Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Miss R


__ADS_3

Tepat pukul 2 siang Ralin tiba di panti asuhan yang telah menjadi rumah keduanya. Setelah turun dari mobil, Ralin membuka bagasi dan mengambil barang-barang yang telah ia siapkan sejak kemarin. Dalam kardus berukuran sedang itu ada buku cerita, crayon, buku mewarnai dan beberapa lusin buku tulis yang akan dia hadiahi untuk anak-anak panti.


Dengan wajah ceria dan senyum yang tak pernah berhenti mengembang Ralin melangkahkan kakinya menuju ruangan ibu kepala panti, bunda Diah, begitu ia biasa memanggilnya.


"Assalamu'alaikum , bunda."


"Wa'alaikumsalam nak Ralin. Baru sampai ya? Ini bawa hadiah lagi?"


"Iya Bun."


"Aduh bunda jadi ga enak lho nak Ralin kalo ke panti tangannya ga pernah kosong."


"Kalo tangan saya kosong malah saya yang ga enak lho bun, udah kebiasaan." Ralin tersenyum kepada wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini. Bunda Diah sudah Ralin anggap seperti mamaknya (panggilan Ralin untuk ibunya). Jika ia merindukan orang tuanya dia tidak akan segan datang ke panti hanya untuk sekedar ngobrol dengan bunda Diah, menceritakan kegiatannya atau bertukar pikiran tentang kehidupan. Bunda Diah juga tidak segan kepada Ralin, jika gadis itu meminta pendapat atau nasehatnya ia akan mengutarakan apa yang dia rasa baik untuk Ralin.


"Nak Ralin, udah tau belum kita kedatangan anggota keluarga baru," bunda Diah memulai obrolannya dengan Ralin.


"Oh ya? Siapa bun? Masih bayi atau udah gede?"


"Masih bayi, baby Dinar, umurnya mungkin baru 2 hari, dia ditemukan di dalam surau belakang panti."


Ada hentakan keras yang dirasakan jantung Ralin mendengar ada bayi yang tega dibuang oleh orang tuanya. Entah setan apa yang merasuki orang tersebut sehingga melepaskan tanggung jawab yang telah diberikan penciptanya. Ralin merasa kesal, sedih melanda pikirannya. Kalau memang tidak ingin bertanggung jawab, kenapa mereka berbuat? Kenapa tidak memikirkan konsekuensi yang akan mereka hadapi? Dan sekarang dengan seenaknya mereka lari dari kenyataan.


"Sekarang baby Dinar dimana, bun?"


"Di ruang Cempaka, masih dirawat sama bu Riska."


"Nanti Ralin kesana jenguk baby D, setelah ngasih hadiah ini ke anak-anak."


"Silakan! Oh iya satu lagi nak Ralin, hari ini donatur terbesar panti mau datang, nanti kalau ada waktu nak Ralin bisa bantu bunda ajak pak Yaris keliling panti, Bunda minta tolong, soalnya lagi ribet ngurusin surat-surat buat keperluan anak-anak yang mau daftar sekolah."


"Siap Bun. Bunda tenang aja, biar nanti Ralinbyang tangani, Ralin ke ruangan anak-anak dulu ya."


****


"Sabar sayang, semua kebagian." Seperti semut yang mengerubuti gula, begitulah keadaan Ralin sekarang. Anak-anak itu berebut ingin mendapat barang yang di bawa Ralin secepatnya, mungkin bagi anak-anak lain barang seperti crayon dan buku mewarnai bukanlah barang mewah, tapi bagi anak-anak panti benda itu menjadi barang paling "wah" yang mereka miliki. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka, itulah kepuasan batin yang dirasakan Ralin, kebahagiaan anak-anak panti itu menjadi sumber kepuasan hatinya.


" Miss R, " tangan Ralin tiba-tiba ditarik oleh tangan mungil Evi, salah satu anak paling kecil di panti.


