
Setelah kisruh soal Pramana diselesaikan. Tania & Co berjalan seperti biasa. Semua pemegang saham dan para pekerja di sana, sekarang tidak ada yang berani macam-macam lagi. Terlebih setelah Vera memberikan peringatan keras pada semua pegawainya. Siapa saja yang berbuat onar di pabriknya, dia tidak akan segan memberi hukuman. Tak main-main, selain pemecatan, Vera juga menjanjikan penjara bagi para penjahat di pabrik miliknya.
"Mbak Via, silahkan tunggu sebentar ya. Kliennya sepuluh menit lagi sampai."
Livia menganggukkan kepala mendengar perkataan Meta. Wanita itu memilih duduk di lobi hotel tempat meeting mereka. Sesaat Livia terdiam, pikirannya melayang ke rapat pemegang saham kemarin. Di mana wanita itu melihat Lendra di sana. "Jadi dia salah satu pemegang saham di sana." Gumam Livia setelah membaca daftar pemegang saham di Tania & Co.
Pikirannya juga diliputi tanda tanya saat Lendra tampak akrab dengan Vera. Lendra bahkan memeluk Vera hangat. "Mereka ada hubungan apa ya? Sepertinya dekat banget." Lagi Via berucap lirih. Tanpa sadar, seorang pria mendekati ibu Irish itu.
Pria itu sejak tadi mengamati Livia yang terlihat bergumam sendiri. Tidak tahan melihat kecantikan Livia, pria itu memutuskan untuk bicara pada wanita itu.
"Apa kamu ada meeting di sini?" Suara tanya itu masuk ke telinga Livia. Cukup terkejut melihat siapa yang duduk si hadapannya dengan gaya angkuh andalannya. Pasha Elajar, pria itu tidak berubah bahkan setelah lima tahun berlalu.
"Ya, aku ada meeting dengan klienku. Ada masalah?"
Livia balik bertanya, hal itu sukses membuat Pasha menarik sudut bibirnya. Livia bukan lagi wanita yang sama seperti lima tahun lalu. Bisa dipastikan jika akan sulit mendapatkan wanita itu sekarang. Ketegasan Livia dalam menjawab pertanyaan Pasha, membuat pria itu sadar, Livia tidak akan mudah terbujuk rayu biasa.
"Aku harus mencari cara lain untuk menarik simpati Livia." Batin Pasha menatap Livia yang memilih sibuk dengan berkas yang ada di hadapannya.
"Apa kamu ada waktu setelah meeting. Aku ingin mengajakmu makan siang. Sekalian kita merayakan kepulanganmu. Aku dengar kamu baru pulang dari Sidney."
Livia tersenyum samar sebelum mengangkat wajahnya. Pasha sama sekali tidak berubah. "Maaf tapi schedule-ku penuh sampai nanti sore."
Pasha harusnya bisa menduga kalau Livia akan menolaknya. Wanita itu akhir-akhir ini dekat dengan Lendra. Tidak diragukan kalau pria itu sudah banyak bercerita soal dirinya. Bisa dipastikan juga hal buruklah yang Lendra beritahukan pada Livia. Terlebih melihat sikap dingin Livia padanya.
"Lendra sialan! Dia sudah menutup aksesku untuk mendekati Livia. Sungguh sangat menjengkelkan." Batin Pasha kesal.
"Kalau besok? Atau kapan shedule-mu kosong. Aku akan menjemputmu. Kita makan siang atau...makan malam bersama."
Pasha menurunkan alisnya. Sebuah trik untuk menaikkan rasa empati dan kasihan pada orang lain. Lagi Livia tersenyum. Gigih juga rupanya yang bernama Pasha ini.
__ADS_1
"Seharusnya aku perjelas lagi jawabannya. Aku tidak mau makan apapun dengan kamu. Aku tidak mau mengganggu orang lain yang sudah punya pasangan."
Glek! Bagaimana Livia tahu kalau dia sering menghabiskan waktu dengan Natalie. "Kamu tahu aku kan? Jadi wajar bagiku untuk punya pasangan. Terutama di kasur."
Senyum Livia mengembang. Pasha mengakui kalau dirinya sama sekali tidak berubah. Player dan juga pecinta wanita. "Kalau begitu jawabanku semakin jelas. Tidak!"
Pasha sedikit geram dengan jawaban Livia. "Lama-lama aku seret paksa ke kasur juga ni perempuan." Batin Pasha emosi.
"Bagaimana jika aku memutuskan mereka semua asal kamu mau bersamaku?"
