
Malam sebelum Ralin pulang dari rumah sakit.
Yaris baru saja keluar dari ruangan Ralin, dia bertemu dengan Reyhan dan menyapanya.
"Jaga malam, bro?"
"As usual, kemana lo?
"Pulang lah, Mamah minta kumpul." jawab Yaris sekenanya.
"Ada yang gue mau omongin."
"Apaan?"
"Masalah Ralin, lo serius dengan keputusan lo?"
"Let's talk abaout this next time!"
"It is matter, Ris!"
"Twenty, no! I'll give you fifteen minutes!"
"Ke ruangan gue, sekarang!" Reyhan tampak serius kali ini. Mereka berjalan beriringan ke ruangan Reyhan. Yarus bersumpah, kalau Reyhan membujuknya lagi untuk berhenti mengejar Rakin dia tidak akan segan membubarkan pertemanan mereka.
***
"Ok, sekarang kasih tau gue apa yang mau lo omongin, jangan pake bahasa planet lo ya, gue ga ngerti!"
Reyhan pun memulai penjelasannya.
"Gue udah konfirmasi ke rumah sakit tempat Ralin di rawat pasca kecelakaan, memang benar Ralin beberapa kali menjalani operasi besar, kita juga ga tau seberapa parah lukanya waktu itu, tapi untuk pengangkatan rahim karena kecelakaan itu hampir mustahil."
Reyhan menjelaskan dengan kata-kata yang bisa dipahami Yaris dan langsung ke inyinya sesuai permintaan. Tapi kalimat terkahir Reyhan masih belum Yaris pahami.
"Rahim wanita itu diletakkan di tempat paling aman dalam tubuh manusia, sekalipun terkena benturan keras, itu ga akan hancur, kecuali dalam kondisi hamil dan benturan itu terjadi, karena saat itu rahim membesar ratusan kali lipat."
"Terus?!"
"Semoga gue salah, inget ini hanya antara kita!, menurut perkiraan gue pengangkatan rahim Ralin bukan sebatas faktor kecelakaan itu, tapi ada faktor lain."
"Maksud lo?" tanya Yaris dengan wajah menegang.
"Pertama, kemungkinan ada masalah pada rahim Ralin ketika dilakukan operasi, tapi kalau memang bukan itu tujuan operasinya dokter tidak akan melakukan pengangkatan tanpa seijin pasien. Kedua, ada kesalahan yang dilakukan oleh dokter yang bersangkutan ketika operasi berlangsung. Ini kemungkinan terburuk."
"Maksud lo dokter itu melakukan maal ...?"
Yaris tidak berani melanjutkan kalimatnya, tapi anggukan Reyhan membuatnya terkejut berkali-kali lipat. Dia berusaha tetap tenang dan berpikir logis, sejauh ini Reyhan masih menduga-duga dan tidak ada bukti yang mendukungnya.
"Lo masih yakin melanjutkan hubungan lo dengan Ralin?"
Yaris mengangguk pasti, "keluarga gue berutang budi sama Ralin dan keluarganya Rey."
"Lo yakin ini cinta, bukan simpati? Maksud gue utang kan bisa di bayar dengan..."
"Gue merasa sudah mulai mencintai Ralin meski mungkin awalnya simpati," poting Yaris cepat, agak kesal perkataan Rey menjurus pada bujukan untuk berhenti mengejar gadis itu, "lo hasut gue lagi kita bubar."
Reyhan melihat keseriusan di wajah sahabatnya dan ya, Reyhan tahu Yaris tidak sebodoh itu untuk mengetahui resiko yang harus ia tanggung jika benar-benar menikahi Ralin.
"Apapun keputusan lo, tetep gue dukung," putus Reyhan oada akhirnya.
"Ada satu hal lagi yang mau gue kasih tahu sama lo." lanjut Reyhan.
"What?"
"Ralin hanya mengalami pengangkatan pada rahimnya saja, indung telurnya masih berada pada tempatnya, artinya untuk sex, lo masih aman, tapi untuk punya anak, itu mustahil."
__ADS_1
"It's okay, we can adopt."
