
Sesuai dengan kesepakatan, hari itu Ralin dan kelurga Yaris bertolak dari Bandung menuju Lombok. Mereka mengambil jadwal keberangkatan pagi hari. Waktu tempuh Bandung-Lombok hanya 1 jam 45 menit.
Dari pihak kelurga Yaris yang ikut hanya keluarga inti, tuan Sa'id, Mama Ayu, dan Davi. Ralin bersama Arya, dan tentu saja Mega ikut serta. Saat ini mereka semua telah tiba di bandara, menunggu keberangkatan.
"Mah, Davi ga usah ikut ya?"
"Enak aja, ini peristiwa sekali seumur hidup kakakmu, kalo kamu ga ikut kamu bukan anak Mama lagi!"
"Ya udah, Davi ngelamar jadi anak pak Budi sama bu Budi aja." Balas Davi dengan wajah kesal.
Davi paling ogah dengan acara-acara yang berbau keluarga, membosankan katanya, kalo resepsian masih bolehlah sambilan cari inceran.
"Davi, ck, emangnya kalo kamu ga ikut trus mau ngapain?" tukas Mamanya.
"Ya hangout lah sama temen-temen, kumpul gitu ma, masa nanti disana Davi kumpul ama sepuh."
"Sini mama jitak kamu biar palamu ga heng, cari kegiatan tu yang ada faedahnya!"
"Mama ih kolot deh, kumpul sama temen juga ada faedahnya."
"Apa?"
"Ngabisin duit mama." jawab Davi polos.
"Daviiiii!"
"Iya kan sedekah ma sama temen-temen Davi, jadi banyak pahala mah."
"Tak rantai lehermu sampai pesawat."
"Emangnya Chihuahua, ck, mama ah ga seru."
"Jangan bawel!"
Semua yang mendengar percakapan ibu dan anak-anak itu hanya tertawa cekikikan. Tak terkecuali Ralin yang memang duduk di samping mama Ayu.
"Kak Ralin, nanti kalo ada yang bening kenalin ke Davi ya!"
"Sayur kali bening!" sewot Yaris.
"Kak Yaris diem deh, ngikut aja, hapalin ijab qobul sana sapa tau ntar langsung di suruh akad!"
"Sok tahu."
"Iya nanti dikenalin, banyak kok di sana." ujar Ralin
"Beneran kak."
"Seriuslah."
"Ada alamat sosmednya ga?"
"Hmmmm, ga ada sih kayaknya."
"Masa sih, kok bisa hari gini ga punya sosmed?"
"Ya bisalah, kan air."
Davi masih belum ngeh maksud ucapan Ralin. Beberapa detik kemudian...
"Aaaaaaggghhhh,,,ga lucu."
Semua tertawa melihat reaksi Davi yang terlihat kesal.
***
Setibanya di BIL (Bandara Internasional Lombok), keluarga Ralin dan Yaris harus berpisah. Ralin langsung pulang ke rumahnya, dan Yaris serta keluarga menuju hotel yang sudah di pesan.
"Nanti telfon ya!" kata Yaris ketika melihat Ralin hendak menaiki mobil jemputan.
"Iya, udah sana masuk!" Ralin yang tadinya akan masuk mobil, terhenti dengan ucapan Yaris.
"Salam buat Om dan Tante."
"Iya."
"Jangan lupa makan!" kali ini Yaris berupaya menggoda Ralin dengan membuatnya kesal.
"Iya."
"Istirahat yang cukup!"
Ralin yang akan masuk ke dalam mobil terus saja terhalang oleh ucapan-ucapan Yaris yang kini sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Iyaaa sayang, udah ya, masuk gih!" ucap Ralin sambil menahan kesal.
"Jangan lupa, mimpiin aku!"
"Kamu kenapa sih sampai di sini.jadi cerewe kayak gitu?" teriak Ralin kesal.
"Hahahaha, Sasaknya keluar." Yaris tertawa puas berhasil menggoda calon istrinya itu.
Ralin membulatkan mata di sertai wajah kesal. Tangannya di lipat di dada.
"Ya udah, aku masuk, daaaaaah."
Akhirnya mereka berpisah menuju tujuannya masing-masing.
