
Dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Ralin sudah stand by di lokasi sejak subuh. Mega juga ikut menemani.
"Ega, inget ya abis acara lo bawa temen-temen lo ke kedai, semua free apapun menu yang mereka suka ok!" Ralin mengingatkan Mega untuk mengajak teman-temannya makan di kedai miliknya setelah acara selesai sebagai bentuk terima kasih karena telah membantu. Sebenarnya Ralin bersedia membayar jasa mereka, tapi malah di tolak. Ternyata tidak semua hal harus dihargai dengan uang.
"Aaassyiiiyap bu Mensos. Gue udah instruksikan Intan sama Riko siapin semua di kedai."
"Baiklah, semoga hari ini sukses." Mega meng-aminkan do'a Ralin. Sekarang masih pukul 6 pagi, tapi suasana panti sudah ramai, teman-teman Mega juga sudah berdatangan. Setiap orang sudah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, mulai dari kostum, make up, sound system, publikasi dan dokumentasi sudah memiliki penanggung jawab. Untuk panggung dan dekorasi tentu sudah disiapkan dari hari sebelumnya. Untung saja para mahasiswa yang membantu punya bahan dekorasi panggung yang tidak terpakai di kampus mereka, jadi bisa di gunakan untuk dekorasi di panti.
Acara akan dimulai pukul 10, masih ada waktu 4 jam untuk mempersiapkan acara.
"Ega kita jadi live juga di medsos kan? Lo udah siapin?" lagi-lagi Ralin menanyakan Mega tentang kesiapan acara.
"Bu Mensos yang terhormat, Ralin Aninta Wahyu, ibu sadar ga ibu udah nanyain saya 4 kali lho masalah itu, lo gugup ya Lin, udah sarapan ga lo?"
"Iya Ga, gue takut ntar kalo ga ada yang dateng gimana?" Ralin mengungkapkan ketakutannya.
"Hilang deh ni Ralin yang optimis, gara-gara belom sarapan lo ni jadi pesimis kayak gini. Udah sana sarapan dulu, lo udah pucet kayak nasi kuning kurang kunyit gitu, semua udah di handle jadi lo tenang aja, tadi gue liat ada energen di dapur, sana gih!" Mega menceramahi Ralin yang memang terlihat takut saat itu, wajahnya sedikit pias.
Tepat pukul 9 para tamu mulai berdatangan, semua tampak antusias, halaman panti yang cukup luas di tata sedemikian rupa agar terasa nyaman, dekorasi panggung juga apik berkat kreativitas mahasiswa. Para tamu memikmati keberadaan mereka di lokasi itu karena di manjakan dengan berbagai kreasi kreatif.
Ada miniatur taman di salah satu sudut, lengkap dengan miniatur binatang, spot selfie, tulisan motivasi, rangkaian bunga, semua tertata apik.
Bunda Diah dan beberapa pegawai panti menyambut para tamu yang datang di pintu gerbang.
"Silakan masuk, terimakasih sudah berkenan datang." Bunda Diah menyalami satu per satu para tamu undangan yang berdatangan.
Dari jauh, Ralin tak henti bersyukur, banyak orang yang diringankan langkahnya menghadiri acara yang ia dan teman-temannya buat.
***
Tepat pukul sepuluh acarapun dimulai. Semua kursi yang disediakan telah terisi, bahkan ada yang tidak kebagian kursi dan rela berdiri demi menikmati acara pertunjukkan. Suara pembawa acara mulai terdengar, tanda acara telah dimulai. Semua mata tertuju pada MC.
Acara pertama yakni pembukaan dimana Bunda Diah ditunjuk untuk memberi pembuka dan sambutan untuk pertunjukan tersebut. Berikutnya yaitu do'a yang dipimpin oleh ustadz setempat, dan berikutnya tentu saja inti dari acara tersebut yakni penampilan anak-anak panti asuhan Permata Hati.
Di belakang panggung Ralin juga telah bersiap-siap tampil. Dia akan menampilkan narasi tentang anak-anak panti, naskahnya sudah disiapkan jauh-jauh hari, Ralin nantinya akan membaca narasi tersebut diiringi dengan lagu dari Melly Guslow yang berjudul "Bunda" yang juga dikompilasi dengan lagu dari Seventeen yang berjudul "Ayah." Beberapa dokumentasi anak-anak yang berupa foto akan di tampilkan di layar. Sekitar dua puluh menit lagi Ralin akan tampil.
