaminya.
"Terus maunya Irish gimana?"
"Yes!!!!!!" Irish menarik sudut bibirnya. Ini adalah bendera putih dari ibunya. Gadis itu semakin menenggelamkan kepalanya ke leher sang ayah.
"Irish gak mau pulang kalau Ibu gak ikut kita."
"Pulang ke rumah Nenek Vera atau mbah Asna?"
"Pulang ke Green Hills." Tegas Irish.
Mata Livia membulat mendengar jawaban Irish. Sungguh putrinya bermain peran sangat baik hari ini. Isac, mengacungkan jempolnya pada sang adik. Bocah laki-laki itu tersenyum pada Irish, yang juga balas tersenyum.
"Kita akan menjaga keluarga kita mulai hari ini." Seperti itulah makna senyum kembar beda dunia itu.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
****