Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Cemburu


__ADS_3

"Kenapa Ga?"


"Ada yang datang," jawabnya berbisik.


"Sia.... Daning?"


***


"Lo kenal?" sambil membantu Ralin berjalan kembali ke tempat tidur Mega mengungkap rasa penasarannya. Langsung saja, biar di dengar orangnya.


"Dosennya Intan," jawab Ralin pelan yang disambut denga 'O' tanpa suara oleh Mega.


"Hai!" sapa Daning, ia mendekati tempat tidur Ralin dengan membawa seikat bunga mawar merah.


"Kok bisa tahu saya disini?" tanya Ralin tanpa basa basi.


"Itu..." Daning mencari alasan yang tepat, tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia telah melacak ponsel Ralin. "Yang jelas bukan dari Intan, mungkin lain kali saya ceritakan," jawab Daning berteka-teki.


"Kamu sakit apa?" tanyanya sambil mendekat hendak memberi bunga kepada Ralin.


Sambil menerima bunga yang diserahkan padanya Rakin sedikit kikuk, "saya...."


Suara pintu terbuka tiba-tiba.


"Assalamu'alaikum"


Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik, di balut pakaian mahal dan modis langsung masuk dan memeluk Ralin tanpa aba-aba. Di belakangnya seorang asisten membawa beberapa wadah yang entah apa isinya.


Mendadak ruangan itu menjadi ramai.


"Ralin kaget ya? ini Mama Ayu, Mamanya Yaris?" ujarnya sambil senyum merekah.


"Mang Juki boleh tunggu di luar ya!" perintahnya pada sang asisten.


"Siap Nyah!" sang asistenpun berlalu setelah meletakkan bawaannya di atas nakas.


"Oh, Tante." Ralin yang tadinya bengong karena terkejut refleks salah tingkah. Bingung sendiri menghadapi intervensi orang yang ia tidak kenal sebelumnya. Ralin bukan tipe orang yang pintar bersosialisai dengan cepat.


"Kanapa manggil Tante, panggil Mama dong, ngga boleh nolak!"


"Harus ya?"


"Mama udah bilang ga boleh nolak."


"Iya...Tan eh Ma, silakan duduk!" Daripada memperpanjang debat, iyakan saja biar cepat.


"Ralin ada tamu, siapa ini?" tentu saja Mama Ayu menyalakan radar keponya karena sang calon mantu dikunjungi laki-laki selain anaknya.


"Ini pelanggan di kedai Ralin Tan, eh Mah." jawab Ralin.


"Oh, kamu udah makan? Maaf ya Mama telat datengnya, mamah udah masakin sup iga sapi buat kamu."


"Makasi Mah, nanti Ralin makan. Mama jangan repot-repot, makanan rumah sakit oke kok."


"Oke gimana, kemarin Yaris bilang kamu mau makan burger."


Sesaat keberadaan Daning terlupakan di ruangan itu.


"Kalau mau cepat sembuh, kamu harus makan makanan sehat, cepat sehat cepat nikah sama Yaris, ga usah kah lama-lama pacaran, pacarannya nanti setelah nikah, lebih enak." Sekarang Ralin benar-benar malu. Kompak sekali ibu dan anak membuatnya merona dengan ucapan mereka dalam satu hari.


"Assalamu'alaikum," suara seorang wanita.


"Wa'alakumsalam." Jawab semua yang ada di ruangan itu.


Satu lagi wanita paruh baya seumuran mamah Ayu masuk ke ruangan Ralin, kali ini dengan tampilan sederhana dan bersahaja, dialah bunda Diah.


"Nak Ralin maaf ya Bunda baru bisa dateng nengok!"


"Ga apa-apa Bun." jawab Ralin sambil membalas kecupan pipi bunda Diah, "Bunda jangan repot, panti siapa yang ngurusin."


"Banyak kok, tenang aja. Eh, Jeng Ayu juga di sini?" sapa bunda Diah.


"Iya dong, Ralin ini calon mantu saya lho Jeng." pamer Mama Ayu enteng. Sengaja, biar di dengar pria yang terus saja berdiri di samping Ralin.

