
Mobil yang di kendarai Yaris memasuki halaman rumah orang tuanya, rumah yang beberapa minggu ini ia tidak pernah kunjungi dan sekarang ia datang mengobati rasa rindu wanita yang sangat ia sayangi.
"Yaris Mawwali Sa'id, akhirnya ya kamu datang ke rumah ini!"
"Mamah, gimana kabar? Yaris juga kangen mah." Yaris memeluk sang mama dengan manja.
"Jangan manja gitu ih, malu tau sama umur."
"Biarin." jawab Yaris cuek. "Davi mana?"
"Ada di kamar, sebentar juga turun." Yaris dan Mamanya bejalan berpelukan menuju ruang makan. Hubungan ibu dan anak itu memang sangat dekat, hanya saja kesibukan membuat mereka jarang bertemu. Yaris memilih tinggal di apartemen karena merasa sudah dewasa dan butuh privasi. Meski awalnya di tentang sang Mama habis-habisan.
Tidak lama kemudian sang ayah keluar dari ruang baca, Yaris segera menyalami sebagai bentuk hormatnya. Davi adiknya juga turun dari kamarnya yang terletak si lantai dua.
"Hai, kak!" sapa Davi pada kakanya.
"Udah baikan kamu?"
"Seperti yang kakak lihat." Davi menunjukkan keadaan dirinya yang telah membaik setelah kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Merekapun berkumpul di ruang makan menikmati hidangan yang sudah di siapkan sang Mama. Yaris menceritakan kesibukannya di perusahaan dan ayahnya memberitahukan pada mereka bahwa ia telah memutuskan untuk segera pensiun dan menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Yaris. Davi masih enggan bergabung bekerja dengan sang kakak karena ingin melanjutkan S2nya di luar negri.
Setelah makan malam selesai, mereka menuju ruang keluarga. Kali ini Yaris yang minta karena ada yang ingin ia sampaikan. Davi dibebaskan memilih mau bergabung atau tidak dan tentu saja ia memilih kembali ke kamarnya.
Yaris mengawalinya dengan pertanyaan seputar kecelakaan yang menimpa sang ayah dan Ralin tiga tahun yang lalu. Saat dirinya masih berada di luar negri.
"Itu kecelakaan biasa sayang, apa yang istimewa dari kecelakaan itu?" tanya wanita yang Yaris panggil Mama, seperti ingin menyembunyikan sesuatu.
"Memang kecelakaan biasa mah, yang menjadi korbannya yang ga biasa. Papa sama mamah udah tahu kan siapa korbannya, jangan sembunyikan lagi dari Yaris!"
Kedua orang tua Yaris saling berpandangan seolah bersepakat untuk suatu hal. Toh, cepat atau lambat Yaris pasti akan mengetahuinya, atau bahkan sudah dan hanya butuh penegasan saat ini. Keluarga mereka akrab dengan selidik menyelidik untuk masalah tertentu.
"Kamu benar, korban dari kecelakaan itu memang ga biasa. Korbannya adalah anak teman papa, namanya Ralin Aninta Wahyu, anak dari Tamrin Wahyu. Waktu itu papa dalam perjalanan pulang dari proyek. Karena tidak tidur semalaman papa ceroboh saat mengemudi dalam keadaan mengantuk. Papa melaju dengan kecepatan tinggi maksud papa agar bisa secepatnya tiba di hotel dan istirahat. Tapi nahasnya, papa nabrak Ralin yang waktu itu pakai sepeda motor mau melaksanakan praktik lapangan untuk kepentingan kuliahnya. Ralin terpental dan jatuh ke dasar jurang, mobil papa oleng menabrak tiang listrik, lumayan keras."
"Kejadiannya di daerah Pusuk, Lombok Utara. Daerah itu memang rawan dan curam. Ralin mungkin beruntung bisa selamat karena segera di evakuasi, tapi luka yang ia alami...." Ayah Yaris hampir tidak bisa melanjutkan ceritanya, mengingat kejadian itu sangat mengerikan, "Ralin sempat tersangkut di senuah batang pohon sebelum terjatuh ke tepi jurang."
Dan itu baru cerita seputar kecelakaan, berhasil membuat Yaris menahan napas beberapa kali.
"Beberapa tulang rusuknya patah, pendarahan hebat di kepala, entah luka apalagi, tapi yang paling fatal, gara-gara kecelakaan itu rahimnya harus di angkat. Istimewanya gadis itu bisa melewati keadaan yang begitu parah. Papa hampir ga berani menampakkan diri di depan Om Tamrin, tapi Om Tamrin sebaliknya. Dia yang lebih dulu menemui papa ketika dirawat, tidak menuntut apapun dan memilih berdamai."
__ADS_1
Bisakah Yaris menyebut ini berkah? Keluarganya tidak di tuntut atas kecelakaan yang luar biasa. Rasanya tidak berlebihan jika Yaris menganggap ayah Ralin Malaikat.
"Ketika om Tamrin mengabarkan Ralin ingin pindah ke sini, Papa sudah mengawasi sejak dia baru datang. Segala kegiatannya Papa pantau termasuk kegiatan amalnya di panti. Jatuh bangunnya mengawali hidup. Papa sempat mengusulkan agar Ralin tinggal di sini, kerja di perusahaan, tapi Om Tamrin mewanti-wanti Ralin jangan sampai tahu dirinya di awasi karena tujuannya pindah adalah untuk ketenangan. mengasingkan diri. Menghindari orang yang tahu kelemahannya dan masa lalunya. Ralin menghindari gunjingan dan omongan orang tentang kekurangannya. Terlebih lagi Ralin tidak suka kalau ada yang mengasihinya."
