
Ucapan-ucapan Reyhan tentang keadaan Ralin sebenarnya terus menerus terngiang dalam benak Yaris, sudah hampir setengah jam dia duduk di ruangan Reyhan, memutar kembali ingatan-ingatannya tentang Ralin, tentang keisengannya sehingga membuat gadis itu kesusahan, dan aaaakkkh Yaris tidak bisa bepikir apa yang harus ia perbuat ketika nanti bertemu denga Ralin. Ingin rasanya ia keluar dari keadaan yang dia hadapi sekarang, entah kenapa Tuhan mempertemukannya dengan gadis itu.
Kenyataan yang di beberkan Reyhan padanya berdampak luar biasa. Yaris sepertinya akan gila dengan keadaan yang akan dia hadapi. Kenyataan itu juga menjawab segala tanda tanya yang terbentuk pada diri Ralin.
Setelah lama berpikir, akhirnya Yaris memutuskan untuk pulang ke rumah, dia ingin menenangkan pikirannya. Reyhan sudah meninggalakannya sedari tadi karena harus mengunjungi pasien. Yaris segera beranjak dari duduknya, namun getaran ponselnya menghentikan langkahnya menuju pintu.
Dddrrrt....dddrrrtt...
"Hallo!"
"Tuan saya ingi melaporkan hasil penyelidikkan saya tentang nona Ralin." kata seorang laki-laki yang menghubungi Yaris.
"Katakan, apa hasil penyelidikkanmu!"
"Tuan, nona Ralin adalah korban kecelakaan 3 tahun yang lalu. Nona Ralin bertabrakkan dengan mobil yang di kendarai Tuan Besar Sa'id ketika berada di Lombok 3 tahun lalu saat pembangunan gedung baru perusahaan."
Seketika Yaris merasa sesak, kenyataan tentang Ralin, wanita yang ia bisikkan ungkapan cintanya, membuatnya sulit bernapas. Yaris berusaha menenangkan diri, sambil memijit pelipisnya yang terasa pening. Yaris berusaha mendengarkan segala ucapan anak buahnya yang melaporkan hasil penyelidikkannya tentang Ralin. Intinya beberapa keanehan akan sikap Ralin mulai terjawab satu per satu, tapi entah takdir apa yang membuatnya harus terikat dengan segala kejadian yang di alami Ralin.
"Baik, lanjutkan penyelidikkanmu, masih ada waktu 2 hari sebelum kamu kembali!"
"Saya mengerti tuan."
***
'Pantas saja papa tidak ingin menghentikan donasi untuk panti yang tempat Ralin menjadi relawannya, artinya papa sudah tahu tetang siapa Ralin sedetil-detilnya, dan rasa penasarannya kenapa Ralin enggan memiliki hubungan dengan laki-laki karena ia kehilangan rahimnya akibat kecelakaan yang melibatkan papa. Apa yang kamu alami tiga tahun lalu Ralin? Bagaimana kamu bisa melaluinya dan bertahan hingga saat ini?Apa begitu parah luka yang di alami Ralin?'
Yaris hanya bisa berbicara pada dirinya sendiri saat ini, dia tidak mungkin menceritakan hal ini pada orang lain, tapi menanggungnya sendirian juga terasa berat. Ingin rasanya ia berteriak agar bebannya sedikit berkurang. Shit shit shit. Yaris butuh pelarian.
Yaris yang tadinya ingin pulang ke rumah mengundurkan niatnya, ia memutuskan tinggal sampai Ralin keluar dari ruang operasi. Dia tidak tahu apa yang akan diperbuat setelah Ralin sadar nanti. Yang penting sekarang dia merasa harus menemani Ralin untuk mengurangi rasa bersalah dan sadar atau tidak keluarganya memiliki hutang budi pada Ralin.
Sesampainya di depan ruang operasi, Yaris tidak menemukan Mega ataupun Arya.
"Kemana mereka? Apa Ralin sudah selesai operasi dan dipindahkan ke ruang perawatan." Bertanya pada diri sendiri.
Tanpa berpikir dua kali segera Yaris menuju ruang inap Ralin. Dan benar saja di sana Mega dan Arya menunggui Ralin yang belum sadarkan diri. Ralin masih terbujur kaku, masih terpasang alat bantu pernapasan pada mulutnya dan beberapa kabel peralatan yang menempel di badannya yang entah apa fungsinya.
__ADS_1
Yaris melangkah mendekati Mega, "gimana kondisinya?" tanya Yaris pada Mega yang mematung memandang sahabatnya.
"Seperti yang anda lihat, dia belum sadar, sepertinya operasi ringan yang harusnya terjadi berlangsung dramatis untuk Ralin," jawab Mega dengan suara yang sangat pelan tapi masih bisa di dengar Yaris.
"Maaf harus mengatakan ini, tapi bisakah nanti setelah Ralin sadar anda tidak menceritakan apa yang teman anda beritahu tadi kepada Ralin, kalau dia tahu operasinya berjalan sulit itu akan menjadi beban untuk Ralin," ucap Mega pada Yaris yang tak melepaskan pandangannya dari Ralin.
Yaris hanya mengangguk menyanggupi permintaan Mega.
"Dan satu lagi, apapun tujuan anda mendekati Ralin nanti, pastikan untuk tidak menggoreskan luka, tentukan perasaan anda apakah simpati atau cinta mengingat apa yang anda lakukan pada Ralin sebelum masuk ruang operasi tadi, saya tidak ingin sahabat saya terluka."
