Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Welcome to Your New Family


__ADS_3

Hari ini Yaris sengaja mengambil cuti sehari dari kantornya karena Ralin akan keluar dari rumah sakit. Pagi- pagi sekali dia sudah bangun, melaksanakan ritual pagi mulai dari olahraga joging kegemarannya, mandi, dan sarapan. Penampilannya pun lebih santai, tidak seperti biasanya memakai setelan jas, kali ini Yaris memilih kaos oblong, celana jins, dan jaket. Untuk urusan beberes apartemennya dia serahkan pada bi Diok, asisten andalannya.


Ddrrrt...dddrrt... Mamah Heboh memanggil


"Hallo! ya mah."


"Kamu inget kan hari ini Ralin keluar dari RS.?"


"Iya, ini udah siap-siap mau jalan."


"Nanti ketemu disana ya, mamah mau nemenin calon mantu mamah pulang.Kamu ga usah ke kantor, temenin Ralin, pastiin selamat sampai rumah!"


"Iya, udah ah mau jalan nih! *B*ye!"


Yaris memutus sambungan telpon, ia segera menuju area parkir apartemen. Sesuai suasana hati, hari itu langit cerah, tak ada awan beroendar. Yaris yakin hari ini akan berjalan baik.


***


Mega mulai sibuk membereskan barang-barang yang di bawa selama Ralin opname, beberapa kali ia membuka nakas, mondar - mandir kamar mandi sampai buka- tutup kulkas hanya untuk memastikan tidak ada barang yang ketinggalan. Ralin masih di kamar mandi membersihkan diri. Sekarang langkahnya sudah tidak sekaku ketika awal latihan berjalan.


"Udah selese ya Ga?" tanya Ralin setelah keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat segar.


"Udah nih, kita tinggal keluar." Mega meletakkan sebuah tas jinjing di atas tempat tidur yang berisikan barang-barang mereka.


Ralin kemudian duduk di pinggiran brangkar. "Jangan bilang-bilang Yaris ya gue keluar hari ini, gue ngga enak repotin dia terus. Kalau bisa hari ini gue ga ketemu dia lagi."


"Ntar kalo dia marah nyariin lo, gimana?"


"Biarin aja, nanti gue yang ngomong."


"Ya udah, lo yang tanggung!"


"Mega, gue boleh ngomong sesuatu?"


"Ya ngomong aja kali, ga perlu pake ijin!"


"Makasih ya lo udah temanin gue sejauh ini, gue ngga tau gimana jadinya gue kalo ngga ada lo."


"Gue kali Lin yang harusnya bilang gitu, makasih udah mau nerima gue, nampung gue, bantuin gue setiap gue susah, gue ngga bisa bayangin kalo ngga ada lo mungkin gue udah jadi gelandangan di kota orang. Lo udah kebangetan tau baiknya sama gue."


Air mata Ralin meleleh mendengar kata-kata sahabatnya itu, bertahun-tahun mereka menjalin persahabatan, susah dan senang telah mereka lalui. Ralin mungkin punya pengaruh besar dalam kehidupan Mega, dan Mega juga telah banyak membantu Ralin. Pernah suatu ketika mereka sama-sama kehabisan uang, ga bisa beli makan, mandipun numpang di musholla terdekat. Ah, sekarang semua telah menjadi kenangan manis untuk diingat.


"Inget ya kalo ada yang ngelamar lo, jangan lo tolak gara-gara gue, gue mungkin ga akan nikah!" ujar Ralin. Bukan Ralin namanya kalau tidak peskmis masalah jodoh. Mega sudah hafal.


"Ga boleh! Kalo gitu gue juga ngga mau nikah kalo lo ngga nikah, lo juga berhak bahagia, Lin. Yaris tu cowok baik, seandainya dia benar-benar ngelamar lo, lo ga boleh nolak, lo bisa omongin baik-baik apa yang jadi kekurangan lo dan nyari solusinya sama-sama!"


"Gue takut Ga, gue takut kalo nanti saat gue nerima kebahagiaan itu, tiba-tiba harus berakhir karna kelemahan gue. Bukankah tujuan sebuah pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan. Sedangkan gue ga bisa memberikan hal itu. Kalau pun gue nekat, pernikahan itu akan berakhir sia-sia. Apa yang bisa di haraokan dari wanita yang tidak bisa menghasilkan keturunan?"


