Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Home Sweet Home Gonna Be


__ADS_3

Sekembalinya dari bulan madu kilat di Lombok, Ralin dan Yaris disibukkan dengan persiapan resepsi mereka yang kini tinggal menghitung hari. Mulai dari penyebaran undangan, pemotretan after wedding karena mereka tidak punya foto prewedding, seleksi menu, fitting baju dan berbagai rentetan persiapan yang harus mereka lakoni. Tamu yang akan datang tentu akan di dominasi tamu dari pihak Yaris, keluarga, karyawan kantor, kolega, rekan bisnis, pejabat sampai teman dan sahabat Yaris yang jauh atau dekat.


Semua persiapan berjalan lancar. Ralin juga tidak banyak meminta hal yang neko-neko untuk segala pernak-pernik resepsi. Itu membuat para kru WO tidak kerepotan untuk mengurus segala sesuatu untuk venue pesta pernikahannya. Apalagi Yaris, dia lebih suka terima saja apa yang para kru ajukan, taunya bereslah. Malah sang Mamalah yang lebih banyak berperan dalam hal ini. Ayu tidak segan meminta kru WO mengganti susuatu jika tidak sesuai seleranya.


Untuk masalah baju satu hal yang pasti, Ralin tidak ingin, tidak mau sama sekali jika disuruh memakai gaun model payung seperti pengantin kebanyakan. Ogah ribet. Dia memilih gaun panjang berbahan jatuh, dengan sedikit ekor yang menjuntai ke belakang, dan dihiasi kristal swarovski, tidak terbuka pada bagian punggung atau leher. Simple, elegan dan manis.


Persiapan telah mendekati angka seratus persen. Yaris sudah tidak sabar mengumumkan pada dunia istri tercintanya.


Hingga tiba hari yang ditunggu. Hotel bintang lima yang menjadi tempat berlangsungnya acara resepsi Ralin mulai dipadati kendaraan para tamu. Para tamu undangan sudah memasuki ballroom hotel tempat acara akan dia adakan.


Memasuki ruangan resepsi, Ralin dan Yaris tampak anggun dan gagah bagai pasangan raja dan ratu. Diiringi pagar bagus dan pagar ayu, orang tua Yaris serta kak Arya yang mendampingi ibu Rani, Ralin tampil cantik dengan gaun pilihannya dan make up flawless menambah pesonanya sebagai wanita tercantik malam itu. Yarispun tampak gagah dengan setelan jas warna senada dengan gaun sang istri. Para tamu terkagum-kagum dengan tampilan mereka. Selama perjalanan menuju pelaminan, para tamu kompak mengangkat ponsel mengambil gambar bmsampai merekam peristiwa yang hanya akan terjadi sekali, Ralin dan Yaris senang melihat tamu mereka yang tampak antusias.


Ucapan selamat mulai di berikan pada tamu yang hadir. Senyum tak pernah pudar dari wajah pasangan yang sedang berbahagia itu. Hingga antrian para tamu tidak terlalu padat lagi, MC acara malam itu memberitahukan bahwa ada kejutan yang di berikan oleh pengantin pria untuk pengantin wanitanya. Ralin yang tadinya cuek, mulai merasa kalau dia menjadi objek pembahasan MC tersebut.


"Untuk pengantin wanita yang tercantik malam ini, sebuah kejutan telah disiapkan oleh pasangan anda, suami tercinta, seperti apa kejutannya, berikut ini kami telah menyiapkan slidenya ya, karena tidak mungkin hadiah kejutannya kami angkat ke sini. Sangat mustahil malah, tapi semoga gambar-gambar yang akan kami putar berikut ini bisa memberi gambaran betapa indahnya hubungan anda dan suami. And here we go."


Lampu ruangan mulai diredupkan. Para tamu bertanya-tanya kemana mereka harus memandang hingga sebuah lampu sorot menyala dan menghadapkan pada sebuah layar raksasa.


Ralin yang memegang erat tangan suaminya sembari berbisik "Ada apa ini mas?" di telinga Yaris juga tidak tahu maksud perkataan MC itu. Yaris yang mendengarkan hanya memberi senyuman penuh misteri.


Sebuah lagu romantis milik Shania Twain yang bejudul From This Moment mengiringi tampilan slide yang di maksud oleh MC.


Ralin membaca sekilas judul yang di tampilkan di slide awal, "When My Wife Said that She Loved Green." Ralinpun memandang tak percaya pada suaminya.


Slide-slide berikutnya menampilkan foto-foto mereka yang di ambil secara candid, mulai dari acara lamaran, pernikahan, sarapan pertama mereka sebagai pasangan pengantin, foto saat Yaris dan Ralin berbelanja di supermarket membeli alat-alat dapur, juga foto Ralin yang bertransaksi dengan pedagang di pasar, foto saat Ralin memasak pertama kali di dapur apartemen mereka dengan alat seadanya yang menimbulkan tawa para tamu, foto bulan madu kilat mereka di Lombok saat memetik strawberry, saat mereka mencicipi sate bulayak khas Lombok di pantai Senggigi, dan foto-foto mereka di berbagai tempat yang mereka datangi bersama. Sampai mendekati penghujung lagu, sebuah slide berbentuk tulisan tertera di layar,


'Our Home Sweet Home Gonna Be'


