
Setelah melakukan klarifikasi soal berita yang beredar di jagad maya. Lendra segera melajukan mobilnya menuju Green Hill. Sebuah panggilan dari Vi, sang ayah, membuat Lendra menghela nafas. Vi tentu menginginkan sebuah penjelasan dari dirinya.
Saat masuk ke ruang kerja sang ayah. Ternyata tidak hanya Vi yang ada di sana, tapi mamanya, Lana juga ada di sana.
Vi dan Lana pada masanya
"Jadi...apa yang akan kau jelaskan?"
Lendra kembali menghela nafas. Lantas mulai bercerita, semua pria itu jabarkan tanpa dia kurangi atau tambahi. Sampai Lendra selesai bercerita tidak ada yang menyela satu katapun.
"Sebenarnya papa tidak peduli dengan urusan mantan istrimu itu. Yang ingin papa tahu adalah siapa wanita itu. Kenapa kamu tidak pernah bercerita pada kami. Soal siapa dia."
Vi menatap tajam pada putra sulungnya. Lendra sudah sangat dewasa untuk meng-handle kehidupan pribadinya tanpa campur tangan dia maupun Lana. Meski untuk beberapa kesempatan Lana memang minta sang anak untuk terbuka pada mereka. Baik Lendra maupun Lira.
Vi tidak mau kejadian Lira terulang lagi. Di mana adik Lendra itu diam-diam menjalin cinta dengan adik Helena, putra Rafael. Lira dan Hugo, adik Helena takut kalau hubungan mereka tidak disetujui oleh kedua keluarga. Mengingat kedekatan Lana dan Rafael, hingga mereka menyebut putra putri mereka sepupu. Padahal tidak ada hubungan darah sama sekali antara Lira dan Hugo. Mereka salah paham pada orang tua masing-masing. Saat ini Lira dan Hugo sedang mendalami hubungan keduanya sambil bekerja. Lira menjadi asisten Hugo di Liu Corp, di Shanghai.
Mendengar tuntutan Vi soal Livia, Lendra seketika menelan ludahnya kasar. Dia sadar dengan bobroknya kelakuannya di masa lalu.
"Jadi siapa dia? Kenapa Mama tidak tahu kalau dia pernah jadi sekretaris kamu?"
Lendra terdiam sejenak. Hingga kemudian mulailah pria itu bercerita soal Livia. Mulai dari perkenalkan mereka hingga insiden yang membuat Livia sakit hati. Sampai akhirnya wanita itu dibawa Vera pulang ke Sidney. Satu hal yang membuat Lana dan Vi terkejut.
"Kamu nidurin anak gadis orang, yang jelas kamu tahu, kalau dia gadis baik-baik?"cecar Vi. Lendra mengangguk pelan.
Lana dan Vi saling pandang. Keduanya sama-sama menghela nafas.
"Lalu bagaimana bisa Nenek bertemu dia dan membawanya pulang? Kenapa juga Nenek tidak pernah cerita? Ini aneh."
Memang terdengar aneh. Vera selalu terbuka dalam banyak hal. Bahkan dulu ketika wanita itu ingin mengadopsi Christo, Vera bertanya dulu pada mereka semua. Bahkan Lendra pun dimintai pendapat kala itu. Padahal Lendra masih kecil saat itu.
"Yang itu Lendra tidak tahu. Yang jelas dia sekarang adalah tangan kanan Nenek. Livia memimpin Tania & Co."
"Livia?" Lana bertanya. Sebab sejak tadi Lendra memang belum menyebut nama Livia.
__ADS_1
"Livia Kaira."
Hening sesaat menyelimuti ruang kerja Vi. "Apa kamu mencintainya?" Pertanyaan Lana membuat Lendra menegakkan duduknya. Lama pria itu terdiam.
"Lendra pikir iya. Bahkan mungkin yang Lendra cinta adalah Livia bukan Natalie."
Lana dan Vi seketika menepuk dahi masing-masing bersamaan. Bagaimana bisa putra mereka bisa salah memilih istri. Jika begini ceritanya bukankah Lendra sama saja dengan mempermainkan Natalie.
"Kamu sudah mempermainkan Natalie, Ndra." Ketus Vi.
"Tidak juga. Selama ini Lendra berusaha jadi suami yang baik buat Natalie. Lendra gak pernah ke klub, Lendra gak pernah main perempuan. Lendra berusaha setia sama pernikahanku dan Natalie. Tapi apa yang Lendra dapat? Pengkhianatan? Natalie berhubungan dengan Pasha bahkan sejak kami belum menikah. Apa Lendra bisa percaya kalau mereka tidak ada main di belakang Lendra sejak dulu."
