
Livia memeluk erat tubuh sang ibu, Asma. Lima tahun lebih tidak berjumpa membuat dua wanita itu saling merindu. Terlebih Livia, dia merasa sangat bersalah. Setelah mendengar semua cerita sang ibu. Tangis wanita itu tidak terbendung, kala Asma mengungkap betapa rindunya dia pada Livia.
Kata maaf berulangkali terucap dari bibir Livia, diiringi derai air mata yang mengalir. Livia merasa gagal menjadi seorang anak. Meski begitu, Livia bersyukur. Melihat keadaan ibunya baik-baik saja. Setelah emosi keduanya mereda, barulah ibu dan anak itu bertukar cerita.
Dari bibir Asma, Livia tahu kalau selama ini, Lendralah yang sudah merawat Asma. Bahkan Asma tak segan memuji Lendra. Bagaimana perhatiannya pria itu padanya. Lendra banyak membantu Asma dalam mencari kesembuhan bagi penyakitnya. Walau Asma menolak untuk dibayari.
Di sisi lain, Livia juga bercerita jika dirinya harus pergi ke luar negeri. Kepergian Livia yang mendadak, membuat wanita itu tidak sempat mengabari Asma. Bahkan kehilangan ponsel Livia beberapa waktu lalu, membuat keduanya hilang kontak.
"Apa kalian punya hubungan? Ibu lihat dia sangat perhatian padamu?" tanya Asma antusias.
Sebagai ibu, Asma ingin melihat Livia menikah. Mempunyai keluarga dan hidup bahagia.
"Dia dulu atasan Livia. Hubungan kami cuma teman. Dia sudah menikah, Bu. Jadi jangan berpikir macam-macam soal kami."
Livia segera meluruskan hal yang mungkin saja menimbulkan kesalahpahaman di antara Asma dan dirinya. Livia tidak ingin berharap banyak. Hal yang paling penting bagi Livia adalah Irish.
"Lalu kapan kamu akan menikah?"
Livia tersenyum mendengar pertanyaan Asma. Hingga sebuah jawaban ambigu terdengar dari bibir wanita cantik itu. Tanpa Asma tahu, Livia melirik Lendra saat menjawab pertanyaan sang ibu. "Bila waktunya tiba, Livia akan menikah." Dilihatnya Lendra yang tengah berkutat dengan laptopnya di meja yang ada di teras rumah sang ibu.
"Kembalilah ke kantor jika kau sibuk."
Perkataann Livia membuat Lendra mengangkat wajahnya. Wanita di hadapannya tampak santai setelah melepas blazer dan menguncir tinggi rambutnya. "Aku akan menunggumu sampai kamu selesai dengan ibumu. Atau kamu ingin menginap di sini?"
Tidak berpikir untuk menginap, Livia justru berpikir untuk membawa Asma tinggal bersamanya. Irish pasti senang dibuatnya.
"Aku tidak tahu." Perbincangan Lendra dan Livia terpotong ketika panggilan makan siang terdengar. Bisa dibayangkan bagaimana senangnya hati Lendra bisa makan siang bersama Livia. Ditambah lagi, Livia yang meski tampak acuh padanya tapi sebenarnya perhatian.
__ADS_1
Dalam kesempatan itu, Livia mengutarakan keinginannya untuk membawa Asma agar mau tinggal dengannya. Sebuah permintaan yang tentu saja membuat hati Asma bahagia. Livia tetaplah Livia-nya yang dulu. Seorang putri yang terus berbakti dan penuh kasih sayang. Terlebih sejak sang ayah meninggal saat Livia masih sekolah menengah.
Namun Asma sudah terlanjur suka dengan lingkungan tempat tinggalnya sekarang. Hingga wanita itu dengan halus menolak permintaan Livia. Wanita itu tentu kecewa. Namun Livia tetap menghormati keputusan Asma. Livia hanya bisa berjanji, mengusahakan untuk menjenguk Asma sesering mungkin.
"Jika kamu sibuk tidak perlu sering berkunjung. Bagi ibu, melihatmu baik-baik saja sudah cukup. Anak ibu sudah dewasa sekarang. Cantik lagi." Gurau Asma. Wanita itu tertawa lepas. Sudah lama Asma tidak sebahagia ini. Pertemuannya dengan Livia menjadi salah satu hal membahagiakan yang terjadi dalam kehidupan Asma. Setelah bertemu Lendra dan kesembuhan penyakitnya. Wanita itu tidak berani berharap lebih.
Hari menjelang malam ketika Livia akhirnya pamit dengan berat hati. Wanita itu sungguh berharap kalau Asma akan ikut dengannya.
