
Yaris memarkirkan mobilnya di sebuah club milik temannya. Ini bukan kebiasaannya, tapi keadaan membuatnya ingin mencari sesuatu agar pikirannya lebih tenang.
"Hai, bro! tumben ni ada angin apa?" Yaris menjabat tangan temannya dan segera mengambil posisi duduk di depan meja bar.
"Kasih gue yang ringan aja, plus jangan tanya ada apa!" ucap Yaris dengan suara datar.
"Ok, gue tau apa yang lo cari."
Segelas kecil minuman mendarat di depan Yaris, dengan satu tegukkan Yaris menghabiskan minuman itu lalu ia lanjutkan dengan mengisap jeruk. Menjadi hiburan tersendiri baginya menikmati sensasi minuman yang disuguhkan bartender. Inilah yang Yaris sebut pelampiasan. Alkohol salah satu cara paling ampuh membuat segalanya lebih baik. Benarkah?
Melihat Yaris di club merupakan kejadian langka, jika tidak benar-benar sedang stres dia tidak akan menginjakkan kakinya di tempat itu. Yaris yang tampak seperti orang baru di tempat itu, tentu saja mengundang mata para penjaja one night stand yang sudah lazim berada di sana.
"Hey, handsome! join with me tonight?" bisik wanita berpakaian minim di telinga Yaris, membuatnya sedikit bergidik. Gelas ke sembilan yang di teguk Yaris memang membuatnya lunglai, tapi dia belum kehilangan kesadaran sepenuhnya. Ketahanan tubuhnya terhadap alkohol sangat baik.
Dia tidak merespon sedikitpun kata-kata wanita itu, tapi karena terus di goda reaksi Yaris membuat temannya sedikit terkekeh. Yaris menghentak tangan wanita itu, meraih tengkuknya, dan ciuman kasar Yaris menyerang si wanita satu malam itu, ********** tanpa jeda, menggigitnya dan tidak memberi ruang untuk wanita itu sekedar mengambil oksigen. Setelah sekian detik Yaris menghentikan aksinya dan mendorong tubuh wanita itu yang masih terlihat ngos-ngosan, Yaris mendekatkan wajahnya pada telinga wanita itu dan..."stay away from me!" kalimat itu terlontar dari bibir merah mudanya. Wanita itupun pergi meninggalkan Yaris dengan wajah kesal.
"Wo wo wo, ada yang lagi stres ni." ujar temannya yang duduk di seberang meja bar.
"Shut up!" ujar Yaris dengan suara yang sudah mulai mabuk. Dengan kesadaran yang minim Yaris merogoh saku jasnya mencoba mengambil ponsel. Dicarinya kontak Reyhan dan mencoba menghubunginya.
Memanggil... Reyhan
"Hallo, Yaris!"
Belum sempat membalas sapaan Reyhan yang ada di seberang Yaris tertunduk di atas meja, kini ia sudah total kehilangan kesadarannya. Temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Yaris, lo dimana? Hallo!" Reyhan terdengar khawatir karena hanya mendengar suara bising.
"Hallo, Rey! ini gue Boby, jemput temen lo ni, dia udah oleng, gue tunggu!
***
Malam itu Ralin terjaga, entah karena apa, matanya terasa sulit untuk terpejam lagi, mungkin karena seharian dia tertidur efek dari obat bius dan obat-obatan yang dia minum kini telah hilang. Tenggorokannya terasa kering, dia mencoba meraih botol minuman yang ada di nakas samping tempat tidur, namun gagal. Badannya masih sulit di gerakkan, 12 jam setelah operasi nanti ia harus belajar menggerakkan badan hingga kakinya, bahkan mungkin harus belajar berdiri dan berjalan besok pagi.
'Semua sudah tidur, da mungkin bangunin mereka, kak Arya dan Mega pasti kecapaian mengurusiku seharian ini.'
