Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Ijo Royo-royo


__ADS_3

"Mba Raliiiiiiiiiiin, akhirnya balik juga, aku kangen lho mba." Intan berlari menyambut kedatangan bosnya setelah seminggu lebih tidak bertemu. Ralin sudah seperti barang hilang yang baru mereka temukan.


Intan dan Riko bergantian menyalami Ralin. Khusus Intan, dia bisa memeluk Ralin dakam jangka waktu lama. Astaga, sayang sekali dia pada bosnya.


"Selamat ya mba atas pernikahannya." ucap Riko kepada Ralin.


"Terima kasih Riko."


Tak lama kemudian Yaris juga menyusul masuk ke dalam kedai.


"Lho bukannya mas langsung balik?" tanya Ralin heran.


"Aku berubah pikiran, mau nyoba kopi tempat kamu dulu tapi kamu yang bikin!"


Yaris menyalang melihat kedekatan posisi antara Riko dan Ralin, tapi yang di pelototi malah cuek,tidak peka. Setelahnya Ralin memisahkan diri, berjalan santai menuju pantry membuatkan Yaris kopi.


Tiba-tiba Daning juga datang memasuki kedai, melihat Ralin ada di sana membuat mata Daning berbinar, akhirnya dia bertemu lagi dengan wanita yang pernah mencuri perhatiannya.


Ternyata ini yang bikin Yaris berubah pikiran. Ralin malah mengira Yaris kembali ke kedai karena melihat Daning lebih dulu.


"Eh, pengantin baru udah dateng," ujar Mega yang sedang menuruni anak tangga. "Lo kapan sampai Lin?"


"Kemarin, ibu Mega aku kangen," setelah menghidangkan Yaris kopi buatannya, Ralin menghampiri sahabatnya itu dan langsung memeluknya.


Daning yang mendengar kata pengantin, tentu saja kembali patah hati, rona bahagianya memudar, tapi masih bisa mengontrol ekspresinya, lagi-lagi ia kalah selangkah dari Yaris. Yaris tentu saja bahagia, tidak perlu mendeklarasikan sendiri hubungannya pada Daning karena cerocosan Mega sudah mewakilinya.


Terima kasih Mega, good job.


Yaris tersenyum penuh kemenangan.


"Lo udah ada yang meluk ngapain kangen-kangen gue?"


"Yaris kan baru meluk gue seminggu, lo udah gue peluk bertahun- tahun ya bedalah."


"Kagak ih, risih gue, lo udah ternoda." ujar Mega pura-pura jijik.


"Mega ih, apaan sih lo." Ralin terus saja meringsek ke tubuh Mega.


"Pak Daning, ini pesanannya seperti biasa, ada lagi yang bisa saya bantu ga pak?" tanya Intan sopan, ia tahu betul bagaimana perasaan dosennya saat ini melihat kebersamaan bosnya yang kini telah menikah. Hatinya remuk redam tentunya.


"Ga ada, ini aja." Daning segera membayar pesanannya. Ia ingin segera undur diri dari ruangan itu, "Selamat ya Lin, ucapnya menahan getir, semoga langgeng dan cepat dapat momongan. Mari."


Lagi dan lagi Ralin mendengar kata momongan, semoga sekarang pikiran dan hatinya selaras, seiya, sekata jika ada yang mengucapakan momongan padanya ia tidak boleh baper.


Daning melangkah menuju pintu, Yaris hanya menganggukkan kepala ketika Daning melihatnya sekilas.


"Gue kasian deh, dia belum perang udah kalah duluan, gila lo Ris, ga ngasih kesempatan Daning mepet Ralin," cerocos Mega lagi.


"Kontrol mulut, Ega. Kamu mau ga saya restui sama Rey?" ketus Yaris.


"Siapa lo, bapak bukan, kakek bukan. Tapi gue masih penasaran, dia tahu darimana Ralin dirawat waktu itu, padahal yang tahu cuma kita-kita. Kamu ngomong apa aja ke dosenmu, Tan?"


"Ga ngomong apa-apa Mba, suwer mba Ralin sakit aja aku ga tahu kan Mba. Aku cuma bilang mba Ralin itu introvert, trus ngasih tahu nama lengkap Mba Ralin, kasih nomor hp dan kegiatan amal mba Ralin di panti, udah itu aja," cerita Mega polos.


"Itu namanya apa-apa dodol." Mega hampir menjitak kepala Intan.


"Ampun mba, ga lagi-lagi." Intan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"Udah deh, udah lewat juga." Ralin menengahi.


Yaris hanya menyaksikan adegan di kedai itu sambil menikmati kopinya. Ia tak mau ambil pusing tentang masalah Daning, yang jelas Daning tentu sudah pasti mundur mengetahui ia dan Ralin sudah menikah. Untung saja kedai masih sepi karena jam istirahat kantor sudah selesai. Hanya ada mereka disana jadi bisa leluasa berkata apa saja.