"Nanti Ibu akan datang menginap tapi tidak sekarang. Ibu punya kerjaan." Jawab Asma sok sibuk. Salah satu hal yang membuat Asma enggan pindah dari sana adalah Asma bisa bekerja. Merajut benang menjadi sesuatu yang menarik dan laku dijual. Tetangga Asma mempunyai usaha rumahan yang banyak menyerap tenaga kerja termasuk Asma.
Livia mencebik mendengar jawaban sang ibu. "Lumayan Via, bisa buat jajan cilok." Livia memutar matanya malas. Beli cilok? Yang benar saja. Sekedar cilok, uang tranferan Livia sejak dulu, sudah bisa membeli cilok segerobak. Beserta abang-abangnya sekalian.
Sebuah ponsel Livia tinggalkan, agar merela kembali bisa bertukar kabar. Setelah pelukan penuh drama, ibu dan anak itupun saling tersenyum. Ada kebahagiaan tersendiri saat Livia berhasil bertemu sang ibu.
Mobil Lendra melaju keluar dari rumah Asma. Meninggalkan senyum yang tak pernah lekang dari bibir Livia. "Suka?" tanya Lendra sembari melajukan mobilnya menjauh dari kawasan rumah Asma. Reflek Livia mengangguk, tanpa sadar menjawab pertanyaan Lendra.
Livia mengerutkan dahi melihat sebuah pesan masuk dari sang putri melalui ponsel Vera. "Kau menyukai itu?" tanya Lendra melihat Livia membeli anggur hijau seedless, tanpa biji. Keduanya berhenti di sebuah toko buah-buahan.
"Iya, kenapa?" Jawab Livia. Lendra menggelengkan kepalanya pelan.
"Irish suka anggur hijau tanpa biji."
Ingatan Lendra melayang pada gadis kecil itu. Tiba-tiba rindu terasa di hati Lendra. Ahh, di mana dia bisa menemui gadis kecil itu. Pria itu lantas menoleh ke arah Livia. Yang dia tahu, Livia menyukai apel, yang suka anggur hijau tanpa biji adalah dirinya. Apa selera wanita di depannya ini sudah berubah.
Beberapa saat keduanya duduk dalam diam. Hingga sebuah tubrukan membuat tubuh keduanya terhuyung ke depan.
"Sial!" Lendra mengumpat. Bisa dipastikan Lexus kesayangannya ini penyok di bagian belakang. Livia mendelik mendengar umpatan Lendra. "Sorry, kamu kan tahu aku bukan orang baik. Tapi otewe baik." Cengir Lendra. Namun umpatan lirih kembali terdengar ketika mobil mereka di tabrak dari samping, di sisi Livia. Wanita itu menjerit kaget.
__ADS_1
"Ini orang maunya apa sih?" Geram Lendra. Pria itu lantas menghentikan mobilnya. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang yang telah menabraki mereka. Lendra melirik spionnya. Melihat lima orang berjalan menuju ke arah mereka. Tempat Lendra berhenti sangat sepi keadaannya.
"Keluar!" Suara seorang pria dengan tubuh tinggi besar. Menĝgedor pintu Livia. Livia menatap ngeri pada tubuh pria yang berada di depan pintu mobil.
"Tetap di sini dan jangan keluar!" Pinta Lendra. Pria itu lantas membuka pintunya. Tidak menghiraukan peringatan Livia. Wanita itu menjambak rambutnya kasar, bingung dan takut saat Lendra mulai terlibat baku hantam dengan ke lima orang itu.
"Atta, bisa kau kirimkan bantuan. Aku, maksudku kami diserang."
Atta diujung sana langsung tanggap. Sebuah perintah langsung Atta keluarkan dan setelahnya dia melapor pada Vera. Sebab ini bukan soal Livia saja, tapi ada Lendra juga di sana.
Livia menatap ngeri pada perkelahian Lendra dan lima orang itu. Awalnya semua terkendali, hinĝga seorang dari mereka mengeluarkan pisau dan berhasil melukai Lendra. Pria itu meringis ketika pinggangnya terluka. Livia sontak keluar dari mobil Lendra. Berlari ke arah pria yang kini sedikit menunduk menahan nyeri.
"Siapa kalian? Kenapa menyerang kami?" teriak Livia antara marah, takut dan juga cemas.
"Kenapa keluar sih?" gerutu Lendra. Livia berdecak kesal mendengar gerutuan Lendra.
"Kalah, kalah aja deh. Jangan jadi sok pahlawan gitu. Basi tahu!"
Lendra mendelik mendengar ucapan tak berperasaan dari Livia padanya. "Gak berperasaan banget sih!" protes Lendra pada Livia. Keduanya malah sibuk berdebat sendiri. Tanpa menghiraukan lima orang yang kini mengepung keduanya.
****
Up lagi readers.
Ritual jempolnya ditunggu. Terima kasih.
****
__ADS_1