"Kenapa Evi sayang, kok mukanya di tekuk gitu, ga suka ya sama hadiah Miss R?" Wajah Ralin yang sarat senyum bersejajar dengan wajah Evi. Ralin melihat ada kesedihat di mata anak itu.


"Suka,, tapi Evi mau hadiah yang lain." anak kecil itu menjawab Ralin takut dan dengan wajah polosnya, "hari ini Evi ulang tahun," ujarnya malu dengan wajah tenggelam.


"Astaga, Miss R lupa, maaf ya! Evi mau hadiah apa?"


Sambil menarik badan Ralin yang sejajar dengan badannya, Evi menyondongkan wajah agar bisa berbisik di telinga Ralin. "Oh, gampang, siap boss." Ralin memberi hormat sambil mengurai senyum pada Evi menyanggupi permintaan yang dibisikannya tadi. "Tapi Miss R bawa hadiahnya besok ya, boleh kan? Hari ini kita mewarnai dulu."


"Ok, siap Miss."


Ralin mengarahkan anak-anak ke mejanya masing-masing dan membolehkan anak-anak itu mulai mewarnai bukunya masing-masing. Semua mulai sibuk melakukan kegiatan sendiri. Ruangan itu sedikit hening, hanya beberapa anak sedang berbisik. Semudah itu membuat anak-anak yang kurang beruntung itu senang dan memberi mereka bahagia.


"Mba Yas, aku tinggal anak-anak ya, pengen lihat baby Dinar." Ralin berpamitan pada wanita yang mengawasi anak-anak di ruangan itu.


"Ya mba Ralin, silakan, anak-anak biar sama saya."


Belum sampai keluar dari ruangan, getaran ponsel dari saku Ralin membuatnya menghentikan langkahnya. Ralin segera menggeser tombol hijau.


"Iya bun?"


....


"Oh udah datang ya? Ralin ke sana sekarang."

__ADS_1


Ralin sedikit kecewa karena niatnya menjenguk baby D harus tertunda karena bunda Diah membutuhkan bantuannya menjadi tour guide sang donatur yang ternyata sudah datang. Semoga saja kali ini dia bisa memegang kendali keadaan. Biasanya donatur akan banyak bertanya tentang banyak hal, terutama tentang pengelolaan keuangan. Meski bukan otoritasnya, kadang Ralin bisa menjawab mengenai berbagai masalah itu.


***


"Pak Yaris..."


"Tolong jangan panggil "pak", panggil nama aja Bun."


"Kalau begitu saya panggil nak Yaris saja ya," sejenak bunda Diah mejeda kalimatnya, "Nak Yaris yakin mau berhenti menjadi donatur panti? Padahal kami masih sangat membutuhkan bantuan perusahaan nak Yaris untuk kebutuhan anak-anak." Tersirat nada khawatir dari suara Bunda Diah, juga merasa tidak senang dengan berita yang baru ia dengar.


"Keputusannya belum final Bun, karena itu saya datang kemari untuk memastikan apa mungkin bisa saya batalkan."


"Mohon dipertimbangkan lagi nak Yaris." bunda Diah sedikit terkejut mendengar pernyataan dari Yaris Mawali Said, yang ingin menghentikan donasi perusahaannya untuk panti asuhan itu karena alasan yang belum jelas. Donasi dari perusahaan Yaris adalah sumber dana terbesar panti selain sumbangan dari para donatur lainnya. Padahal ketika ayahnya masih memimpin perusahaan itu, tidak pernah sekalipun Tuan Said meliburkan perusahaannya memberikan donasi. Mengingat hal itu kepala bunda Diah jadi pusing.


Suara ketukan memaksa Yaris dan Bunda Diah menoleh, Ralin berdiri di sana dengan senyum ramahnya.


"Permisi, Bunda."


