
Baby Dinar telah dipindahkan ke ruang perawatan, sesuai permintaan Yaris, sang bayi dirawat di ruang VIP. Jadilah sekarang Yaris terjebak menemani Ralin menjaga baby D, sebenarnya Ralin merasa sangat tidak nyaman, sedari tadi dia sudah menghubungi orang panti untuk menemaninya di rumah sakit, tapi belum ada yang bisa datang, bunda Diah juga tidak bisa menyusul karena menyelesaikan beberapa pekerjaan berhubung niatan Yaris yang ingin berhenti jadi donatur, jadi beliau mencari cara agar segala keperluan anak-anak asuhnya tetap terpenuhi nantinya, walaupun tetap ala kadarnya.
"Oooeee....oooeee....oooeeee"
Suara tangis bayi memenuhi ruangan yang tempati bayi itu, Ralin sudah berusaha menenangkan sang bayi dengan menggendong, menimang-nimang si bayi, tapi belum juga bisa menghentikan tangisannya.
"Mas kayaknya baby D lapar." Sangat berat hati Ralin mengungkapkan isi kepalanya pada pria yang masih asing, tapi tidak ada jalan lain, hanya Yaris yang bisa ia andalkan sekarang.
Yaris terperangah, dia yang sedari tadi hanya menonton Ralin yang mencoba menenangkan sang bayi tanpa bisa banyak menolong segera bangun dari tempat duduknya.
"Trus gimana dong?" Sangat jelas, ini pengalaman pertama executive muda itu berurusan dengan bayi. Sebenarnya Yaris sudah hampir frustasi mendengar suara tangisan bayi itu, dia mati-matian mengontrol emosinya agar tidak merusak image nya di depan Ralin.
"Mas tunggu di sini ya, jagain D, aku keluar cari susu."
"Eh ga ga ga, enggak bisa!" Tentu saja Yaris melarang, "saya mana bisa gendong bayi, gila apa, fine, saya aja yang beli susu, kamu yang jaga."
"Yakin?"
"Yakinlah, cuma susu bayi kan?"
"Sapa bilang?" kata Ralin menantang, "Susu bayinya pilih yang buat nol bulan, pampers ukuran mini S, baju bayi, selimut, dan jangan lupa botol susu," cecar Ralin mengajukan daftar kebutuhan bayi. Dalam satu tarikan nafas Ralin menyebutkan segala keperluan yang harus di beli Yaris.
"Gimana?" tanya Ralin ragu.
"Seriously? Masa saya... oke." Yaris menarik nafas, tanpa ia sadari kali ini Ralin bicara sambil menatapnya, tanpa berkedip, malah lebih tepatnya memberi Yaris tatapan mengintimidasi.
"Kamu tau kan tadi kita buru-buru, orang panti juga ga ada yang bisa nganter keperluan baby D sekarang."
"Ya udah, listnya apa sih tadi? Kamu sms aja ya, aku ga bisa inget yang begituan." Yaris mengalah, saat seperti ini tidak mungkin dia menunjukkan egonya seperti yang biasa dia lakukan di kantor atau di rumahnya. Ralin menyodorkan hp miliknya.
" Ini, simpan nomer kamu!"
***
Dan akhirnya mendaratlah Yaris di sebuah toko perlengkapan bayi, dengan langkah tergesa dia memasuki toko tersebut. Karena malas harus berkeliling Yaris meminta tolong pada salah satu pelayan untuk mengambil semua barang yang tertera di layar ponselnya sekaligus meminta setiap barang agar disediakan dalam jumlah double.
Setelah membayar di kasir Yaris segera meninggalkan toko tersebut dan kembali ke rumah sakit, dia sadar betul Ralin pasti menunggunya di sana.
"Ya Allah, kenapa jadi kejebak gini sih, dosa ni gue bilang mau berhenti jadi donatur, padahal cuma iseng lagi akh." Yaris berbicara pada dirinya sendiri.