"Mba Yas ada simpan obat magh ga?" tanya Ralin pada salah satu pegawai panti yang bernama Yasmin. Ralin saat itu terlihat pucat, keringat dinginnya mengucur, sambil memegang perutnya dia menunggu jawaban dari mba Yasmin.
"Waduh, coba saya cari dulu di tempat obat ya mba Ralin, mba kenapa?" Yasmin merasa khawatir melihat kondisi Ralin.
"Ga pa-pa mba Yas, cuma perut saya ga enak. Mungkin magh saya kambuh." Ralin berusaha bicara senormal mungkin, padahal perutnya sudah sangat sakit, berimbas juga dengan kepalanya mulai terasa berat, keringat dinginnya semakin mengucur deras.
Yasmin segera berlari mencari obat di ruang pegawai. Sambil menunggu Yasmin kembali Ralin duduk membungkuk di pojok ruangan. Ia tidak tahan jika terus berdiri.
"Mba obat maghnya ga ada, saya bikinin air gula ya?" Yasmin menawarkan alternatif.
"Iya mba Yas, minta tolong ya." Ralin sudah sangat kesakitan, pandangannya mulai kabur tapi dia berusaha sekuat tenaga menahannya. Ralin mencoba beranjak ke ruang pegawai dengan sisa tenaga yang ia miliki, di sana ada kasur yang biasa dipakai untuk istirahat oleh pegawai panti. Ralin merebahkan badannya berharap merasa baikan.
Yasmin kembali dengan membawa segelas air gula hangat untuk Ralin, tapi Ralin tidak ada di tempat semula, Yasmin berinisiatif mencarinya ke ruang pegawai dan ia menemukan Ralin di sana.
"Mba Ralin ini air gulanya." Ralin berusaha bangun, Yasmin membantunya meminum air tersebut. Baru saja meminum satu serutan tiba-tiba Ralin merasa mual dan memuntahkan air gula.
__ADS_1
"Ga bisa masuk ya mba?"
"Uuwwwweek" Ralin kembali mengeluarkan isi perutnya tapi hanya berupa cairan putih kental. Yasmin mulai panik.
"Mba Ralin kenapa?"
"To....long pang..gilkan Mega!" suara Ralin terbata hampir tidak bisa di dengar Yasmin tapi dia mengerti dan segera beranjak meninggalkan Ralin.
Yaris baru tiba di Panti setelah acara dimulai. Dia tidak bisa meninggalkan kantor sebelum jam makan siang begitu saja. Beberapa pertunjukan telah berlalu tapi tidak mengurangi antusias Yaris untuk menonton. Bunda Diah mensilakannya duduk di deretan kursi paling depan.
***
Yasmin beusaha mencari Mega tapi tidak ketemu, tidak tau harus mencari kemana akhirnya dia memutuskan memberi tahu bunda Diah tetang keadaan Ralin sambil berbisik. Bunda Diah terlihat kaget dan segera beranjak dari tempat duduknya, untungya tidak ada yang menyadari karena anak-anak sedang menampilkan drama musikal. Tapi Yaris yang berada di sampingnya menangkap sesuatu telah terjadi dari wajah bunda Diah. Yaris berinisiatif mengikuti mereka.
Dengan terburu-buru bunda Diah memasuki ruang pegawai.
"Astaghfirullahal'azim, nak Ralin, bangun sayang!" bunda Diah menepuk-nepuk pipi Ralin tapi tidak ada respon.
"Gimana ni bunda? Mba Ralin pingsan, tadi dia minta saya cariin obat magh, tapi ga da, saya bikinin air gula tapi ga bisa masuk, dimuntahkan lagi."
"Kenapa bun? Ini Ralin kenapa?" Yaris tiba-tiba masuk menyusul bunda Diah.
"Nak Yaris ini kayaknya Nak Ralin pingsan."
"Coba saya lihat."
"Tadi katanya minta obat magh tapi ga ada." Yaris memeriksa denyut nadi Ralin 'kok lemah' kemudian membuka mulut Ralin 'putih', " gimana nak Yaris?"
"Lewat pintu belakang nak Yaris." Yaris mengikuti bunda Diah, setelah keluar dari gedung panti Yaris berlari menuju mobilnya.