Ralin memutuskan kembali ke posisi awalnya, ditariknya selimut yang sempat tersingkap dan kembali berbaring menghadapkan pandangannya ke langit-langit ruangan. Tiba-tiba dia teringat kalimat yang dibisikkan Yaris padanya sebelum masuk ruang operasi.
Benarkah apa yang diucapkan laki-laki itu ya Tuhan, gak boleh ga boleh, aku ga boleh goyah, sekiranya ada waktu kami bicara aku akan menolaknya, harus.
Apalagi jika dia tahu keadaannku, Tuhan, mohon jaga hati ini. Tetaplah beku, tetaplah dingin, tidak ada cinta untuk hati yang beku.
***
"Auuu kepala gue." Yaris terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit. Di putarnya kembali ingatannya tentang kejadian tadi malam, "ah, Rey! Syukur deh."
Dia cukup bersyukur tidak berakhir di ranjang dengan seorang wanita one night stand.
Ketika hendak turun dari atas tempat tidur, dia melihat sebuah catatan kecil di atas nakas samping tempat tidurnya.
'Minum ini ****, awaas lo nyusahin gue lagi.'
Yaris tersenyum melihat catatan yang di tinggalkan temannya. Di raihnya obat penghilang pengar tersebut dan segera meminumnya.
Rencananya hari ini dia akan ke kantor dan setelah itu menemui Ralin. Entah simpati atau cinta biarlah dia jalani dulu.
Satu jam setelah tiba di kantor Yaris disibukkan dengan segudang pekerjaannya yang kemarin sempat tertunda. Beberapa menit lagi dia harus menghadiri rapat bulanan dengan pegawainya.
Pintu ruangan Yaris terbuka, di lihatnya laki-laki paruh baya dengan setelan jas rapi memasuki ruangannya, tak lupa tongkat sebagai alat bantu jalan yang selalu setia menemaninya. Tuan Sa'id, ayah Yaris yang kini jalannya sedikit pincang karena kecelakaan 3 tahun lalu.
"Papa mau berterimakasih sudah mengembalikan donasi untuk panti, papa harap hal seperti ini tidak terjadi lagi."
Yaris hanya diam mendengarkan ayahnya, ingin rasanya dia bertanya tentang apa yang terjadi 3 tahun lalu, kecelakaan yang ayahnya alami, dan apa yang ayahnya ketahui tentang Ralin. Tapi mulutnya terasa bungkam, ada batu di sana, mungkin ini bukan saat yang tepat.
"Yaris ngerti, Pa. Ini ga akan terjadi lagi."
"Mamamu minta kamu pulang untuk makan malam, dia ingin kita berkumpul malam ini."
"Yaris usahakan." ucap Yaris sekenanya. Entah kenapa dia masih enggan bicara banyak dengan sang ayah.
"Kalau begitu Papa, pulang dulu."
"Papa kenal dengan Ralin? relawan panti yang Yaris bikin kesusahan nyari donatur?" ayah Yaris terdiam, wajahnya tetap datar, tapi diamnya ayahnya membuat Yaris semakin yakin jika ayahnya tahu sesuatu.
"Papa ga perlu cerita sekarang, kita bicarakan lain kali, cepat atau lambat papa harus ceritakan semuanya ke Yaris."
Ayah Yaris tak berkomentar apapun, ia hanya melanjutkan langkahnya ke arah pintu tanpa menoleh pada Yaris.
__ADS_1
"Hhhuuuuffffttt."
***
"Makan dulu ya Lin, biar lo cepet pulang, bosen tau gue sih disini, perawat yang ngurusin lo cewek semua, ga ada gitu perawat cowok yang kemari ngurus lo."
"Enak aja perawat cowok, gue yang minta perawat cewek yang ngurus gue, ga niat banget ya lo jadi temen."
"Aaa buka mulut lo yang yang lebar, app, pinter! Perlu kali Lin gue cuci mata, dokter Reyhan udah punya pacar belom ya, boleh deh ntar gue tanya si Yaris."