Ya, niat Yaris memang hanya iseng untuk menghentikan donasi perusahaannya pada panti asuhan tersebut setelah membaca laporan keuangan perusahaannya kemarin. Dia baru saja bergabung dengan perusahaan ayahnya setelah bekerja melanglang buana ke berbagai perusahaan di dalam maupun di luar negri. Kenyataannya Yaris yidak benar-benar ingin menghentikan donasi, dia hanya ingin memperbaiki sistem keuangan perusahaan keluarga. Bagaimanapun, Yaris akan menjadi peneris berikutnya, setelah sang ayah pensiun.
Setibanya di depan ruangan baby D, Yaris mendengar suara Ralin yang sedang berbicara dengan seseorang via telpon, karena daun pintu tidak tertutup rapat jadi dia bisa mendengar percakapan itu.
" Iya Ga, gue kayaknya enggak pulang malam ini, tolong jaga kedai ya."
__ADS_1
"..."
"Belum, iya iya bentar lagi bawel deh ok, thanks, daaa."
Yaris segera mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan menyerahkan tas belanjaan pada Ralin. "Nih, coba di cek masih ada yang kurang ato enggak."
Ralin segera menerima dan mencari barang utama yang dia butuhkan, dengan cepat ia mengambil susu dan botol susu di dalam tas belanjaan itu. Dengan telaten dia mensterilkan botol susu tersebut terlebih dahulu dengan air hangat yang sudah ia siapkan, menakar susu dan menyeduhnya, kemudian Ralin mengecek suhu cairan susu tersebut dengan meneteskannya di punggung tangannya sambil berkata "pas", dengan tersenyum puas lalu ia menyodorkan dot tersebut pada baby D. Benar saja, dalam hitungan menit satu botol tanggung susu telah habis di hisap baby D hingga bayi mungil itu tertidur pulas.
Ralin merapikan posisi tidur sang bayi, meletakkan tangan baby D yang kini terpasang jarum infus dengan posisi senyaman mungkin, hatinya terasa perih melihat tangan mungil itu harus menerima tusukan yang pastinya terasa sakit. Setelah merasa semua beres, barulah Ralin tersadar ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya. Deg. Ralin mulai gugup. Ini suasana ter-awkward yang pernah ia rasakan. Ralin berusaha bersikap senormal mungkin.
Sementara Yaris yang menyadari situasi yang terjadi beranjak dari single sofa yang dari tadi di dudukinya.
" Aku...kamu..." mereka bersuara bersamaan.
"Mas duluan."
"Aku mau nyari kopi, kamu mau juga?"
"Emang ga apa-apa, kamu udah banyak bantu, kalo mau pulang silakan. Biar saya yang urus baby D." Ini salah satu jalan agar Ralin lenih leluasa, dia lebih memilih Yaris pergi dengan menawarkan kepulangan untuk pria asing itu.
Dengan menyeringai sedikit bibirnya, Yaris membalas ucapan Ralin, " Harus sepanjang itu ya jawaban kamu, perasaan tadi aku tanya mau kopi atau enggak."
Ralin mengalihkan pandangannya pada lantai rumah sakit, padahal dia sudah mencoba ramah, kenapa harus mendapat jawaban senyelekit itu, sungguh berkomunikasi dengan laki-laki bukan keahliannya.
"Aku keluar dulu." Ralin hanya memandang sosok Yaris yang telah menghilang di balik pintu.
"Iya."
"Ini resep yang harus di tebus ya pak." Perawat itu menyerahkan secarik kertas resep kepada Yaris lalu meninggalkannya begitu saja.
"Well, it's not over yet." Yaris membuang nafas kasar. Bukannya frustrasi dengan biaya yang harus ia keluarkan, tapi sibuk membayangkan berapa lama ia akan berada dalam situasi saat ini. Tidak pernah terlintas dalam benaknya akan terjebak dalam situasi yang sangat asing baginya. Bisa saja dia meninggalakan Ralin dengan bayi itu sendiri di sana, tapi Yaris merasa itu bukan gayanya. Sebagai pria sejati, ia akan bertanggung jawab.
***
Setelah menebus obat di apotek, Yaris kembali ke ruangan baby D. Di tengah-tengah pintu masuk Yaris tertegun, dia mendapati Ralin sedang melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hanya beralaskan sebuah handuk rumah sakit, Ralin salat disamping tempat tidur. Perasaan damai menyelimuti Yaris. Gila ni cewek dari tadi bikin gue kagum, siapa sih dia?