Wah....pria ini semakin menunjukkan belangnya. Semua dia bilang. Jadi ada berapa wanita yang tengah berhubungan dengan Pasha saat ini. Apa Natalie saja tidak cukup.
"Apapun yang akan kau berikan padaku. Aku tidak tertarik. Karena aku sudah punya seseorang dalam hatiku." Livia berbalik setelah mengucapkan satu kalimat yang membuat dua pria tertegun. Satu Pasha dan satu lagi...Lendra. Livia sangat terkejut saat mengetahui Lendra berada di depannya. Pria itu menatap lurus bola mata Livia yang tampak cemas. Takut jika Lendra mendengar ucapan.
"Jadi... siapa dia?"
"Tunggu Via, bukankah lebih baik kau jawab pertanyaannya agar tidak ada rasa penasaran di antara kami....berempat."
Kata terakhir diucapkan sangat lirih. Hingga baik Lendra maupun Livia tidak bisa mendengarnya.
"Tidak ada yang seperti itu." Livia mencoba berkilah. Berjalan melewati Lendra, wanita itu berusaha tampak tenang. Hingga cekalan tangan Lendra menghentikan langkah Livia.
"Katakan atau aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Livia tersenyum mengejek. "Siapapun dia, itu tidak ada hubungannya denganmu." Desis Livia mantap.
Livia mengurai cekalan tangan Lendra. Lantas meneruskan langkahnya. Namun tiba-tiba saja, "plaaakkkkk!" Terdengar suara tamparan yang lumayan keras. Semua melongo, melihat bagaimana wajah Livia sampai menoleh karena tamparan dari.....
Lendra menggeram marah melihat Natalie menampar Livia, di depan umum. "Dasar wanita murahan!" Teriak Natalie. Wanita itu marah sekali saat melihat Lendra dan Pasha masih berebut Livia. Bahkan setelah lima tahun, kejadian itu terulang kembali.
__ADS_1
Livia menyentuh pipinya yang terasa panas dan sedikit kebas. Bisa dipastikan pasti ada cap lima jari di wajah mulusnya. "Natalie....!" Teriakan Lendra menggelegar di tempat itu. Pria itu hampir menampar balik Natalie, jika saja Livia tidak menahannya.
"Dia perempun. Jadi biarkan aku yang menamparnya balik." Dan giliran Natalie yang meringis kala telapak tangan Livia mendarat di pipi Natalie. "Kau bilang aku murahan? Berkaca dulu sebelum bicara!" Kata Livia pedas sambil berjalan menjauhi tempat itu.
"Kau akan membayar mahal untuk ini. Aku yang mengejarnya sejak lima tahun lalu. Bukan dia!" Ujar Lendra tajam. Pria itu mengejar Livia yang sayup-sayup meminta Meta untuk menggantikannya meeting dengan klien.
"Bi, aku buat masalah di hotel X. Bisa kau handle dulu."
Lendra secepat kilat menghubungi Bian. Sebab bisa saja kejadian tadi mengundang kekepoan publik. Dalam hal ini Lendra takut kalau nama Livia yang akan dipojokkan. Mengingat publik belum tahu kalau Lendra dan Natalie dalam proses cerai.
"Via tunggu!" Lendra mengejar Livia yang masuk ke mobil Meta lantas melajukannya keluar dari tempat itu. Lendra seketika terbengong, dia pikir Livia tidak bisa menyetir. Kenapa ada banyak hal yang tidak dia ketahui soal Livia.
Sementara itu, Natalie meringis ketika Pasha memberikan sebuah kompres padanya. Es batu yang dibalut kain. "Kenapa kau gegabah sekali? Menampar Livia di depan umum. Ini hanya akan merusak namamu. Lendra jelas memihak Livia bukan kau."
"Diam kau! Aku marah! Kenapa sih kalian berdua selalu memperebutkan dia."
Pasha tertawa mendengar pertanyaan Natalie. "Kau tahu kenapa? Karena dia pantas diperebutkan. Jelas sekali jika dia perempuan baik-baik yang bisa menjaga dirinya."
Natalie tentu tersinggung dengan perkataan Pasha barusan. Sakit hati Natalie diabaikan sang suami, ditambah sakit karena tamparan Livia. Perempuan itu semakin memupuk rasa benci pada wanita bernama Livia tersebut.
"Kau membuatku merasa hina hari ini." Maki Natalie pada Livia.
****
Up lagi reader
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
***
__ADS_1