__ADS_1


Daning yang mendengar kabar itupun mengerutkan alisnya, kaget? Tentu saja, marah? Pasti, mengetahui wanita impiannya telah memiliki calon mertua. Setahu dia selama ini Ralin tidak menjalin hubungan dengan siapapun menurut informasi yangbia terima dari Intan. Patah hati? jelas. Belum memulai saja ia sudah di cekal.


Segera saja kedua wanita paruh baya itu bercengkrama dan memilih duduk di sofa. Mama Ayu cukup tau Daning bisa mengerti ucapanya.


Daning yang dari tadi berdiri tidak jauh dari tempat tidur, memandang lekat ke arah Ralin, membuat Ralin salah tingkah.


Dengan suara yang dipelankan Daning mencoba memastikan, "Apa benar kamu...?"


Ralin tidak memberi jawaban meski tahu maksud pertanyaan Daning. Ia hanya tersenyum ke arah laki-laki yang mungkin berharap padanya. Mega lebih kalang kabut karena para tamu yang datang tiba-tiba. Tidak tahu siapa yang harus ia sapa. Yang jelas Ketenangannya terusik.


Ruangan itu tadi sangat kondusif untuknya beristirahat. Sekarang sebaliknya.


Suara pintu kembali terbuka. Kini giliran Yaris yang datang. Ia lalu mengedarkan pandangannya.


"Mamah udah dateng?" Yaris mendekati dua wanita paruh baya itu dan menyalami mereka "ada bunda Diah juga," ujarnya.


"Nak Yaris apa kabar?" sapa bunda Diah


"Baik Bun."


"Kamu kok baru dateng?" sela sang mama.


"Kelar rapat Ma." jawabnya sambil beranjak ke arah Ralin, segera dikecupnya ujung kepala sang pacar tanpa memperdulikan sekitarnya. Terang saja wajah Ralin langsung merona menerima perlakuan Yaris. Ralin hanya pasrah, mau dilarang juga tidak mungkin berlaku untuk Yaris.


"Kamu udah makan?" tanyanya yang dijawab Ralin dengan anggukan.


Setelah melihat bunga mawar merah di pangkuan Ralin, barulah Yaris sadar ada orang yang mengawasi gerak geriknya dari tadi. Seketika rahangnya mengeras, tatapan tajam Yaris mengarah pada sosok Daning yang berdiri berseberangan dengannya.


"Ada tamu ya?" sapanya mencoba ramah.


Daning melangkah sembari mengulurkan tangannya pada Yaris.


"Daning."


"Yaris."


Yaris menjabat erat tangan Daning tanpa melepaskan tatapannya, Ralin yang menyaksikan adegan itu bingung harus bagaimana.


Daning kecewa pastinya, merutuku dirinya yang lelet, duluan Ralin di ambil orang, aarrrhg shit.


"Siapa?" tanya Yaris dengan nada sedikit kesal, cemburulah, apalagi.


"Dosennya Intan, pegawaiku, dia sering dateng ke kedai."


"Kok bisa tahu kamu di sini?"


"Engga tau. Tadi juga aku tanyain itu ke dia, tapi ngga dijawab."


"Bunganya dia yang bawa?"


Ralin hanya menggangguk, tanpa aba-aba Yaris segera meraih bunga pemberian Daning yang sedari tadi bertengger di pangkuan Ralin.


"Parcel buahnya juga, Ris," timpal Mega. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Yaris pada barang bawaan rivalnya itu.


Yarispun mengambil parcel buah yang ada diatas meja.


"Mau diapain?" tanya Ralin


"Ngasih orang di depan." jawab Yaris cuek dan segera keluar membawa dua barang yang ingin segera ia singkirkan.


"Pacar lo cemburuan juga."


"Hussh, diem lo!"


Melihat kejadian itu bunda Diah dan mama Ayu hanya tersenyum, Mama Ayu sudah faham dengan sifat Yaris yang posesif. Sudah pasti, turunan Bapaknya.


"Maklum ya Lin, Yaris itu anak sulung jadi posesif." ujar Mama Ayu.


Ralin hanya tersenyum, lagi-lagi ia dikagetkan denga sikap Yaris.


***


Hari telah beranjak petang. Kini tinggal mereka bertiga yang tersisa di ruangan itu. Mama Ayu dan bunda Diah sudah pamit sejak setengah jam yang lalu. Yaris baru kembali ke ruangan setelah menunaikan kewajibannya beribadah.