"Tuh kan, gue yang sakit lo yang dapet hikmahnya." goda Ralin.
"Belom juga ketahuan, ntar gue patah hati lo juga repot, Tuhan semoga dokter Reyhan jomblo, aamiiin."
"Ada yang do'ain saya jomblo ya?"
Detik itu juga Mega dan Ralin menghentikan obrolan mereka, Mega tersipu malu berusaha menyembunyikan wajahnya. Kedatangan dokter Reyhan yang tiba-tiba berhasil membuat wajah Mega memerah. Ralin tersenyum geli melihat sahabatnya yang mulai salah tingkah.
"Kedengaran lho suara do'anya sampai luar."
"Masa sih dok?" timpal Ralin.
"Serius." Jawab Reyhan meyakinkan.
"Syukur lho kalau dokter denger, temen saya ni punya cita-cita nikah sama dokter," ucap Ralin yang disambut Mega dengan memberi kode tangannya di silang. "Jadi Ega, ga perlu repot nanya ke Yaris, nanya aja ni sekarang ke orangnya, udah punya pacar belom dok? Temen saya daftar nih." Ralin semakin gencar menggoda Mega, "kurang baik apa gue udah jadi wakil lo nanya dokter Rey."
"Wah, parah lo Lin." ujar Mega sambil menahan malu.
"Saya masih jomblo kok."
"Jadi temen saya ini punya peluang dong dok?"
"Bisa di atur, yang penting pasiennya sembuh dulu." ucap dokter Reyhan yang kemudian memandang ke arah Mega sambil mengedipkan sebelah matanya.
Jangan ditanya betapa malunya Mega, rasanya jatungnya turun ke lambung, kepalanya jatuh ke lantai.
Ralin sialan, lagi sakit juga.
"Hebat ya pasiennya, udah bisa duduk, bisa miring kiri kanan juga kan?"
"Bisa dong dok, saya sih udah ser..." kalimat Ralin terhenti, "maksudnya saya pengen cepet keluar dari rumah sakit, biar bisa kerja lagi dok," lanjut Ralin, mungkin dokter Reyhan sudah tahu keadaannya tapi Ralin tidak mau menampakkan pengalamannya dulu.
Setelah dokter Rehan berlalu dari ruangan barulah Mega bisa bernapas lega. Sejak dokter Reyhan masuk, dia sudah sangat mati gaya.
"Ralin bener-bener deh lo, harga diri gue udah nyungsep ke lembah yang paling dalam tau ga."
"Yeee bilang aja lo seneng, tau statusnya dokter Rey, sekarang lo tinggal nunggu di ajak kencan, harusnya lo bilang makasih kali," papar Ralin.
"Iya tapi ga selugas itu kali lo ngomongnya, ah gimana sih, mulut lo mau gue pakein saringan."
"Bodo, gue tunggu traktiran lo, awas lo ga ngasih tau ntar kalo udah jadian!"
"Belum juga kejadian, main ngancem aja lo, eh kak Arya kok ga keliatan?"
"Kak Arya udah balik kerja, gue yang suruh, ga enak gue ngerepotin dia, gue suruh nyari uang yang banyak terus nikah."
"Emang udah ada calon?"
"Belom."
"Sama aja boong dong."
"Di kampung gue banyak, ntar Mamak gue yaang punya tugas."
"Kolot banget sih lo."
"Biarin, kalo nunggu kak Arya ga bakalan dapet-dapet, keluarga gue ga bakal dapat penerus...nya." Ralin menghentikan kalimatnya, lagi dia menyinggung dirinya sendiri.
Mega menangkap raut wajah sedih Ralin. "Udah udah, ga usah ngomongin jodoh lagi, Lin kayaknya gue laper nih, tapi pimengin makan burger, gue tinggal bentar ya, ga apa-apa?"
Ralin hanya mengangguk menyetujui ucapan Mega. "Lo mau gue beliin juga?"
"Boleh deh."
