
Ralin dan Yaris kini sedang dalam perjalanan menuju rumah pertama orang tua Ralin di daerah Seganteng. Di sanalah acara inggasan pernikahannya akan dilaksanakan. Di dalam mobil Ralin tidak banyak bicara, begitupun saat makan di restaurant tadi. Sikapnya sedikit berubah setelah bicara dengan dokter yang ia temui beberapa waktu lalu. Yaris sendiri merasa sedikit khawatir dengan perubahan sikap Ralin.
"Kamu yakin ga mau cerita sekarang?"
Ralin mengangguk menjawab pertanyaan Yaris. "Nanti saja setelah kita sampai hotel, aku ceritain semuanya, sekarang kita ke rumah Seganteng dulu. Liat persiapan buat besok," lanjut Ralin dengan suara lesu.
Yaris hanya menuruti permintaan istrinya itu, dia tidak mungkin memaksa melihat wajah Ralin yang tidak seperti biasanya itu.
Sepanjang perjalanan Ralin tidak banyak bicara, kalaupun ditanya dia hanya memberi jawaban singkat, nada bicaranya pun berubah menjadi lebih rendah dan tidak bersemangat, bukannya marah pada sang suami, tapi suasana hatinya berubah setelah bicara dengan dokter Lian tadi. Sekarang dia tahu pasti bahwa rahimnya yang diangkat bukan murni kesalahan Tuan Sa'id, ayah mertuanya. Ralin merasa tidak enak jika Yaris menikahinya karena merasa harus bertanggung jawab akan keadaannya. Pikirannya sangat kalut.
Yaris dengan sabar menghadapi sikap Ralin yang labil. Dia akan menunggu kapan Ralin siap menceritakan masalah yang mengganggu pikirannya itu. Sebenarnya dia sedang menduga-duga, mungkin perkataan Rey dulu ada benarnya bahwa dokter yang melakukan tindakan pada Ralin juga melakukan kesalahan. Mungkin itu tadi yang mereka bicarakan. Tapi Yaris tidak mau Ralin mengetahui kalau dia telah lama tahu masalah maal praktek ini.
Selama di rumah mertuanyapun Ralin masih sama, lebih banyak diam, hanya melihat-lihat orang-orang yang bekerja mempersiapkan hajatan Bapaknya. Puncaknya, Ralin kini mengurung diri di kamar.
***
"Aku mandi dulu ya, setelah itu kita bicara."
Sesampainya di hotel, Ralin akan menjelaskan segalanya pada Yaris, termasuk rasa tidak enaknyap jika Yaris ingin menikahinya hanya karena merasa harus bertanggung jawab akan keadaannya. Tapi dia ingin mempersiapkan diri terlebih dahulu, berkilah mandi, bagaimana nanti reaksi Yaris jika tahu kebenaran ini. Ada rasa takut jika Yaris nanti meninggalkannya karena masalah ini.
Ralin keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar, mungkin perasaannya juga sedikit lebih tenang setelah mendapat guyuran air sebagai terapi.
"Sini deh, duduk di samping aku!" Yaris yang sedari tadi menunggu Ralin selesai dari ritual mandinya meminta sang istri duduk di sampingnya di atas tempat tidur. Dengan masih memakai handuk kimono dan rambut yang di lilit, Ralin mengikuti ajakan suaminya. Mereka duduk bersebelahan, menyandarkan tubuh di tepian ranjang. "Sekarang cerita apa yang sebenarnya ganggu pikiran kamu!"
Ralin menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ralin mengumpulkan keberanian dan mulai buka suara.
"Tadi aku tanya sama dokter Lian tentang kejadian tiga tahun lalu, waktu aku dalam proses tindakan..."
Ralin menceritakan semuanya pada Yaris sedetil-detilnya, dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari suaminya. Menurutnya kejujuran lebih baik dari apapun di muka bumi ini. "Jadi, ini bukan murni kesalahan papa. Apa kamu nikahin aku karen ini, karena merasa harus bertanggung jawab sama keadaan aku?" tutup Ralin dengan sudut mata yang sudah berair.
Yaris mengubah posisi duduknya sehingga berhadapan dengan Ralin dan meraih tangannya. Dia juga akan berterus terang tentang apa yang dilakukannya selama ini.
