
Terdengar adu debat antara Natalie dan Livia. Orang yang menemui Livia adalah Natalie. Wanita itu menyalahkan Livia dan anaknya, yang sudah merebut Lendra darinya. Livia tentu saja menyangkal. Untuk menghindari Lendra, Livia bahkan sampai pergi ke Sidney. Masih juga disalahkan.
"Aku tidak pernah ingin merebut Lendra. Tapi Irish berhak bertemu ayahnya," Livia berucap tegas.
"Begitu juga dengan anak ini. Dia berhak bersama papanya." Natalie bersikeras mengatakan kalau bayi yang dikandungnya adalah anak Lendra.
"Itu kalau dia benar anak Lendra. Yang aku tahu kalian sudah lama tidak bercinta," kata Livia setengah berbisik.
"Kau....."
"Stop!" satu suara menghentikan gerakan tangan Natalie yang ingin menampar Livia. Natalie mundur seketika. Melihat wajah garang Lira, diikuti Hugo.
"Jangan bersikap kurang ajar. Ini tempat umum. CCTV di mana-mana. Masih kurang hancur hidupmu." Perkataan Lira seperti pisau yang menusuk jantung Natalie. Sangat tajam dan menyakitkan.
Lira sendiri sejak awal tidak menyukai Natalie. Tebakan Lira soal Natalie yang murahan akhirnya terbukti.
"Kau juga sama...." Giliran tangan Natalie yang ingin memukul Lira. Namun suara Hugo kembali membuat Natalie berhenti.
"Berani kau menyentuhnya. Kupastikan kau habis hari ini." Sungguh aura Hugo sangat menyeramkan. Natalie langsung menciut nyalinya. Siapa juga yang bisa melawan aura penerus keluarga Liu itu.
Wanita itu memilih pergi dari tempat teesebut. Meninggalkan Lira yang langsung mendekati Livia. "Kakak, tidak apa-apa?" tanya Lira cemas.
Livia menatap Lira yang tampak cantik, ya lihatlah Lana dan Vi, tidak heran jika Lendra dan Lira kebagian tampan dan cantik ayah ibunya. Di belakang Lira berdiri Hugo yang sejak tadi menatap tajam pada ibu Irish itu.
"Tidak apa-apa," jawab Livia sedikit segan. Dia tidak pernah bertemu Lira selama menjadi sekretaris Lendra dulu.
"Kita belum kenalan Kak, aku Lira, adik si biang kerok itu. Dan ini Hugo."
Livia mengerutkan dahi, mendengar Lira menyebut sang kakak biang kerok. Sama seperti Vi. Hugo mengulurkan tangan untuk bersalaman. Pria tampan itu tersenyum. Sikapnya berubah 180 derajat. Pria itu terlihat ramah. Livia menggelengkan kepalanya, saat Lira menggandengnya berjalan menuju kamar Lendra dan Irish. Lagi-lagi Hugo mengekor di belakang mereka. Lira mengoceh sepanjang jalan menuju lantai 15.
Bruuukkkkk
"Aduuuhhhh!!! Jalan lihat-lihat dong!" salak Natalie galak. Wanita itu meringis merasakan panas pada bokongnya. Yang ditabrak Natalie meminta maaf, lantas berlalu dari hadapan Natalie, setelah wanita itu enggan enggan dibantu berdiri.
__ADS_1
Natalie sibuk mengumpat ketika satu tangan mungil terulur padanya. "Tante cantik, tidak apa-apa?" tanya suara yang terdengar imut dan menggemaskan.
Natalie seketika mendongakkan kepala. Menatap sosok gadis kecil yang berdiri di hadapannya. "Tidak apa-apa. Tante baik-baik saja," jawab Natalie. Sambil mengamati rupa Irish, anak yang berdiri di hadapan Natalie adalah Irish. Tapi wanita itu tidak mengenalinya. Mengenakan pakaian rumah sakit, hal ini menunjukkan kalau anak kecil ini pasien di rumah sakit.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Natalie. Hati Natalie melembut. Tangannya terulur mengusap kepala gadis kecil itu.
"Lagi nungguin ibu beli anggur. Bosen sama makanan rumah sakit," keluh Irish. Senyum Natalie terbit, wanita itu merasa gemas dengan raut wajah imut Irish
"I, ibu sudah datang. Ke kamar yuk," suara Retno memanggil.
