
Ddddrrrt...dddrrrttt
"Telpon dari mamah nih." kontak Mama Ayu muncul di layar ponsel milik Yaris.
"Ya udah, cepetan angkat!"
"Hallo, Yaris kok kamu ga bilang-bilang sih udah balik ke Bandung? kenapa ga pulang ke rumah mamah? kamu ini gimana sih, sekarang kamunya di mana? kamu ngapain ke kantor, baru juga jadi pengantin, harusnya kamu temenin Ralin aja, mana mantu mama, mama mau ngomong?" suara cempreng setengah berteriak sang mamah hampir membuat telinga Yaris pengang.
"Mamah ih, satu-satu dong, kuping Yaris sakit nih."
"Kamu lagi di mana? Lagi sama Ralin ga?" tanya sang Mama lagi.
"Iya, ini lagi makan siang sama Ralin, Mamah ih kirain apaan," ketus Yaris.
"Kasihin telponnya ke mantu Mama!"
"Nih, geng cerewet kamu." Yaris memberikan ponselnya kepada Ralin.
Rakin senyum saja menerima ponsel suaminya.
"Hallo ma, ini Ralin."
"Aduuu mantu mamah, kamu udah makan belum? Yaris perlakukan kamu dengan baik ga? Kenapa ga pulang ke rumah mamah sih, sayang?"
"Yaris baik kok mah, kita lagi makan siang ni di luar, kemarin nyampe Bandungnya sore ma, jadi kita langsung istirahat."
"Mamah ga mau tahu, nanti malam kalian berdua pulang ke rumah ya, kita makan malam sama-sama, oke!"
"Iya mah, nanti malam kita ke rumah mama."
"Iya deh, kalo gitu mama tutup dulu ya, kamu baik-baik sama Yaris!"
"Iya, Ma."
"Kayaknya aku anak pungut deh, giliran sama kamu Mamah sayang-sayangan, kalo sama aku, ih amit-amitan." Yaris bergidik mengingat tingkah Mamanya yang kadang jutek tidak terkira.
"Hush, ngaco deh kamu."
Merekapun melanjutkan acara makan yang sempat tertunda.
"Yaris, is that you? yaa I'm right, my God it's very nice to meet you here darling, Yaris."
Tiba-tiba seorang wanita cantik, deng wajah blasteran dilengkapi bahasa Inggris yang fasih, menghampiri meja Yaris dan Ralin. Tanpa dipersilakan duduk, wanita itu menarik salah satu kursi yang kosong di depan Yaris. Tentu saja wajah kaget mereka tidak bisa disembunyikan. Terutama Ralin, sepertinya familiar dengan wajah wanita itu.
"Selly, ngapain kamu di sini?" tanya Yaris penuh penekanan. Jelas Yaris menunjukkan wajah tidak ramah.
'Selly...Selly Maria, iya benar, dia wanita yang aku lihat di majalah tadi,' batin Ralin.
"Of course I'm here for you. Aku di sini sejak dua bulan lalu. Aku udah coba telpon ke nomer hape kamu, tapi tidak aktif. Minggu lalu aku cari ke kantor kamu, but orang kantor bilang kamu ke luar daerah. And now we meet here, I'm so happy, it's destiny." ujarnya sambil meraih tangan Yaris, tapi Yaris lebih dulu menarik tangannya dengan cepat.
__ADS_1
Ralin yang duduk di samping sang suami, sedari tadi diam saja mengamati wanita yang bernama Selly itu sambil menikmati makanannya. Awal pertemuan ia masih berpikir positif, mungkin Selly adalah teman lama atau rekan bisnis Yaris seperti Niki. Mari kita lihat apa maunya mba-mba bule ini.
"Ck, ada perlu apa kamu nyari saya?" tanya Yaris dengan wajah tidak suka.
"Aku sekarang udah gabung dengan perusahaan daddy, but I can't focus, I always think about you, Yaris."
