
Ralin menggeliat, mencoba meregangkan badannya yang terasa kaku, dengan mata yang masih terpejam ia mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih berpencar. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya kamarnya yang temaram. Hingga ia menyadari bahwa perutnya menanggung sebuah beban yang tak lain adalah tangan Yaris. Tanpa berniat memindahkan tangan sang suami Ralin kemudian memiringkan badannya agar bisa dengan jelas melihat wajah Yaris. Wajah yang terlihat damai, masih menyatu dengan dunia mimpi.
Ralin memandang lekat wajah Yaris, ia tidak menyangkal wajah suaminya memang sangat tampan. Kulit yang bersih tanpa jerawat, alis tebal, mata yang indah, hidung mancung, dagu yang lancip dan rahang yang oval tapi tidak lebar. Tidak ada wanita yang akan menolak kehadirannya.
Ralin mengabsen satu persatu bagian wajah Yaris dengan tangannya sambil tersenyum. Untungnya Yaris tidak terganggu, ia masih saja terlelap meski tangan jahil Ralin menyentuh satu per satu bagian wajahnya.
Andai ia bisa melahirkan seorang anak dari benih suaminya, pasti anaknya akan tampan jika laki-laki dan cantik jika anaknya perempuan. Membayangkannya saja Ralin sangat bahagia. Terbersit rasa sedih mengingat angan-angannya yang mustahil, tapi Ralin segera menepisnya. Yaris sejauh ini sudah berusaha menerima ia apa adanya, bahkan mati-matian memberinya kebahagiaan tanpa menuntut apapun darinya. Ralin berjanji tidak akan merusak apa yang telah mereka bangun saat ini dengan kesedihan akan kekurangannya sebagai wanita yang tak bisa melahirkan. Ia tak henti-hentinya bersyukur atas kehadiran Yaris dalam hidupnya.
'Terima kasih' gumamnya dalam hati sembari mengecup ringan kening Yaris dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Seperti biasanya setiap pagi, setelah bangun tidur Ralin menyibukkan diri di dapur. Minggu-minggu ini adalah saat-saat terakhir ia memasak di dapur hijau apartemen mereka. Ia dan Yaris sudah berencana akan pindah ke rumah baru mereka minggu depan. 'Bakalan kangen dapur mungil ini.'
Hari ini Yaris berencana mengajak Ralin belanja untuk keperluan rumah baru yang akan mereka tempati. Ralin sebenarnya sudah mengusulkan agar mereka pindah ketika mereka telah resmi menjadi orang tua adopsi, tapi Yaris menolak. Alasannya agar mereka terbiasa dengan suasana rumah sehingga nanti saat anak bayi mereka bawa pulang tidak membuat mereka terasa di lingkungan yang asing. Ada benarnya juga, dan ia hanya menerima titah sang suami.
Masih merasakan pegal di beberapa bagian tubuh, Ralin berencana membuat sarapan sederhana saja. Roti bakar dengan isian telur, sayur selada dan keju lapis menjadi pilihannya.
***
"Sayang bangun!" Ralin berbisik di telinga Yaris bermaksud membangunkannya dari tidur.
"Ayo banguuuuun!" suara Ralin sedikit meninggi dan sekarang menjepit hidung Yaris dengan gemas.
"Hm, iya ni udah bangun." Yaris memutar badan dan kini membelakangi Ralin.
"Aku udah masak lho, masa..."
Kalimat Ralin terpotong oleh Yaris yang kemudian berbalik posisi dan kini mendaratkan kepalanya di paha Ralin.
"Lima meniiit aja." ujar Yaris dengan suara serak khas bangun tidur.
Ralin jadi serba salah, mau dipaksa, tidak enak hati mengingat Yaris beberapa hari ini lembur dan pulang larut, mau dibiarkan saja, keburu siang dan masakannya dingin. Ya sudahlah, dia kan bosnya.
Ralin membelai lembut rambut tebal suaminya, membuat Yaris merasa nyaman dan membenamkan wajahnya dalam perut sang istri, "kalau masih capek kita belanjanya lain waktu aja ya!"
"Jangan!! mumpung weekend sayang, besok-besok aku sibuk lagi jadi ga keburu."
"Tapi aku kasian kamunya, ga sempat istirahat."
"Ini udah istirahat yang paling berkwalitas, tidur di pangkuan istri, dimanjain lagi."
"Hmm, maunya."
"Tambah sepuluh menit lagi ya!"
Ralin tertawa melihat tingkah manja suami tersayangnya, "Iya, sejam juga ga apa-apa, ntar aku gebukin bantal."
***
"Kita ke bagian perlengkapan bayi dulu ya!"
Ralin tersentak mendengar permintaan Yaris, bahkan dia saja tak berpikir sampai sana. Yaris menarik tangan Ralin yang telah ia genggam sejak mereka turun dari mobil. Ada rasa haru yang menyerangnya melihat rasa antusias yang ditunjukkan suaminya.
'Pada anak adopsi saja dia sangat perhatian, apalagi kalau aku yang mengandung dan melahirkan anaknya.' batin Ralin.
"Eh, kita belum tahu lho anaknya cewek atau cowok." ucap Ralin yang kemudian menghentikan langkahnya.
"O iya ya, jadi gimana dong?"
__ADS_1
"Mmm, kalo gitu kita pilih warna yang netral aja."
"Ya udah deh, kamu yang pilih!"
Kali ini Yaris lebih banyak menyerahkan pilihan pada Ralin, Yaris lebih banyak manut, tidak seperti biasanya yang suka mendominasi. Tapi harus Yaris akui memang apa yang di pilih Ralin hampir sama persis dengan seleranya, meski kadang diskusi kecil sering terjadi karena Yaris ingin membeli barang yang tidak perlu.