Ralin kembali di buat terkejut. Sebuah foto rumah dengan design klasik minimalis di dominasi warna hijau tampil di layar raksasa itu, beberapa gambar kamar yang masih dalam tahap finishing, gambar dapur yang tentu saja di dominasi warna hijau juga, ruang tamu, ruang makan, halaman depan dan belakang yang cukup luas, 'That will be a playground for our kiddos' menjadi judul foto halaman rumah tersebut. Di penghujung lagu Yaris mengutip sebuah bait lagu penyanyi wanita terkenal untuk mengungkap perasaannya;


Jangan berhenti mencintaiku


Meski mentari berhenti bersinar


Jangan berubah sedikitpun


Di dalam cintamu, ku temukan bahagia


 


From your husband with love,

__ADS_1


 


Yaris


 


 


Ralin yang mendapat kejutan itupun tak bisa berkata-kata. Setelah lagu berakhir tepuk tangan riuh terdengar di seantero ruangan. Pelukann dan ucapan terima kasih mungkin tidak cukup untuk mewakili apa yang dirasakan Ralin pada Yaris saat ini, hingga tangis harunya tercurah membasahi wajah cantik Ralin.


"Maaf kalau aku terlalu lama menyadari cintamu terlalu besar untukku." ucap Ralin sambil terus memeluk suaminya.


Dan akhirnya setelah sekian lama, melewati dua purnama, Ralin mengungkapkan perasaannya untuk pertama kali,


"I love you"


Tiga kata ajaib itu akhirnya di ungkapkan Ralin pada Yaris karena sebelumnya hanya Yaris yang selalu mengucapkan kata cinta itu.


Sebuah kecupan di kening di berikan Yaris untuk istri tercintanya. Karena para tamu ikut terhanyut pada kisah cinta pasangan itu, entah siapa yang memulai tiba-tiba para tamu meneriaki Yaris dan Ralin,


"Cium!"


"Cium!"


"Cium!"


"Cium!"


Teriakan itu disambut tanda silang dengan tangan oleh Ralin, tapi tentu tidak oleh Yaris, dia segera membingkai wajah Ralin dan menciumnya lembut penuh perasaan.


Merasa puas para tamupun kembali memberikan tepuk tangan, bahkan lebih meriah dari sebelumnya.


***


Para tamu undangan telah meninggalkan tempat resepsi sekitar sejam yang lalu. Kini hanya tinggal keluarga Yaris-Ralin, dan beberapa kru yang sedang membereskan lokasi.


Tampak di sebuah meja berbentuk lingkaran Yaris, Ralin, Mega, Rey, dan Davi. Mereka terlihat mengobrol dan sesekali tertawa karena candaan.


"Jadi dokter Rey, kapan nih kalian nyusul?" Ralin mulai kepo melihat sahabatnya yang begitu mesra dengan pasangannya.


"Saya sudah ngelamar, tapi di tolak Lin. Coba deh tanya sahabatmu ini apa kurangnya saya!"

__ADS_1


"How come, Ega! Maksudnya apa ini?"


"Lo kurang jampi-jampinya kali bro, coba lo minta ilmunya ke gue!" seloroh Yaris.


"Sialan lo."


"Jadi Ega bisa lo jelasin kenapa nolak lamaran Rey, bukannya dulu lo udah janji ke gue kalo ada yang ngelamar lo ga bakal nolak? Da lo yang ngompor-ngomporin gue biar terimabkalau Yaris ngelamar, kalau lo lupa," cecar Ralin tidak tahan.


Rey tersenyum lebar merasa mendapat dukungan.


Mega jelas menolak masalah pribadinya di bahas di depan orang banyak, dia mengikuti Ralin membentuk tanda silang dengan kedua tangannya.


"Enggak sekarang ya Lin, please jangan paksa gue!"


Mendengar jawaban Mega tentu Ralin merasa kecewa. Padahal dia sudah berharap banyak bahwa Mega segera menyusulnya naik pelaminan.


"Ck, ga seru lo."


Di tengah obrolan, seorang wanita dengan perut buncit menghampiri meja yang di duduki Ralin dan Yaris,


"Hai pengantin, aku mau pamit nih."


"Kak Rena!"


Ralin lalu berdiri menyambut kedatangan Renata dan langsung memeluknya. Calon Ibu yang dengan tulus memberikan satu buah hatinya untuk Ralin.


"Kakak mau balik ke kamar dulu ni, udah capek banget," sambil bicara Ralin asyik mengelu-elus perut buncit Renata.


Hal itu tak luput dari pandangan Yaris. Ralin terus saja senyum-senyum sendiri melihat perut kakak misan suaminya itu.


"Aku anterin sampai lift ya kak?!" Ralin menatap pada Yaris meminta persetujuan dan segera di angguki Yaris.


Untung saja gaun Ralin tidak memakai gaun model payung jadi dia leluasa bergerak. Kedua wanita itu berjalan bergandengan, meninggalkan aula sambil sesekali tertawa cekikikan.


"Terima kasih ya kak Ren, udah mau kasih kami kesempatan merasakan menjadi orang tua. "


"Sama-sama Lin, kakak bangga lho sama kamu, dan kakak percaya kamu bisa jadi ibu yang baik buat anak kakak."


"Nanti kalau kakak hamil lagi trus dikasih anak kembar lagi, kamu mau adopsii lagi anak kakkak?"


"Mau dong, kakak hamil aja sering-sering."

__ADS_1


"Yeee amangnya kucing."


__ADS_2