
Selama satu jam lebih bergelut dengan pedagang di pasar, Ralin dan Yaris akhirnya kembali ke apartemen tepat pukul 07.30 pagi.
Ralin bergegas ke dapur merapikan belanjaannya, menyimpan bahan makanan yang harus di simpan di dalam kulkas, bahan-bahan makanan kering ia simpan dalam lemari dapur, sangat rapi dan telaten. Kulkas yang tadinya hanya berisi air mineral, kini ramai berwarna dengan berbagai sayuran, buah, telur, jajanan tradisional dan sebagainya. Yaris hanya memperhatikan istrinya dari kursi bar dapur yang sudah lama ada di apartemennya. *I*stri idamanable banget sih wanita ini. Untung gue cepet-cepet nikahin.
"Yang, tadi kamu kok ga nawar pas belanja di pasarnya?" tanya Yaris penasaran. Setahunya di pasar pembeli bisa menawar hingga harga terendah. Sedang tadi Ralin hanya bertanya harga dan langsung membayar.
"Ngapain nawar kalo masih mampu beli, uang kamu kan banyak, lagian untung mereka ga seberapa." jawab Ralin sambil menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan dia masak untuk sarapan mereka.
"Ooh, iya juga sih."
"Kamu mau dimasakin apa?"
"Apa aja, yang penting kamu yang masak."
"Hmmm, ok, kita sarapannya semur ayam sama nasi putih ya, sayurnya aku pake buncis dan wortel rebus."
Yaris menyetujui dengan membuat tanda 'o' dengan jari jempol dan telunjuk disatukan.
Semenit kemudian wajah Ralin terlihat panik, tidak menemukan barang-barang yang ia cari. Semua loker kabinet dapur sudah ia bongkar tapi tak ada satupun alat untuk memasak ada disana.
"Yang, alat daput kamu simpan dimana?"
"Alat dapur apaan?"
"Ya panci, wajan, spatula dan temen-temennya."
"Aku ga tau yang kamu maksud, adanya cuma ini" Yaris memberikan teflon berukuran sedang, pisau dan teko untuk memasak air.
"Allahuakbar, sabar Ralin sabar, baru awal, ini ujian pemanasan, pull breath out breath, calm down, chill, ok!" Ralin menahan ledakan amarahnya, pamali kata orang tuanya marah pagi-pagi.
"Emang kenapa Yang?" tanya Yaris ****.
Yaris merasa aneh dengan tingkah yang ditujukan sang istri.
"Sayangku, suamiku, yang katanya lulusan universitas luar negri ternama, aku mau masak, tapi kalo alat-alatnya ga ada sama aja bohong," ujar Ralin penuh penekanan menahan amarah.
"Trus, gimana dong?" tanya Yaris tanpa dosa.
Ralin meremas rambutnya frustasi. "Think Ralin think!"
"Oke, kita ga jadi makan semurnya kalo gitu, sarapan yang simple aja ya." Yaris setuju-setuju saja, toh dari dulu dia tidak pernah sarapan dengan makanan berat kecuali beberapa hari kemarin setelah menikah dengan Ralin. Perut orang pribumi, ga makan nasi ga saraoan namanya.
Ralin segera mengambil tindakan setelah menemukan ide makanan apa yang bisa di masak hanya menggunakan teflon satu-satunya di dapur sang suami yang kini akan menjadi daerah kekuasaannya.
Diraihnya teflon yang ada di tangan Yaris, lalu ia cuci dan dikeringkan menggunakan tisu, kemudian dia olesi dengan margarin tipis. Segera ia ambil telur tiga butir, dan keju batang. Setelah memecahkan telur dan dituangkan langsung ke teflon, Ralin mengambil keju batang lalu mengirisnya tipis-tipis, setipis mungkin, lalu ia cincang keju sampai halus, kurang lebih seperti keju yang diparut, tidak mungkin mendapatkan parutan keju saat ini. Keju yang sudah di cincang kemudian di masukkan ke dalam telur yang sebelumnya sudah di kocok, Ralin menambahkan sedikit garam dan penyedap, setelah itu barulah ia masak dengan api sedang. Beberapa menit kemudian Ralin membalik telur agar matang merata. Sambil menunggu telur matang sempurna, Ralin menuangkan susu cair siap minum ke dalam gelas, dan jadilah sarapan sederhana mereka. Telur kocok campur keju dan susu.
Yaris yang berperan sebagai penonton menikmati setiap gerak-gerik dan tingkah istrinya. Sebuah pengalaman baru menyaksikan sang istri memasak untuknya di tempat sendiri, bakalan jadi pemandangan indah yang akan ia saksikan tiap hari. Tak ada satu adegan pun yang terlewat dari pengamatannya.
"Sarapannya ini aja, cukup ga?" tanya Ralin dengan tersenyum ke arah Yaris.