Ralin hampir tersedak tapi ia bisa tahan. Dari kalimatnya, jelas ini bukan sekedar hubungan teman.
"Would you please give me a chance, kita balikan lagi, we will be a great couple, kamu sebagai pengusaha muda dengan prestasi cemerlang dan aku pasanganmu, wanita karir yang sedang naik daun," dengan penuh percaya diri Selly mengungkapkan maksud dan tujuannya mencari Yaris.
Ralin yang mendengar kalimat-kalimat yang di ucapkan Selly sudah mulai panas, darahnya terasa naik menyerang otaknya, mungkin jika berkaca kini wajahnya sudah merah padam. Tapi ia mencoba sabar, menunggu reaksi Yaris menangani wanita ajaib blasteran ini.
"Sorry to say this Selly, I am marriage, and she is my wife and I will never ever interest to back with you even if I'm still single."
Skak mat
Ralin merasa puas dengan jawaban Yaris. Dia bersyukur tidak perlu turun tangan menangani wanita yang gaya bicaranya mirip mba Cinta Laura ini.
"Come on Yaris, you must be kidding me, look at her!" Selly menatap Ralin dengan tatapan merendahkan "I know she's not your type, don't denny!"
Sekarang Ralin mendidih. Asap panas mengepul di telinganya. Dia hanya tertawa kecil sambil membuang muka seolah mengejek. Cuih.
"Behave Selly!!! Tau apa kamu tentang tipe aku. I'm not in the mood to make a joke, leave!" nada bicara Yaris meninggi.
"Okay, I give you solution, you can devorce, I will waiting, I know you want me."
"Let me tell you something miss Selly Maria Willsen, I think you had a bad timing problem. We're just married couple days ago, kalo kata orang kami ini pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya, understood? Kalau mau godain suami saya, tunggu kah lamaan dikit sampai dia bosan dengan saya, tapi saya ga yakin kalau itu terjadi dalam waktu dekat, kemungkinan itu terjadi setelah kulit kamu keriput semua," Ralin memanasi.
"You..."
"I'm not done yet. For the first time I admire you, it was, a few minutes ago when I read your biography in the cheap bussiness magazine. Oh, kayaknya kamu bayar mahal wartawan itu buat nulis profil kamu yang ga seberapa itu, iya? hahaha...and now for me you're like a ***** which never get enough love from every single person in your life, include your parents. Don't they teach you how to respect a relation between someone?."
"How dare you!" Selly mulai emosi.
"Calm down, it's just the beginning!" ucap Ralin tenang.
"You just don't know about us, me and Yaris."
"I'm not interesting to know about you and my husband, one thing that I'm sure you are his pass but I'm his future." ucap Ralin dengan nada mengejek. 'Kamu ga tau galaknya wanita Sasak dasar ******.'
Yaris tersenyum melihat apa yang dilakukan Ralin, sekarang dia yang dikejutkan dengan sikap sang istri.
"Sooner or later Yaris will be mine."
"Talk with my hand," balas Ralin dengan mengangkat lebar telapak tangannya.
"I'll make sure you'll separate with him."
"Surprise me! Don't say you are a bussiness woman, seorang wanita karir terhormat tidak akan bertindak serendah ini, ngerti kamu!" ucap Ralin dengan nada penuh penekanan pada Selly. Matanya tidak ia lepas dari mata wanita yang katanya ingin merebut suaminya itu.
__ADS_1
Yaris hanya bisa memandang wajah Rali dari samping, dia tidak berani membayangkan wajah Ralin jika dia bisa melihatnya dari depan, betapa marahnya Ralin ketika ada orang yang terang-terangan ingin mengganggu rumah tangganya, dan lagi orang itu merendahkannya.
Satu hal penting ia catat di kepala, Ralin kalaunsedang marah terlihat makin...seksi.
