
Akhirnya Yaris tertidur setelah Ralin ikut memejamkan mata beberapa saat. Ia kemudian mengecup lama kening sang suami dan meninggalkannya keluar karena ingin menyiapkan sarapan.
Di dapur, mbok Mirah sudah berkutat dengan wajan dan spatula. Aroma sedap tercium memenuhi ruangan.
"Masak apa mbok?"
"Non, udah bangun, gimana keadaannya masih sakit?"
"Udah mendingan."
"Syukurlah, mbok masak cah kangkung sama lawar, ada tahu tempe goreng juga."
"Kenapa banyak sekali?"
"Anu, ada rombongan tuan juga dua orang di luar, semalam menginap di sini."
"Ooo gitu, ya udah kasih sarapan duluan. Saya sama Yaris biar nanti saja," perintah Ralin sambil mulai mengompres dua matanya dengan kapas yang sudah dibasahi air es.
"Enggih. Syukur tadi malam tuan langsung datang, saya sama Kake sudah kebingungan lihat kondisi Non kayak gitu."
Ralin tersenyum mendengar cerita mbok Mirah yang menggebu-gebu.
"Tuan bilang ga usah nyari mantri, saya sama Kake sudah waswas, tapi lihat tuan ngerawat non kayak tadi malam, Mbok bisa tenang dan tidur nyenyak." Mbok mirah bicara tanoa berhenti mengaduk daging cincang di atas oompor yang menyala, Ralin diam saja, setia mendengarkan.
"Semoga Non Anin sama tuan baik-baik selalu, rumah tangganya langgeng, tuan kayaknya suami yang baik." Mbok Mirah melanjutkan kalimatnya.
"Aaamiiin, makasih do'anya mbok. Anin pengen lihat kebun Mbok, ada strawberry ga ya?"
"Mungkin masih ada Non, kemarin sebagian sudah di panen, kentang sama bawang putih bawang merah baru bertunas, bunga-bunga masih kuncup, kesukaan non semua tu di kebun."
"Aasiiiiiiik, Anin keluar dulu ya."
Anin berteriak kegirangan mendengar cerita Mbok Mirah dan segera melangkahkan kaki menuju pintu belakang, melewati kolam renang yang langsung menghubungkannya denga kebun miliknya yang menyatu dengan kebun petani setempat. Ini adalah salah satu hal yang ia rindukan di kampung halamannya. Pemandangan indah nan hijau di kaki gunung Rinjani. Bagai permadani raksasa, hamparan tanah yang telah ditanami berbagai bibit tanaman sedang tumbuh bertunas ditandai dengan tumbuhnya daun yang menjulang ke atas. Strawberry, kentang, wortel, bawang, melon dan berbagai hasil bumi lainnya tumbuh subur di gumi Sasak itu.
Udara pagi yang segar dan berkabut adalah hal yang paling favorit untuk Ralin. Ralin menghirup udara sepuas-puasnya sambil memejamkan mata, merentangkan tangannya agar bisa merasakan embun pagi yang sejuk, dan dia memutar tubuhnya perlahan. Sungguh hari ini Tuhan memberikannya kebahagiaan yang berlipat. Suami yang mencintainya, anak adopsi yang akan segera ia gendong, dan pemandangan indah yang ia rindukan. Ia tidak punya alasan lagi untuk mengeluh tentang kehidupan.
Mungkin raganya tidak sempurna, namunnkehidupan menyempurnakan diri untuk Ralin. Tidak ada manusia yang ingin memiliki kekurangan, tapi manusia merasa selalu memilikinya jika mata hati mereka tertutup.
Tanpa ia sadari sepasang mata telah mengamati kelakuannya kala itu. Yaris hanya tersenyum melihat tingkah sang istri. Ia tak kalah bahagia, akhirnya Ralin kembali ceria seperti dulu. Yaris yang sudah merasa gemas tak sabar ingin menghampiri istrinya yang sedang mencari buah strawberry.
