Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Kehilangan


__ADS_3

Yaris keluar dari ruangannya. Dia sangat marah mendengar kata-kata Selly tentang istrinya. Dia tidak suka jika ada orang lain ikut campur dalam rumah tangganya. Mendadak ia merindukan Ralin yang mungkin masih berada di apartemen sedang bersiap-siap karena nanti mereka akan makan siang bersama. Tapi Yaris berinisiatif menjemput Ralin lebih dulu, ingin memberi kejutan pada istri tercintanya. Terbersit rencana membelikan Ralin bunga mawar putih kesukaannya nanti di tengah perjalanan. Pasti istrinya akan tersenyum bahagia menerima hadiahnya.


"PAK!!! Pak Yaris!!!"


Mira sekretarisnya berteriak sambil berlari segera menghampirinya yang baru akan keluar menuju parkiran. Padahal tadi dia sudah berpesan bahwa dia akan keluar makan siang dengan istrinya.


"Kamu kenapa ngejar-ngejar saya?"


"Bentar pak!" ucap Mira dengan napas ngos-ngosan. Dia segera menarik dan membuang napasnya agar bisa berbicara jelas.


"Bapak benar mau pergi makan siang dengan ibu Ralin?"


"Kenapa memangnya?"


"Kenapa ibu Ralin ga ikut sama bapak tadi sekalian?"


"Apa maksud kamu? sekarang saya mau jemput istri saya di apartemen."


"HAH?!" Mira membelalakkan mata. Berarti dari tadi bosnya tidak tahu bahwa sang istri ada di ruangannya.


"Pak, bapak serius ga tahu ibu Ralin sejak tadi ada di ruangan bapak?"


"Kamu jangan ngaco, tadi itu Selly, bukan Ralin."


"Iya, saya tahu yang bapak usir itu bu Selly, tapi tadi bu Ralin keluar juga setelah bapak masuk lift sambil nangis-nangis. Bu Ralin mau ngasih kejutan buat bapak, dia datang lebih awal, mungkin beliau sembunyi di sudut ruangan."


"Maksud kamu? akh shit! kenapa kamu ga ngasih tahu saya." ujar Yaris sambil berlari.


"Kan saya udah bilang Bu Ralin mau...ka..sih..kejutan buat bapak." Mira berucap tanpa di dengarkan sang bos yang terlihat panik meninggalkannya. "Tu kan salah lagi aku."


Yaris kembali masuk ke dalam gedung, bergegas menuju lift yang masih tertutup. Merasa tidak sabar, Yaris memilih naik tangga darurat dengan langkah selebar mungkin. Dia berharap bisa menemukan Ralin secepatnya. Diambilnya ponsel di dalam saku dan menghubungi nomor sang istri.


Tut...tut...tut.. nomor yang anda....


Di dialnya sekali lagi


Tut...tut... 'Ga di angkat.'


'Sayang angkat please,' di cobanya sekali lagi dan Ralin tidak juga mengangkat telponnya.


Yaris tiba di ruangannya, berharap menemukan jejak sang istri, tapi nihil. Yang tertinggal hanya sisa wangi parfum yang biasa Ralin gunakan. Seharusnya Yaris menyadari keberadaan Ralin karena dia sudah mencium wangi parfum istrinya sejak awal masuk ruangan. Karena harus meladeni Selly, perhatiannya teralihkan. Mendadak Yaris diserang rasa takut, iya,,dia takut, takut Ralin memikirkan hal yang tidak -tidak karena mendengar pembicaraannya denga Selly.


Yaris kembali keluar dengan berlari menuju ruang keamanan, berharap menemukan petunjuk keberadaan Ralin.


"Hallo, Mega!! Ralin sama lo ga?"


"Enggak, kenapa Ris?"


"Shit! Kalo dia ke kedai hubungi gue, lo tahan dia sampai gue dateng, ngerti!"


"Kenapa Ris, hal..."


Yaris mematikan panggilannya, dan mencari kontak lain yang mungkin tahu keberadaan istrinya.


Setibanya di ruang keamanan.