Deg
Kalimat-kalimat Mega berhasil menceloskan hati Yaris, membuatnya dihujani perasaan bersalah, takut, khawatir yang semakin besar. Entah apa reaksi Ralin nanti jika mengingat ucapannya.
Yaris hanya menundukkan kepala, mengarahkan pandangannya pada lantai. 'Tuhan, mohon berikan petunjuk Mu' batinnya.
***
Arya menggeser tombol hijau setelah melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
"..."
"Iya, ini Arya lagi nyambangin Ralin.
"..."
"Ralin kabarnya baik, mama. Ini Arya lagi di kedainya, tapi Ralin masih istirahat di atas, mungkin dia kecapaian, nanti aku suruh nelpon kalau dia sudah bangun.
"..."
"Enggih, Mamak juga jaga kesehatan. Assalamu'alaikum.
Dengan berat hati Arya harus berbohong pada orangtuanya mengenai keadaan Ralin, dia tidak mau orangtuanya merasa cemas. Mungkin nanti setelah Ralin sadar barulah dia akan memberitahu yang sebenarnya.
Memeberi tahu mereka sekarang memiliki resiko besar yang bisa membuat penyakit Ayahnya kambuh.
__ADS_1
Setelah menutup telpon dari ibunya, Arya kembali masuk ke dalam. Dia mendapati Yaris kini duduk di samping Ralin. Arya tidak bisa mengartikan arti tatapan mata Yaris pada adiknya. Pun seandainya Yaris menaruh hati pada adiknya, dia tidak akan melarang, melihat Yaris yang terlihat seperti pria baik.
Tidak lama kemudian Ralin terlihat menggerakkan jarinya, perlahan matanya mulai terbuka, mengerjap-ngerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam korneanya. Ralin mengedarkan pandangannya. Sontak Yaris berdiri dan mendekatkan wajahnya. Mega dan Arya juga segera mendekat.
"Kak Ar-ya" dengan suara yang terdengar lemah Ralin memanggil kakaknya.
"Iya dek, ini kakak, kamu udah sadar, kamu mau sesuatu?" Arya bertanya dengan antusias, tak henti-hentinya dia mengucap syukur dalam hati melihat adiknya sudah siuman. "Mega tolong panggilkan dokter!"
Mega bergegas mencari dokter untuk memeriksa Ralin. Tak jauh dari pandangannya dia melihat Reyhan berdiri di depan meja informasi, "dokter Reyhan!" panggilnya dengan suara agak dikeraskan. Reyhan menoleh, "teman saya sudah siuman, tolong diperiksa!"
Dengan langkah lebar Reyhan bergegas menuju kamar Ralin. Dia tidak kaget melihat Yaris juga ada di sana. Dikeluarkannya alat berupa lampu senter berukuran pulpen dari dalam saku snelinya, kemudian mengarahkannya pada mata Ralin kiri kanan secara bergantian. Stetoskop yang melingkar di leher pun mengambil peran, menempel pada kedua telinganya untuk memeriksa detak jantung Ralin.
"Masa krisisnya sudah lewat, saya tidak menyangka akan secepat ini, kami akan terus memantau perkembangannya nanti," ucap Reyhan dengan nada meyakinkan. "Pasien bisa di ajak berkomunikasi tapi jangan sampai terlalu lelah!" tambahnya.
Mata Reyhan kemudian tertuju pada Yaris. Reyhan menangkap ada perasaan lega terlintas pada wajah temannya itu. "Saya permisi dulu." Reyhan hendak keuar dari ruangan dan Yaris hanya menganggukkan kepala untuk melepas pamitan Reyhan.
"Terima kasih dokter." ucap Arya yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika mendengar penjelasan Reyhan.
"Syukurlah Dek, kamu sudah baikan." Arya masih setia berada di samping Ralin.
"Ka-pan datang, kak?"
"Barusan Dek. Kamu mau sesuatu biar kakak ambilkan."
Ralin hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Arya. Matanya kini tertuju pada Yaris, sedangkan Yaris hanya mematung, tatapan mereka beradu, satu katapun tak bisa keluar dari mulut Ralin untuk menyapa Yaris dan...
"Hei, seneng akhirnya bisa lihat kamu bangun." akhirnya itulah kalimat pertama Yaris setelah Ralin terbangun pasca operasinya. Arya menatap Yaris, berharap laki-laki itu tulus dengan ucapannya.
"Hei...besty!" tatapan Ralin memutar pada Mega yang baru masuk dari arah pintu.
"Lin, udah bangun, syukur deh." Ralin hanya mengangguk. "Lo jangan banyak ngobrol dulu!" ujar Mega khawatir. Ia menurut. Ralin kembali terlelap setelah menyapa orang-orang yang menjaganya. Merekapun akhirnya bisa bernapas lega karena Ralin bisa melewati masa sulitnya.
"Kak Arya, Mega, saya pamit dulu, ada hal mendesak di kantor."
"Tentu, silakan! dan terima kasih sudah membantu Ralin sejauh ini." Yaris menganggukkan kepala dan melangkahkan kakinya keluar.
__ADS_1
Tentu saja Yaris berbohong agar bisa keluar dari tempat itu, urusan kantornya sudah ia serahkan pada orang-orang kepercayaannya. Entah kemana ia akan pergi sekarang, yang jelas dia perlu menenangkan pikirannya yang masih semrawut. Yaris butuh pelampiasan.