Reyhan memberi pukulan pada dada Yaris, "lo banyak berubah ya, ternyata lo lebih dewasa dari yang gue kira."
"Apaan sih lo, ish, jibang gue dengernya."
"Ralin akan butuh dukungan lo sepenuhnya, terutama dari sisi sosial, lo tau kan resikonya?"
Yaris mengangguk menyanggupi pertanyaan Reyhan.
"Dia special Rey, dia sudah mengalami banyak hal dan hebatnya dia bisa bertahan, gue udah janji pada diri gue akan jadi sumber kebahagiaannya."
"Well, kayaknya ga ada yang gue khawatirin lagi, lo cabut gih!"
***
Sehabis menikmati makan siang, Yaris dan keluarganya berkumpul di ruang kelurga, tentu saja Ralin juga ada di sana. Setelah membantu Ralin untuk duduk, Yaris menyusul di sampingnya. Mereka duduk bersebrangan dengan Mama Ayu dan Papa Sa'id.
Ralin sendiri masih merasa asing di tengah kehangatan itu. Padahal semua orang sangat ramah oadanya, sampai asisten rumah tangga keluarga Sa'id itu pun sudah memanggilnya dengan sebutan Nona.
"Kamu juga ikut nginep ga Ris?" tanya sang mama memulai obrolan.
"Kayaknya nggak deh ma, takut khilaf nanti masuk kamar Ralin."
Akibat ocehannya Yaris mendapat plototan dan cubitan keras di pinggang dari Ralin.
"Aauuu, sakit sayang," ringisnya, "astaga tangan kamu lembut lho, tapi kok pedes."
Kedua orang tua itu tertawa geli melihat tingkah anak dan calon menantunya.
"Mama tau ga Ralin suka pilek pagi-pagi, dia ada alergi gitu, jadi pas bangun tidur dia bersin-bersin terus," cerita Yaris.
Lagi-lagi mata Ralin harus berolahraga. Apa pentingnya dia membeberkan penyakit kekasihnya?
"Oh ya?"
"Enggak ada Tante, cuma bersih," kali ini Ralin yang mendapat pelototan dari Ayu, "eh Mama maksudnya, Ralin cuma alergi debu biasa." Ralin tahu usahanya menghindari pembicaraan tenyanhnya akan sia-sia, tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Kamu kasih obat apa?" tanya mama Ayu pada Yaris kepo dan tidak memedulikan penjelasan Ralin.
"Ada deh Ma, rahasia!" jawab Yaris sambil nyengir kuda.
Ralin yang merasa jadi objek tidak tahu harus di taruh di mana mukanya, malu lah, pasti.
"Apaan sih, jangan di omongin!" bisik Ralin.
"Ga apa-apa!" jawab Yaris sambil menggenggam tangan kekasihnya.
"Kayaknya Mama punya resep ramuan obat deh untuk alergi-alergi kayak gitu, nanti mama bikinin ya!" ujar mama Ayu antusias.
"Jangan Ma, nanti ngerepotin!" cegah Ralin.
"Sapa bilang, sekarang kamu juga anak Mama, jadi ga boleh sungkan."
"Kalo gitu nanti Ralin bantu bikinnya."
"Ga boleh, kamu tu tugasnya istirahat, ya!"
"Jadi kapan kamu mau resmikan hubunganmu Ris, kayaknya mamamu udah ga sabar pengen punya mantu?" Kata Sa'id tiba-tiba menyela pembicaraan mereka tentang ramuan herbal.
Sekalinya tuan Sa'id bersuara berhasil membuat Ralin kaku dan memucat.
'Aduuu si Papa tumben juga ngomong, langsung pake kejutan.' batin Ralin.
"Kalo boleh bulan depan Ma, Pa."
__ADS_1
Ralin langsung menoleh mendengar jawaban Yaris, matanya melotot, mulutnya menganga, satu katapun tak bisa ia ucapkan. Tuhan baru juga gue disini hampir kena stroke, apa kabar gue besok ato lusa?
"Papa setuju, ga boleh pacaran lama-lama, pacarannya abis nikah, ya!" jelas tuan Sa'id lagi.
