
Saat Lendra memapah Livia keluar dari tangga darurat. Semua orang langsung mengalihkan perhatiannya pada dua orang itu. Livia tampak lemah dalam rangkulan Lendra. Wanita itu tidak peduli ketika Vi dan Lana mendekatinya.
"Ndra..."
"Kita bicara nanti." Lendra memotong ucapanVi, sang papa. Baginya sekarang yang terpenting adalah Irish dan juga Livia. Di lihat dari sisi manapun, Livialah yang paling hancur. Pria itu membiarkan Livia duduk di samping Retno.
"Makan ya, Via." Bujuk Retno. Livia menggeleng, wanita itu meletakkan kepalanya di bahu Retno, sahabat yang selalu ada untuknya. Bahkan ketika dia berada di titik paling rendah dalam hidupnya.
"Demi Irish, makan ya. Atau mau diinfus aja. Rafi bilang tadi siang kamu sudah diinfus." Livia hanya memejamkan mata mendengar bujukan Retno.
Semua orang menghela nafasnya bersamaan. Ini akan semakin sulit. Fisik Livia tidak akan kuat jika seperti ini terus. Hingga Christo berdiri dan menarik tangan Livia. "Ayo makan!" tegas pria itu.
"Chris....." Semua orang berteriak hampir bersamaan.
"Apa? Kau mau bunuh diri, nyusul Isac. Enak banget. Gak! Kau harus tetap hidup. Irish nungguin!" Bentak Christo. Pria itu tak tanggung-tanggung memarahi Livia. Dia tidak suka dengan Livia yang lemah. Dia ingin wanita itu kuat. Seperti lima tahun ini. Bahkan kepergian Isac, meski menyisakan perih, tidak membuat Livia terpuruk terlalu lama.
"Chris..." Kali ini Livia yang berucap penuh permohonan.
"Gak ada. Kau harus hidup, setelah ini kau bisa menebus kesalahanmu, kalian bisa menebus waktu kalian yang hilang bersama Irish. Dia dan Isac cuma mau bersama kalian. Susah banget sih." Kali ini ucapan Christo juga tertuju pada Lendra.
Dua pria itu saling tatap. Hingga perlahan, Lendra berjalan mendekati Livia. Meraih tangan wanita itu, lantas membawanya pergi dari sana. "Ayo kita makan. Demi Irish. Lakukan demi dia."
"Pa, Ma lakukan apa yang Rafi minta. Nanti kujelaskan." Pesan Lendra pada Lana dan Vi. Dua orang itu mengangguk paham. Meski tak lama, Lana dan Vi menatap penuh ancaman pada Christo.
"Ayolah Tan, Om. Nggak denger apa pesan anak lanang tercinta. Dia yang bakal jelasin."
"Nggak mau. Jelaskan sekarang. Kau dan dia jelas lebih tahu kau. Jelaskan!" Perintah Vi tegas.
"Yah elah gini amat. Sama anaknya masih berani. Lah ini mak bapaknya. Sesepuh."
"Kau bilang kami tua ya?" Bentak Lana. Bisa-bisanya Christo bercanda di saat genting seperti ini.
__ADS_1
"Gak, Tante cantik. Tapi otewe, yang tua beneran tu nenek Vera." Malah makin ngaco omongan Christo.
"Christo!!!" teriakan Vi menggelegar di ruang tunggu sempit itu.
"Astaga Om, jangan ngegas dong. Depresot nanti Christo gak jadi kawin." Semua orang melotot mendengar ucapan Christo yang asal njeplak itu. Sementara pria itu malah tersenyum manis pada Retno. Tidak ingat bagaimana dia baru saja membentak Livia habis-habisan.
"Ya ampun, Christo. Irish kritis, Livia dan Lendra masih juga belum akur. Dan kamu malah ngelawak." Vera memijat kepalanya yang pusing melihat tingkah Christo.
"Jangan darting lo nek." Bisik Christo enteng. Vera sontak mengeplak lengan anak angkatnya itu. Keributan itu berhenti ketika Rafi mendekati keluarga itu. Tak berapa lama, Lana dan Vi mengikuti langkah Rafi. Meninggalkan Vera, Christo dan Retno. Ketiganya menarik nafas bersamaan. Menatap ke arah ruang ICU di mana Irish di rawat.