"Ga ada lagi ni?" tanya Yaris yang duduk di salah satu kursi pajangan toko perlengkapan rumah itu.
"Udah cukup deh kayaknya, nanti biar designer interiornya yang lengkapin, pegel nih."
"Pegal ya, kamu duduk sini biar aku selesein pembayaran!" Yaris beranjak dari kursi dan membiarkan Ralin menggantikannya.
Ralin merentangkan tubuh mengurangi rasa pegal yang terasa di bagian kedua betisnya.
Tanpa ia sadari seorang wanita penjaga toko menghampirinya, "Mba kecapean ya?"
"Eh, maaf. Ga boleh ya duduk sini?"
"Oh, ga apa-apa, mbanya pasti cape dari tadi muter-muter padahal lagi hamil, saya jarang lho mba ketemu calon ibu belanja perlengkapan bayi tapi perutnya masih rata, banyak yang bilang pamali, tapi yah tergantung kepercayaan juga," cerocos si penjaga sambil memberi air putih pada Ralin.
Jleb
'Kamu kuat Ralin kamu harus kuat, tahaaan, sabaaar!'
Ralin hanya tersenyum mendengar kata-kata si penjaga toko, jauh dalam lubuk hatinya ia sudah menanamkan prinsip bahwa ia akan menutup mata, menutup telinga untuk mempertahankan sebuah rasa yang orang menyebutnya bahagia. Wal hasil sekarang ia kebal.
"Makasih airnya."
"Sama-sama." Si penjaga toko pun berlalu meninggalkn Ralin sendiri.
Yaris kembali setelah lima belas menit menyelesaikan proses pembayaran di kasir.
"Iya, besok baru bisa di kirim."
"Besok? kenapa?"
"Karena banyak."
"Ooo, abis ini kita kemana?"
"Kita kulineran ya." jawab Yaris dengan mata bebinar, "Udah lama lho kita di ga jalan sambil kulineran."
Ralin manggut-manggut sambil tersenyum, melihat Yaris sesantai ini ketika akhir pekan adalah hal langka. Kalau tidak sibuk membaca berkas kadang ia meeting on line dengan rekan kerja atau klien.
Yaris menghentikan mobilnya di sebuah tempat kuliner di tengah kota. Berbagai jenis makanan dan minuman di jajakan di tempat itu, mulai dari yang tradisional hingga modern, yang jadul sampai kekininian, yang orisinil sampai yang di inovasi tinggal di pilih sesuai keinginan.
Setelah memesan beberapa jenis makanan dan mendapat tempat duduk yang nyaman, Yaris mengambil ponsel memeriksa notificasi yang masuk, sedangkan Ralin sibuk mengamati tempat itu sembari mencari referensi karena Mega mengusulkannya membuka cabang kedai yang lebih besar.
"Besok temenin aku main tenis ya!"
"Kok tumben? Kenapa ga sama Davi?"
"Iya, yang ngajakin ni pak Zaki, investor licin, kalau cepet deal aku ladenin ngobrol, kalau lelet ya aku bilangin kamunya pengen cepet pulang."
"Ya Tuhan, jadinya aku mau kamu jadiin back up?"
"Bukan back up sayang, tapi plan B." Yaris terkekeh senang menggoda sang istri.
__ADS_1
Ralin mendaratkan cubitan kecil di lengan Yaris, "Iya sama aja."
"Dia minta ngajakin istri soalnya istrinya juga ikut sayang."
"Oooh, bilang kek."
Satu per satu makanan yang mereka pesan datang terhidang di atas meja. Visual makanan yang menarik di tambah aroma yang lezat membuat pasangan itu tergugah dan perut mereka juga sudah memberontak.
***
Hari sudah menjelang malam ketika Ralin dan Yaris tiba di apartemen. Tak jarang suara canda tawa mereka terdengar di sepanjang lorong sunyi tempat tinggal elit itu.
Setelah membersihkan diri, Ralin bermaksud akan mengecek persediaan makanan di kulkas, tapi niatnya terhenti karena dering ponselnya dan tertera kontak ibunya disana.
"Hallo mak!"
"..."
"Ralin, baik. Mamak sehat kan?"
"..."
"Syukurlah."
"..."
"Hah, masa? Kapan mak? Sama siapa?"
"..."
"Alhamdulillah, ya udah sekarang Ralin kasih tahu mas Yaris, mamak jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit, ddaah!"
"Siapa?" tanya Yaris sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Mamak, tadi nelpon ngasih tahu kak Arya mau lamaran."
"Hah? Kapan?"
"Bulan depan."
"Sama siapa?"
"Orang Lombok juga, temen sekolahnya dulu, mba Lale Lumbit Asoka." Jawab Ralin sedikit lemah.
"Kok kamu kayak ga seneng gitu?"
"Bukannya ga seneng, calonnya kak Arya punya darah bangsawan, gelarnya aja "Lale" lebih tinggi dari gelar "Baiq", prosesnya mungkin lebih banyak dan lebih lama dari pernikahan kita. Jadi....."
"Jadi apa, kok gantung?"
"Mungkin kita batal ke Inggris."
"Batal?" wajah Yaris memelas bercampur kecewa dan sedih. "Aaaaaaaaakh."
"Jangan protes, nanti aku ganti."
"Ganti apa?"
__ADS_1
"Ada deh." jawab Ralin penuh misteri dan meninggalkan Yaris yang menghentak-hentakkan kaki di tempat tidur.