Dipeluknya sahabatnya itu dengan sangat erat oleh Mega. Air mata mereka sama-sama tidak bisa di bendung lagi. Ralin telah menunjukkan bagian terlemah dari dirinya. Mungkin mereka tidak sadar ada orang lain yang juga mengetahui rahasia itu, tapi toh itu tidak akan merubah keadaan.


"Itu menurut pendapat lo, lo belum dengar pendapat Yaris kan Lin, apapun yang terjadi nanti lo harus hadapi, dulu lo bisa lewati masa tersulit hidup lo, gue yakin untuk yang berikutnya, sebesar apapun ato seberat apapun masalah yang elo hadapi, akan lo lalui dengan baik."


Mega melepaskan pelukannya.


"Gue bisa lihat Yaris bikin lo bahagia beberapa hari ini, dia bikin lo ketawa, dia bikin wajah lo merona, dia bikin jantung lo berdegup kencang, iya kan? Lo udah jatuh cinta, dan ini bagian terbaik dalam hidup lo. Jangan lo lewatin gitu aja. Lo udah banyak ngebahagiain orang lain, sekarang giliran lo untuk bahagia, ngerti?!"


Di balik pintu, Yaris mendengarkan pembicaraan dua orang sahabat itu, dia sudah disana sejak awal mereka bicara, tapi dia tidak ingin mengganggu atau mengacaukan apa yang memang harus Ralin dengar dari Mega. Mungkin dengan mendengar kata-kata dari Mega, Ralin bisa merubah pola pikirnya.


"Udah ah, pagi-pagi udah mewek, harusnya kita seneng kali lo pulang hari ini." ujar Mega bersemangat.


"Gue udah selesei, kita keluar sekarang yuk!" ajak Ralin.


"Lo mau gue cariin kursi roda?"


"Ngga usah, gue mau jalan aja, gue ga lumpuh."


Ketika membuka pintu, Mega kaget sampai mulutnya terbuka lebar.


"Lin kayaknya lo ketahuan deh."


Ralin yang berada di belakang Mega tidak mengerti maksud ucapan temannya itu.


"Kenapa Ga? Kalo ngomong yang jel...!"


Yaris menampakkan diri dengan cengir kudanya, tapi berubah seketika mengartikan ucapan Mega.


"Ada yang ga mau gue tahu pacar gue pulang hari ini, iya?" selidiknya.


"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Ralin balik.


"Sejak kapan ya? Kayaknya ga penting."


Yaris segera meraih tangan Ralin dan digenggamnya erat, bahkan sangat erat. Membuat Ralin salah tingkah. Sudah ia coba melepaskan tapi percuma. Tidak mungkin juga ia bisa kari jauh dengan kondisi seperti itu. Jadi biarkan, mungkin ini akan menjadi hari terakhirnya bersama Yaris.


Mega sudah melangkah lebuh dulu, takut kena semprot Yaris yang kemungkinan besar mendengar pembicaraan mereka. Dia biasa mendengar omelan Ralin, tapi mencari masalah dengan Yaris bukanlah pilihan bijak. Pria itu sepertinya memiliki kuasa.


Dengan langkah hati-hati dan pelan Ralin dan Yaris berjalan melewati bangsal rumah sakit. Ralin menikmati momennya itu. Mungkin Mega benar, tidak ada salahnya mencoba menerima Yaris sebagai kekasihnya. Semua bisa dibicarakan, kalaupun harus berakhir, itu atas kesepakatan bersama.


Pintu lift terbuka, merekapun melangkah masuk dan di sana hanya ada mereka berdua. Ralin tentu merasa canggung, apalagi Yaris tidak mau melepaskan tangannya.


"Kamu ngerasa ngga setiap pertemuan kita selalu berakhir di rumah sakit." ujar nyaris membuka pembicaraan. "Pertama waktu kejadian baby D, dan kedua yang ini, aku harus bawa kamu ke rumah sakit karena pingsan."