Selly berdiri dari duduknya, dengan wajah memerah menahan marah matanya membulat sempurna menatap Ralin, merasa kalah akhirnya ia melangkahkan kaki meninggalkan meja Ralin dan Yaris.
Ketika Selly menengok kembali ke arah Ralin, dia sudah menduganya, Ralin melambaikan jari-jarinya dan mengucapkan kata 'bye' tanpa suara. Tentu saja maksudnya mengejek Selly.
Setelah Selly benar-benar menghilang dari pandangan mereka, Ralin mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan, segera diraihnya gelas berisi air putih dan diminumnya hingga kandas untuk menghilangkan gerah dan panas hatinya. Yaris hanya tertawa kecil melihat tingkah sang istri.
"Ga lucu tau ga," sewot Ralin melihat tawa Yaris. "Kamu nemu dimana monster gila itu?"
"Di kolong jembatan."
"Iiiih aku nanyanya serius." Ralin memukul pundak Yaris dengan kepalan tangan.
"Aww, sakit sayang."
"Makanya jawabnya yang bener!"
"Dia mantan aku dulu."
"Ooh, berapa lama?"
"Apanya?" Yaris pura-pura tidak paham maksud sang istri.
"Perlu aku perjelas?"
Yaris menghentikan kepura-puraannya "Empat tahunan mungkin."
"Ooo." Ralin membuat wajah seolah tidak peduli, padahal dalam hatinya menahan ngilu yang menjalarkan rasa sakit.
Yaris sudah menjadi miliknya sekarang tapi tetap saja Ralin menciut. Pantas Selly sangat percaya diri mengatakan padanya bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang hubungannya dengan Yaris, empat tahun bukan waktu yang sebentar, tentu banyak hal yang sudah mereka lalui, ditambah fisik Selly yang sangat sempurna menurut Ralin, tidak ada laki-laki yang tidak akan tertarik, sekarang Ralin mulai minder. Hatinya gelisah entah kenapa. Semoga Yaris ridak menyadari mata Ralin sudah mulai berkaca.
"Udah yuk, antar aku ke kedai!" pintanya mengalihkan perhatian.
Dengan cepat tangan Yaris menghentikan Ralin ketika akan bangun dari kursinya, dia mungkin tidak tahu isi kepala Ralin, tapi ia merasa kalau Ralin akan membuat jarak dengan dirinya, tentu saja Yaris tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Tunggu, aku bayar dulu!"
Tanpa melepaskan tangan Ralin, Yaris mengambil lembaran uang dalam dompetnya dan menyerahkan pada kasir tanpa meminta kembalian. Dia melangkah keluar menuju mobil dan menuntun Ralin masuk terlebih dahulu.
Segera dipeluknya tubuh mungil sang istri yang telah memperjuangkannya tadi. Ralin ingin menolak tapi ia takut kentara.
"Kamu kenapa?"
"Satu menit aja, seperti ini!" Yaris mengeratkan pelukannya. "Aku takut kamu bikin gap antara kita gara-gara ucapan Selly. Aku senang waktu kamu bilang dia masa lalu, dan kamu masa depanku. Apapun yang kamu dengar dari mulut dia tadi jangan jadikan beban pikiran, ngerti!" Yaris melepaskan pelukannya, dan beralih membingkai wajah Ralin dengan telapak tangannya, "dan terimakasih sudah berjuang untuk kita." Ralin hanya mengangguk dan sebuah kecupan mesra mendarat di keningnya membuat hati Ralin terasa hangat.
Ralin tidak bisa memungkiri mungkin Yaris punya masa lalu yang tidak ia ketahui dan bisa saja datang menghampiri mereka sewaktu-waktu. Setidaknya mereka telah terikat dengan hubungan yang sangat kuat, yaitu pernikahan. Ralin telah mempercayakan Yaris sebagai pemilik hatinya. Apapun yang menimpa hubungan mereka nanti, ia akan berusaha bertahan sekuat mungkin.
__ADS_1