***
"Kamu udah yakin dek sama Yaris?" suara Arya terdengar khawatir. Ralin adalah adik satu-satunya, tentu saja ia ingin yang terbaik untuk adiknya itu.
"Insha Allah, kak. Perkenalan kami memang singkat, sampai pacaran pun jaraknya hanya beberapa hari, tapi selama itu kami sudah banyak saling mengenal satu sama lain."
"Bagaimana dengan kekuranganmu? Dia sudah tahu?"
"Percaya atau tidak, Yaris dan keluarganya sudah tahu sejak awal, Kak. Ralin juga sempat ga percaya. Kakak mungkin lupa kalo om Sa'id dulu yang nabrak Ralin."
"Astaga, serius? Kakak memang ga ada di rumah waktu itu, kakak tahunya kamu kecelakaan dua minggu setelahnya, bapak ga langsung ngasih tahu karena kakak akan ujian skripsi."
"Ralin sudah memaafkan, Bapak juga ngga memperpanjang masalah ini dulu, jadi ya kita lupakan saja. Yaris dan keluarganya open minded kak, dan Ralin merasa nyaman."
"Yang penting kamu bahagia, Kakak akan dukung."
"Hmm, makasi kak."
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan perumahan elit Panji Tilar Regency. Ralin sudah tidak sabar bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi. Ini adalah rumah kedua orang tua Ralin, rumah pertama terletak di perkampungan, tepatnya di daerah Seganteng, dan disanalah pusat usaha orang tuanya. Memang hanya usaha industri rumahan, yakni usaha kerupuk kulit sapi, tapi telah memiliki banyak karyawan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," koor beberapa keluarga Ralin yang sudah berkumpul di rumah Ralin ketika mengetahui bahwa Ralin akan di lamar.
"Eee calon pengantinnya udah dateng." sambut tante Rini, saudara dari ibunya Ralin.
Ralin menyalami satu per satu anggota keluarga yang menyambutnya.
"Mamak mana?"
Ia segera menuju kamar orang tuanya.
"Maaak." panggil Ralin setengah berteriak dan segera membuka knop pintu.
"Ralin, anakku, sudah sampai ya, Mamak kangen Nak." Ralin memeluk erat ibu yang sangat dirindukannya.
"Ralin juga. Bapak! gimana kabarnya?" Ralin bergantian memeluk sang ayah yang sedang duduk di sofa kamarnya. Di usianya yang sudah menginjak 65 tahun ayah Ralin masih terlihat bugar, meski sudah di balut keriput, wajahnya masih menyisakan ketampanan.
"Bapak sehat, nak. Kamu hebat ya sekalinya pulang langsung bawakan Bapak calon menantu." gurau sang ayah.
"Anak bapak gitu lho. Lagi ngomongin apa, kok serius sekali sampe ga sadar Ralin pulang?"
"Kebetulan kamu sudah di sini, bapak tadi sudah telpon om Sa'id dan kami sudah sepakat agar pernikahanmu di percepat."
"Hah, maksudnya?"
"Pertemuan dengan keluarga calon suamimu nanti malam akan menjadi acara lamaranmu, besok pagi kalian akan melaksanakan akad nikah. Lusanya baru kita akan melaksanakan hajatan di rumah Seganteng. Resepsi bisa belakangan." jelas sang Bapak.
"Tapi pak, Ralin kan..."
"Nak, ini sudah keputusan bapakmu, dia ingin kamu segera memiliki orang yang bisa melindungimu, sudah cukup kamu jauh dari pengawasan kami, selama itu bapak dan mamak tidak tenang memikirkanmu, bukannya mamak dan bapak tidak percaya sama Ralin, tapi ini yang bapakmu rasa terbaik untukmu," jelas Mama Rani dengan suara lembut khasnya.
Belum satu jam Ralin menginjakkan kaki di rumahnya dia sudah dihadapkan dengan situasi yang mungkin tidak siap dia hadapi. Ralin tidak berani membantah. Bagaimanapun perintah ayahnya sama dengan perintah Allah baginya.
