Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Saya yang Bayar


__ADS_3

"Waaaagelllaaaaseeeeh" itu kata pertama yang di ucapkan Mega kepada Ralin saat menyusulnya ke klinik yang sudah menjadi rumah ketiga untuk Ralin selain kedai kopinya dan tentu saja panti asuhan Permata Hati.


"Lo ya Lin kalo di kenal ama mentri sosial pasti udah jadi duta kemanusiaan nasional negara kita." Mega menghempaskan tubuh oada kursi tunggu klinik yang terbilang keras, tapi kerasnya benda iyu tidaknia rasa karena rasa kesalnya pada Ralin, sahabat sekaligus bosnya.


"Biasa aja mba, lo bantu gue gih biar kenal gitu." Ralin hanya menjawab sekenanya ucapan sahabatnya Mega. Bukannya tidak tahu kalau Mega kesal, tapi malas juga meladeni kekesalan yang sama berulang kali.


Mereka sedang menunggu dokter yang tengah memeriksa Katnis, salah satu anak panti yang di bawa Ralin ke klinik karena diare yang dia alami. Membawa anak panti berobat sudah menjadi kegiatan biasa untuk Ralin. Bahkan para dokter dan perawat di klinik itu sudah mengenalnya.


"Lo ga cape Lin? Semua penghasilan kedai lo, hasil kerja lo, disumbangin semua ke panti,apa ga kepikiran buat yang lain?" tanya Mega dengan lirikan tajam dan sarkas.


Ralin hanya menggeleng. "Harta ga di bawa mati Ga. Lagipula mereka lebih butuh."


"Iya gue tau, tapi ga semua dan ga selalu kali Lin. Bikin niat gitu buat gue uga bial bica eli mobil ayak amu," canda Mega menirukan suara anak kecil. Terus terang, tingkahnya itu demi mengurangi rasa kesalnya pada Ralin.


"Huuuuuuu modus kamu, emang mau punya harta dari sedekah? Tanggung jawabnya berat lho neng."


"Ntar gue nego deh ama malaikatnya, kalo perlu gue kasih kompen," gurau Mega.


"Ngarep sodaraan ma malaikat."


"Hihihi kali aja, sapa tau gitu malaikatnya tersentuh."


"Ga mutu tau." Masuk ke mode serius pandangan Ralin meratap ke depan. "Ini pilihan gue Ga, sepertinya Tuhan menghendaki gue untuk mengabdi pada anak-anak yang kurang beruntung itu. Selain dari ini gue ga tau mau mengarahkan hidup gue kemana."


Mega memeluk Ralin. Dia tahu betul kisah masa lalu sahabatnya ini. Kejadian yang menimpa Ralin yang mengakibatkan dirinya harus kehilangan miliknya sebagai seorang wanita, comoohan dan pergunjingan dari lingkungan keluarga, saudara bahkan tetangganya hingga membuat Ralin harus pergi meninggalkan kampung halamannya karena tidak kuat menghadapi segala tekanan, sampai Ralin memutuskan untuk pergi ke tempat yang tidak satu orang pun mengenalnya dan masa lalunya.


Sempat lama berpikir, Ralin memilih Bandung sebagai tempat pelarian. Di sana dia bertemu Mega.


Ya, Ralin memutuskan menetap di Bandung. Mega saat itu seorang mahasiswa dari luar kota Bandung yang kesulitan dengan biaya hidup dan biaya kuliahnya dibantu oleh Ralin yang dengan sukarela memberinya tempat tinggal tanpa meminta biaya sepeser pun.


Ralin juga sebenarnya saat itu membutuhkan bantuan Mega untuk mengenalkannya dengan kota Bandung, kota yang masih asing baginya. Dan setelah di ospek oleh Mega, Ralin kini fasih dengan seluk beluk kota itu.


"Okay, let's do the best. Gue tau lo kuat. Jangan mellow ya, gue semalem udah cukup nangis nonton drakor," hibur Mega meskibtak banyak berpengaruh untuk Ralin.


Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa Katnis keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri Ralin. Serentak mereka berdiri dari duduk menyambut sang dokter, syukurnya tidak ada raut mengkhawatirkan di wajah dokter muda itu.


"Gimana dok Katnis ga apa-apa?" tanya Ralin.


"Ga apa-apa dek, Katis udah ditangani, setelan infusnya habis nanti bisa dibawa pulang, ini ada resep yang harus ditebus, tolong diawasi agar obatnya dihabiskan dan makannya juga harus di jaga ya!" wejang sang dokter.


Mungkin hanya Mega yang menyadari tatapan dokter itu pada sahabatnya.


"Baik dok, terima kasih."


"Ini ga apa-apa obatnya di tebus dek Ralin atau kita kirim tagihannya ke panti?"


"Ga usah dok, saya yang tanggung, ga apa-apa." Ralin menyanggupi. Baginya bukan hal sulit untuk sekedar menebus obat.