"Nenek cuma ingin hidup ayem di akhir usia nenek." Kata wanita itu sembari mengusap air matanya.
"Itu berarti umur nenek masih panjang." Celetuk Christo. Kembali satu keplakan mendarat di lengan pria itu.
"Ampuun, Nek. Gak, gak lagi Christo nggomong sembarangan." Pria itu memeluk Vera sayang.
"Apa susahnya sih mbesarin anak sama-sama. Cuma itu kan yang mereka mau."
"Masalahnya Livia terlalu egois...."
"Padahal si kunyuk itu bakal tanggungjawab lo kalau tahu Livia hamil anaknya. Kembar lagi. Mau nyari di mana coba. Sekali tembak dapat dua." Kali ini Retno yang mencubit perut Christo.
"Ayang...jangan mancing deh." Keluh Christo sambil nyengir.
"Ini gak mancing ya, ini mau bantai kamu sampai remuk!"
*
*
"Makanlah." Pinta Lendra mengulurkan sepiring salad organic dengan kentang tumbuk sebagai karbohidratnya. Livia menatap nanar pada Lendra, lantas perlahan mengusap air matanya. Wanita itu terisak lirih. Untung keduanya berada di kantin VIP dengan kartu akses dari Rafi. Ruang makan di kantin yang disiapkan jika ada yang memerlukan privasi saat makan.
__ADS_1
"Ayolah Via, demi Irish. Dia perlu kamu." Mohon Lendra. Livia hanya diam menatap makanan yang biasanya menjadi menu favoritnya saat diet.
Hingga perlahan wanita itu mulai menyentuh sendoknya, lantas memakan saladnya. Setelah sebelumnya Lendra mengulurkan obat Livia. Wanita itu langsung meminumnya tanpa kata. Bersamaan dengan itu Lendra juga mulai melahap makan siangnya.
"Ibu akan bertahan sampai akhir. Kalau Irish hidup, ibu hidup. Tapi kalau tidak, ibu akan pergi dengan kalian." Livia menyusut air matanya. Lantas menyelesaikan makannya.
*
*
Lana dan Vi tentu terkejut ketika Lendra mengakui kalau Irish, gadis kecil yang terbaring di ruang ICU khusus itu adalah putrinya dengan Livia. Pria itu juga menerangkan kalau Irish punya kakak kembar yang meninggal dua tahun karena kecelakaan. Lana shock berat. Wanita itu tidak menyangka kalau yang dia lihat waktu itu adalah cucunya sendiri.
"Dia gadis kecil yang tinggal di sebelah rumah nenek di Sidney?" Lana bertanya tidak percaya. Lana masih mengingat dengan jelas bagaimana Irish menundukkan wajahnya dan melambaikan tangan padanya.
Lendra mengangguk, dan tangis Lana pecah seketika. "Dia cucuku." Lirih Lana di sela isak tangisnya.
Sementara itu, Livia tampak meletakkan kepalanya di sisi tubuh Irish. Tangan wanita itu menggenggam tangan Irish.
"Irish, maafkan ibu." Satu kalimat itu membuat dada Livia terasa sesak. Kini dia sadar, berapa banyak kesalahan yang sudah dia lakukan. Karena keegoisannya, Isac dan Irish menjadi korban.
Wanita itu terisak pelan, hingga sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Livia. Lendra masuk menyusul Livia setelah selesai bicara dengan orang tuanya.
"Kita akan membesarkannya bersama-sama." Bisik Lendra pada Livia. Pria itu mengambil kursi lantas ikut duduk di samping Livia. Memeluk tubuh Livia yang terlihat ringkih.
Hari ini, Lendra mendapat kejutan manis sekaligus pahit dalam hidupnya. Sebuah kenyataan yang akan mengubah kehidupan seorang Lendra ke depannya. Seorang putri cantik telah hadir dalam hidupnya.
"Ayah akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Putri Ayah." Lendra mengusap pelan tangan Irish. Hasil pemeriksaan siapa yang bakal menjadi donor hati untuk Irish akan keluar besok. Dan operasi akan dilakulan besok sore. Meski begitu mereka tetap saja mengkhawatirkan keadaan Irish
***
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggallkan jejak ya, terima kasih.
****