
Malam itu malam ke empat Ralin berada di rumah orang tua Yaris, keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, lukanya sudah tidak terasa nyeri, cara berjalannya juga sudah tidak kaku lagi. Keluarga Yaris benar-benar banyak membantunya untuk pulih pasca operasi, terutama Mama Ayu, dia sangat memperhatikan menu untuk Ralin, dia bahkan memasak menu ikan laut dan telur ayam kampung secara bergantian, katanya bagus untuk luka jahit operasi biar cepat kering. Pileknya pun sudah tidak kambuh lagi, mama Ayu rutin memberinya minuman sejenis teh herbal setiap pagi dan sebelum tidur.
Setelah makan malam, Ralin memutuskan keluar rumah dan duduk di bangku panjang yang tersedia di halaman belakang rumah Yaris. Dia ingin menikmati suasana malam terakhirnya di rumah mewah itu. Ralin sudah memutuskan untuk kembali ke rumahnya besok pagi. Ia bahkan sudah memberi tahu pada semua anggota keluarga Yaris. Mama Ayu sempat menentang, tapi Ralin memberikan alasan yang tepat, bagaimanapun ia punya usaha yang harus ia awasi dan kelola sendiri.
Pandangan Ralin jauh menatap ke depan. Ia memikirkan banyak hal malam itu. Bagaimana keluarga Yaris begitu menerimanya dengan tangan terbuka, kehangatan dan keakraban yang terjalin dengan semua anggota keluarga, serta kasih sayang yang Ralin terima dari orang tua Yaris. Apakah semua masih akan ia terima jika mereka tahu kekurangan Ralin. Dia terus saja menyalahkan keadaannya dan merasa kekurangannya menjadi penghalang setiap langkahnya meraih kebahagiaan. Tanpa ia sadari air matanya keluar begitu saja.
Yaris yang baru pulang dari kantor melihat kekasihnya duduk sendirian dari belakang. Dia ingin langsung menghampiri Ralin tapi urung, ia ingin memberikan waktu untuk Ralin asyik dengan pikirannya sendiri. Sampai ia melihat Ralin tertunduk dan seperti menyeka air mata dengan tangannya, Yaris memutuskan untuk menghampiri.
"Hei, lagi mikirin aku?" adalah kalimat pertama yang Yaris ucapkan untuk meyadarkan Ralin bahwa dia ada di sana, meluhatnya menangis.
"Kamu, kapan datang?" Ralin tersigap dan segera membuang pandangan dari Yaris menghapus air matanya, "udah makan?" tanyanya lagi mengalihkan perhatian.
"Udah tadi di kantor." Yaris mengambil posisi duduk di samping Ralin. "Kamu nangis?"
"Enggak, sapa bilang?" bohong.
"Tadi Mama bilang kamu mau pulang besok."
Ralin mengangguk, "kasian Mega ngurus kedai sendiri, aku cuma terima hasil doang."
"Oke, asal kamu bisa jaga kesehatan, aku bolehin."
Ralin tersenyum mendengar ucapan Yaris, laki-laki itu selalu mengkhawatirkannya, tapi dia sendiri jarang memikirkan Yaris saat pria itu tidak bersamanya.
"Ris, aku mau ngomong sesuatu."
"Ngomong aja!"
"Makasih ya untuk semuanya."
Sepertinya Yaris sudah tahu kemana arah pembicaraan Ralin, oleh karena itu dia sudah mengantisipasi jika hal ini akan terjadi, "terus?!"
"Aku ngerasa ga pantes nerima semua ini dari kamu dan keluarga kamu. Apalagi untuk sampai ke jenjang pernikahan kayaknya aku ga bisa." Ralin sudah mengumpulkan keberanian selama empat hari ini, jangan sampai sia-sia. Dia ingin menyelesaikan masalah ini sekarang juga.
"Kenapa?" Yaris berusaha tenang, tidak akan ada emosi atau amarah, semua akan dia ungkapkan pada Ralin malam ini. "Kasih tahu aku alasan kamu!"
Ralin merasa tercekat, ia bahkan tidak menyangka Yaris masih tenang menghadapinya, "Karena...aku..." Ralin terbata-bata, serasa ada batu ginjal yang mengganjal tenggorokannya.
"Karena kamu nggak punya rahim?"
Ralin tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya, seketika dia menatap Yaris yang masih memperlihatkan ekspresi tenang, berkata seolah ucaoannya tadi bukanlah perkara besar.
"Sejak kapan kamu...?"
"Sebelum kita resmi, sebelum kamu di operasi, sebelum aku meminta kamu jadi calon istri aku, sebelum kita sampai di titik ini aku sudah tahu."