"Ralin anak mamak, sekarang sudah dewasa, mau punya suami, apapun yang kamu hadapi nanti dalam rumah tanggamu hadapi dengan sabar. Turuti ucapan suamimu seperti kamu menuruti ucapan Bapakmu!" Ralin pun segera memeluk sang ibu. Merasa tidak siap jika harus berpisah dengan mereka. Kenapa akhir-akhir ini setiap babak baru dalam hiduonya terjadi sangat cepat.
"Mamak punya hadiah buat Ralin." ibunya beranjak mengambil sebuah kotak perhiasan yang di taruh di atas meja rias.
"Ini adalah kalung pemberian almarhumah nenekmu dulu ketika mamak akan menikah, ini adalah perhiasan turun temurun keluarga kita, sekarang sudah saatnya mamak berikan buat Ralin."
"Tapi mak ini terlalu banyak buat Ralin." Ralin melihat sebuah kalung emas beserta liontin berbentuk tetesan air bertahtakan intan, sebuah cincin, dan gelang.
"Ga ada tapi, ini sekarang tanggung jawab Ralin. Benda ini berharga, begitupun dengan rumah tanggamu, jadi jaga pernikahanmu seperti kamu menjaga perhiasan ini, mengerti!"
Ralin hanya mengangguk menyanggupi titah orang tuanya. Dia dan Yaris memang berencana menikah bulan depan, tapi jika Allah menghendaki kalau pernikahannya akan terjadi besok pagi, tidak ada yang bisa ia perbuat selain menjalaninya.
"Kamu tenang saja, untuk urusan baju dan make up sudah di siapkan, sepupumu banyak membantu Mamak, kamu hanya perlu mempersiapkan diri!"
Ayah Ralin terharu melihat dua orang wanita yang ia cintai itu, segera di peluknya mereka berdua, "Semoga sakinah, mawaddah wa rohmah ya nak." bisiknya.
__ADS_1
***
Malam harinya rombongan keluarga Yaris datang ke rumah Ralin. Yang tadinya hanya berempat, sekarang lebih dari 20 orang keluarga Yaris telah mendampinginya untuk acara lamaran itu. Entah bagaimana ceritanya mereka bisa sampai di Lombok dan menhmghadiri acara lamaran Ralin.
Setelah turun dari mobil, mereka masing masing membawa seserahan untuk diberikan kepada calon mempelai wanita, ada sepatu, tas, baju, set make up beserta alatnya, skin care, body care, kue, Hebatnya keluarga Yaris menyiapkannya dalam hitungan jam, ck ck ck.
Ralin telah bersiap-siap di kamar, di temani Mega dan beberapa orang sepupunya. Ia baru saja selesai di dandani oleh seorang make up artist ternama di kotanya.
Ralin terlihat cantik dengan setelan kebaya berwarna hijau tosca, rambutnya disanggul sederhana, di lengkapi make up flawless semakin menambah pesonanya sebagai calon pengantin.
Beberapa menit kemudian, seorang kerabatnya memanggil agar ia segera keluar kamar. Ralin merasa gugup, bahkan sangat gugup, tangan Mega tak pernah ia lepaskan sejak masih berada di kamar tadi.
"Nyantai aja Lin, tegangnya simpan buat besok!" canda Mega.
"Nyantai gimana, kamu belum ngrasain sih, aku malu sama Yaris kalo acaranya semendadak gini, apa kata dia, dikira aku yang ngebet nanti." jelas Ralin dengan suara berbisik.
Ralin memang belum menghubungi Yaris sejak ayahnya mengatakan akan mempercepat pernikahannya tadi siang. Bahkan sekedar memegang ponsel saja ia takut. Perasaan malu sangat mendominasi pikirannya.
Di bawah, semua sudah berkumpul, keluarganya dan keluarga Yaris, mereka duduk berjejer di kursi yang telah disediakan WO dengan posisi saling berhadapan. Semua mata tertuju pada Ralin yang sedang menuruni anak tangga. Mereka terlihat kagum dengan kecantikan Ralin. Tak terkecuali Yaris yang matanya tidak pernah lepas sejak kemunculan awal Ralin.
Cantik ya.
Itu pengantinnya, cantik sekali
Ga salah pilih si Yaris
Kurang lebih seperti itulah suara-suara sumbang yang terdengar entah itu dari keluarga Yaris atau Ralin.
