Aku Membencimu Tuan CEO

Aku Membencimu Tuan CEO
Aku Mencintaimu, Livia Kaira


__ADS_3

Rafi tampak biasa saja ketika mendapat telepon dari Lendra, mengatakan kalau pria itu sedang dalam perjalanan menuju rumah sakitnya. Seseorang terluka. Hanya itu yang diucapkan Lendra. Namun yang membuat Rafi terkejut adalah melihat Livia dalam gendongan Lendra dengan luka nyaris sama seperti lima tahun lalu.


"Dia kenapa?"


Tanya Rafi sembari menarik meja yang berisi peralatan untuk membersihkan luka di kepala Livia.


"Taksinya disruduk mobil."


"Lagi?"


Lendra mengerutkan dahi mendengar ucapan tanpa sadar dari Rafi.


"Apa maksudmu dengan lagi? Apa dia pernah mengalami hal ini sebelumnya?"


Rafi seketika langsung gelagapan menjawab pertanyaan Lendra. Dia sudah berjanji akan merahasiakan ini dari Lendra. Eh, bukannya Livia ikut ke Sidney bersama Christo dan Vera waktu itu. Kenapa sekarang Livia ada di sini? Lalu di mana si kembar, putra Livia dan ......Lendra.


Rafi seketika menelan ludahnya. Dia tidak boleh asal bicara di depan Lendra. Dia juga tidak boleh terlihat gugup di depan Lendra. Pria di hadapan Rafi ini punya kejelian dalam menganalisa bahasa tubuh lawan bicaranya.


"Ah, dulu tapi hanya luka ringan. Kebetulan aku yang menanganinya."


"Kapan?"


"Lima tahun lalu."


Lendra memasang tampang kepo sekaligus terkejut. Dia tidak tahu kalau Rafi mengenal Livia. Biasanya dokter tidak akan ingat dengan pasiennya kecuali pasien itu punya suatu keistimewaan. Apa Rafi juga tertarik pada Livia waktu itu. Hingga pria itu masih mengingat Livia.


"Dok, apa kita perlu melakukan scan, mengingat lukanya lima tahun lalu?"


"Mati aku! Kenapa sih ni perawat malah membuka rekam medis Livia. Lendra bisa curiga kalau begini ceritanya."


Batin Rafi kesal pada si perawat yang asal jeplak saja bicaranya. Tidak tahu apa kalau pasiennya yang itu ini masuk kategori VIP untuknya. Dan benar saja, raut wajah Lendra menunjukkan rasa curiga pada Rafi.


Sebuah ringisan membuat dua pria itu mengalihkan perhatian mereka. Livia mulai membuka matanya. "Aku kenapa?"


"Taksimu di tubruk mobil."


Lendra yang menjawab. Melihat Lendra, Livia dengan cepat menjauhkan diri dari pria itu. Satu hal yang membuat Rafi menarik kesimpulan. Livia tidak menyukai Lendra.


"Aku mau pulang. Aku tidak apa-apa."


Wanita itu beranjak turun dari bed pasiennya. "Sebaiknya istirahat dulu sebentar. Akan kami periksa lebih lanjut."


"Raf, aku gak bisa......"


Interaksi Livia dan Rafi semakin membuat Lendra mengerutkan dahinya. Keduanya punya hubungan lebih dari sekedar pasien dan dokter.


"Di-scan dulu!"


Rafi bersikeras akan mengadakan pemeriksaan menyeluruh pada Livia. Meski wanita itu baik-baik saja sekarang. Tapi ada banyak kejadian penyakit serius yang berawal dari masalah sepele. Untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


"Tapi....."


"Lakukan demi mereka."


Potong Rafi mereka. Demi mendengar Rafi menyebut "mereka" wajah Livia seketika berubah sendu. Rafi tentu heran. Apa hal buruk terjadi setelah Livia pindah ke Sidney?


"Kenapa kau menyelamatkan mereka, jika akhirnya satu dari mereka pergi meninggalkanku."


Air mata Livia jatuh, untuk pertama kali Livia menangis di depan orang lain. Rafi, pria yang tahu soal kehamilannya. Jika bukan karena pertolongan Rafi, dirinya bisa saja kehilangan janinnya lima tahun lalu.


Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena Lendra datang dan masuk ke tempat Livia. Melihat wajah sembab Livia, Lendra semakin curiga. Ada hubungan apa antara Livia dan Rafi.


"Wanita ini, kenapa banyak sekali pria yang dekat dengannya. Pasha, Bian dan sekarang Rafi."


Batin Lendra kesal. Livia bersikukuh ingin pulang. Dan Rafi akhirnya menyerah, membiarkan wanita itu pulang.


"Kau akan mengantarnya?"


"Tentu saja."


"Aku pulang sendiri."


Suara Livia terdengar dari arah belakang. Dua pria itu menoleh bersamaan. Perban dengan sedikit rona merah itu melingkar di kepala Livia. Jalannya masih dipapah seorang perawat.


