
Waktu baru menunjukkan pukul 10 siang. Kedai kopi Ralin masih terlihat sepi. Tiga karyawan tetap kedai itu tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Mega mengecek stok bahan menu makanan dan minuman, Riko membereskan meja dan merapikan peralatan makan minum, dan Intan membersihkan lantai dan jendela kaca besar yang dapat menembus pemandangan luar kedai.
Kedai milik Ralin itu memang tidak terlalu besar, terkesan minimalis dan sederhana juga minim hiasan. Meja kursi yang terbuat dari kayu, cat dinding berwarna pastel kombinasi warna gelap, dan beberapa hiasan dinding berbentuk tulisan motivasi. Tidak seperti coffee shop kebanyakan yang heboh dengan berbagai hiasan dan dekorasi instagramable, Ralin memilih memberikan ketenangan pada pengunjungnya dengan tidak menambahkan pernak pernik tidak penting. Hanya ada beberapa pot bunga kecil berisi pohon kaktus mini yang di pajang di beberapa titik dan koleksi novel Ralin yang di letakkan di sebuah single rak yang menempel di dinding. Novel-novel itu bebas di baca pengunjung asal tidak di bawa pulang. Satu lagi, kedai Ralin tidak menyediakan hiburan musik dalam bentuk apapun, entah live performace atau lagu yang di putar melalui speaker. Yang jelas para pengunjung akan benar-benar merasakan ketenangan saat memasuki tempat itu.
Mega yang saat itu menyadari sesuatu segera mengambil ponselnya dalam saku hendak menghubungi seseorang.
"Hallo, Lin. Lo udah pesan kopinya kan? stok kita udah tipis banget nih." nada bicara Mega terdengar serius.
"Udah kok Ga, dari kemarin-kemarin udah gue minta kirim, mungkin kalo ga hari ini, paling ga besok dateng."
"Kalo nunggu besok kayaknya ga keburu deh, lo tahu kan customer kita maunya kopi lo doang."
" Iya gue tahu, coba ntar gue tanya orang rumah, gue juga ga ngerti tumben lelet gini ngirimnya."
"Lo kesini gak hari ini?"
"Gue belum tahu, hari ini di ajak mertua nyari bahan baju buat resepsi."
"Oo oke, take your time beb."
"Kalo seleseinya cepet gue kesana deh."
"Iyaa, ga dateng juga gapapa, gue udah memantapkan hati jadi second boss."
"Cih, maunya, gue ikhlas ngasih lo yang penting kedai gue terurus baik, udah ya gue mau jalan."
Ralin menutup telpon dan Megapun mengakhiri panggilannya. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya itu bahkan hanya mendengar dari nada bicara Ralin. Dia merasa sudah saatnya Ralin mendapatkan kebahagiaan yang diidamkan banyak wanita pada umumnya, yaitu berkeluarga. Mega sangat tahu bagaiman perjalanan hidup Ralin yang berusaha bangkit dari keterpurukan, menutup diri dan hatinya dari setiap laki-laki yang menawarkannya sebuah hubungan. Dia sempat mengira Ralin benar-benar akan hidup sendiri sampai akhir hayatnya, untunglah perkiraannya meleset. Tuhan ternyata telah menyiapkan hadiah terindah untuk Ralin dengan kedatangan Yaris.
Suara pintu kedai terbuka oleh tangan seseorang dan ternyata orang itu adalah Rey. Seketika wajah Mega berseri merona, jantungnya bekerja ratusan kali lipat dari biasanya dan susah payah ia sembunyikan wajahnya yang mungkin sudah bersemu. Merasa malu karena dia adalah alasan dokter muda itu datang ke sana.
"Hai," sapa Rey begitu menemukan sosok yang ia cari.
"Hai, kok tumben ga ngasih tahu dulu, kak Rey ga jaga?" tanya Mega berbasa basi demi menetralkan wajah dan jantungnya.
"Jadwalnya sih jam 3, makanya kesini dulu biar kuat melek sampai pagi."
"Oooh." Ralin yang seakan mengerti maksud kekasihnya itu segera menyiapkan kopi yang biasa di pesan Rey. Sedang menjadi kebiasaan baru Rey, jika akan menjalani piket jaga IGD, pasti dia akan ke kedai Ralin dulu untuk menikmati kopi di sana dan meminta di buatkan untuk diminum di rumah sakit juga. Setelah sekali dia mencicipi kopi di kedai Ralin saat pertama mengajak kencan Mega, dia langsung ketagihan. Itulah hebatnya kopi Lombok.