Yaris mengangguk cepat, "aku lihat senyum kamu aja udah kenyang Sayang."
"Ya udah, kalo gitu aku makan sendiri, besok jugabga perlu masak, aku tinggal senyum."
"Ck, ga bisa gitu dong, kamu tu, suapin aku!"
"Makanya jangan gombal pagi-pagi, aaa..." Ralin menuruti kemauan sang suami, dan satu potongan telur mendarat sempurna di mulut Yaris. "Enak ga?"
__ADS_1
"Enak dong, nanti siang kamu nyusul aku ke kantor yah, kita makan siang sama-sama!"
"Tapi aku ke supermarket dulu, belanja perabotan dapur."
"Terus gimana? aku ga bisa nemenin dong kalo kamu belanjanya pas jam kantor aku."
"Ya kamu ke kantor aja, kerja, aku belanja sendiri!"
"Ga bisa gitu, semua kegiatan hari ini kita lakuin sama-sama, ini kan first day kita."
"Terus gimana aku masaknya buat makan siang kamu kalo ga ada alat dapur?"
"Ya kita makan di luar, ato delivery, pulang kantor baru kita belanja, deal. Aku ga mau kamu belanja sendiri."
"Emang kenapa sih?"
"Kenapa ya? mmm,, ya aku pengen aja nemenin kamu belanja, kamu yang pilih belanjaan, aku yang dorong trollynya, itu udah cita-cita aku, kamu ga boleh kacauin!" jawab Yaris sambil terus mengunyah sarapannya yang kini hampir tandas.
"Ada ya cita-cita kamu kayak gitu, sejak kapan?"
"Sejak aku nentuin kamu jadi pendamping aku, kapannya aku lupa deh kayaknya."
"Ish, paling semenit yang lalu kamu mikirinnya." Ralin beranjak dari meja makan dan membawa piring dan gelas kotor bekas makan mereka ke wastafel.
"Mau kamu kira semenit yang lalu, atau beberapa detik yang lalu, aku tetep sama pedirianku jadi bayangan kamu hari ini dan seterusnya." ucap Yaris sambil berbisik memeluk Ralin dari belakang.
Ralin terkejut dan hampir menjatuhkan piring yang sedang dia gosok dengan sabun cuci. "Yariiiis, lagi nyuci nih."
Seolah tidak mendengar kata-kata sang istri Yaris terus melancarkan aksinya, mencium daerah sensitif Ralin, membuat kissmark di bagian samping lehernya, ingin menegaskan bahwa Ralin sudah dimilikinya.
"Sayang, beneran deh ini tanggung lho lagi dikit."
Ralinpun mencoba menghindar tapi gagal.
"Kamu nanti telat ke kantornya." Ralin memberi alasan agar Yaris menghentikan aksinya.
"Aku kan bosnya."
Tidak ada alasan lagi bagi Ralin untuk menghindar, akhirnya dia berbalik dan mengalah. "Lihat kan tangan aku?" Ralin memperlihatkan tangannya yang masih di penuhi busa sabun cuci.
Yarispun melihat sekilas, mengangguk dan berkata, "Who's care." lalu larut kembali dengan aksinya, dimulai dengan ciuman, *******, kecupan leher dan menuntut hal yang lebih dan lebih.
***
Tepat pukul sebelas siang Ralin tiba di kantor sang suami. Entah kenapa dia masih merasa gugup seperti awal dia datang dulu. Aargh, dia teringat kejadian yang membuatnya ingin memutuskan hubungan dengan Yaris.
Ralin langsung melangkahkan kaki menuju ruangan sang suami, iapun menghampiri sekretaris Yaris.
"Siang mba, saya mau ketemu sama Pak Yaris."
"Atas nama siapa?" tanya sang sekretasis ramah.
'Sepertinya sekretaris ini belum tahu aku istrinya Yaris, apa semua orang di kantor ini belum mengetahuinya?'
"Saya Ralin."
"Sebentar, mba Ralin, Ralin?" sang sekretaris mengingat ngingat sesuatu. "Oh ya, mba yang waktu itu bawa makanan buat bos saya kan, kata pak Yaris Mba dulu calon istrinya. Waduh, saya sampai di marahi lho mba waktu itu."
__ADS_1
"Hah?! Marah?"
"Iya, pak Yaris tiba-tiba marah karena saya ga mensilakan mba menunggu di dalam," kenang sekretaris itu. "Saya kira dulu saya bakalan di pecat, Pak Yaris murka banget lho mba."
"Apa sekarang beliau ada di ruangan?"
"Ada mba, beliau pernah berpesan kalau mba datang lagi mba langsung masuk saja."
Ralin tidak menyangka kalau suaminya akan bereaksi seperti yang diceritakan sang sektetaris. Ia lalu menuju pintu dan membukanya perlahan tanpa suara, kemudian, Ralin terpaksa harus melihat adegan yang sangat tidak mengenakkan.