"Putar kamera di depan ruangan saya, dua puluh menit yang lalu!"


"CEPAT!!!" Yaris membentak pegawai yang dia rasa bekerja terlalu lama, padahal jari pegawainya sangat lincah di atas keyboard.


"I...i..iya tuan."


Dengan lihai pegawai itu mengetik keyboard dan muncullah gambar depan ruangan Yaris dua puluh menit yang lalu di layar monitor.


Terlihat Ralin keluar dari ruangannya sambil membungkam mulut. Benar kata Mira, Ralin menangis begitu keluar dari ruangannya.


"Ikuti kemana wanita itu!!"

__ADS_1


"Iya tuan."


Ralin memasuki lift tepat setelah Yaris. Pegawai itu kembali mengetik sesuatu, mengira-ngira kemana si wanita akan pergi, beberapa gambar muncul bergantian dan...


"Dia keluar gedung pak, sudah naik taksi."


Seketika Yaris lemas, dia kembali mengambil ponselnya menghubungi sang istri, berharap mau mengangkat telponnya, dan zonk. Ralin sama sekali tidak mengangkat, bahkan menolak panggilannya.


Pikiran Yaris mulai kalut. Dia sangat memahami sifat istrinya. Jika dalam kondisi normal Ralin akan baik-baik saja meski mendengar Selly menghina dirinya atau merayunya. Contohnya saja ketika pertemuan mereka di restoran tempo hari, bahkan Ralin melawan Selly dengan kata-kata kasar. Tapi saat ini kondisi Ralin masih labil, dia baru menerima kepergian bapaknya dan masih merasa sedih, jika ditambah dengan mendengar kata-kata Selly, pastinya Ralin tidak akan berpikir logis.


Yaris menghubungi seseorang lagi yang berharap didatangi Ralin.


"Hallo, mah!!"


"Tumben kamu nelpon, kapan mau ajak Ralin ke rumah? undangan resepsi kamu udah jadi ni."


Deg


Yaris kembali teringat, dua bulan lagi resepsinya akan di gelar. Yaris sempat ingin mengundur acara resepsi melihat kondisi Ralin waktu itu yang masih berduka, tapi Ralin menolak dan ingin melaksanakan resepsi sesuai rencana awal. Dia tidak ingin merepotkan para kru WO yang telah menyiapkan acara resepsinya dan Dia meyakinkan Yaris bahwa dia akan baik-baik saja beberapa hari lagi.


"Hallo, Yaris!! kamu denger Mama ga?"


Yaris mengusap wajahnya frustasi, artinya Mamanya juga tidak sedang bersama Ralin.


"Iya Ma, Yaris denger. Nanti Yaris telpon lagi."


Yaris menutup telponnya sepihak. Hampir terlihat putus asa, ia meminta pegawai yang ada di sampingnya melihat nomor taksi yang di naiki Ralin. Terlihat mustahil karena jarak cctv dengan taksi yang di tumpangi Ralin cukup jauh hingga gambarnya buram. Beruntung pegawai itu cekatan, butuh beberapa menit sampai nomor polisi taksi tersebut bisa terbaca.


***


Hari sudah mulai gelap. Tapi Yaris belum juga mendapat kabar keberadaan Ralin. Sepanjang siang tadi, ponsel Ralin tidak aktif, membuat Yaris bertambah takut dan khawatir. Semua upaya dia lakukan, Yaris bahkan menyewa beberapa orang untuk mencari keberadaan istrinya. Yaris merasa gelisah, karena satupun orang yang dia sewa belum memberinya kabar.


Tok...tok...


Yaris bergegas membuka pintu berharap Ralin yang datang.


"Huuuuffffftttt, masuk!" Yaris membuka pintu untuk Mega dan Rey.


Yaris menggeleng lemah.


Mereka bertiga duduk berhadapan di sofa ruang tamu.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ris, kenapa Ralin sampai pergi?" Mega bersuara sambil menahan tangis.


"Kami janjian makan siang bareng." Yaris mulai menceritakan kejadian yang dia dan Ralin alami.


