Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Ketika Mata Bertemu


__ADS_3

"Mba Raaaliiin paket" terdengar suara cempreng Aa' Sitar si pengantar paket langganan Ralin dari luar pintu kedai kopinya.


"Iya, sebentar A'.


Ralin keluar dari kedai menghampiri pak Sitar. Sambil menyodorkan kwitansi bukti penerimaan paket, mulailah Sitar melancarkn aksi rayu mautnya kepada Ralin.


"Neng Ralin, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah A' sehat, Aa' gimana?


"Aa' kalo datang kesini pasti sehat neng, tau ga kenapa?"


"Ga tau" Ralin mencoba ramah dengan meladeni asal rayuan tukang paket itu.


"Karena neng Ralin telah meng-olahragakan hatiku, eeeeaaaaa."


"Hahaha, garing A' tapi tambah pinter ya rayunya, cocok deh jadi palawak".


"Asal neng Ralin bisa saya bikin ketawa, saya rela jadi pelawak seumur hidup."


"Jangan demi saya atu A', niatkan untuk kehidupan yang lebih baik, gitu A'."


"Kalo sama neng Ralin hidup saya baik selalu, apalagi kalo saya minum kopi kedainya."


"Hahahaha...modus ya a', kasian lho mba Niken di rumah, kalo mau kopi ambil aja langsung a', ga usah pake gombal segala."


"Namanya juga usaha neng."


Pak Sitar membantu Ralin memasukkan paket yang baru dibawanya. Ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap bulan, Ralin memesan kopi dari kampung halamannya, Lombok, yang menjadi menu minuman utama di kedai kecil miliknya. Kopi yang di pesan Ralin memang kopi yang sudah siap seduh, tapi tidak seperti kopi instan pada umumnya. Kopi kedai Ralin merupakan kopi khas Lombok yang tumbuh, di panen dan di olah langsung oleh petani setempat.


Kopi yang dipilih Ralin untuk di jual di kedainya yaitu Kopi Sasak Liseng. Kopi ini di buat oleh masyarakat desa Krumut, Lombok Timur. Tidak banyak orang yang tau jenis kopi ini karena di Lombok, kopi ini hanya untuk dikonsumsi sendiri. Itulah yang menjadi keunikan dari kedai kopi Ralin, menawarkan rasa kopi yang berbeda dari tempat lain sehingga pelanggannya selalu kembali demi mencicipi kopi yang tidak biasa ini.


50 bungkus kopi Liseng siap di jajakan di kedai Ralin. Selain kopi, tentu saja Ralin menyediakan varian minuman lain dan beberapa varian cake dan makanan untuk dinikmati pelanggannya.


"Taruh di tempat biasa ya A'."


"Siap neng."


Suasana di kedai Ralin masih sepi, karena memang masih pagi. Tapi kadang beberapa orang yang biasa lewat kedainya mampir untuk membeli kopi sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke tempat aktivitas. Saat itu 2 orang pegawai Ralin belum datang, jadilah dia yang membuka kedai pagi itu. Tiba-tiba suara pintu kedai terdengar di buka.


Sesosok pria berkacamata memasuki kedai.


"Selamat pagi."


"Pagi. Silahkan, mau pesan apa, Mas?" sapa Ralin ramah.


"Mba pegawai baru ya?"


"Hah?!"

__ADS_1


Ralin terkejut mendengar pernyataan laki-laki tersebut. Begitupun Sitar yang baru keluar setelah menyimpan kopi di dalam gudang. Sempat bengong akhirnya Ralin segera menjawab.


"Oh-iya, eh tapi bukan, saya disini...."


" Walah mas masa ga tau, ini si empunya kedai ini." Sitar akhinya menimpali, melihat Ralin kagok menghadapi pembeli pria, Sitar tahu Ralin tidak biasa.


"Oh, maaf saya kira pegawai baru, biasanya saya datang pagi ke sini, tapi ga pernah liat Mba."


"Saya memang jarang di kedai, mungkin maksudnya Intan atau Riko." Ralin sedikit menjelaskan kesalahfahaman yang terjadi. Memang begitu kenyataannya, Ralin termasuk jarang terjun langsung melayani pelanggan, dia lebih banyak berperan di belakang layar.