***
"Ralin Aninta Wahyu, maukah kamu menjadi pendamping hidupku, selamanya, menjalani sisa hidupmu bersamaku, di saat susah atau senang?" ucap Yaris dengan suara tegas tapi terdengar lembut.
"Iya, aku mau."
Jawaban Ralin disertai gemuruh tepuk tangan orang-orang yang menyaksikan acara lamaran itu. Mereka tertawa bahagia. Yaris segera memasangkan cincin di jari manis Ralin, begitupun Ralin, memasangkan cincin di jari manis Yaris. Mama Ayu mendekati anak dan calon menantunya itu, dipeluknya Ralin dengan erat dan berucap "terima kasih sayang".
"Sama-sama Ma, do'ain Ralin bisa jadi istri yang baik buat Yaris."
Mama Ayu segera mengambil sebuah kotak yang dibawakan oleh seorang kerabatnya. Dia lalu membuka kotak itu dan sebuah kalung emas putih bertahtakan berlian terlihat berkilau di tangannya.
"Ini apa Ma?"
"Buat mantu Mama yang berharga." ucapnya sambil membuka pengait kalung dan memasangkannya di leher Ralin. Ia hanya bisa menerima sambil tersipu malu.
Segera di peluknya sang calon mertua, "terima kasih Mama."
Yaris tidak menyangka ternyata mamanya sangat menyayangi Ralin. Dia tidak tahu kalau mamanya akan memberikan hadiah itu pada calon istrinya.
Setelah acara sesi foto, para tamu disilakan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Ralin dan Yarispun ikut menikmati hidangan yang ada. Mereka duduk dikursi dengan sebuah meja di halaman belakang rumah Ralin. Di sana juga ada Davi, Mega dan Arya.
"Tu kan kak, apa Davi bilang, kakak disuruh ijab qobul langsung, udah hafal belom?" ujar Davi membuka obrolan.
"Mau tau aja kamu, itu rahasia, ga bisa di ucapkan di sembarang tempat," jawab Yaris sambil mengunyah makanannya.
"Kalo butuh teman buat latihan, Davi bisa bantu."
"Modus kamu, pasti minta imbalan."
"Kakak su'udzon terus sama Davi, kali ini Davi tulus kok, asal kakak ngasih pinjem mobil kakak satu aja tiep malam minggu, itu aja."
"Ga boleh, makanya kerja, kamu ini main terus."
"Pelit."
"Ris, kok bisa keluarga lo banyak yang hadir?" tanya Mega heran, karena mereka awalnya hanya berempat.
"Begitu bapak telpon, Papa langsung hubungi keluarga di Bandung bahkan yang di luar Bandung, semua pada diwajibkan dateng, ga ada yang berani protes kalo Papa yang minta, jadi ada yang dateng pake jetpri, ada yang beli tiket sama orang yang udah beli duluan, ga tau lagi deh gimana usaha mereka sampe sini, mungkin ada juga yang pinjem karpet Aladdin." selorohnya.
"Ooo gitu,, eh katanya Rey juga otw." Mega keceplosan.
Mendengar Mega mengatakan hal tentang Rey, Yaris tersedak air dan Ralin batuk-batuk. Mereka kompak memandang Mega menuntut penjelasan, mungkin tepatnya pengakuan.
Sejak kapan Mega mengetahui jadwal kegiatan dokter itu?
Mega mati kutu, dia membenamkan wajahnya. "Lo bedua sidangnya nanti kalau Rey sudah di sini, jangan liatin gue kayak gitu, berasa kriminal gue!"
"Ibu Mega sejak kapan ya anda memiliki pengetahuan tentang kegiatan dokter Reyhan? Apa ada yang anda sembunyika dari saya Ibu Mega yang terhormat?" selidik Ralin dengan nada kesal yang tidaknia sembunyikan.
"Please ya Lin, ini momen lo, ceritanya nanti aja, oke!"
"Baiklah, saya akan sabar menunggu. Lo hutang pengakuan sama gue."
__ADS_1
Yaris hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mega. Dia sudah memprediksi sebelumnya, tapi ragu mengingat Reyhan yang sangat sibuk di rumah sakit.