"Pak dokter kayak ga tau dek Ralin aja, dia ini baik hati, loyal, perhatian, cantik pula. Istri material banget kan pak?" Mega menimpali, tidak tahan menggoda pria bersneli itu.


"Husshh diem ga!"


Mega sengaja menggoda sang dokter yang cintanya berulang kali di tolak Ralin. Bahkan dokter itu pernah meminta nomor ponsel Ralin melalui Mega, tapi sayang Ralin tidak rela kalau Mega memberi informasi apapun pada dokter atau pria lainnya yang meminta informasi tentang dirinya. Jika Mega melakukannya, itu menjadi akar bubarnya jalinan persahabatan.


"Iisshhh biarin."

__ADS_1


Tiba-tiba seorang perawat datang terengah-engah menghampiri mereka. Seketika Ralin, Mega, dan dokter Diko mengalihkan pandangan pada sang perawat.


"Dok, ada pasien tabrakkan di UGD, keadaanya parah."


Diko sedikit kecewa percakapannya dengan Ralin harus terpotong.


"Kalau begitu saya pamit ya, silahkan Katnis bisa di jenguk."


"I...ya," belum sempat Ralin menjawab sang dokter telah berlalu dari hadapannya. Dia bisa melihat Diko berlari mejauh dari posisinya berdiri.


Ah, andai saja. Andai saja dia tidak memiliki kekurangan itu, Ralin akan dengan percaya diri menerima Diko. Wanita mana yang tidak akan bangga memiliki pendamping seorang dokter.


"Yuk, masuk." Mega merangkul bahu Ralin menuju ruang Katnis dirawat, menyadarkan wanita itu dari lamunan singkatnya.


****


"Katnisa Ramayanti janji ya sama kakak ga boleh belajar makan sambel lagi! Katnis ga kasian ama kakak Lin? Sedih lho liat Katnis di infus."


Ralin mengusap lembut ujung kepala anak perempuan yang sedang terbaring lemah.


Orang tua mana sih yang tega membuang anak semanis ini.


"Katnis minta maaf, janji deh ga lagi, tapi kak Ega juga janji ya jangan cerita ke Katnis kalo makan paling enak kalo ada sambelnya." Katnis menatap Mega. Mega yang sedari tadi membuang muka spontan memandangi Katnis dan Ralin. Dengan matanya Mega mengkode Katnis agar tidak bicara lagi.


"Hah jadi kerjaan lo?."


"Ya ga juga, gue kan ngomong doang ga nyuruh praktik." Mega cengengesan sambil melotot ke arah Katnis.


"Gila ya lo, anak baru 4,5 tahun lo ceritain sambel."


"Ya ga apa-apa Lin, biar ususnya kuat gitu kayak lo, seterong, biar dia tau juga filosofi sambel itu kayak perjalanan hidup pasti ada pedes ada manisnya. Sambel terong buatan kak Ralin enak juga lho Kat."


"I know beb, that's why Allah mempertemukan kita biar hidup lo seru, ga lempeng mulu."


Setelah satu jam, mereka akhirnya bersiap meninggalkan klinik. Kini Ralin berada di apotek hendak menebus obat untuk Katnis , sementara Katnis dan Mega menunggu di bangku yang di sediakan klinik dekat pintu masuk.


Tanpa ada maksud, Ralin tak sengaja mendengar percakapan dua orang perawat yang tengah berdiri di depan meja administrasi yang letaknya bersebelahan dengan apotek.


"Aduh gimana ni, pasiennya belum sadar lagi."


"Kalo ga segera di ambil tindakan bisa-bisa selesai tu cogan urusannya sama dunia ini."


"Hp-nya udah bisa hidup belom?"


"Kayaknya sih belom, lagi di urus mas Dani."


Ralin ingin tidak menghiraukan, tapi setelah mendengar pembicaraan itu jiwa sosialnya menjerit ingin membantu.


"Suster Rita, ada apa?" Ralin menyapa suster Rita yang memang sudah ia kenal sejak rutin berkujung ke klinik.


"Eh...mba Ralin, ini ada pasien kecelakaan mobil, keadaannya gawat butuh tindakan operasi, tapi belum sadar. Hp-nya mati, jadi ga da yang bisa kita hubungi. Sementara admin kita butuh persetujuan wali untuk tindakan lanjut," cerita suster Rita.


Ralin hanya mendengar dari cerita suster itu, tapi ada sesuatu yang menariknya untuk bertindak.


"Kalau begitu saya akan jadi walinya," ucap Ralin spontan. Entah kenapa dia tiba-tiba sangat ingin menolong korban kecelakaan yang bahkan tidaknia ketahui asal usulnya.

__ADS_1


"Mba serius? Emang mba kenal?" tanya suster Rita.


Ralin hanya menggeleng pasti, karena memang dia tidak mengenal siapapun di kota itu selai Mega dan orang-orang panti asuhan.