"Nak Ralin, silakan masuk." Ralin memasuki ruangan.dengan perasaan gugup, ia tidak menyangka kalau donatur itu seorang laki-laki, "duduk dulu nak Ralin!"


Ralin mengambil posisi duduk berseberangan dengan Yaris, tepatnya di sebelah Bunda Diaj.


"Nak Yaris kenalkan ini nak Ralin, salah satu relawan kami."


Yaris mengajukan tangan kanannya hendak menjabat tangan Ralin, tapi dengan cepat Ralin menyatukan telapak di depan dada, kemudian mengangguk sebagai salam perkenalan. Melihat tingkah Ralin, Yatis menarik kembali tangannya dengan senyum kaku.


"Nak Ralin, bunda minta tolong ya ajak Pak Yaris berkeliling panti, ini kunjungan pertama beliau." Ralin hanya mengangguk menyanggupi. "Nak Yaris kalau ada yang mau ditanyakan silahkan tanya Mba Ralin, beliau sudah lama jadi relawan di sini cukup lama, jadi sudah tahu seluk beluk panti," sambung Bunda Diah.


"Mau mjlai sekarang?" tanya Ralin ramah.


"Boleh, waktu saya ga banyak," jawab Yaris dengan suara berat dan sedikit angkuh.


"Mari, silakan." Ralin berusaha seramah mungkin meski tahu Yatis menunjikkan sikap angkuh, dia sangat sadar siapa yang dia hadapi sekarang. Berusaha untuk tidak grogi karena harus berinteraksi dengan lawan jenis yang masih asing baginya. Mereka berjalan bersisian, sesekali Yaris mencuri pandang pada Ralin.


"Saya tahu," Yaris memotong cepat.


"Hah?"


"Tu, ada tulisannya."


Baiklah, sepertinya tidak perlu terlampau bicara formal lagi dengan tuan muda ini.


"Ini ruang belajar, di sebelahnya lagi ruang makan, selanjutnya dapur, ruang istirahat pegawai, kamar tidur anak-anak, dan kamar bay..."


"Mba Raliiiiin, cepet ke sini, baby D gawat!"


Ralin dan Yaris menoleh pada sumber suara yang berasal dari ruang bayi, seorang wanita muda memanggil Ralin dengan wajah penuh ketakutan, segera Ralin berlari ke ruang bayi yang diikuti Yaris di belakangnya.


"Kenapa mba?"


"Baby D dari kemarin badannya panas, tadi sempat kejang, sekarang banyak cairan keluar dari an*snya mba, gmna ni, udah pucat banget."


Ralin berusaha tidak panik, segera diraihnya tubuh mungil itu dan ia dekap dengan kasih, Ralin sekuat tenaga menahan rasa khawatir karena takut ada kesalahan yang akan ia lakukan. Di lain sisi, Yaris hanya mengamati kejadian itu dari jarak 2 meter,


"Ayo mba kita ke rumah sakit," kata Ralin pada pegawai panti yang tadi memanggilnya, mjnhkin karena panik Ralin lupa nama Mbak Pegawai itu.


"Saya ga bisa mba, baby Key dan Yuli ga da yang jaga."


"Yang lain mana?" dan mendengar itu, Ralin akhirnya ikut panik. Bagaimana minhkin ia membawa bayi yang sedang sakit sendirian ke rumah sakit, sedang dia harus menyetir juga nantinya.


"Ng... nggak tau Mba, kalau ga jaga, mungkin sedang istirahat."

__ADS_1


"Kenapa Ralin?" bunda Diah datang terengah-engah.


"Kita harus bawa D ke rumah sakit, udah ga da waktu Bun."


"Coba tepuk dulu, biar nangis."


"Ga respon, D lemes nih Buda, gimana dong?"


Bunda Diah memutar pandangannya ke seluruh ruangan dan terhenti pada satu sosok. Tidak ada yang lain lagi.


"Nak Yaris saya minta tolong bawa baby Dinar ke rumah sakit, cepetan!"