Mega datang ke meja tempat Reyhan duduk menikmati suasana kedai yang masih sepi. Sementara Riko dan Intan saling senggal senggol memposisikan diri, takutnya jadi obat nyamuk untuk pasangan itu.
Melihat asap tipis yang mengepul dari gelas kopi yang dibawa Mega membuat Reyhan bersemangat. "Suhunya tepat, baristanya pinter nih." ucap Reyhan dengan senyum sumringah.
Mega yang merasa mendapat pujian tersipu.
"Maksudnya?"
"Suhu air buat seduh kopinya pasti tepat 75°c, bisa dilihat asapnya ga ngepul-ngepul banget kalo ga ditiup. Lihat ya!"
Reyhan meniup pelan di atas bibir cangkir kopinya dan benar saja, asapnya baru keluar mengepul hebat setelah di tiup Reyhan.
__ADS_1
Mega sendiri merasa takjub baru mengetahui hal itu setelah sekian lama bekerja di kedai milik Ralin.
"Wow, gitu ya maksudnya, aku baru tahu. Ralin cuma ngajarin cara nyeduh kopinya aja. Kita ga pakai mesin, tapi Ralin tahu triknya, sorry aku ga bisa cerita."
"It's okay, ini kopinya ngirim dari mana?"
"Dari kampung halamannya Ralin, kebun sendiri tapi di kelola petani setempat."
"Ooh." Reyhan terus saja menikmati kopinya yang kini berkurang seperempat.
"Mereka udah balik lho dari Lombok."
"Masa? Yaris ga hubungin aku."
"Langsung sibuk kali, hectic, secara sekarang lagi siepin resepsi di sini, kita maklumi saja."
"Kamu pengen resepsian juga ga?"
Kode keras ini.
"Hah?! Nggak nggak nggak, tapi maksudnya resepsi siapa nih?" Mega memastikan agar perutnya tidak bertambah kacau. Sapa tau kan maksudnya datang ke resepsi Ralin Yaris gitu.
"Resepsi kita lah," jawab Reyhan santai.
Seketika darah Mega terasa mendesir cepat dan hangat, perutnya terasa bergejolak, jantungnya jangan ditanya, mungkin sekarang sudah melompat ke usus buntunya.
Dua curut pegawai lain yang ada di ruangan itu apalagi, Intan tersedak air minum, Riko menjatuhkan cangkir yang untungnya tidak pecah karena bisa ia tangkap. Mendengar second boss dilamar dengan kode resepsi itu senang nyampur takut. Senangnya bos dinikahin, takutnya kedai ga beroperasi lagi, secara kedua bos akan sibuk dengan rumah tangganya, apa kabar penghasilan tambahan mereka yang juga anak rantauan.
"Why not? Kamu ga suka sama saya?"
"Bukan gitu, kita jalani dulu aja, yah!" Mega bingung mau memberikan alasan apa, bukannya menolak jodoh, tapi dia belum siap untuk menjadi seorang istri.
Dibandingkan dirinya, Ralin mungkin terlihat seperti orang biasa-biasa saja di tanah rantau, tapi di kampung halamannya Ralin adalah orang terpandang dengan keluarga yang berada. Ralin bahkan punya villa sendiri di kawasan Sembalun, kaki gunung Rinjani. Pantaslah menurutnya bersanding dengan Yaris. Sedangkan dia benar-benar dari keluarga sederhana, tidak ada yang bisa ia banggakan. Mega ingin menjadi orang sukses dulu, punya karir bagus dan bisa ia banggakan, mungkin saat itulah ia akan siap menerima lamaran Reyhan yang seorang dokter.
Reyhan tersenyum kecil, mungkin sedikit kecewa dengan jawaban Mega.
"Baiklah, saya akan menunggu sampai kamu siap, tapi saya tidak janji itu akan lama." Kata Reyhan misterius.
Intan dan Riko sedikit lega mendengar hasil diskusi dua insan yang sedang kasmaran itu. Paling tidak, bayar kosan amanlah untuk bulan ini dan entah untuk berapa bulan lagi.
"Maksudnya?" Mega tidak mengerti.
"Itu PR kamu."