"Sejak awal aku sudah bilang, aku nikahin kamu karena cinta, bukan karena rasa simpati atau terpaksa. Kalau hanya sekedar merasa harus bertanggung jawab, aku bisa saja ngasih kamu uang satu koper, atau beliin kamu barang-barang mewah. Aku juga sudah tahu tentang maal praktek yang kamu alami."
Ralin terkejut, matanya akhirnya menatap Yaris setelah dia sembunyikan dari tadi. " Kok bisa? gimana kamu bisa tahu?"
"Awalnya Reyhan, dia yang ngerasa curiga tentang kondisi kamu, dia juga nyari tahu tentang rekam medis kamu atas permintaan aku, makanya aku tahu alasan kamu takut di operasi, kamu yang tidak mau punya hubungan apapun dengan laki-laki, kamu kehilangan rahim, dan aku tahu kamu mau di operasi hari itu juga dari Reyhan, makanya hari iti aku bisa dateng dan nembak kamu." jelas Yaris.
"Jadi selama ini kamu udan ngintai aku?" nada bicara Ralin sudah kembali normal dan tentu saja cempreng jika mau marah.
"Bukan ngintai Sayang, cuma nyari tahu aja."
"Sama aja, tapi kamu kok ga cerita sih?" sekarang Ralin mulai melakukan kekerasan dengan memukul pundak Yaris.
"Iya ampun deh, kalo aku cerita ntar kamunya lari trus menghindar, menghilang pergi ga pake pamit, hilang dari hidup aku, trus aku sendirian patah hati bunuh diri, mana mau aku kayak gitu."
"Gombal."
"Serius, masa dibilang gombal."
"Apalagi yang kamu tahu tentang aku?"
"Banyak sih, tapi waktu itu ga sengaja denger waktu kamu ngobrol sama Mega, malam sebelum operasi."
"Jadi kamu nguping?" lagi-lagi Ralin memukul-mukul pundak suaminya itu yang mungkin sekarang sudah memerah di balik baju.
"Bukan nguping, aaaakh sakit lho sayang." Ralin menghentikan aksinya "Aku timing-nya tepat aja pas kamu lagi ngobrol-ngobrol gitu, kebetulan aku lewat."
__ADS_1
"Ga adil tahu ga?"
"Ga adil gimana?"
"Kamu tahu semua tentang aku, sedangkan aku ga tahu apa-apa tentang kamu."
"Nanti juga kamu bakal tahu segalanya tentang aku, kamu tinggal tunggu waktunya aja dan nikmati prosesnya, sekarang yang kamu perlu tahu, aku cinta sama kamu tanpa syarat apapun, ngerti?"
Suasana berubah intim, membuat desiran darah Ralin tak beraturan, jantungnya seperti matahon, dan dia mulai gugup. Dia takut Yaris minta jatah sedangkan ia masih merasakan nyeri di bagian ....
"Kamu punya nomor ponsel dokter Lian ga?" pertanyaan Yaris mulai aneh.
"Emang kenapa, mau ngapain?"
"Aku mau ucapin makasih karena udah melakukan kesalahan, kalo ga kita ga bakal ketemu," ucap Yaris tengil dibarengi senyuman khasnya.
Jawaban Yaris membuat Ralin geram lagi tapi sekaligus merona.
"Apaan sih, ngaco deh."
"Eits, stop kdrtnya." Yaris menghindari pukulan Ralin yang aka mendarat du pundaknya lagi, "sekarang kamu istirahat, aku kasih waktu dua jam, abis itu kita mulai, kali ini sampai pagi." Suara Yaris menggoda.
"Ga mau."
"Nolak, dosa lho."
"Biarin."
"Kamu tidurnya pake handuk gitu aja, biar aku gampang bukanya."
"Yariiiiis, udah mulai mesum ya sekarang."
"Coba kamu ceritanya dari tadi, jadi moodnya ga rusak, cemberut terus sama Mamak sama Bapak sama orang-orang rumah, pasti dikira aku ngapa-ngapain kamu, aku tadi ga enak tau ga sama orang rumah."
"Maaf."
Yaris mendekap tubuh dari belakang dan sang istri terlihat semakin kecil dalam pelukannya. Mereka akhirnya berbaring dengan Ralin membelakangi Yaris.