"Ini biayanya lumayan lho mba."


"Ga apa-apa, saya yang bayar semua biaya pengobatannya."


Kedua suster itu saling berpandangan. Sebenarnya mereka sudah biasa mendengar kalau Ralin akan menaggung biaya pasien yang ia bawa ke klinik seperti anak-anak panti atau para warga kurang mampu yang tinggal di sekitar panti asuhan, bahkan orang yang baru ia temui di klinik, jika membutuhkan bantuan sekedar biaya untuk menebus obat Ralin tidak akan segan menolong. Karena itu banyak warga di sekitar panti yang kini mengenalnya sehingga Ralin sering dianggap keluarga. Bedanya kali ini pasien berpenampilan orang kaya, jika dilihat dari segi pakaian mahal yang dikenakan, ada jam tangan Rolex harga puluhan juta melingkar di tangannya, belum accesoris lain.


"Pasiennya kayaknya orang mampu lho mba, nanti kalau udah sadar bisa minta ganti."


"Kalau nolong jangan pake pamrih, orang kaya juga manusia, ada saatnya butuh pertolongan, proses gih cepetan!" ujar Ralin.


"Oh ya mba, ini berkas yang harus di tanda tangani."


Ralin segera menanda tangani berkas-berkas yang di ajukan sang suster. "Ini aja mba Ralin, seperti biasa ya nanti di kasir."


"Oke, paham aku sus." Ralin berucap penuh senyum, entah kenapa jika ia bisa menolong seseorang yang membutuhkan bantuannya ia merasa sangat bahagia.


Meski tidak saling kenal, bahkan Ralin belum meliahat korban kecelakaan itu, tidak ada rasa ragu untuk menolongnya, di samping itu alasannya menolong orang tersebut adalah karena dia tidak ingin ada orang yang mengalami hal yang sama seperti yang ia alami dulu. Karena sebuah kecelakaan ia harus kehilangan identitasnya sebagai seorang wanita. Aaargh jika ia mengingat kejadian itu bisa-bisa ia menangis di klinik dan dilihat orang banyak.


"Atas nama Katnisa Ramayanti."


Suara apoteker yang terdengar lantang membuyarkan lamunan Ralin.


"Iya."


"Ini obatnya."


"Terima kasih."


....


Setelah menyelesaikan urusannya di klinik dan membawa Katnis kembali ke panti, Ralin pulang menuju kedai kopi yang merangkap menjadi tempat tinggalnya dan Mega. Ia ingin mengistirahatkan badannya yang sudah terasa renyuh karena seharian berada di luar.


Ketika berbaring di tempat tidur, ia teringat percakapannya dengan Mega selama perjalanan pulang.


"Lo yakin Lin mau nolong korban kecelakaan itu? Jangan-jangan dia mafia ato gengster ato buronan yang lagi sembunyi gitu. Secara lho Lin, kecelakaan tunggal nabrak pembatas jalan pula. Kalo lukanya separah itu pasti deh ngebut, lari dari


sesuatu yang ada di hatinya, sesuatu yang ada di depannya (pake nada lagu Syahrini)."


"Husshh jangan su'udzon, kita ga tau kejadian sebenarnya, biarlah itu urusan dia, yang penting nyawanya selamat. Apapun yang jadi masalahnya nanti bisa dia selesaikan setelah sembuh. Jangan kebanyakan mikir yang negatif dong ntar pahala gue di diskon."


"Raliiiin ih lu tu ya di bilangin, gue ga mau ntar lu nyesel nolong orang yang ga sadar, ntar gimana kalo udah sadar sebenernya dia pengen bunuh diri dan ga mau di tolong terus nyari lo, ih amit-amit."


"Udah deh fantasi lho berlebihan Ega. Inshaa Allah all is well. Udah mikir gitu aja."


Ralin hanya tersenyum melihat Mega yang memonyongkan bibirnya karena perkataannya selalu di sanggah Ralin.


"Udah dong cemberutnya, entar sia-sia lho perawatan skincare yang lo beli dengan uang cadangan lo itu."


"Bener juga lo, au ah."


***

__ADS_1


Ralin hanya tersenyum di atas tempat tidurnya, dia tidak ingin memikirkan satu hal buruk pun tentang seseorang, siapapun dia, rasanya tidak enak jika ada orang yang berpikiran buruk tentang kita tapi kenyataannya tidak demikian, hal itu pernah dia alami, dulu, dan sekarang ia tidak mau mengingatnya.


Meski usianya masih terbilang muda, Ralin sudah lumayan menikmati manis dan pahitnya kehidupan. Jauh dari orang tua membuatnya menjadi wanita tangguh. Hidup menggemnlengnya menjadi wanita mandiri. Tidak ada prinsipnya bergantung pada orang lain. Tidak akan pernah ia bergantung pada manusia.


__ADS_2