Vi dan Lana saling pandang. Bisa mereka rasakan bagaimana frustrasinya sang putra.
"Lendra seperti orang bodoh. Lendra tidak tahu belang istri sendiri. Lendra merasa dibohongi selama empat tahun kami menikah. Dia aborsi, dia tubektomi tanpa persetujuan Lendra. Dan mereka....."
Lana menepuk punggung sang putra. Mencoba menenangkannya. "Sudahlah, meski kami benci perceraian. Tapi mau bagaimana lagi, Natalie banyak berbuat salah. Sebab perselingkuhan sama sekali tidak dibenarkan dalam pernikahan." Akhirnya Lana bicara.
Wanita itu bisa merasakan sakit yang Lendra punya. "Jadi Pa, Ma...tolong jangan tentang keputusan Lendra untuk menceraikan Natalie. Lendra akui, Lendra bukan orang baik. Tapi Lendra sudah berusaha memperbaiki diri."
"Kakek cuma main perempuan." Sahut Lendra cepat.
"Eiittt siapa bilang. Kakekmu lo biang kerok. Dia ngerecokin Nenek Tania sama Kakek Jayden. Buat nenek Tania stres, sampai lama punya anak. Hampir membunuh nenek Tania kalau bukan papamu sendiri yang menembak kakekmu." Lana buru-buru membalas ucapan Lendra.
"He? Masak sih?" Ujar Lendra tidak percaya.
"Dosa, dosalah ini ngomongin orang yang sudah meninggal. Tapi bener, kakekmu bener-bener brengsek dulu. Dia tobat ketika kamu lahir."
"Sama kayak Om Young Jae ya." Cengir Lendra. Dia teringat Lee Young Jae adik sang mama, yang katanya lagi patah hati saat Lendra lahir. Untuk melupakan kekasihnya, Young Jae muda kala itu jadi memilih baby sitter baby L. Susah-susah move on, Young Jae bertemu lagi dengan sang mantan setelah tujuh tahun berpisah. Bubar jalanlah semua usaha Young Jae saat itu. Sampai akhirnya Young Jae tidak bisa menahan diri, dan nekad membawa lari sang mantan di hari pernikahannya. Gila gak tu.
"Lain ceritalah. Om kamu kan patah hati bukan tukang main perempuan."
"Intinya mereka tobat setelah L lahir."
"Aaa... yang itu benar."
__ADS_1
"Nah tu." Lendra tersenyum jika ingat kelakuan om-nya yang satu itu. Lendra masih kecil waktu itu, tapi dia ingat bagaimana Young Jae menarik seorang wanita cantik yang mengenakan gaun pengantin masuk ke rumah kakek Jayden, sambil berteriak minta dinikahkan sekarang juga. Bisa dibayangkan bagaimana hebohnya keluarga besar Lee kala itu.
"Om ku panutanku." Kekeh Lendra. Lana seketika menjewer telinga Lendra.
"Apa sih, Ma?"
"Jangan berpikir aneh-aneh ya kamu. Jika kamu mau Livia, selesaikan urusanmu dulu dengan Natalie. Baru kamu bisa mengejar Livia."
"Kelamaan Ma. Sekarang aja Lendra sudah nyicil nguber dia."
"Oooo, anak buah Young Jae ya begini." Celetuk Vi kesal.
"Livia free Pa, ndak punya suami. Pacar aja kayaknya dia gak punya."
Lana dan Vi kembali saling pandang. Sepertinya sang putra sudah terlalu dalam jatuh pada pesona Livia. Hingga kemungkinan Lendra sudah menyelidiki Livia lebih dulu. Apalagi jika ada Vera di sekitar Livia.
"Apa nenek sekarang tinggal dengan wanita itu?" Tanya Vi dan Lendra mengangguk sebagai jawaban.
"Sepertinya ada yang aneh. Kenapa nenek seperti menutupi identitas aslinya dari Livia."
"Livia gak tahu kalau Nenek adalah nenek Lendra." Lendra setengah menangis saat mengatakan hal itu.
"Kenapa?"
"Sebab Livia benci Lendra. Ada kemungkinan Livia akan pergi jika dia tahu Nenek adalah nenekku." Ujar Lendra sendu.
Sebenarnya alasan sebenar Vera menutup identitasnya adalah wanita itu takut kalau Livia akan membawa pergi Irish setelah Livia tahu kalau dia adalah Nenek Lendra. Wanita itu masih mencari waktu yang tepat untuk membuka identitas dirinya pada Livia.
****
Up lagi readers
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
*****
__ADS_1