Ralin sangat sadar, usahanya paling banyak diminati kaum Adam. Lawan jenis yang sangat ia hindari, tapi mau bagaimana lagi, dari pengamatannya nisnis inilah yang paling menjanjikan. Dari usahanya Ralin mampu menopang hidupnya sendiri dan memiliki karyawan.


"Neng Ralin, aa' Sitar pamit dulu, matur nuwun kopinya." Sitar pergi meninggalka Ralin dan pelanggannya.


"Sama-sama A'."


Pintu kedai di buka lagi, dengan langkah tergesa- gesa dan wajah setengah khawatir seorang wanita muda memasuki kedai Ralin.


"Mba Ralin,, maaf aku terlambat ya, tadi ke kampus dulu serahkan tugas ke dosen aku," Ralin mengangguk maklum, " eh, ada pak Daning," sambung Intan lagi, setelah menyadari ada orang selain bosnya di sana.


"Pagi Intan."


"Selamat pagi pak, kopinya seperti biasa ya?" tebak Intan.


"Iya, gulanya seperempat sendok."


"Tan,,,kopinya udah dateng ya, ada di gudang." Ralin setengah berteriak memberi tahu Intan karena takut Intan tidak mendengarnya.


"Siap mba, dicopy," jawab Intan


"Kalo ada bahan yang habis nanti di catat ya, serahkan ke mba Mega " titah Ralin kepada Intan. Ralin telah menyerahkan sebagian urusan kedai kepada Mega yang telah ia angkat sebagai manajer kedainya, ia hanya memantau dan membantu pemesanan kopi dari Lombok saja, sisanya Megalah yang bertanggung jawab.


"Perkenalkan saya Daning." Tiba - tiba Daning menyela pembicaraan Ralin dan Intan. Ralin refleks menoleh pada Daning yang hampir ia lupakan keberadaannnya, mata mereka bertemu, segurat senyum diciptakan Daning pada bibir merahnya.


Dengan nada datar Ralin membalas perkenalan Daning. "Ralin, kalu ada yang mau dipesan lagi silahkan sama Intan, maaf atas ketidaknyamanan tadi, kami memang biasa buka lebih awal, tapi...."


"Ga apa-apa,saya mengerti. Kebetulan saya juga dosennya Intan, jadi saya tahu betul sekarang dia sibuk karena sudah semester akhir."


"Kalau begitu saya permisi."


Belum sempat Ralin melangkahkan kaki hendak meninggalkan Daning secara spontan Daning berujar, "maaf, mba Ralin sudah menikah atau belum punya pasangan?" tanpa basa basi Daning menanyakan status Ralin yang baginya sangat privasi.


Sebenarnya Ralin sudah sering di tanyai masalah seperti itu, tapi saat ini dia sedang tidak ingin ruang privasinya diketahui lebih banyak orang lain lagi.


Seketika Ralin menoleh pada Daning, bola mata mereka kembali beradu, Ralin mulai memahami tujuan Daning, hal yang begitu sangat ia hindari, begitupun Intan yang tidak sengaja mendengar percakapan itu sedikit kaget dengan ucapan dosennya.


Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, Ralin membalas ucapan Daning, "maaf, saya permisi," begitu saja, Ralin rasanya muak.


Ralin pergi meninggalkan Daning yang masih penuh tanda tanya, entah bisikan dari mana Daning ingin mendekati Ralin. Pesona yang dimiliki Ralin sangat memikat Daning. Daning mungkin sudah sering datang mengunjungi kedai itu, tapi baru kali ini bertemu dengan Ralin langsung karena memang Ralin lebih banyak menghabiskan waktu di panti, atau hanya diam di kamar membaca novel misteri kesukaannya.

__ADS_1


"Ehemmm pak, ini kopinya." Intan menyodorkan kopi pesanan Daning. Kemudia Daning mengeluarkan uang seratus ribu untuk membayar pesanannya.


"Terima kasih, simpan kembalinya, dan Intan sepertinya kamu punya urusan dengan saya."


"Hah?!, urusan ya pak?" buset dah ini anugerah ato musibah Intan membatin, Intan sangat mengerti maksud kata "urusan" yang diucapkan Daning, akan jadi anugerah kalau pak Daning barangkali mau memberinya nilai tambahan karena rasa kopi buatannya enak, tapi akan jadi musibah juga kalau pak Daning berniat mengulik info tentang mba Ralin. GAWAT!