Yaris membatalkan niatnya untuk masuk dan memilih menunggu di luar sampai Ralin selesai.
Cukup lama menunggu, Yaris membuka pintu ruangan. Benar saja, Ralin sudah selesai dengan kewajibannya.
"Nih kopi lo, gue ga tau kesukaan lo, gue pilihin americano." Yaris menyodorkan segelas kopi pada Ralin. Nadanya sedikit berubah, kali ini lebih ramah.
"Thank you, kamu ga pulang?" sepertinya suasana sudah mulai mencair, Ralin berusaha tidak sekaku sebelumnya.
"That's not my style, Ralin. Saya akan bertanggung jawab sampai akhir."
__ADS_1
Ralin hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui keputusan Yaris, kalau laki-laki lain mungkin akan dia usir secara halus, tapi tidak dengan laki-laki ini, Ralin mengetahui kalau Yaris akan menghentikan donasinya untuk panti. Ketika Yaris keluar, bu Diah menelponnya untuk memberitahu tidak bisa menyusul ke rumah sakit karena masalah tersebut. Bagaimanapun juga Ralin harus mengetahui kebenarannya, apa alasan Yaris menghentikan donasi.
"Ini dapat dari mana?" Yaris menanyakan 2 bungkus makanan yang ada di atas meja di samping sofa.
"Tadi aku delivery waktu kamu keluar, kamu belum makan dari tadi siang kan? Silakan, makan duluan gih."
"Ga bisa."
" Hah?"
" Maksudnya, aku punya syndrom ga bisa makan sendiri, kita makan bareng."
Ralin masih dalam mode percaya atau tidak, tapi demi misinya dia menyanggupi, sabar Ralin, demi anak-anak.
Syndrome ga bisa makan sendiri? Penyakit darimana itu? Timbuktukah?
Mereka berdua akhirnya makan malam di ruangan itu. Yaris memindahkan meja yang tadinya di samping sofa dia pindah ke depan. Ralin memilih duduk bersebrangan dengan kursi yang memang disediakan di ruangan itu.
Di tengah suasana makan, Ralin mulai mencari kebenaran yang membuatnya penasaran.
"Kamu bener mau menghentikan donasi?"
Yaris menghentikan kegiatan makannya sejenak, cepat juga ni kabar beredar, Yaris menganggukkan kepala, "tapi masih fifty-fifty, Papa belum tahu."
"Kenapa?"
Yaris mencari jawaban yang paling masuk akal, kalau ia menjawab hanya 'iseng', mungkin Ralin akan marah bahkan mengusirnya.
"Aku tadi ngecek dokumen keuangan perusahaan, banyak yang ga sesuai, jadi aku mau rapiin dulu, kalau udah clear mungkin akan balik lagi."
"Apa ga ada jalan lain? Kondisi panti sekarang ga terlalu baik, kalo kamu menghentikan donasi kasian anak-anak."
Terbersit rasa bersalah pada diri Yaris atas keisengannya itu, mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur.
"Ini hanya sementara, aku yakin mereka bisa bertahan."
***
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, Yaris masih sibuk dengan ponselnya, mengecek tiap notificasi yang masuk, membalas email, dan berbagai chat sosial medianya.
Ketika hendak merebahkan badan, Yaris baru menyadari Ralin sudah terlelap sambil duduk di samping tempat tidur. Dia menghampiri Ralin, memandang wajah damai gadis itu.
"Lo tu siapa sih?" hanya angin yang mendengar tanyanya, Yaris kemudian berpaling pada bayi kecil yang kini tertidur juga sangat pulas, "hey baby, get well soon, jangan ngerepotin gue lagi dan jangan rewel!"
Yaris tersenyum sendiri setelah mengucapkan kalimat itu, ia kembali menghadap ke sofa tapi sedetik kemudian kembali berbalik ke arah Ralin. Yaris menyadari gadis itu tertidur tanpa selimut. Yaris kemudian membuka jasnya dan meletakkannya di atas pundak Ralin. Akh sial.
__ADS_1
Jangan sampai.
Yaris sudah dalam posisi berbaring di atas sofa, pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan,sambil memejamkan mata Yaris bergumam lirih, "I miss my room."