"Tapi kenapa kamu ga cerita?"
"Untuk apa? Toh itu bukan masalah buat aku." Baiklah, sepertinya Yaris butuh pencerahannya.
Ralin masih tidak habis pikir, masalah sebesar itu tidak ada apa-apanya untuk Yaris.
Yaris meraih kedua tangan Ralin.
"Aku ngga akan mempermasalahkan hal itu, yang penting kamu tetap di sisi aku."
"Semuanya, semuanya akan sia-sia, ga ada gunanya kalau kita lanjutkan. Aku tahu kamu juga sudah sangat paham dengan resiko yang akan kamu hadapi, jadi sebelum terlambat..."
"Kamu tau apa tentang resiko yang akan aku hadapi? Jangan seenaknya bilang semua akan sia-sia?"
__ADS_1
"Maksud kamu...aku..." Ralin mendadak gagap, hilang semua skenario yang ia susun.
"Apa kebahagiaan dan perasaan tenang itu juga sesuatu yang kamu maksud sia-sia?" tembak Yaris tepat sasaran, "apa mendapat keturunan lebih penting dari itu semua?"
"Itu tujuan pernikahan, mutlak, itu kepastian..."
"Nonsense Ralin," potong Yaris dengan suara berat dan penekanan penuh, "aku sudah memutuskan, kita akan adopsi, problem solve."
"Ga segampang itu."
"Then how?" Yaris menaikkan nada membuat Ralin terkesiap, "Apa kamu pikir perasaan aku ga penting? Apa kamu bisa melihat gimana aku kalau kita selsai di sini? Apa kamu bisa jamin aku bakal baik-baik saja?" sampai di titik itu Ralin tidak punya lagi stok kata untuk menjawab pertanyaan Yaris, dan kini semua kalimat yang Yaris ucapkan bagai mata panah yang menghujamnya. Dia harus memalingkan wajah agar Yaris tidak melihat air mata yang keluar dengan kurang ajarnya, "aku cuma mau kamu menjadi pendampingku, sesederhana itu."
"Anggap lah kita lanjutkan hubungan ini, tapi gimana dengan Mama, Papa, keluarga besar kamu?"
"Mereka juga udah tahu, kamu lupa mereka selalu bilang ingin cepat-cepat punya menantu, bukan punya cucu, mereka sudah nerima kamu sejak awal, tentang keluarga besar, aku ga butuh pendapat mereka."
"Pada akhirnya mereka akan meminta itu, paling tidak menanyakan perihal anak."
"Jangan mengkhawatirkan masalah yang belum pasti terjadi."
Ralin sebenarnya sangat terkejut, tidak menyangka hal yang ingin ia sembunyikan sudah diketahui oleh orang-orang yang mencintainya. Air matanya tak bisa ia tahan lagi. Ini hal yang luar biasa untuk Ralin.
"Gimana bisa mereka udah tau, sedang aku sengaja kabur ke sini menghindari orang-orang yang tau tentang kekuranganku?"
"Kamu mungkin ga ingat, Papa adalah orang yang nabrak kamu waktu itu, Papa waktu itu ceroboh, nyetir dalam keadaan capek dan lelah. Papa juga dihantui rasa bersalahnya sama kamu, tapi Bapak memiliki hati yang besar, beliau sama sekali ngga nyalahin Papa dan menganggap ini ketentuan Allah. Itu membuat Papa lega walau tidak sepenuhnya.
Sampai kamu pindah kesinipun itu nggak lepas dari pantauan Papa, aku dimarahin habis-habisan waktu berhentikan donasi panti dan nyusahin kamu."
Ralin membisu, ia ingin mendengarkan semua penjelasan Yaris malam ini juga. Ia tersenyum miris, tidak menyangka takdir mengaitkannya dari masa lalu hingga sejauh ini.
"Aku pribadi ingin minta maaf atas kesalahan papa ke kamu," suara Yaris sedikit bergetar, tapi anggukan Ralin membuatnya merasa lega.
Untuk kata-kata Yaris yang ini, sukses membuat Ralin terisak, dia tidak menyangka laki-laki yang mencintainya itu memiliki pikiran yang terbuka.
"Ada yang bilang, anak itu adalah pilihan Allah, tapi istri adalah pilihan kita sendiri, dan aku memilih kamu sebagai istriku dan Allah merestuinya."
Seketika itu juga Ralin memeluk Yaris, melepaskan segala beban yang ia rasakan selama ini, laki-laki itu berhasil membuka pikirannya dan menyadarkan betapa bodohnya dia selama ini.