"Aku berangkat ya, nanti jam 5 aku jemput."


Tiba-tiba ide jahil Ralin muncul.


"Sayang, malam ini aku nginep di sini ya, sama Mega."


"NGGAK, ga ada, ga boleh, jam 5 aku jemput."


"Sekaliiii aja, lepas kangen nih," rengek Ralin.


"Kamu udah tiga tahun tidur sama dia, ga ada pokoknya, enak aja, aku ga mau peluk guling," tegas Yaris dengan wajah memerah. "Kalo keukeuh nginep, ya udah kamu ikut aku sekarang balik ke kantor, tungguin aku kerja!"


"Gitu aja marah, aku perang lawan nensi blasteranmu aja ga marah-marah, tapi nyesek juga sih."


"Itu beda urusannya." Yaris tak rela istrinya menginap di kedai yang sekaligus menjadi tempat tinggal Ralin itu. "Pokoknya nanti jam 5 aku jemput, titik, ga terima bantahan."


Yaris berlalu keluar setelah mencium kening sang istri, tentu saja masih dengan perasaan dongkol dijahili istri sendiri. Padahal Ralin sendiri yang bilang mereka masih hangat-hangatnya.


***


"Apa lagi ya yang belum?" Ralin mengingat ngingat alat dapur apa yang belum ia masukkan ke dalam trolly yang di dorong Yaris di belakangnya.


Yaris menikmati momennya seharian ini dengan Ralin, terutama saat ini, cita-citanya menemani istrinya belanja dengan dia yang mendorong trolly dan Ralin yang memilih barang belanjaan akhirnya tercapai. Dia berjanji pada diri sendiri akan selalu menemani Ralin jika harus belanja ke pasar atau supermarket.


"Apron udah belum?"


"O iya, untung Mas ngingetin," mereka segera menuju ke tempat bagian apron diletakkan.


"Ini ga salah Yang, kamu milihnya warna hijau semua, ijo royo-royo gini lho?"


"Ya enggaklah, kamu belum tahu aku suka warna hijau. Jadi nanti pas masak, alat-alat dapurnya warna hijau mataku tu jadinya seger, ga bosen masaknya bawaannya jadi seneng terus." bela Ralin.


Yaris sebenarnya tidak masalah dengan warna pilihan istrinya, toh nanti dapur akan menjadi daerah kekuasaan sang ratu. Tapi melihat alat dapur yang ada di trolly semua berwarna hijau, dari keset dapur, set panci, set teflon, mangkuk, piring, gelas, set sendok garpu, rice cooker, entah apa lagi nama alat yang dibeli Ralin, dan semuanya berwarna hijau, membuat Yaris membanyangkan ketika mereka makan nanti seolah-olah memakai daun yang berubah bentuk jadi piring gelas mangkuknya. Sungguh istriku ajaib.


"Cat dinding dapurnya mau di ganti hijau juga?" tanya Yaris sedikit was-was.


"Ga lah, cukup perabotnya aja."


Dalam hati Yaris mengucap syukur tak terhingga.


"Udah Yang, ini aja, yuk bayar!"


"Yakin ga ada lagi?"


"Ya nanti kalau ada yang belum, kan bisa balik lagi besok-besok."


"Siap ratu, mari kita ke kasir!"


Tak lama mengantri, tiba giliran Yaris dan Ralin untuk dihitung barang belanjaan mereka. Melihat perabotan yang di dominasi warna hijau si mba kasirpun tersenyum.


"Istrinya suka warna hijau ya pak?"


"Begitulah mba, istri saya memang unik."

__ADS_1


Ralin yang merasa jadi topik pembicaraan memberi cubitan kecil di pinggang Yaris.


Setelah selesai bertransaksi, mereka berduapun beranjak dari tempat belanja itu dan segera menuju rumah orang tua Yaris. Sesuai jadwal, tepatnya titah sang Mama, Yaris dan Ralin diwajibkan datang untuk makan malam di rumah orang tua yang sudah kangen dengan menantunya.


Satpam yang mendengar bunyi klakson mobil Yaris segera membuka gerbang untuk anak tuannya. Ini kali ke dua Ralin datang ke rumah itu, kali ini dengan status berbeda, herannya dia masih saja gugup begitu mobil terparkir sempurna.


Tanpa di duga Mama Ayu sudah menunggu mereka di depan pintu. Senyumnya merekah ketika melihat Ralin keluar dari mobil. Entah kenapa mama Ayu begitu sayang pada Ralin meskipun dia tahu bahwa Ralin tidak akan bisa memberinya seorang cucu. Keluarga Yaris memang berpikiran terbuka, mempunyai seorang cucu memang akan memberikan kebahagiaan tiada tara, tapi kebahagiaan tidak datang dari hal itu saja. Ada banyak cara untuk mencapainya.