"Aku bantuin ya."
Ralin yang tadinya membungkuk segera berdiri tegak ke arah sumber suara. Tentu saja kesempatan itu tak dilewatkan Yaris, ia segera mengecup kening Ralin berulang kali.
"Kok cepet sih bangunnya? Belum juga dua jam kamu tidur."
"Kamunya yang ninggalin, aku masih trauma takut kamu kabur, ngerasa kamu ga ada aku ga bisa tidur lagi."
"Gombal."
"Serius. Kamu tanggung jawab obatin trauma aku pokoknya." ujar Yaris sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih," refleks Ralin memukul lengan Yaris.
"Aaww, sakit tau. Eh, aku baru nyadar kita di kelilingi bukit." Yaris memperhatikan pemandangan sekitarnya yang dikelilingi perbukitan.
"Hm, bagus kan?"
"Keren keren. Yang ini kebun siapa?"
"Kalau strawberry semua punya keluarga, kalau tanaman lain punya petani sekitar."
"Ada yang bisa di panen ga?"
"Itu semua baru tumbuh, jangan iseng, petik strawberry aja!"
"Oke oke. Siap ratu!"
***
Sembalun view
***
Setelah mendapat cukup banyak buah strawberry, Ralin dan Yaris memutuskan masuk ke villa karena perut mereka juga sudah mulai berontak.
"Aku bikinin jus dulu ya." Ralin melangkahkan kaki menuju dapur dan segera menyiapkan alat dan bahan lain untuk membuat jus strawberry.
"Kamu kesini dadakan, apa ga masalah di kantor?" tanya Ralin sambil membawa dua gelas jus ke meja makan.
"Enggak lah, aku udah bilang Papa ga masuk tiga hari."
"Bikin alasan apa?"
"Honeymoon kilat."
Ralin yang mendengar alasan Yaris hampir tersedak jus yang ia minum.
__ADS_1
"Pelan-pelan dong, sayang!" ucap Yaris sambil mengelus pundak sang istri.
"Kamu serius bilang gitu?"
"Iya, ni buktinya" Yaris menunjukkan ponselnya pada Ralin. "Kali ini kilat, yang santainya abis resepsi." ujar Yaris enteng.
"Memang mau ke mana?"
"Ke Inggris dulu, abis itu baru ke Aceh, terus ke Palembang."
"Apa ga kebanyakan, ga usah ke Inggris deh Yang, kita langsung ke kak Renata juga ga apa-apa!"
"Aku udah planning. Buat kamu ga ada yang enggak, dan ga ada protes Sayang!"
Ralin hanya bisa menarik napas panjang, begitulah Yaris, kalau sudah bilang A, pasti A dan tidak bisa dibantah. Sebenarnya dia tidak enak karena bulan madu ke luar negri biayanya tidak sedikit. Gara-gara mulut iseng nih.
"Jadi kita tinggal hari ini sama besok dong di sini?"
Yaris mengangguk sambil menyuap sarapannya ke dalam mulut.
"Makanya cepetan sarapannya, hari ini kita lembur sampai siang!"
"Hah?! Lembur apa?"
"Ga inget ya kemarin aku udah diliburin dua malam."
Setelah Ralin ngeh maksud perkataan suaminya ia tak segan memberi cubitan di pinggang Yaris. Memang kodrat pria, pikirannya tidak jauh dari hubungan ranjang.
"Iiish, kamu tu."
"Aw aw aw, bentar-bentar Mega telpon ni!"
Ralinpun kembali menekuni sarapannya dan membiarkan Yaris merespon telpon Mega.
"Ya Ga!"
"Lo udah ketemu Ralin?"
"Udah ni, di villa, lagi sarapan."
"Syukur deh, lo jangan nyalain speaker, gue mau ngomong penting!"
"Iya, kenapa?"