Yaris menunjuk wajahnya sendiri.


Tanpa persetujuan Yaris, bunda Diah dan Ralin keluar dari ruangan itu menuju halaman, Yaris mengikuti mereka setengah berlari.


Yaris bergegas menuju mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Ralin. Kalau siatuasinya seperti ini, bagaimana mungkin ia tidak membantu. Tetap saja pria kaya itu memiliki sisi kemanusiaan.


"Bunda ga ikut?" Tanya Ralin cepat.


"Bunda nanti nyusul, nak Yaris tolong ya, maaf harus merepotkan, cepet!


Yaris segera masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya menuju arah rumah sakit.


***


Di dalam mobil, Ralin tidak henti-hentinya berdo'a, sambil sesekali mengajak bicara bayi yang ada dalam dekapannya.


"Hei baby, aku tau kamu kuat, banyak orang akan sayang kamu, please wake up sayang, please, kamu harus kuat."


Ralin semakin panik, dia merasakan badan bayi itu mulai dingin, air mata Ralin tak bisa terbendung, "Mas lebih cepat lagi, tolong!"


Yaris melaju mobilnya dengan kencang, memecah jalan raya yang ramai, sesekali mengklakson kendaraan yang ada di depannya agar memberinya jalan, sambil sesekali menolehkan pandangannya pada Ralin, memecah konsentrasinya antara Ralin dan setirnya. Ini pertama kalinya untuk Yaris berurusan dengan yang namanya "bayi". God.


***


Yaris menghentikan kendaraannya persis di depan pintu masuk rumah sakit. Ralin beranjak keluar sambil berkata "aku masuk dulu" tanpa menoleh pada Yaris.


"Wow, what the hell." Bahkan fia tidak mendapat ucapan terima kasih. Yaris mencerna segala kejadian yang baru saja dia alami. Setelah memarkir mobilnya, ia juga memasiki gedung rumah sakit.


"Okay, let's see, apa yang bisa diperbuat tu cewek," gerutu Yaris.


Yaris menyisir sekat sepanjang UGD rumah sakit itu. Ketika mendengar suara "ibu silahkan tunggu di luar dulu, biar bayinya kami tangani dulu" langkah Yaris terhenti. Ralin muncul dari balik tirai yang memisahkannya dengan Yaris, pandangan mereka bertemu.


"Gimana?" Yaris bertanya lebih dulu.


"Dokter masih meriksa." Ralin mencari tempat untuk duduk, lututnya masih lemas, badannya membungkuk, sambil memegang kepalanya Ralin berbicara pada Yaris tanpa melihatnya, lagi.


"Kamu kalo mau pul..."


"Permisi, pak silakan ini formulirnya di isi, anaknya masih ditangani, kemungkinan nanti harus di opname, kalau sudah tolong di antar ke tempat administrasi ya, mari."


Sungguh luar biasa, betapa terlatihnya pegawai tumah sakit yang baru menghampiri mereka. Bisa-bisanya bicara dengan satu tarikan napas. Dan apa tadi dia bilang? Anak?


Seakan tidak memberi kesempatan pada Yaris untuk memberitahu bahwa mereka bukan wali sang bayi, si perawat berlalu begitu saja, sepertinya memang sedang sibuk karena pasien baru terus berdatangan.


Tiba-tiba Yaris merasa ada tangan lain yang ingin meraih formulir yang ada di tangannya.


"Sini Mas, biar saya saja." Lagi, Ralin bicara tanpa memandang Yaris.


Tapi Yaris memandang wajah lawannya, memperhatikan setiap garis wajah yang dimiliki gadis itu dan tangannya refleks menahan formulir yang ingin di ambil Ralin.

__ADS_1


"Ga apa-apa, biar saya yang isi." Sepertinya memang harus tetap jadi donatur Yaris membatin.


__ADS_2