Ralinpun tersenyum mengingat awal kejadian dia bertemu Yaris, "benar, aku baru nyadar."


"Ini yang terakhir ya, jangan sakit lagi!"


"Ga janji deh, aku orangnya ringkih, makanya jangan jadiin aku pacar!" kata Ralin serius.


Yaris mengecup bibir Ralin sekilas dan berhasil membuat Ralin terjingkat kaget.


"Iiih kamu ini."


"Siapa suruh ngomong gitu, coba aja lagi, aku orangnya nekatan, lupa?"


"Ingat, tapi jangan nyosor gitu aja, gimana kalau ada yang lihat?"


"Sukur, aku ga perlu repot ngumumin ke semua orang kalau kamu punyaku."


"Aku bukan barang."


"Terserah."


"Mau sampai kapan sih seperti ini?"

__ADS_1


"Sampai selamanya."


"Selamanya kamu mau pegang tangan aku kayak gini?"


"Iya, biar kamu ngga lari." jawab Yaris enteng.


"Gimana mau lari, orang masih sakit juga."


"Maksudnya lari dari hidup aku, Ralin Aninta Wahyu, kamu cuma buat aku, jadi jangan coba-coba lari!"


Ralin memutar bola matanya, entah sudah berapankali dia mendengar kalkmat itu keluar dari mulut Yaris.


"Kamu dengar semua yang aku omongin sama Mega?"


Yaris hanya tersenyum, "kita bahas lain kali, ya! kamu fokus sembuh dulu." Jawab Yaris misterius.


Pintu lift terbuka dan kini mereka telah sampai di lantai dasar.


"Kita ke administrasi dulu ya!" pinta Ralin.


"Ngapain?"


"Aku belum bayar tagihan."


"Udah aku lunasin dari kemarin."


"Kok gitu? Aku mampu kok bayar sendiri"


"Aku tau, tapi memang harus begitu, udah ih jangan bawel, tunggu di sini aku ambil mobil dulu!"


"Tapi aku bawa mobil juga."


"Biar Mega yang bawa, kamu ikut mobil aku!"


Yaris segera menuju parkiran.


Dari arah yang berbeda Mama Ayu memanggil nama Ralin dengan suara melengking, "Raliiiiiin! aduuu mantunya mama, udah mau pulang ya? Mama anterin sampai rumah ya, Mama juga udah siepin makanan buat kamu nanti di rumah."


"Mama apa nggak ngerepotin?" Tentu saja Ralin merasa tidak enak menerima kebaikan orang tua Yaris terus menerus, di klaim sebagai pacar atau calon menantu, tetap saja dia orang asing.


"Nggak dong, kamu kan calon mantu Mama, malah Mama seneng, yang penting kamu cepet sembuh terus Mama lamar buat Yaris, kalian ga usah pacaran lama-lama ya!"


'Ampuuuun ga anak ga mamanya sama-sama suka ngagetin.'


"Baru juga tiga hari lho Ma kita resminya."


"Ngga apa-apa, daripada Yaris di tikung orang."


'Tante bener-bener xl deh, jangkauannya luas. Sudah pasti Daning adalah tersangka penikung itu.


Ralin hanya tersenyum getir mendengar ucapan sang calon mertua.


Tak lama kemudian tiga buah mobil beriringan berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Mega pun keluar dari dalam mobil milik Ralin.


'Ini gue keluar RS aja udah kayak pawai presiden, banyak banget sih iringannya.'


Di susul Yaris yang keluar dari mobil sedan Merci hitam miliknya.


Lagi, Yaris tanpa segan meraih tangan Ralin dan menuntunnya menuju mobilnya. Ralin pun hanya bisa mengikuti kemauan pria itu. Sabar, setelah ini dia akan me cari cara untuk kabur.


"Mama ikutin kita dari belakang ya!" sambungnya.


Yaris membukakan pintu untuk Ralin, membantu Ralin duduk dengan sangat telaten, bahkan dia memasangkan sabuk pengaman untuk kekasihnya. Jantung Ralin rasanya turun ke usus dua belas jari menerima perlakuan Yaris, gimana ga luluh. Lelaki ini sangat tahu cara memperlakukan wanita.