"Ya, mbak. Irish datang. Tante cantik papay," pamit Irish pada Natalie. Gadis cantik itu berlalu dari hadapan Natalie sambil melambaikan tangan. Lambaian tangan dan senyum Irish meninggalkan ketenangan di hati Natalie. Wanita itù terus mengembangkan senyumnya, melihat Irish berjalan perlahan ke arah seorang wanita yang mengangguk pada Natalie sebelum menggandeng tangan Irish, menjauh dari Natalie.
Hening untuk sesaat, sampai suara Christo terdengar. Pria itu berdiri di samping Natalie.
"Dia cantik kan?" kata Christo tanpa menoleh pada Natalie.
Giliran Natalie yang menoleh pada Christo. Tidak paham pada apa yang Christo katakan.
Natalie membulatkan mata mendengar perkataan Christo yang kini memandang dirinya.
"Dia Irish Isabel Aditama, putri Lendra dan Livia."
Natalie menutup mulutnya mendengar fakta dari Christo. Enam tahun lalu, itu berarti saat dia menabrak Livia, wanita tersebut tengah hamil. Tubuh Natalie limbung. Dia terkejut sekaligus bingung.
"Dia hamil anak Lendra waktu itu. Kau menabraknya dan meninggalkannya begitu saja. Dia mengalami pendarahan, kami harus berusaha ekstra untuk menyelamatkannya! Apa kau tahu itu!" bentak Christo.
Nafas Christo memburu, menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Sudah lama Christo ingin meluapkan amarahnya pada Natalie. Gara-gara ulah wanita itu, semua rencana hancur berantakan.
Christo terus mencecar Natalie, mengabaikan wanita itu yang sudah terisak. Pria itu juga tidak peduli kalau dirinya saat ini menjadi pusat perhatian. Memarahi seorang wanita di tempat umum, sampai menangis. Bodo amat! Toh Christo punya saham di rumah sakit itu meski cuma 5%.
*
*
__ADS_1
Natalie masih menangis terisak. Wanita itu sudah kembali ke apartemennya. Perkataan Christo masih terngiang di telinga Natalie juga senyum manis Irish.
"Bagaimana jika itu terjadi padamu?"
Pertanyaan Christo mengingatkan Natalie akan keadaan dirinya yang sekarang. Dia hamil dan Lendra, orang yang dia cinta tidak mau mengakuinya. Karena mungkin memang bayi itu bukan anak Lendra.
Satu kalimat dari Christo kembali terputar di kepalanya. "Pergilah. Aku tidak memperpanjang masalah ini, karena Livia tidak mau. Padahal aku sangat ingin melihatmu membusuk di penjara. Percobaan pembunuhan dua kali. Enam tahu lalu dan kemarin. Kau berniat menghabisi Irish kan?"
Natalie menutup wajahnya. Perlahan hatinya terbuka melihat wajah tidak berdosa juga senyum tulus gadis kecil. "Apa yang sudah aku lakukan?" wanita itu memandang tangannya sendiri. Tangan yang dua kali hampir membunuh orang.
Irish, putri Lendra itu berhasil meruntuhkan dinding kesombongan dan menghilangkan kedengian juga rasa iri di hati Natalie. Wanita itu mulai sadar, kalau terkadang semua tidak selalu sejalan dengan apa yang yang kita inginkan. Contohnya dia, bagaimanapun dia berusaha mempertahankan, tapi dia tetap kehilangan.
Atau Lendra, siapa yang menyangka kalau dia ternyata memiliki seorang anak dari Livia. Anak yang selama ini Livia sembunyikan dengan baik. Sampai tiba waktunya, Irish menunjukkan identitasnya pada dunia sebagai putri pria itu.
"Berubahlah, lepaskan dia. Dia jelas-jelas tidak mencintaimu. Apa kau ingin membesarkan anakmu dengan rasa benci di hatimu?"
Satu tamparan sekali lagi datang dari Pasha. Pria itu merasa bertanggung jawab karena ada kemungkinan anak Natalie adalah anaknya.
Natalie meraih ponselnya, menghubungi satu nomor. Lama dia termenung, berdiam diri hampir seharian. Merenungi semua yang sudah pernah dia lakukan selama ini. Pada akhirnya Natalie menyadari betapa jahatnya dia. Satu keyakinan perlahan muncul di hatinya. Dia ingin berubah.
"Halo, apa tawaran itu masih berlaku? Akan ingin melakukannya."
Natalie telah memantapkan hati. Dia akan belajar mengubah dirinya menjadi lebih baik. Masih ada sedikit kebaikan di hati Natalie. Dan Irish berhasil menghidupkan kembali sisi baik seorang Natalie.
"Gadis kecil, maaf dan terima kasih," batin Natalie. Kembali teringat wajah cantik nan menggemaskan milik Irish.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
***
__ADS_1