"Temui saya di kampus sore ini setelah kamu ganti shift." Setelah mengucapkan kalimat titah tersebut Daning pergi meninggalkan kedai. Intan hanya bisa melongo memutar otaknya merangkai kata menjadi kalimat yang tepat untuk disampaikan pada dosennya nanti.


Merasa serba salah, Intan menjadi tidak fokus bekerja hari itu gegara kejadian ajaib yang diciptakan dosennya. Takut tidak bisa memberi jawaban yang tepat untuk sang dosen, di sisi lain dia tahu betul atasannya, Ralin Aninta Wahyu, tipe orang yang tidak suka seseorang "kepo" tetang kehidupannya, apalagi dengan lawan jenis. "Mamfus eyke", Intan merutuki nasibnya nanti.


"Mba yu Intan, kenapa bengong terus dari tadi?" Suara Mega membuyarkan pikiran Intan saat itu juga.


"Masih mau kerja ga sih mbak yu, itu meja delapan udah kosong dari tadi minta diberesin, lho. Bengong lagi gaji mu aku potong ya, mau?"


"My pretty manajer mba Ega, help me!!!"


"Ogah, ngapain? kalo minta pinjam uang lagi buat beli skincare, maap maap ya emmoh aku."


"Iiiiish su'udzonnya mba Ega ni udah akut deh."


"Lha terus?"


"Mba Ralin, ada di atas ga?"


"Udah berangkat ke panti, lagian apa hubungannya sih bawa - bawa Ralin segala."


"Aduuuuu mba masa depan saya bergantung sama mba Ralin juga nih."


"Intaaaaan apa sih muter-muter kamu ngomongnya, ga ngerti aku tu, mau di tolong ga?" dengan nada yang dinaikkan 4 oktav Mega mengomeli bawahannya yang sudah dianggap seperti adik sendiri. Untungnya kedai masih sepi jadi tidak ada pandangan menghakimi biarpun mereka bicara melebihi speker surau.


"Iya iya ini sekarang aku cerita...." mengalirlah Intan menceritakan segala kejadian yang terjadi di kedai pagi itu, termasuk instingnya yang mencurigai pak Daning, dosennya sendiri, yang mungkin tertarik dengan atasannya, Ralin.


"Gimana dong mba,, satunya bosku satunya dosennku." Nada intan semakin terdengar putus asa.


"Ok, kita simpulkan dulu." Mega mulai buka suara, "kalau kamu tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan pada dosenmu, kemungkinan dan bisa jadi nanti beliau mempersulitmu untuk urusan kampus, apalagi kamu mau skripsian. Kalo begitu kamu bawa sesajen aja, apa yang beliau suka, bawain kopi kek apa kek buat mengalihkan perhatiannya jadi dia ga terlalu ngeh gitu kalo kamu jawabnya kurang memuaskan. Tapi nanti kalo Ralin tau ada orang asing yang mengetahui informasi tentang pribadinya, anggaplah itu Daning yang menjadi tersangka, udah pasti kamu dalam bahaya untuk urusan kerjaan Tan. Siap-siap aja di sidang Ralin duluan sebelum sidang skripsi, itung-itung latihan, lumayan kan?"


"Aaaaaaaaaaa mba Ega katanya mau bantuin kok malah nakutin sih."


"Kan udah aku bantuin."


"Yang mananya?"


"Yang bawa sesajen kan itu saranku."


" Mba Ega seriuuuuus."


"Iya aku serius, lagian hadapi aja dulu, belum juga kejadian, siapa tau tu dosen maksudnya beda, kalopun instingmu benar ya jawab aja seadanya, jangan lebih jangan kurang, Ralin juga ga bisa selamaanya sendiri, syukur -syukur sekarang ada yang tertarik, saya juga pengen lihat reaksi Ralin kalo marah kayak gimana, seumur-umur jadi sahabatnya saya belum pernah lihat dia marah, ntar aku kasi kamu selamat jadi orang pertama yang di marahi Ralin, aku bikinin piagam yah.


" Mba Egaaaaaaaaa...."

__ADS_1


__ADS_2