"Tempo hari Daning ngomong ke gue, dia belum bisa move on dari Ralin, kalo dia liat celah dikit aja antara lo dan Ralin, dia bakal nekat rebut Ralin. Gue rasa lo perlu tahu mengingat kemarin lo sama Ralin....psikopat kali tu orang"
Deg
Yaris sempat terkejut, tapi ia segera menormalkan ekspresinya agar Ralin tidak curiga. 'Gila, gue kira udah mundur teratur.'
"Iya, tenang aja Ga! Lo mau ngomong sama Ralin, nih hpnya gue kasih Ralin.
"Hai bu mensos, anda tega ya bikin kita sport jantung. Kalo Yaris ga nemuin sopir taksi yang nganter lo ke bandara, habis ni Bandung diobrak-abrik ama laki lo."
Ralin terkekeh mendengar ocehan Mega yang terdengar kesal di buat-buat.
"Iya, sorry sorry bu sekda. Jangan marah, nanti keriput!"
"Asem lo, untung gue pinter, keinget lo yang suka ke villa kalau lagi down!"
"That's why I lup yuh my bestie."
"Lo udah tenang kan sekarang?please, jangan kabur-kaburan lagi!"
"Iya, ngerti, lo juga baik-baik ama Rey, ok. Udah dulu ya, kita mau honeymoon."
"Waaah gila ni pasangan!"
Ralin menutup telpon sambil tersenyum geli. Yaris yang sudah selesai dengan sarapannya memandang istrinya dari samping dengan tangan yang menopang wajahnya. Senyum smirk terukir sekilas di bibirnya.
"Udah selesei kan, yuk!"
Yaris mengambil pergelangan tangan sang istri dan mengarahkannya ke kamar.
Ralin yang masih melongo tidak mengerti tujuan suaminya hanya mengikuti tanpa bicara.
"Ini kamu serius?" Ralin membuka suara.
"Kan kamu yang bilang mau honeymoon."
"Aku cuma godain Mega lho."
"Buat aku itu kode keras."
***
Tiga hari berlalu, Ralin harus memendam kembali kerinduannya dengan kampung halaman. Ia dan Yaris sempat jalan-jalan ke beberapa tempat wisata terkenal di Lombok. Tapi kalau hanya tiga hari dia merasa belum cukup, masih banyak tempat yang ingin ia kunjungi, beberapa tempat memang mengalami pembangunan dan ia ingin melihatnya. Ia harus ikhlas karena Yaris memang harus kembali bekerja dan Ralin harus mendampingi. 'Lain waktu kita balik lagi' itu janji Yaris.
Saat menunggu pesawat mereka di lounge, Yaris melihat sosok yang tak asing. Ia tahu ini bukan kebetulan dan segera ingin menghampiri orang tersebut.
__ADS_1
"Bentar ya Yang, tunggu di sini!"
"Mau kemana?" tanya Ralin sambil menekuni ponselnya.
"Ke toilet." Yaris berbohong.
Dengan langkah cepat Yaris menghampiri Daning yang sedang membaca papan pengumuman.
Yaris menepuk pundak Daning yang membuat sang pemilik berbalik.
"Gue ga nyangka selain sebagai dosen lo punya bakat jadi penguntit."
"Maaf, maksudnya?"
"Lo ga usah pura-pura ****, gue tahu lo juga nyusul istri gue ke sini."
"Oh, jadi lo udah tahu, Mega yang bilang?"
"Ga penting siapa yang kasih tahu gue, gue harap lo bisa bisa gentleman nerima Ralin udah jadi milik gue."
"I see, biar gue perjelas, gue kesini memenuhi undangan universitas di sini sebagai pembicara di kuliah umum, dan kedua, gue memang masih punya rasa buat Ralin. Gue marah sama lo. Gue yang pertama ketemu Ralin, tapi entah kenapa gue selalu kalah selangkah dari lo."
Rahang Yaris mengeras, kedua telapak tangannya mengepal, jika tidak mengingat mereka di tempat umum, mungkin dia sudah melayangkan tinjunya pada wajah mulus Daning.