Yaris tertegun mendengar cerita sang ayah, rasa kagumnya bertambah pada gadis keras kepala itu. Sadarkah dia telah melalui hal yang sangat luar biasa?
"Apa Papa tahu kalau Ralin juga yang menolong Davi waktu kecelakaan tempo hari?"
"Yang benar kamu, Yaris? tanya Mamany dengan wajah dan suara terkejut. Ayahnya membuang napas kasar.
"Itu hasil penyelidikkan Yaris Pa, Ma, dan sekarang Ralin sedang di rawat."
"Kenapa? Kenapa dia Yaris?" tanya ayahnya tak kalah kaget.
"Asam lambung akut, dua hari yang lalu sudah di ambil tindakan untuk mencegah kondisinya agar tidak semakin parah."
" Ya Tuhan Ralin, kenapa kamu ga bilang sama Mama sih Ris?"
"Ini Yaris cerita. Mamah tenang dulu, sekarang Ralin sudah stabil dan dalam masa penyembuhan, tadi Yaris udah jengukin."
"Syukurlah, kalo gitu besok mamah juga mau tengok dia," ayahnya Yaris mengangguk setuju. Tuan Sa'id berpikir lagi, bagaimana caranya agar gadis itu bisa memasuki rumahnya.
"Satu lagi Ma, Pa, Yaris ingin memberitahukan sesuatu, Yaris harap Mama dan Papa sependapat sama Yaris."
Kedua orang tua Yaris terkejut bukan main, terutama sang Mama yang wajahnya ssketika berubah cerah, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Kamu serius kan sayang? Kamu ga main-main kan?" tanya Mamanya memastikan.
"Kalo ga serius Yaris ga akan ngomong Ma."
"Pa, Ralin jadi calon mantu kita," ungkap Mama Ayu sambil senyum kegirangan.
"Tapi nak Ralin udah setuju belum?" ayah Yaris menyela.
"Itu dia Pa, Ralin belum sepenuhnya nerima Yaris, dia keras kepala."
"Itu tantangan buat kamu, paham?"
"Pokoknya Mama ga mau tau, kamu harus jadiin Ralin mantu Mama, titik."
__ADS_1
"Iya iya, Mama ih." Mendengar kalimat penegasan itu Yaris tidak tahan untuk memutar bola netranya.
"Sejak kapan kamu kenal sama Ralin?" tanya Mamanya penuh selidik.
"Hmmm."
"Dia tuh mah yang bikin repot Ralin berhentiin donasi kita ke panti." jawab Tuan Sa'id spontan.
"Jangan-jangan itu juga yang bikin Ralin sakit ya, iya ngaku!" paksa sang mama.
"Mama ih anaknya kok ga di bela?"
"Ngapain mamah bela, sini Mama jewer...."
Hubungan Yaris dan ayahnya pun mencair, tidak kaku seperti sebelumnya. Ralin mungkin memiliki unsur magis. Makan malam itu berakhir manis setelah meraka membahas perihal gadis itu, di luar dugaan Yaris.
***
"Lin, gue ikut seneng buat lo."
"Untuk?"
"Lo mau kan ngebuka hati lo buat Yaris, gue bisa lihat dia tulus."
"Apa lo pikir Yaris pantas dapetin gue? Gue emang yakin dia orang baik jadi dia berhak dapat cewek yang lebih baik Ga."
"Kenapa lo mikir gitu?"
"Lo tahu jawabannya. Kalaupun dia tulus, berapa lama sih ketulusannya akan bertahan setelah tahu keadaan gue sebenarnya, sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun? Entahlah Ga. Hati bisa berubah dalam sekejap kerlingan mata. Lagi puka siapa yang bisa tau jenis perasaan Yaris sama gue, cinta atau prihatin."
"Gimana kalo dia serius mau jadiin lo istrinya?"
"Hhuuufft" Ralin menghempaskan nafas gusar, "tau nggak pertanyaan lo itu sama artinya dengan lo nanya ke gue apa gue bisa ngasih Yaris keturunan yang jawabannya mustahil?" tanpa Ralin sadari air matanya deras mengalir. pertanyaan dari Mega sukses membuat sisi lemahnya keluar. Ralin memang selalu terlihat tegar tapi dia sebenarnya serapuh kristal.
"Lo jangan nangis, gue minta maaf ya!"
Mega terpaku mendengar jawaban Ralin dia segera mematikan ponselnya.
Tanpa Ralin sadari, Yaris mendengar setiap jawaban yang dikeluarkan Ralin melalui sambungan telephone. Pertanyaan yang diajukan Mega tadi memang atas permintaan Yaris dan Mega membantu Yaris agar bisa mendengar jawabannya langsung.
__ADS_1
'I'llgot you Ralin Aninta Wahyu.'
"Bantuin gue, lepas dari dia, gue ga mau ada orang yang ikut terjebak dengan situasi yang gue alami, kita mulai hari ini, gue mau pindah kamar."