"Ralin pengen nyusul ke kantor, biasanya dia datengnya jam 11, tapi gue ga tau dia inisiatif datang lebih awal. Kata sekretaris gue dia mau kasih kejutan. Entah dimana dia bisa sembunyi di ruangan gue. Waktu itu gue baru keluar dari ruang meeting, Selly udah nunggu gue. Dia gue ajak ke ruangan karena gue ga mau bikin keributan." Yaris mulai menarik nafas, berat rasanya menceritakan apa yang dikatakan Selly tentang istrinya.


"Terus." Mega mulai menangis, seolah bisa menebak apa yang di alami sahabatnya.


"Selly ngasih tau gue kalo dia nyelidikin Ralin, dia tahu semua tentang Ralin sampai detail, bahkan kekurangan..." suara Yaris terhenti, dia tidak sanggup lagi harus menceritakan kata-kata Selly tentang istrinya.


"Trus apa? Kenapa lo diem? Terus Ralin dengar semua kalimat Selly yang bilang kalo Ralin ga punya rahim, ga bisa ngasih lo anak, dan lo diem aja hah?" Mega tersulut emosi, suaranya meninggi, bahkan dia tidak terima apa yang Yaris ceritakan padanya.


"Lo tahu ga ratusan orang udah ngatain itu ke Ralin dan dia hampir gila, dan sekarang lo buka lagi luka lama dia dengan kedatangan cewek iblis lo itu, lo brengsek tau ga. Lo harusnya ngusir lebih awal tanpa lo minta masuk ruangan lo, brengsek." Mega meluapkan amarahnya. Hanya mendengar ceritanya saja Mega sangat marah dengan wanita yang bernama Selly yang Ralin juluki nenek sihir.


"Mega! Cukup!!" Reyhan menengahi. "Ini juga berat buat Yaris. Emosi ga akan nyelesein masalah. Kamu tenang dulu! Sekarang yang perlu kita pikirkan gimana caranya nyari keberadaan Ralin, kemana kira-kira dia pergi."


Yaris merenungi ucapan Mega, dia menerima segala kemarahan sahabat istrinya itu.


"Seandainya gue tahu dia ada disana, seandainya gue percaya indra penciuman gue, jelas-jelas wangi parfum Ralin memenuhi ruangan gue, tapi gue pikir itu cuma imajinasi gue. Lo bener Ga, gue emang brengsek." gumam Yaris lemah. Dia merasa gagal, gagal melindungi istrinya, gagal menjalankan amanat almarhum mertuanya.


"Katanya lo udah dapat nomor polisi taksi yang Ralin pake?" tanya Reyhan memastikan. "Lo udah tanya kemana tujuannya?"


Yaris mengangguk.


"Dan kemana?" tanya Mega yang kini sudah tenang kembali.

__ADS_1


"Bandara, Ralin minta di antar ke bandara."


"Bandara? Lo ga salah?" Mega terkejut hampir tak percaya.


"Artinya Ralin ga ada di sini?" sela Reyhan.


"Apa tindakan lo?" sambung Reyhan lagi.


"Gue udah sewa orang nyari nama Ralin di daftar penumpang, tapi masih belum ada kabar sampai sekarang.


Dddrrrrtttt....dddrrrtttt


Pesan notifikasi masuk ke ponsel Yaris


082 xxx xxx xxx


Mas Yaris, ini Ralin. Maaf sudah bikin mas kecewa. Aku mau minta izin menenangkan pikiranku. Mungkin Selly ada benarnya, aku bukan wanita baik, harusnya aku menolak lamaran Mas Yaris dulu karena aku ga mungkin kasih Mas keturunan.


Aku takut harus menghadapi perpisahan lagi. Maaf.


Yaris terkesiap membaca pesan itu. Hatinya terasa ngilu. Benarkah Ralin yang mengiriminya pesan itu, kamu dimana sayang?


Yaris lalu mencoba menghubungi nomor yang mengiriminya pesan tersebut, tapi sia-sia, nomor itu tidak aktif. Membaca pesan itu, perasaan Yaris tak karuan. Antara senang dan takut, senang jika Ralin baik-baik saja di suatu tempat, tapi takut pula dia tidak bisa bertemu Ralin lagi. Wajahnya berubah pasi.