"Aaaa... mantu Mama udah dateng." Mama Ayu menghamburkan diri memeluk Ralin, tak lupa cupika cupiki sebaga tanda sayang. "Kamu kenapa ga pulang ke sini aja sih dari kemarin, Mama kan pengen juga ditemenin sama mantu, nanti kita bisa masak bareng, berkebun, shopping,...."


Sambil berjalan menggandeng Ralin, Mama Ayu dan Ralin masuk ke dalan rumah tanpa mempedulikan Yaris yang juga ada disana. Yaris semakin meragukan keabsahannya sebagai seorang anak. Jangankan dipeluk, di sapapun tidak.


"Nanti Ralin sering-sering deh ke rumah temenin Mama, Mama tinggal telpon aja Ralin pasti datang." ujar Ralin menghibur mertuanya.


"Ma, aku anak pungut ya?" celetuk Yaris.


"Ck, udah deh jangan protes mamah. Mamah tu udah bosen ngurus laki-laki terus di rumah ini, ya kamu, adekmu, Papamu apalagi. Mamah kan pengen ngerasain punya anak perempuan. Sekarang baru kesampaian, dapet anak perempuan sekaligus mantu, mana cantik, baik, udah gede pula, ga perlu Mama gendong-gendong lagi. Kamu ga bisa bayangin bahagianya Mama." Oceh Mama Ayu.


Ralin tersenyum lebar mendengar cuitan sang mertua yang ternyata ingin punya anak perempuan, dan sekarang Ralinlah yang menjadi lampiasannya.


"Awas ya kamu nyakitin anak perempuan Mama, dia udah rela ninggalin orang tuanya demi kamu, jangan kamu sia-siain!" oceh mama Ayu lagi.


"Ralin sayang, kalau Yaris macam-macam sama kamu, ato bikin kamu nangis, kamu jangan segan-segan lapor sama Mama, biar nanti mama yang beresin!"


"Yaris baik kok ma sama Ralin. Ralin percaya Yaris ga akan nyakitin Ralin."


"Tu kan Mama denger sendiri, Mama aja yang su'udzon sama Yaris." Yaris membela diri.


"Mamah ga su'udzon, tapi ngingetin, jangan sampai kamu khilaf, Mama pengen rumah tangga kalian selamanya baik-baik saja, meski nanti ada masalah yang menimpa kalian bisa selesaikan secara dewasa dan bijak!" mama Ayu menasehati.


"Yaris, Ralin kapan kalian datang?" tuan Sa'id yang baru keluar dari ruang baca segera menghampiri anak dan menantunya itu.


Ralin dan Yaris segera menyalami punggung tangan kanan Sa'id sebagai tanda hormat.


"Kalo kesininya sih baru tadi pa, kalau dari Lombok udah dari kemarin." Yaris lebih dulu menjawab.


"Kamu sudah ada rencana bulan madu? Ajak istrimu kemanapun dia mau!"


"Belum ada rencana kok pa, mas Yaris juga masih banyak kerjaan." Ralin menyambar menjawab. Merasa waswas Yaris akan membeberkan perdebatan mereka di pesawat dan...


"Bohong pa, Ralin kemarin pengen ke Aceh atau ga ke Inggris," mendengar ucapan Yaris, mata Ralin membulat sempurna, benar saja dugaannya. Tidak menyangka suaminya akan membuka kartunya di depan sang mertua secepat itu. Mungkin dengan mamah Ayu, Ralin sudah terbiasa dan tidak segan, tapi kalau dengan tuan Sa'id tentu saja Ralin masih malu.


"Ya sudah kamu ajak istrimu kamanapun dia mau pergi, urusan kantor nanti Papa bisa bantu."


Memori Ralin memutar kembali akan kemarahan Yaris pada karyawannya waktu itu. Baru seminggu dia tinggalkan pekerjaan, marahnya sudah begitu pada karyawan yang bekerja tidak sesuai keinginannya, bagaimana kalau dia tinggal lebih lama, bisa-bisa ada yang di pecat, bagaimana dengan anak istri mereka, itu yang Ralin pikirkan. Ralin memutar otak agar bulan madu ditiadakan saja.


"Ga kok pa, Ralin ga bulan madu juga ga apa-apa, biar nanti disini-sini aja." kilah Ralin.


"Katanya mau makan mi aceh langsung di daerahnya." Yaris kembali mengompori.


"Sayang, ih shhhhttt." Ralin meminta Yaris berhenti dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya.


Tuan Sa'id dan mama Ayu tersenyum geli melihat tingkah Ralin yang sepertinya masih segan pada mereka.


"Tuan nyonya, makananya sudah siap." suara bi Ijah menghentikan obrolan mereka sejenak.


"Udah yuk makan dulu, nanti sekalian kita obrolin tentang resepsi kalian di meja makan." ajak mama Ayu.

__ADS_1


"Davi mana ma?"


"Biasalah adikmu itu, kalo ga betapa di kamar ya main sama temannya."


__ADS_2