"Saya kan sudah bilang, kalau kerja itu yang benar, saya sudah menargetkan kenaikan saham kita harus 2%, kalian ngapain aja selama saya tidak masuk, hah?" terdengar oleh Ralin suara bentakan Yaris untuk tiga orang yang ada di hadapannya, wajahnya memerah, matanya membulat sempurna hampir keluar dari kelopaknya, sebuah dokumen yang sudah di jilid dia lemparkan ke sembarang orang yang ada di depannya. Belum lagi suaranya yang menggelegar memenuhi ruangan, membuat ruangan itu semakin terasa mencekam bagi siapapun yang ada di sana. Ralin bergidik ngeri hanya menyaksikan dari celah pintu yang ia buka sedikit.
"Kalian dulu kuliah ngapain aja hah, Ingat disini kalian di gaji, kantor bukan taman bermain, kalau minggu depan target kita tidak tercapai, kalian akan saya pecat, paham?" orang-orang yang di bentak Yarispun hanya menunduk.
Ralin mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan suaminya, di tutupnya kembali pintu masuk menuju ruangan itu. Lagi-lagi ia dikejutkan oleh Yaris. Bukan dengan dengan sikap romantisnya atau sifat possesif yang ia tujukan kepada Ralin selama ini. Mungkin ini adalah sisi lain dari suaminya sebagai seorang pimpinan di sebuah perusahaan besar, atau mungkin Yaris memang seorang yang pemarah dan suka membentak? Ah, entahlah.
"Saya tunggu di luar aja Mba, sepertinya pak Yaris masih sibuk, sibuk marah maksudnya."
"Oh ya, silahkan!"
Ralin duduk di sofa, membolak balik majalah yang sebenarnya tidak menarik perhatiannya. "Cantik, kaya, pasti pintar juga. Siapa ya laki-laki yang beruntung dapetin wanita ini?" gumamnya sambil membaca sebuah biografi singkat seorang wanita karir. "Selly Maria Willsen, oooh,itu toh namanya."
Tidak lama kemudian tiga orang yang berada di dalam ruangan Yaris tadi keluar dengan wajah pucat, murung di tekuk, dongkol juga mungkin setelah mendengar omelan si bos. Ralin segera beranjak menuju ruangan sang suami.
Yaris yang saat itu tertunduk membaca sesuatu bereaksi cepat mendengar pintu ruangannya di buka lagi, "ada apa la.."
wajahnya berubah kalem begitu melihat Ralin yang muncul di pintu, "Eh, sayang, kamu kapan dateng?" tanyanya dengan suara lembut, bahkan sangat lembut. Jauh berbeda dengan nada bicaranya pada karyawannya tadi.
Ralin mendekati Yaris, mencium punggung tangan sang suami, kemudian mendapat kecupan di kening.
"Udah dari tadi, sejak kamu marah-marah ngomelin karyawan kamu, emang harus gitu banget ya marahnya?"
"Kamu lihat aku marah-marah tadi?"
"Iya, kamu nyeremin tau, horor."
"Perasaan biasa aja deh." Yaris berkilah.
"Iya menurut kamunya, belum tentu buat karyawanmu."
"Mereka udah biasa, memang harus begitu biar mereka serius kerjanya, lagian aku negur mereka juga ada alasannya," jelas Yaris tenang.
"Salah mereka apa sih?"
"Udah deh ga usah di bahas!" Yaris merapikan sedikit mejanya yang penuh dengan beberapa dokumen, "Kita makan siang dimana?"
"Rumah makan Dirgahayu aja, yang menunya masakan rumahan."
"Oke, yuk jalan!" Yaris meraih tangan sang istri dan membukakannya pintu. Begitu sampai di depan meja sekretaris, Yaris menghentikan langkahnya.
"Mira, kamu boleh istirahat, dan ini Ralin istri saya, lain kali kalau dia datang jangan suruh dia nunggu dan langsung beritahu saya, ngerti!"
Ucapan Yaris berhasil membuat sang sekretaris melongo, wajahnya terlihat kaget dengan mulut menganga. Ralin yang merasa tidak enak hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Kamu ih, ngomongnya ga bisa apa halusan dikit."
"Ga bisa, udah deh jangan bawel!"
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju lift, semua karyawan memandangi mereka dengan penuh tanda tanya, bahkan ada yang sengaja berlari keluar dari ruangan mereka demi melihat sang bos menggandeng seorang wanita. Yaris cuek saja, dan terus berjalan sambil menggenggam tangan istrinya. Tentu saja Ralin merasa kikuk, kadang dia hanya menunduk, kadang menganggukkan kepala mencoba ramah. Jelas sekali semua karyawan gedung itu belum mengetahui pernikahan bos mereka.