Reyhan dan Mega yang melihat tingkah Yaris keheranan tidak mengerti, apa sebenarnya yang di baca Yaris.


"Lo kenapa Ris?" tanya Reyhan kebingungan.


"Ada yang sms gue pakai nama Ralin, nomor asing."


Mendengar hal itu Mega terbangun dari sandarannya. "Boleh gue baca?" pinta Mega.


Yaris memberikan ponselnya kepada Mega. Dia lalu memilih memakai telpon rumah untuk menghubungi seseorang.


"Selidiki saya asal nomor 082 xxx xxx xxx, secepatnya, saya beri waktu sepuluh menit!"


Setelah memberi perintah pada seorang pegawainya, Yaris kembali bergabung dengan Reyhan dan Mega. Yaris duduk dengan menutup wajah menggunakan tangannya, ia tidak menyangka hari ini berakhir dengan ia harus kehilangan Ralin. Baru pagi tadi dia melihat Ralin tersenyum kembali, sekarang dia harus kehilangan senyum itu lagi. Baru saja istrinya akan bangkit dan kembali menghangatkan rumah tangga mereka, rusak dalam sekejap karena kecerobohannya.


"Menenangkan diri?" lirih Mega, "gue pernah dengar, Ralin juga pergi menenangkan diri ketika menghadapi masalah seperti ini, menghindari orang-orang yang merasa iba, dan orang-orang yang memakinya."


Yaris seketika melihat ke arah Mega. "Maksud lo?"


"Keadaan ini hampir sama dengan yang Ralin alami setelah orang-orang sekitar rumahnya tahu kalau dia tidak punya rahim, dan Ralin memutuskan pergi dari rumahnya menenangkan diri." cerita Mega.


"Kemana?" tanya Yaris cepat, berharap itu bisa menjadi petunjuk keberadaan istrinya.


"Ke vilanya, di Sembalun, di bawah kaki Gunung Rinjani."


Ada sedikit kelegaan di wajah Yaris. Setidaknya dia tahu kemana kira-kira akan mencari istrinya. Tak lama kemudian suara ponselnya berdering lagi. Kali ini telpon dari orang suruhannya. Ia memencet tombol hijau dan mengaktifkan mode speaker.


"Hallo, bagaimana hasilnya?"


"Tuan, nomor tersebut adalah nomor sekali pakai, sekarang sudah tidak aktif lagi, lokasi terakhir aktif yaitu di daerah perbatasan Lombok Tengah memasuki daerah Lombok Timur."


"Baik, terimakasih." Yaris lalu menutup panggilan. Tersirat kelegaan di wajahnya setelah berjam-jam lalu diliputi ketakutan.


Yarispun kembali menelpon seseorang.


"Siapkan pesawat malam ini juga, ga perlu lapor ke Bapak, masalah Bapak niar saya yang urus, siapkan saja pesawatnya segera." Suara tegas Yaris memberi perintah pada seseorang.


"Lo serius mau nyusul Ralin malam ini juga?" tanya Reyhan tak percaya.


Yaris mengangguk pasti, wajahnya tampak sumringah.


"Kalian mending pulang, biar Ralin gue yang cari!"


"Apa ga nunggu besok aja, Ris. Lo masih kacau." ujar Reyhan lagi, dia sedikit cemas melihat penampilan Yaris yang acak-acakan.

__ADS_1


"Bakal lebih kacau gue ga ketemu Ralin. Gue ga mau apartemen ini kehilangan ratunya lebih lama lagi, gue mau siap-siap. Kalian mau tetep disini atau mau pulang, terserah."


Yaris berlalu meninggalkan Reyhan dan Mega ke dalam kamar. Dia akan menyiapkan diri, menjemput Ralin secepat mungkin, rasa rindu di hatinya sudah membuncah, apapun yang terjadi, malam ini Yaris akan ke Lombok menyusul sang istri.


__ADS_2