"Alah, jalan aja masih sempoyongan. Ngeyel aja mau pulang sendiri. Ayooo..."


Lendra menarik tangan Livia. Setelah menerima tas Livia dari perawat yang mengantar Livia tadi.


"Lepasin!"


Lendra mengabaikan protes Livia, pria tersebut sedikit menyeret wanita itu ke mobil yang sudah menunggu di depan pintu UGD. "Masuk!"


Livia bergeming. Tatapan menantang senantiasa wanita itu berikan pada Lendra.


"Ayolah, Via. Please."


Setelah menghela nafasnya, wanita itu akhirnya menurut. Melirik jam tangannya, pertimbangan Livia mulai bekerja. Terlalu malam untuknya mencari taksi sendirian. Livia berdecak kesal, kenapa juga dia harus terjebak di situasi paling menyebalkan seperti ini. Naik taksi sendirian atau bersama Lendra sama bahayanya.


"Dasar buaya buntung."


Desis Livia lirih penuh kemarahan. Mendengar hal itu, Lendra menarik nafasnya dalam. Menatap ke arah Livia yang memilih melihat ke luar jendela.


"Via, soal lima tahun lalu....aku minta maaf."


Livia menoleh kala Lendra mengucapkan kalimat itu. Sudut bibir Livia tertarik sedikit. Meremehkan, menyepelekan ucapan Lendra.


"Aku serius Livia. Dengarkan aku..."


Perkataan Lendra terhenti ketika Livia mengangkat tangannya. "Aku tidak peduli lagi dengan yang terjadi di masa lalu. Tapi satu hal yang pasti, aku membencimu, Tuan CEO."

__ADS_1


Lendra memejamkan mata mendengar perkataan Livia. Sakit hatinya saat Livia mengatakan membencinya.


"Livia, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu."


"Nyatanya iya kan? Sudahlah, ini terakhir kali kita bertemu. Jangan pernah mencari saya lagi. Mengerti?"


Lendra menatap wajah Livia. Meski pucat tapi wanita itu tetap mempesona. Jantung Lendra kembali berdebar kencang.


"Tidak! Aku akan terus mencarimu...."


"Berhenti membuat masalah, Tuan Aditama. Anda sudah menikah. Dan saya tidak mau dituding menjadi pelakor."


Lendra terkesiap mendengar perkataan Livia. Wanita ini tahu kalau dia menikah.


"Berarti benar dia dan Natalie sudah menikah." Batin Livia. Padahal wanita itu asal bicara, tapi melihat reaksi Lendra, bisa dikatakan kalau ucapannya benar.


"Irish dan Isac, Ibu mohon kalian bisa memaafkan Ibu. Ayah kalian sudah menikah. Dan mungkin sekarang sudah punya anak. Jadi tidak mungkin Ibu akan membawa kalian bertemu dia. Maafkan Ibu."


Batin Livia pilu. Wanita itu memalingkan wajah, menghindari tatapan sendu Lendra. Setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Hingga mobil Lendra memasuki parkiran Grand Shamaya.


Livia turun lebih dulu, tanpa menghiraukan Lendra. Hingga di pintu lobi wanita itu berhenti karena teriakan Lendra.


"Dengarkan aku Livia Kaira. Aku tidak akan berhenti sampai mendapat kata maaf darimu. Tidak peduli bagaimana kau akan menolakku. Bagaimana kau akan mengusirku. Aku akan tetap datang sampai kau memaafkanku."


Livia memejamkan matanya. Berusaha menahan sesak dan rasa berkecamuk di dada. Kenapa semua jadi rumit begini sih. Dia hanya ingin menyelesaikan masalah pabrik Vera, kenapa juga dia harus bertemu Lendra segala.


"Liv, kepalamu kenapa?"


Suara Atta memecah keheningan di tempat itu. Melihat Atta, Lendra seketika menepuk dahinya pelan. Astaga, kenapa dia bisa lupa kalau masih ada Atta yang dekat dengan Livia.


"Jadi sebenarnya ada berapa pacarmu?"


"Jangan sembarangan kalau bicara. Aku bukan Anda yang buaya darat."


"Oh ayolah Via, kau tahu benar berapa wanita yang benar-benar berkencan denganku."


Livia menggeram kesal. Wanita itu berbalik dan berjalan menuju ke arah Lendra yang tersenyum penuh makna.


"Kau tahu benar berapa jumlahnya. Meski kau tidak pernah bilang cinta pada mereka. Tapi kau berkencan dengan mereka....."


"Kalau begitu kau tahu benar, kalau kata cintaku hanya pernah terucap padamu."


Deg, jantung Livia berdebar kencang. Dia ingat benar kalau malam itu, Lendra mengucapkan kalimat sakral itu untuknya.


"Aku mencintaimu, Livia Kaira."


*****


Up lagi readers,

__ADS_1


Ritual jempolnya ditunggu..


****


__ADS_2