Astaga, keluarga ini kompak sekali membuatnya anemia.
"Nanti kita ngomong sama keluarganya Ralin, kapan waktu yang tepat untuk kita datang lamaran."
"Aduuuu Mama ga sabar deh, kenapa ga minggu depan aja sih."
"Kasian Ralinnya dong ma, kan baru abis sakit." sanggah Tuan Sa'id.
"E iya, bener-bener."
Ralin hanya bisa pasrah, menunduk sambil mendengar wejangan sang calon mertua, mau disanggah juga tidsk mungkin, kata Mamak Bapaknya kalo orang tua ngomong ga boleh nyahut kalo ga ditanya. Ya sudahlah.
"Hai Mah, Pa! Ada apa nih? tumben kumpulnya siang."
Davi muncul dari arah pintu dan langsung bergabung dengan keluarganya.
"Ada tamu ya?" tanyanya lagi.
"Dasar ya anak Mama ini, ga sopan! Salam dulu sama calon kakak iparmu!"
Ralin memperhatikan wajah Davi sekilas, merasa de javu, sepertinya dia pernah bertemu Davi sebelumnya, tapi lupa entah dimana.
"Ralin ini Davi, adiknya Yaris." kenal sang mama.
"Hai kak!" sambil melambaikan tangan, Davi menyapa Ralin, "kok mau sih sama kak Yaris?"
Mendengar ucapan adiknya Yaris refleks melempar bantal sofa ke wajah Davi.
"Adoooh." Davi pun membalas sang kakak, "Davi cuma mau ngingetin sapa tahu pacar kakak lagi ga sadar."
"Adik macam apa kamu, bukannya ngasih selamat. Tau ga, dia yang nyelametin kamu waktu kecelakaan tempo hari?"
"Hah?!" Davi dan Ralin kompak terkejut.
"Iya, kamu nolong dia, jadi walinya dia waktu mau operasi kecelakaan di klinik plus biayain juga, kamu bayar gih!" cecar Yaris.
"Oooh pantes aku baru inget, kayak pernah lihat. Kamu udah sembuh? Lukanya lumayan lho dulu." ujar Ralin
"Kita langsung pindahin sehari setelah operasi, sama Papa di bawa ke Singapore." jelas Yaris.
"Papa secara pribadi mengucapkan terimakasih ya nak Ralin, kalau tidak ada nak Ralin...."
"Sama-sama om, eh Pa, saya seneng kok bisa bantu."
"Kalo gitu kakak jadi pacar aku aja, ga usah sama kak Yaris, kan kakak udah jadi malaikat penyelamat aku." goda Davi.
"Waaah ngajak ribut ni anak." Yaris segera menyerang sang adik dengan pukulan bantal bertubi-tubi.
"Aau...aauu kakak ih, katanya tadi disuruh bayar, kita bersaing secara sehat dong!" godanya lagi.
"Bosen hidup ya kamu, dasar adik durhaka."
"Hey, ada tamu, malu ih diliat kayak gitu!" lerai mama Ayu.
"Masukin lagi ni Ma dalam perut Mama!"
Ralin yang sedari tadi tertawa menahan diri agar tawanya tidak lebih lebar karena lukanya masih terasa gamal.
"Kakak macam apa ini yang menganiaya adiknya." kali ini Davi mencoba dramatis, mencoba merengek pada sang mama, "kak Ralin itu terlalu cantik buat kak Yaris ma, kak Yaris itu wajahnya standar, mending mama lamarnya buat aku."
"Awas ya kamu besok kuliah di luar ga pake pesangon." ancam Yaris.
__ADS_1
"Tu kak Ralin denger, kak Yaris itu orangnya jahat!" Davi belum menyerah juga.
Ralin hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah dua bersaudara itu, akhirnya dia bisa merasakan kehangatan itu lagi, kehangatan keluarga, berkumpul, bercanda, saling menggoda, sudah lama dia tidak merasakan hal itu. Yaris memberikan semua itu padanya bahkan tanpa bertanya dulu. Laki-laki itu seolah punya ilmu telepati yang bisa membaca pikirannya. Semoga ini tidak hanya sementara.