"Saya titip nak Ralin, tolong kabari Bunda, Bunda harus disini sampai acara selesai."
"Ga apa-apa, Ralin biar saya yang urus."
"Hati-hati nak Yaris!"
Yaris segera melaju mobilnya menuju rumah sakit.
"Ini yang kedua kalinya saya menuju rumah sakit sama kamu, ga tau deh ada yang ketiga ato keempat nanti, setiap bertemu sama kamu selalu tujuannya rumah sakit, aneh." Yaris berbicara pada Ralin, entah Ralin dengar atau tidak. 'Semoga dugaan gue salah. Sebenarnya kamu siapa?'
***
Lima belas menit perjalanan Yaris tiba di rumah sakit, dengan sigap dia kembali meraih tubuh Ralin dan membawanya masuk ke ruang IGD. Para perawat segera menyediakan brangkar kosong dan memberi pertolongan pada Ralin. Dokterpun segera datang.
"Pasien kenapa?"
"Dia pingsan, sebelumnya minta obat magh dan ....
"Suster siapkan siapkan alat pacu jantung!"
Yaris terkejut, superb, lututnya lemas mendengar alat pacu jantung harus digunakan untuk membangunkan Ralin.
__ADS_1
"Bapak silahkan tunggu di luar, biar pasien kami tangani!"
"Suster!" Yaris mencegat perawat yang memintanya keluar ruangan, "tolong lakukan yang terbaik!" Kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Yaris. Entahlah. Ada rasa khawatir yang teramat sangat menyinggapinya. 'Kenapa harus Ralin?'
***
"Ralin masih ditangani bun."
"Nak Ralin sakit apa?"
"Belum tahu juga bun, masih diperiksa. Gimana acaranya, sukses?"
"Acaranya udah selesai, alhamdulillah lancar. Kalau ada apa-apa tolong telpon bunda, nak Ralin ga punya keluarga di sini, maaf belum bisa nyusul, di sini banyak yang harus diselesaikan.'
"Ga apa-apa, Ralin biar saya yang urus."
'Terima kasih nak Yaris, asalamu'alaikum.'
"Wa'alaikumsalam."
"Permisi pak, bapak wali dari pasien? tolong dilengkapi formulir administrasinya ya pak!" Tepat setelah ia mengakhiri pembicaraannya dengan Bunda Diah, seorang perawat menghampiri Yaris.
"Oh iya Sus. Teman saya sakit apa ya Sus?"
"Kalau masalah itu biar nanti dokter yang menjelaskan." Perawat itu pergi meninggalkan Yaris yang penuh dengan tanda tanya.
Lama menunggu akhirnya seorang dokter datang menemui Yaris.
" Anda wali dari pasien atas nama Ralin Aninta Wahyu?"
"Iya dok, teman saya kenapa ya?"
"Pasien menderita asam lambung akut, memang asam lambung tidak berbahaya tapi jika menyerang organ lain akan sangat merugikan. Pasien sangat beruntung, kalau tadi terlambat sedikit saja bisa berakibat fatal."
Tentu saja Yaris terkejut mendengar penjelasan dokter di depannya. Semua orang memiliki asam lambung, hanya saja Ralin terlalu banyak memilikinya sehingga membuatnya dalam bahaya. Asam lambung jika menyebar bisa menyerang organ lain dalam tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian.
"Terus apa tindakan selanjutnya?" Yaris merasa ingin tahu. Ia ingin memastikan keselamatan wanita yang masih asing dari pengetahuannya.
"Saya sarankan operasi untuk menyembuhkan asam lambung akutnya, tapi kita tunggu persetujuan pasien dulu nanti setelah sadar, apa sebelumnya pasien punya riwayat operasi?" tanya sang dokter.
" Saya kurang tahu, dok. Kenapa?"
"Mengenai itu..." dokter itu terlihat ragu memberitahu.
"Ga apa-apa dok, beri tahu saya, saya calon suaminya."
"Ada beberapa bekas jahitan di tubuh pasien, kita akan segera tahu setelah pasien siuman, saya permisi dulu."
Deg
Yaris tidak menyangka denga apa yang di ucapkan dokter tadi. Ralin, pernah operasi? Operasi apa? Kata dokter ada 'beberapa' berarti lebih dari satu. Senenarnya kamu siapa Ralin?
__ADS_1