
Kredit Pinterest.com
Livia mengerjapkan mata beberapa kali. Memandang kamar yang sudah disiapkan untuk Irish. Mereka sudah pulang ke Green Hills. Berkat sledingan dari Irish, akhirnya Livia menyerah, ikut pulang ke rumah keluarga Aditama itu. Rumah besar yang kini akan jadi bagian dari hidup putrinya. Livia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan menginjakkan kaki di rumah salah satu keluarga konglomerat di kota itu.
"Semoga Irish menyukainya," bisik Lana di samping Livia. Livia hampir jantungan mendengar suara Lana yang dekat sekali dengan telinganya.
"Dia memang suka warna ungu dan pink, Tante," balas Livia kikuk. Ibu Irish itu tidak tahu harus menyebut Lana bagaimana. Dia nenek Irish tapi dirinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan wanita itu.
"Bisakah kamu memanggilku mama seperti Lendra dan Lira. Ibu Irish sama seperti anak mama." Pinta Lana sambil menatap wajah Livia.
Lendra dan Irish masih berkeliling rumah besar itu. Livia naik ke kamar Irish untuk meletakkan obat yang diberikan oleh Rafi dan Alina. Termasuk milik Lendra juga.
"Tapi Tan, saya bukan siapa-siapa. Saya hanya kebetulan mengandung cucu Tante." Livia jelas merasa tidak enak, meski Lira sangat welcome pada dirinya.
"Justru karena kamu mau mengandung cucu Mama, merawatnya sendirian. Karena itu kami berutang budi padamu. Harusnya kami, Lendra ada saat kamu membutuhkan dukungan." Lana berucap sendu. Gurat bersalah itu jelas terlihat di wajah Lana yang masih cantik di usia tuanya.
"Untungnya ada nenek dan Christo, kalau tidak saya tidak tahu akan jadi apa hidup saya." Livia menunduk. Saat dia tahu kalau Vera adalah nenek Lendra, ingin rasanya wanita itu marah. Namun setelah dipikir-pikir, jika tidak ada Vera akan jadi apa hidupnya. Wanita itu memang berkata sengaja menyembunyikan identitasnya. Vera takut kalau Livia akan lari jika tahu dirinya adalah nenek Lendra, bagian dari keluarga Aditama.
"Nenek, nenek...rumahnya gedhe banget." Teriakan Irish mengalihkan perhatian Livia dan Lana. Dalam gendongan Lendra, gadis kecil itu melongo. Melihat kamarnya.
"Irish suka?" Lana bertanya sambil menggandeng Iris menuju sudut ruangan yang berisi boneka barbie yang sudah ditata dalam sebuah rak.
"Tinggalah di sini, sebagai ibu Irish," pinta Lendra.
"Tapi omongan orang di luar sana....."
"Kalau begitu kamu tinggal naik podium jadi nyonya Aditama." Kata Lendra santai, dengan Livia langsung membalikkan badan menatap Lendra.
"Lendra...."
__ADS_1
"Kau tahu kan kalau aku tidak akan pernah menyerah untuk memberikan apa yang Irish mau. Keluarga yang utuh. Kalau kamu belum mencintaiku, menikahlah denganku sebagai ibu Irish. Maka publik tidak akan pernah menilai buruk padamu."
Lendra tahu benar apa yang ditakutkan Livia. Pandangan publik pada dirinya dan putrinya saat ini. "Pertimbangkan itu. Namun satu hal yang pasti. Aku mencintaimu." Ucap Lendra seraya menjauh dari Livia, melepas jas. Menggulung kemejanya lantas melepas sepatu. Ikut duduk di karpet untuk bermain bersama Irish dan Lana.
Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya wajah Irish. Mendapat keluarga utuh setelah enam tahun berdiam diri, menunggu.
"Tidakkah kau ingin melihat senyum itu selamanya di wajah Irish?" suara Christo terdengar di samping Livia. Livia tertegun mendengar ucapan Christo. Apa sih yang Livia inginkan selain kebahagiaan putra dan putrinya. Tidak ada, dia hanya mau hal itu.
"Tapi apa ini tidak terlalu serakah? Aku memang ibu anak Lendra tapi apa kata orang di luar sana jika aku menikah dengan Lendra?"