Tak lama kemudian mobil iring-iringan penjemput Ralin itupun keluar dari lingkungan RS.


***


Di tengah perjalanan Ralin merasakan kejanggalan karena jalan yang mereka lalui bukan jalan yang menuju kedainya.


"Yang ini bukan jalan yang menuju kedai aku deh kayaknya " ups, Ralin keceplosan, "kamu salah ambil jalan ini." sambung Ralin.


"Apa? coba ulang tadi ngomong apa?!"


"Ini bukan jalan..."


"Bukan yang itu, yang paling awal tadi."


"Emang aku bilang apa?"


"Ga mau, harus inget!"


Ralin merewind kembali kata-kata yang ia ucapkan pada Yaris, seketika wajahnya bersemu merah.


"Iiiih kamu tu, ga mau, masa di ulang sih."


"Enggak, pokoknya aku mau denger lagi, kalo ga kita ke KUA ni."


"Ya udah, iya iya, sayang." ucap Ralin dengan suara yang sengaja di kecilkan. Bahkan sangat kecil.


"Apa? aku ga dengar." Yaris semakin menggoda Ralin.


"Sayang, udah? Puas sekarang hem?" ketus Ralin.


"Yesss" sambil mengepalkan tangan kirinya ke udara Yaris senyum kegirangan, "aku seneng lho dengernya."


"Kamu apaan sih, kayak orang dapet jackpot, perut aku masih sakit lho ini." Ralin tertawa kecil melihat tingkah laki-laki yang ada di sampingnya.


"Itu jadi panggilan kita ya sekarang, deal, ga ada protes," tegas Yaris.


"Enggak, dan ini kita mau kemana sebenernya?"


"Pulang."


"Tapi pulang kemana?"


"Ke rumah Mama." jawabnya enteng.


"Kok ke sana?"


"Kemarin aku udah ke kedai, nyuruh orang bersihin kamar kamu, kamar kamu kan di lantai dua, sedangkan kamu jalan aja masih susah, ya udah aku putusin kamu di rumah Mama dulu sampai sembuh total."


Sejak kapan Yaris seenaknya memutuskan apa yang harus di lakukan Ralin?

__ADS_1


"Ngga mau, aku ga mau ngerepotin lho."


"Terserah, aku liat kamu jalan aja jantungku udah mau copot, gimana kamu naik turun tangga."


Ralin tertegun, tidak menyangka laki-laki itu memikirkannya sampai sejauh ini.


"Terus baju aku gimana? Aku ga bawa baju bersih lho."


"Udah disiepin, sampai underwear juga."


"Hah?! Kamu yang siepin?"


"Bukan aku, aku minta Mega siepin semua keperluan kamu."


"Kalian tu ya, bener-bener komplotan di belakang aku, awas aja Mega, pinter ya dia main dramanya."


"Jangan di marahin, aku yang maksa dia."


"Mama belom tahu ya, tadi katanya dia udah siepin aku makanan."


"Kalo aku ngasih tau duluan, yang ada Mama heboh, yang ada rencanaku gagal, kamu liat aja ya nanti reaksinya gimana, pasti loncat-loncat."


"Papa kamu gimana?"


"Papa mungkin lebih seneng lagi, kamu belum tahu aja keluargaku ga sabar jadiin kamu mantu mereka."


Ralin menghembuskan napas gusar, dia tidak bisa berbuat apa-apa, Yaris sungguh telah berbuat lebih jauh dari yang ia bayangkan dan selalu berhasil membuat Ralin menuruti kemauannya. Walau bagaimanapun ini demi kebaikan Ralin juga, tapi tetao saja, astaga dia orang asing. Jauh dari keluarga dan dalam keadaan sakit akan berat jika ia lalui sendiri.


Yaris yang melihat wajah risau Ralin segera meraih tangan kanan wanitanya itu dan mengecupnya.


"Kamu ga usah mikir apa-apa, cukup fokus untuk sembuh aja, jangan mikir yang aneh-aneh, ngerti!"


Ralin hanya menyanggupi dengan anggukan sambil memikirkan lagi cara untuk kabur dari pria ini.