"Kamu cuma perlu ngerti, memahami aku, mencintai aku, dan tetap di sisi aku apapun yang terjadi. Aku ga akan nuntut apa yang ga bisa kamu kasih ke aku. Ada jutaan pasangan yang ga diberi keturunan tapi mereka bahagia, mereka tetap bersama sampai akhir, sampai maut yang memisahkan. Aku ingin seperti itu."
Yaris memutar tubuh sang istri dan Ralin membenamkan wajahnya dalam pelukan Yaris, air matanya keluar tanpa ia minta mendengar ucapan-ucapan Yaris. Dia tidak menyangka suaminya berpikir sesederhana itu.
"Sumber kebahgiaan bukan cuma dari keturunan, kita akan cari kebahagiaan sendiri, dan bahagia itu kita yang putuskan." Ralin hanya mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Ingat ya dua jam lagi!" Yaris kembali berulah.
Kali ini Ralin hanya tersenyum dan tertawa kecil, tanpa mengucapkan satu katapun. Dia hanya mengeratkan pelukannya, merasakan kenyamanan dan kehangatan dari tubuh laki-laki yang sangat mencintainya itu.
"I love you, Ralin."
Ralin mendengar dan merasa Yaris mengecup ujung kepalanya, tapi kesadaran sudah meninggalkan raga. Suara Yaris bak magnet yang menariknya untuk terlelap. Kini ia telah bertemu dengan dunia mimpi.
***
Dan benar saja, sebelum azan subuh berkumandang, tepatnya jam 3 pagi, Yaris membangunkan istrinya, meminta Ralin memberikan haknya. Dengan leluasa dia membuka handuk kimono yang membalut tubuh Ralin. Kalau sudah begini Ralin tidak mungkin menolak, takut dosa.
***
__ADS_1
Hari mulai cerah, Ralin telah bersiap-siap untuk segera menuju rumah orang tuanya. Sebenarnya mamak Ralin sudah menawarkan mereka menginap agar tidak capai bolak balik hotel, tapi Ralinlah yang menolak dengan alasan pengantin baru, tidak mau diganggu.
"Nanti pas acara tuan kiainya pake baju koko ya, sorenya pas tamu perempuan pake kemeja aja, udah aku siepin."
"Oke, siap Kamu pake baju apa?
"Ga tahu, tapi Mamak udah siepin disana."
"Kita ada berapa acara sih, sayang?"
"Totalnya tiga acara, hari ini dua acara, sama besok untuk tamu luar. Tadinya bapak mau resepsi juga, tapi aku bilang ga usah."
"Kenapa?"
"Boros menurut aku, ini aja udah heboh, kamu belum liat aja nanti gimana tradisi roah di kampung. Aku malah maunya nyantunin anak yatim aja kalo bisa."
"Walimah itu sunnah lho, meskibga di paksa juga."
"Iya, ngerti."
Tepat pukul sebelas siang acara roah tuan kiai dimulai. Yaris melihat banyak sekali tamu yang hadir, semua tamu laki-laki, terdiri dari ulama, kiai, tokoh agama, pemuda dan masyarakat sekitar sana sepertinya berkumpul jadi satu di rumah Ralin. Semua ruangan penuh, bahkan orang tua Ralin meminjam ruangan rumah tetangganya untuk menampung para tamu. Halaman rumah Ralin juga disulap menjadi tempat duduk lesehan untuk para tamu tersebut beralas terpal dan karpet. Yaris mengekori mertua laki-lakinya menyambut tamu yang masih berdatangan.
Setelah zikir dan do'a bersama, para tamu disuguhkan makan siang memakai wadah bulat besar terbuat dari besi tipis yang orang Sasak menyebutnya dulang. Di atasnya dihidangkan nasi lengkap dengan piring-piring berisi lauk. Para pemuda disana mondar-mandir menghidangkannya untuk tamu yang lebih tua terlebih dahulu. Satu dulang disuguhi untuk tiga orang, di sebut tradisi begibung atau makan bersama. Yaris merasa takjub, karena biasanya dia melihat tamu mengambil sendiri makanan di meja prasmanan, sekarang dia menyaksikan cara yang masih sangat tradisional. Rasa kekeluargaan masih sangat kental. Hiruk pikukpun terjadi antara tamu undangan, tuan rumah yang punya hajat, dan pengancang, pemuda yang menghidanhkan jamuan.