Ketika merasa lebih tenang Ralin melepaskan pelukannya. Yaris menghapus sisa-sisa kesedihan di wajah kekasihnya.
"Udah lega sekarang?" tanya Yaris yang masih membantu Ralin menghapus air matanya yang masih saja mengalir, "kamu imut ya kalau mata, hidung sama telinga kamu merah gini." Dan saat keadaan menjadi dramatispun Yaris masih bisa menggodanya.
Ralin hanya mengangguk dan tersenyum, "imut ya?"
"Aku boleh nanya?"
"Tanya aja, s?Sayang!"
"Kamu tahu darimana tentang kekurangan aku?"
"Kalau yang itu rahasia."
"Mulai deh kamu, sok misterius." Ralin mengembungkan pipinya, ingin sekali Yaris melahap gadis itu, "terus sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku?" tanya Ralin lagi.
"Kenapa tiba-tiba kamu banyak nanya sih, tapi kamu harus percaya aku sudah punya peehatian sejak aku lihat kamu ngerawat baby D yang lagi sakit waktu itu." jawab Yaris mantap.
"Masa sih?" kini Ralin mengeluarkan tawanya.
"Serius. Sejak saat itu aku sudah nentuin kalo kamu Miss R aku."
__ADS_1
"Apaan Miss R?"
"My Miss Right."
Wajah Ralin berubah merona mendengar jawaban Yaris.
Yaris tiba-tiba berdiri kemudian mengambil posisi berlutut di depan Ralin.
"Kamu ngapain?" tanya Ralin heran.
Yaris mengeluarkan kotak kecil yang ada di saku jasnya, membukanya dan menunjukkannya pada Ralin.
"Ralin Aninta Wahyu, menikahlah denganku!"
Sontak saja Ralin menutup mulut dengan kedua tangan menyembunyikan rasa terkejutnya.
Tanpa menunggu jawaban Ralin, Yaris meraih tangan kiri Ralin dan menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis calon istrinya.
"Aku belum bilang setuju, belum bilang iya." Ralin protes dan lamaran Yaris sangat tidak romantis menurutnya.
"Aku ga terima jawaban tidak, jadi kamu memang harus jawab iya."
Mereka berpelukan mengungkapkan rasa bahagia yang mereka rasakan malam itu, "iya, aku mau." Jawab Ralin di tengah pelukannya.
Tentu Yaris sebenarnya tidak membutuhkan jawaban itu, tapi dia tetap senang oada inisiatif yang Ralin lakukan. Yaris mengakhiri malam itu dengan mencium kening Ralin lama.
"Masuk yuk, udah mulai dingin ni, ntar kamu sakit lagi!"
Merekapun berjalan masuk sambil bergandengan tangan.
Tidak ada lagi keraguan di hati Ralin untuk menerima Yaris. Laki-laki itu selalu bisa meluluhkan hatinya. Betapa beruntungnya dia dipertemukan dengan laki-laki sebaik Yaris.
***
Di ruang keluarga Mama Ayu, Papa Sa'id dan Davi menunggu dengan perasaan was-was, terutama mama Ayu sedari tadi merasa gugup, takut kalau Ralin menolak lamaran anaknya.
Ketika mendengar suara langkah kaki Yaris dan Ralin, mereka bertiga kompak berdiri.
"Gimana, Ris?" tanya Mama Ayu tak sabaran.
Yaris mengangkat tangan kiri Ralin dan menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya. Seketika mereka melepaskan wajah lega, kecuali Davi yang masih senang menggoda kakaknya.
Mama Ayu berlari memeluk Ralin. " Terima kasih sayang." ujarnya sambil mengelus kepala calon menantu yang diidamkannya.
"Maafin Ralin ya Ma!"
"Kenapa minta maaf?"
"Calon mantu Mama tu hampir mau kabur Mah." serobot Yaris
"Kalo kamu kabur Mamah ga akan maafin Yaris."
Merekapun tertawa bahagia.
"Kalau begitu lusa kita ke Lombok, melamar Ralin pada orang tuanya, Papa ga mau nunda-nunda lagi." titah Papa Sa'id.
"Kak Ralin kok mau sih nerima kak Yaris? Padahal aku juga udah siapin cincin lho," kata Davi sambil tersenyum jahil, "lebih bagus, lebih indah, lebih mahal, berlian langka, yang di kasih Kak Yaris mah ga ada apa-apanya." Davi makin panas meledek kakanya, kalau tidak ribut rasanya tidak seru.
"Kamu tu ngerusak momen aja, cari mati ya kamu," kesal Yaris pada Davi dan siap mengajak bergulat adik tengilnya itu.
__ADS_1