***


Tidak lama kemudian kendaraan yang mereka tumpangi memasuki sebuah halaman rumah yang luas dan asri. Berbagai macam tanaman tumbuh dengan sangat terawat. Memanjakan mata siapapun yang memandang.


"Yaris, kamu mau nganter Mama pulang duluan? Gimana sih, mama kan udah bilang mau ikut nganter Ralin pulang," dengan nada kesal mama Ayu mencerca anaknya.


"Emang ini apa namanya mah?"


"Hah, maksud kamu Ralin?" sambil melihat anggukan Yaris mama Ayu berteriak kegirangan "aaaaaa. Sini mantu mama, ayo masuk masuk!" Ralin dituntun ke dalam oleh sang calon mertua.


Orang-orang yang menyaksikan kejadian itupun tertawa geli melihat tingkah wanita paruh baya itu.


Mereka menuju ruang tamu yang terlihat rapi dan mewah, sofa yang berukuran besar, benda pajangan dari berbagai negara, ada juga vas bunga besar terbuat dari kristal yang terisi dengan bunga segar sangat memanjakan mata.


"Yaris ga bilang kamu mau pulang ke sini, tau gitu Mama siepin kamar dari kemarin-kemarin, kamu tu ya anak nakal." ucap mama Ayu sambil melotot ke arah Yaris.


"Udah kok mah, Yaris minta Bi Sumi siepin kamar tamu yang di bawah, sementara Ralin tinggal di sini Mah, sampai bener-bener sembuh."


"Ga usah sampai sembuh, selamanya juga Mama setuju, mau ya Ralin!"


"Maaf ya Ma, Ralin ngerepotin!"


"Eeeh siapa bilang? malah Mama seneng ga kesepian lagi."


"Papa mana?" tanya Yaris.


"Biasalah papamu tu di ruang bacanya."


Di tengah obrolan, seorang asisten rumah tangga datang dengan membawa minuman lengkap dengan kue pendamping.


Ketika waktu menunjukkan jam sebelas siang Mega yang duduk di samping Ralin terlihat gelisah, dia terus saja melirik ke arah jam tangannya.


"Ris, kayaknya gue harus pamit ni!' ucap Mega tiba-tiba.


"Yaa, kok gitu!" ujar Ralin kecewa.


"Gue ada janji."


"Sama siapa?" selidik Ralin.


"Rahasia, ntar deh gue cerita."


Ralinpun berdiri untuk melepas kepergian Mega, "kedai biar gue yang urus, lo sembuh dulu ya!" Ralinpun mengangguk.


Di peluknya sahabatnya itu sebagai bentuk perpisahan, "Welcome to your new family, besty, jangan lupa bahagia!" bisik Mega pada Ralin.


"Lo hati-hati ya!" pesan Ralin.


"Pasti."


"Thanks ya Ga." Ujar Yaris.


"Anytime, titip sahabat gue, awas lo bikin dia sedih."


Yaris mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


***


Tak lama setelah kepergian Mega, seorang asisten melaporkan bahwa makan siang sudah disiapkan.


Merekapun beranjak ke ruang makan. Berbagai hidangan telah tersedia di atas meja makan besar berbentuk persegi panjang. Lagi - lagi sentuhan kemewahan sangat terasa di sana.


"Mama panggil papa dulu ya."


Tak lama kemudian mama Ayu muncul dengan pria paruh baya namun masih terlihat tampan, walaupun ada uban yang tumbuh, tidak membuat kharismanya berkurang.


"Ini pah nak Ralinnya, calon mantu kita."


Ralin berusaha berdiri untuk memberikan rasa hormatnya, tapi segera di cegah sang Papa, "ga usah, ga apa-apa nak, duduk aja, kan masih sakit! Yaris kamu ga sekalian sewa suster buat bantu Ralin?" tanyanya.


"Iya ya Pa, Yaris ga kepikiran."


"Ga apa-apa om, Ralin udah baikan."


"Jangan panggil om, panggil Papa dong!"


"Iya Om eh, Pa."


"Papa tenang aja, nanti biar mama yang jaga Ralin, udah yuk makan dulu!"

__ADS_1


__ADS_2