Setelah tamu selesai bersantap siang, mereka segera pamit. Kembali Yaris dan mertuanya melepas para tamu dengan bersalaman di tengah gerbang. Tangannya hampir kram menyalami satu per satu tamu yang berpamitan. Ralin hanya melihat dari kejauhan tingkah laku suaminya yang cukup luwes bergaul dengan para tamu.
Semua tamu kini sudah berpamitan, Ralin segera menghampiri Yaris yang tampak kelelahan, "gimana? udah liat hebohnya?"
Yaris hanya mengangguk sambil menarik dan membuang napas. "Makan dulu yuk!" Ralin menggeret suaminya ke dalam rumah untuk makan siang bersama.
"Ini apa?" Yaris bertanya satu lauk yang masih sangat asing baginya.
"Itu namanya ares, di buat dari batang pisang yang diambil tengahnya aja, yang ini olah-olah udah tahu kan nama sayurnya, cuma dikasih bumbu santan aja, mirip salad gitu tapi ini sayurnya direbus dulu sebentar," jelas Ralin.
Yaris hanya ber-oh ria mendengarnya. Rakin juga menjelaskan sayur lainnya yang tampak asing bagi Yaris. Dia sempat bergidik ngeri mengetahui itu adakah sayur nangka muda, tapi setelah mencicipi rasanya, persepsi Yaris berubah.
Merekapun makan siang dengan lahap. Tidak seperti biasanya makan di kursi, kali ini mereka makaan dilantai, lesehan dan tidak makai sendok tapi pakai tangan. Menurut Yaris terasa lebih nikmat. Ini pengalaman pertama Yaris.
"Ini semua siapa yang masak?" tanya Yaris mengakhiri makannya dengan mencuci tangan di mangkuk yang berisi air.
"Mamak, dibantu keluarga dan orang-orang sekitar rumah. Tamu perempuan nanti datangnya jam 4, kamu istirahat aja dulu di kamar! Aku mau bantu yang lain cuci piring."
Yaris menuruti instruksi dari Ralin, dia menuju kamar Ralin ingin merebahkan badan sejenak.
***
Pukul 4 sore Yaris dan Ralin sudah siap menyambut tamu yang akan datang. Mereka terlihat cantik dan gagah. Yaris mengenakan kemeja yang telah disiapkan istrinya sedangkan Ralin memakai baju setelah berbahan sifon dan batik sutra. Make up minimalis dipilih Ralin untuk menyempurnakan tampilannya.
Sedikit berbeda dengan tamu kiai, kali ini yang datang adalah tamu perempuan, terdiri dari ibu-ibu sekitar rumah Ralin dan juga kenalan orang tua mereka dari kampung sebelah. Tamu perempuan datang dengan membawa buah tangan. Ada yang membawa beras, gula, buah-buahan, kue, kado yang terbungkus rapi yang kemungkinan kata Ralin berisi seprei atau handuk. Pokoknya hadiah yang lumrah diterima pengantin baru lah ya. Jika tamu kiai melaksanakan do'a bersama terlebih dahulu, tamu perempuan langsung dusuguhkan hidangan yang mirip dengan hidangan yang diberikan untuk tamu kiai, cumaa bedanya ada tambahan lauk, yaitu bakso, sisanya sama.
Tidak ada meja prasmanan, semua tamu duduk di lantai beralas tikar dan karpet. Semua tampak akrab, saling menyapa ngobrol, bercanda, sangat harmonis dan akrab. Tidak jarang para tamu memanggil Yaris dan Ralin duduk bersama untuk sekedar bertanya, Ralinpun kadang sibuk mengenalkanYaris pada para tamu. Yaris hanya tersenyum mendengar para tamu yang kadang menggoda, dia malah lebih banyak tidak mengerti karena Ralin memakai bahasa ibunya mengobrol dengan tamu, yaitu bahasa Sasak.
Dan acara pun berakhir jam 6 petang. Sungguh hari yang melelahkan untuk Yaris dan Ralin.
"Ini belum selesai lho sayang."
Ujar Ralin pada Yaris yang berbaring di atas tempat tidur, membuat Yaris terkesiap. "Besok masih ada tamu luar."
__ADS_1
"Astaga."