"Serakah di mananya? Harusnya title itu kau dapat sejak enam tahun lalu. Andai kau tidak bodoh dan egois. Kau sudah duduk manis jadi ratu di rumah ini." Sindiran Christo benar-benar tajam dan pedas di telinga Livia. Meski memang begitu kenyataannya. Livia bodoh dan egois waktu itu.
"Papa.....ayo main!" panggil Irish begitu melihat Christo. Lendra seketika manyun mendengar Irish memanggil Christo papa.
"I... kan sudah ada ayah, bisa tidak panggil dia Uncle atau Om. Kayak om Hugo."
"Oooo, ndak bisa. Dia papa Irish, dan ini ayah Irish." Irish menyentuh dada Lendra, memberikan tanda kalau sang ayah begitu berharga.
"Jangan protes, aku yang gendong Bie, waktu dia baru lahir. Aku juga yang ikut begadang waktu dia masih bayi. Lah elu, enak-enakan kelonan ma Natnat." Bisik Christo sambil ikut memainkan barbie Irish.
"Waahhhhh, kakek ketinggalan ini." Seloroh Vi yang baru saja pulang dari kantor. Pria itu tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Livia. Livia sedikit kaget dengan kehadiran Vi.
"Pertimbangkan permintaan Lendra, Via. Kami ingin kamu menikah dengan si biang kerok itu." Kata Vi sambil mendekat ke arah anak, istri dan cucunya.
Senyum Irish mengembang sempurna. Bahagia, dia sangat bahagia. Meski di relung hatinya, dia sangat merindukan sang kakak.
"Aku benar-benar berharap kakak ada di sampingku." Bulir bening itu mengalir di pipi Irish, tanpa seorang pun sadar.
"Kakak akan ada di sisimu, sampai waktunya tiba kakak pergi." Batin Isac cemas, melihat ke arah Irish. Bocah itu tahu satu ancaman telah datang pada saudari kembarnya.
"Ibu....Irish mau ayam goreng." Teriakan Irish membuat Livia tersadar. Seolah paham, Lana bangkit dan berjalan menuju Livia.
__ADS_1
"Ibu dan nenek buat ayam goreng dulu ya." Pamit Lana, membawa Livia keluar dari sana. Wanita itu mengajak Livia masuk ke dapur keluarga Aditama.
"Anggaplah rumah sendiri. Masaklah apa yang biasa Irish makan dan suka. Kamu yang lebih paham dia."
Kelembutan Lana menyentuh hati Livia. Sama seperti sang ibu, sikap Lana sangat tulus padanya.
*
*
"Maaf, jika keinginanku sedikit menganggumu."
Livia menarik nafasnya dalam. Mengganggu sih tidak, tapi dia hanya enggan bertemu dengan wanita yang kini duduk di hadapannya. Raut wajah wanita itu tampak bingung. Rasa bersalah dan sungkan tergambar jelas di wajah Natalie. Wanita yang mengajak Livia bertemu. Di sebuah restauran, dekat sekolah Irish. Tiga minggu berlalu dan Irish mulai bersekolah lagi.
"Sebenarnya aku malas bertemu denganmu. Tapi sudahlah. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Natalie tersenyum mendengar perkataan pedas Livia. Ibu Irish ini bukan jenis orang yang suka berpura-pura.
"Aku minta maaf soal kejadian enam tahun lalu. Terserah kau mau menilai aku bagaimana, yang jelas aku menyesal sudah menabrak kalian. Maafkan aku." Natalie menundukkan wajahnya saat meminta maaf. Tidak berani memandang wajah Livia.
Livia terdiam. Christo sudah memberitahu soal kejadian enam tahun lalu. Awalnya Livia marah, namun setelah dipikir-pikir, semua itu tidak ada gunanya.
"Yang lalu biarlah berlalu. Jangan diungkit lagi."
Natalie mengangkat wajahnya, tidak percaya kalau Livia memaafkan dirinya begitu saja. Sebaik inikah wanita yang dicintai mantan suaminya? Natalie bertanya dalam hati.
Natalie pikir harus minta maaf pada Livia, sebelum dirinya pergi dan mulai hidup baru bersama Pasha.
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****