__ADS_1


"Lin, gue keluar sebentar ya, pengen makan mi ayam."


"Hmmm."


Mega berlalu keluar.


Yaris masih saja diam, mungkin masih kesal, biasanya dia yang aktif.


"Lain kali ga boleh gitu ya?" Yaris membuka percakapan.


"Apanya?"


"Nerima barang dari cowok lain selain aku," katanya dengan nada ngegas.


"Nggak mau."


"Ralin! Pokoknya ga boleh, jangan mancing," tegas Yaris.


"Ga bisa gitu dong, kalo kak Arya ato Bapak yang ngasih masa aku tolak," goda Ralin. Biar Yaris tahu, bukan dirinya pria pertama dalam hidupnya.


"Iya, kalo mereka sih boleh." jawab Yaris dengan nada yang direndahkan. "Kamu tu ya udah pinter goda aku."


Yaris mendekat ke arah tempat tidur setelah menaruh jasnya diatas sofa. Lengan kemejanya yang ia lipat sampai siku tidak mengurangi kadar pesonanya.


"Makan dulu yuk!" ajak Yaris.


Ralin mengangguk setuju, perutnya juga sudah terasa lapar.


"Kita makan di sofa aja." Ralin mulai beranjak dari tempat tidur. "Aku pegel dari tadi rebahan terus." kakinya mulai menginjak lantai.


Ralin menyeimbangkan diri, mencoba berjalan sedikit-demi sedikit, Yaris berinisiatif membantunya tapi Ralin melarang, "stop! jangan dibantuin, nanti aku lama bisanya."


"Ya udah makanya hati-hati!" jarak sofa dari tempat tidur yang lumayan jauh untuk ukuran Ralin, membuatnya harus lebih gigih berusaha.


Yaris hanya bisa pasrah melihat sang kekasih yang keras kepala tidak mau di bantu, dia hanya mengawasi setengah meter dari posisi Ralin berada.


"Hhuuuffft akhirnya." Ralin akhirnya sampai di sofa, mencoba duduk perlahan, kalau sudah begini dia tinggal membiasakan langkah kakinya. Yaris menyusul dengan duduk di sebelahnya.


"Kenapa ga minta gendong aja sih, aku deg degan liat kamu jalan kayak gitu."


"Jangan mulai...itu sih maunya kamu, emang harus gini untuk proses penyembuhan." Jelas Ralin yang menyesuaikan posisi duduknya agar terasa nyaman.


"Tante tadi katanya bawain sup iga."


"Kok tante? Mama, bilang Mama!" sanggah Yaris. Dia membuka satu per satu wadah kebanggaan mamanya. Semua menu terlihat menggugah selera.


"Iya iya, Mama. Apa nggak kecepetan? Aku ga biasa" Ralin masih belum terbiasa dan merasa ini terlalu cepat, keluarga Yaris dengan tangan terbuka menerimanya, apa mereka tahu kekurangannya? Memikirkannya membuat Ralin pening. Apalagi memikirkan caranya agar bebas dari Yaris. Kepalanya akan berdenyut. Nanti saja.


"Kalo aku telat dikit yang ada si Daning tu nikung aku."


"Mama kayaknya niat banget deh ini masaknya." Tiadak peduli dengan curhatan Yaris.


"Emang, dari subuh udah di pasar, kamu ga tau sih tadi pagi aku di geret biar cepet kesini nganter sarapan itu."


Ralin terkekeh kecil mendengar cerita Yaris, seandainya rasa sakit jahitannya sudah hilang, mungkin dia akan tertawa lebih lebar.


Mereka pun mulai menikmati makanan pemberian Mama Ayu.


"Eh, ini dinner pertama kita ya." ujar Yaris


"Bukan, salah kamu, ini yang ke dua."


"Emang pernah juga, kapan?"


"Di sini juga, tapi di bangsal anak, waktu jaga baby D." jawab Ralin mengingatkan.


"O iya ya, tapi waktu itu belum resmi."


"Tetep aja judulnya yang ke dua."


"Ga bisa, ini yang pertama." tegas Yaris.


"Ih, terserah," lagi-lagi Ralin kalah, oke, mengalah tepatnya.

__ADS_1


__ADS_2