Lama mengobrol dengan sang kekasih, Reyhan akhirnya berpamitan untuk menjalankan tugasnya, dan kedai pun sudah mulai di kunjungi beberapa orang. Mega melepas kepergian Reyhan hanya sampai di meja kasir karena harus melayani transaksi pelanggannya. Lambaian tangan dari Mega dan Reyhan memberi kode jari jempol dan kelingking yang terangkat mendekati kuping kemudian berkata 'telpon' tanpa suara yang di jawab anggukan oleh Mega.
Mega sebenarnya belum yakin dengan kepantasannya mendampingi Reyhan, kalau cinta, ia sudah pasti mencintai tetapi kastanya sepertinya tidak sepadan dengan Reyhan dan itu membuat dia tidak percaya diri.
Tidak lama setela Reyhan menghilang dari pintu kedai, Daning menyusul masuk seperti biasanya. Intan menyapa sang dosen dan bertanya "seperti biasa ya pak?" Daning hanya mengangguk tapi perhatiannya lebih tertarik pada Mega yang berdiri di belakang mesin kasir.
__ADS_1
"Kamu Mega kan, sahabatnya Ralin?" tanyanya tanpa basa basi.
"Ada perlu sama saya?"
"Saya hanya ingin memastikan."
"Soal?"
"Status sahabat kamu."
"Kalau maksud Bapak status pernikahannya, seperti yang pernah anda dengar sebelumnya Ralin sudah menikah."
"Apa dia bahagia?"
"Sangat bahagia."
"Apa Yaris memperlakukannya dengan baik?"
"Maaf ya pak, sepertinya ini sudah masuk ranah privasi, bapak maksudnya apa nanya-nanya kayak gitu?" nada Mega mulai tidak ramah.
"Saya akan sangat senang menunggu dia janda."
Seketika mata Mega membulat, darahnya naik ke ubun-ubun, laki-laki yang katanya dosen itu sukses membuatnya ingin melemparkan gelas jus yang kini di pegang Mega. Sahabatnya belum genap sebulan menikah, sudah ada orang yang mendo'akannya menjadi janda, what the h*ll.
"Santai sis, saya cuma becanda."
"Kata-kata yang anda ucapkan tidak terdengar seperti candaan bagi saya." ucap Mega dengan nada pelan dan penuh penekanan. Sambil memajukan tubuhnya yang terpisah meja bar dengan Daning, Mega kembali ingin memberi peringatan pada Daning bahwa Ralin kini telah bersuami.
"Sekiranya anda sangat paham, dan saya tahu anda adalah orang yang berpendidikan, apa yang sudah menjadi milik orang lain, jangan melihat apalagi mengambilnya!"
"Tapi bagaimana jika saya ingin?" Daning menggantung kalimatnya.
"Jika ada yang saya inginkan, akan saya raih sekuat mungkin," tegasnya lagi.
Kini mereka benar-benar bicara serius, tidak ada unsur candaan dan Daning pun seperti ingin memberitahukan pada Mega bahwa dia masih menginginkan Ralin meski Ralin telah menikah.
"Pastikan dia bukan sahabat saya!"
"Bagaimana jika dia Ralin, wanita yang saya inginkan, adalah sahabat anda?"
Darah Mega mulai mendidih, dia kini berpikir bahwa Daning bukanlah orang baik-baik seperti kelihatannya. Daning mungkin menjadi ancaman bagi rumah tangga Ralin. Mega menunggu Intan pergi setelah memberikan pesanan Daning, dia tidak ingin ada orang lain mendengar pembicaraan itu.
"Anda punya nama baik, profesi anda juga terhormat, hentikan sampai disini, Ralin sudah berada pada tempat yang seharusnya, jangan usik dia!" Mega memperingatkan dengan suara yang hanya bisa di dengar dia dan Daning.
"Dengan senang hati, tapi pastikan Yaris menjaganya, jika saya melihat celah seedikit saja, saya tidak akan menyia-nyiakannya."
Kali ini kalimat Daning benar-benar terdengar seperti ancaman. Entah bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Ralin.
"Kalau tidak ada lagi yang anda ingikan, silahkan keluar!" untuk pertama kalinya Mega mengusir pelanggan, dan dia adalah Daning, dosen dari pegawainya, laki-laki yang menyukai sahabatnya.
__ADS_1
Mega tidak melihat wajah ramah Daning seperti pertemuan mereka sebelum-sebelumnya. Wajahnya menunjukkan keyakinan, lebih terlihat seperti terobsesi. Dia hanya berdo'a semoga Daning benar-benar tidak serius dengan perkataannya.