"Ok, jangan cemberut lagi, piisss!" Mega beranjak keluar dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Kini Ralin sendirian di ruangannya. Merasa suntuk akhirnya dia memutuskan mencoba turun dari tempat tidur melatih kakinya yang masih kaku agar bisa berjalan.
__ADS_1
'Bismillahirrohmanirrohim.'
Ketika menginjakkan kakinya di lantai, luka bekas jahitan operasinya masih terasa nyeri, "oke, pelan-pelan Ralin, kita bereskan hari ini, rumah sakit sama dengan kata menyebalkan.
Ralin menarik napas terlebih dahulu dan menghembuskannya, kaki kanannya ia angkat mengambil langkah pelan, sejengkal demi sejengkal, posisi Ralin kini empat langkah dari tempat tidurnya dan ketika hendak berbalik tiba-tiba "aaa.."
"Ralin!"
Ralin kehilangan keseimbangan, tubuhnya hampir terjatuh bertepatan saat Yaris masuk ke ruangannya, dengan sigap Yaris berlari meraih tubuh Ralin, posisi mereka kini Ralin memeluk tubuh Yaris agar bisa bertumpu.
"Aauu."
"Kenapa turun kalo masih sakit?" suara Yaris agak tinghi, Yaris berinisiatif menggendong Ralin untuk mengembalikannya ke tempat tidur tapi segera di cegah Ralin.
"Jangan, ga usah! Aku harus latihan jalan biar bisa pulang, kalo ga di latih jahitannya lama keringnya."
"Tapi kan masih sakit," sela Yaris.
"Kalo berbaring terus ga bakal sembuh," sanggah Ralin tak mau kalah.
Yaris hanya menggelengkan kepala, bener-bener ni cewek kepala batu batinnya.
"Ya udah, aku bantu."
"Ga us..."
"Ga ada, ato aku gendong, mau?"
"Apaan sih."
"Ya udah makanya sini aku bantu latihan jalannya."
Ralin hanya bisa pasrah, mau di lawan juga kondisinya masih lemah. Yaris memapah Ralin, sebelah tangan Ralin bertumpu pada tangan Yaris.
"Iiish." Ralin menggigit bibir bawahnya menahan nyeri luka jahitnya.
"Sakit ya?" tanya Yaris sedikit khawatir.
Ralin mengangguk.
"Kita ke sofa aja, aku mau duduk." ungkap Ralin sedikit ketus.
"Yakin?"
Ralin mengangguk pasti.
"hhhuuuuffft" Ralin membuang napas lega begitu berhasil mendarat di sofa.
"Kenapa nekat latihan sih, udah tau ga ada orang?"
"Justru karena ga ada orang, aku ga mau ada yang lihat."
"Tapi kalo kamu jatuh trus aku ga dateng itu gimana?"
"Kan kamu dateng, trus mau ngapain ke sini?"
"Ya jenguk kamu lah."
Seketika wajah Ralin merona, 'ga beres ini.'
"Ga perlu!"
"Perlu," tegas Yaris
"Kenapa harus perlu?"
"Karna kamu pacar aku sekarang," ucap Yaris dengan entengnya, tanpa beban.
"Enggak, aku ga ngerasa." Ralin benar-benar tidak suka Yaris mengklaim dirinya sebagai pasangan. Apa-apaan?
"Aku ngerasa." Yaris tak mau kalah.
"Aku ga pernah bilang setuju."
"Aku ga pernah minta persetujuan kamu dan ga perlu memang.
"Ga bisa."
__ADS_1
"Satu: Aku ga terima penolakan, dua: kamu ga ada pilihan selain sama aku, tiga: dua hari yang lalu sebelum kamu masuk ruang operasi itu hari official kita, titik," jelas Yaris, tegas tepatnya.
Yaris telah memutuskan untuk bertanggung jawab atas segala rasa sakit yang Ralin alami. Mungkin awalnya adalah simpati, urusan hati bisa menyusul.