"Mau lo apa?"
"Lo, pastikan jangan sampai gue lihat Ralin nangis. Untuk tangisan Ralin saat pemakaman ayahnya itu pengecualian."
"Cih, jadi lo dateng waktu pemakaman mertua gue, fix, lo penguntit profesional."
Kini giliran rahang Daning yang begertak. Sebisa mungkin juga dia menahan amarahnya agar tidak memicu keributan.
"Gue udah bilang, gue yang pertama ketemu Ralin, harusnya posisi lo itu jadi tempat gue."
Yaris tertawa kecil sambil membuang wajahnya ke sembarang arah. Seolah mengejek ungkapan Daning.
"Lo pastiin aja Ralin ga akan nangis karena lo sakitin, fine, sampai saat itu terjadi gue mundur mulai sekarang."
"Kalaupun itu terjadi, gue ga akan biarin lo ngambil posisi gue." Yaris mendekatkan wajahnya agar bisa memperjelas ucapannya pada Daning, "Ini peringatan pertama dan terakhir, ngerti lo!"
Yaris meninggalkan Daning dengan perasaan sedikit kesal. Entah apa yang ada dipikiran Daning hingga ingin merebut istri orang lain. Dia juga heran dari mana Daning mendapat info kematian mertuanya hingga ia bisa datang saat pemakaman.
"Udah ke toiletnya?"
Yaris hanya menganggukkan kepala.
Melihat perubahan wajah suaminya Ralin sedikit khawatir dengan apa yang terjadi.
"Kenapa mukanya ditekuk gitu?"
"Pinjem hp kamu."
Ralin segera menyerahkan ponselnya tanpa bantahan yang mungkin bisa membuat perasaan suaminya membaik.
Yaris segera mengeluarkan sim card ponsel Ralin dan mematahkannya lalu dibuangnya ke tong sampah.
"Yaris kenapa sih?"
"Kamu hari ini ganti nomor, kalau perlu ganti ponsel juga!"
"Tapi kenapa, ada apa sih?"
Yaris masih diam, mencari alasan tepat, apakah ia harus berbohong atau mengatakan alasan sebenarnya.
"Hhhuuft, Daning kayaknya ngelacak kamu dari nomor ponsel ini, makanya dia bisa tahu kamu di rumah sakit pas dirawat dulu, dia juga ada waktu pemakaman bapak."
"Apa maksud kamu?"
"Dia belum move on dari kamu."
"Hah, kamu tahu darimana?"
"Barusan, aku ketemu dia dan kasih dia peringatan."
Ralin kini menyadari perubahan raut wajah Yaris karena pertemuannya dengan Daning. Mungkin Ralin tidak bisa mengukur besar rasa cinta Yaris padanya, tapi dia tahu bahwa laki-laki yang ada disampingnya itu sangat takut kehilangan dirinya.
Ralin kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Yaris dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Tingkah Ralin membuat Yaris merasa tenang, dan dia merasa dibutuhkan oleh Ralin, merasa Ralin bergantung padanya membuatnya bahagia dan itulah yang memang dia inginkan.
"Yang!"
"Hm."
"Laki-laki yang menyebut namaku saat ijab qabul itu namanya Yaris Mawwali Sa'id, bukan Daning atau nama laki-laki lainnya. Setelah janji itu, aku akan mengabdikan hidupku padanya. Tidak akan ada laki-laki lain, tidak akan ada perpisahan selain kematian." ujar Ralin, ia berharap ungkapannya dapat menenangkan hati Yaris yang galau.
Ralin menatap sang suami, Yarispun sontak menatap Ralin setelah mendengar kalimat terakhir sang istri. Mereka saling berpandangan beberapa detik sebelum suara tawa mereka keluar dan saling menyatukan kening. Yaris memeluk Ralin dengan erat dan mengucapkan 'I love you' di telinga Ralin.
'Kontrol Yaris, ini tempat umum.'
__ADS_1