Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Orang Tua Baru (Ending)


__ADS_3

Beberapa jam bergelut dengan kompor, wajan dan teman-temannya di dapur membuat Ralin merasa gerah. Malam ini Ralin berencana memberi kejutan untuk suaminya guna mengganti acara bulan madu mereka yang batal. Ralin telah menyiapkan makan malam special untuk Yaris. Ruang makan telah ia sulap dengan mempercantiknya dengan bunga segar dan lilin yang ia tata sedemikian rupa. Menu makanan pun Ralin siapkan yang lain dari biasanya, yaitu steak salmon kesukaan Yaris, salad, dan puding mangga dengan vla sebagai dessert.


Setelah semua ia rasa beres, Ralin lalu membersihkan diri, mengganti baju dengan gaun malam yang indah dan memakai make up tipis untuk mempercantik dirinya. Sempurna.


Ralin melirik ke arah jam dinding, perkiraannya Yaris akan pulang tiga puluh menit lagi. Kesempatan itu ia isi dengan menyiapkan baju yang akan ia bawa besok pulang ke Lombok untuk menghadiri acara pernikahan Arya.


***


Yaris bergegas menuju pintu setelah menyadari jam pulang kantor telah lewat tiga puluh menit yang lalu. Ia segera menuju parkiran dan meninggalkan gedung kantor milik keluarganya itu. Terbersit niatnya untuk membelikan Ralin bunga mawar putih di tengah perjalanannya menuju apartemen.


Tepat pukul tujuh malam Yaris sampai di apartemen setelah satu jam lebih terjebak kemacetan lalu lintas.


Dan ketika ia memasuki ruang apartemennya rasa kagum langsung menghampirinya "Wow" ucapnya seketika itu juga.


Yaris mencari sosok yang ia rindukan dan...


"Hei, sudah pulang?" Ralin menghampiri Yaris dan mengambil alih tas kantor yang Yaris bawa dengan tangan kiri.


"Ini semua kamu yang siapkan?" tanyanya takjub.


"Iya dong, masa mbok Mirah," jawab Ralin sambil mendapat kecupan kening dari suaminya.


Yaris pun menyerahkan bunga yang ia beli di tengah perjalanan pulang tadi.


"Kamu beli bunga?" tanya Ralin antusias.


Yarispun mengangguk, "Kok timingnya pas ya?"


Merekapun tertawa bersamaan.


Ralin lalu memindahkan bunga pemberian Yaris ke dalam vas yang telah di isi air.


"Kamu dandan juga?" tanya Yaris lagi.


"Iya, kenapa? Jelek ya?" cecar Ralin


"Sapa bilang jelek?"


Yaris lalu meraih pinggang langsing Ralin, memutarnya agar mereka berhadapan dan mendaratkan bibirnya pada bibir Ralin. Yaris ******* lembut bibir sang istri tanpa jeda.


"Cantik, tapi buat aku aja ya, jangan buat yang lain!" Yaris posesif.


Mendengar jawaban suaminya Ralin terkekeh ringan. Yarispun kembali melakukan aksinya, kali ini lebih agresif membuat Ralin kewalahan.


Yaris berhenti sejenak karena mereka sama-sama kehabisan napas.


"Kita dinner dulu ya!" sela Ralin. Karena kalau tidak diingatkan mungkin malah dia yang akan di makan Yaris duluan. Mereka lalu berjalan menuju meja makan.


Yaris kembali takjub melihat menu yang telah disiapkan sang istri. Tentu saja ia senang karena semua itu adalah makanan kesukaannya.


"Makasi sayang." ujarnya sembari mencium punggung tangan Ralin.


Ralin tersenyum bahagia, darahnya mendesir hangat menerima perlakuan romantis suaminya. Sentuhan kecil, ciuman tangan saja, berefek menghangatkan seluruh tubuh Ralin.


Mereka mulai menikmati makanan dengan hikmat. Semua masakan Ralin disikat habis oleh Yaris karena masakan istrinya memang terasa lezat di lidahnya.


"Besok aku ikut pulang ke Lombok, Yang." ujar Yaris dan itu membuat Ralin sedikit terkejut. Setahunya Yaris akan menyusulnya dua hari setelah keberangkatannya. Ralin berangkat lebih dulu karena rangkaian acara pernikahan kakaknya memang lumayan banyak sebelum ijab qabul.


"Kenapa? Kan katanya mau nyusul belakangan? Aku bisa kok pulang sendiri, jangan di paksa kalau memang kamu sibuk."


"Ga ada yang maksa atau di paksa. Aku mana tahan dua hari ga ada kamu, lagian aku tadi udah selesaikan semua kerjaan, sisanya udah aku bagi-bagi ke setiap kepala divisi."


Ralin tersenyum geli mendengar penyebab perubahan rencana mereka.


"Baiklah, nanti aku siapkan koper kamu juga kalau gitu."


Suara dering ponsel Yaris menjeda obrolan mereka di meja makan. Yaris menggeram melihat id si penelfon.


"Reyhan Yang. Ngapain sih tu dedemit, bikin kacau aja."


"Angkat angkat!"


***


"Kenapa Rey?"


"..."


"Ngelamar?"


"..."


"Ga keburu kali bro kalau ke Cikole, nanti kemalaman, besok kita mau ke Lombok juga, lo ngelamar di tempat gue aja, kebetulan ni udah di sulap Ralin jadi mini Cikole apartemen kita."

__ADS_1


"..."


"Serius kali, lo datang aja, nanti Mega biar Ralin yang telpon minta ke sini!"


"..."


"Sip. Gue tunggu."


***


"Reyhan mau ngelamar Mega?" tanya Ralin antusias.


"Iya Yang. Telpon gih suruh ke sini, tapi jangan bilang rencananya Rey!"


Ralin segera meraih ponselnya dan menghubungi Mega. Dia beralasan akan membahas pembukaan cabang kedainya malam ini karena besok akan pulang kampung.


Tak perlu menunggu lama, Mega datang dengan kantong plastik berisi cemilan dan minuman ringan.


"Lo habis ngapain pakai lilin dan bunga segala?" tanya Mega begitu menginjakkan kaki di ruang tamu apartemen Yaris.


"Kita habis candle light dinner, kan gue besok mau ninggalain Yaris duluan ke Lombok, gue siapin deh makan malam spesial. Taunya dia mau ikut juga ga mau jauh dari gue."


"Gue ganggu dong, lagian kenapa harus malam ini sih Lin? Besok-besok kan bisa."


"Ga bisa Ega, besok gue ke Lombok, balik ke sini sebentar terus ke Palembang jemput bayi gue. Bakalan sibuk gue jadi ibu."


"Syukur deh, gue ikut seneng lo akhirnya gendong bayi. Jadi apa yang mau di bahas nih?"


"Thank you, buat ucapannya, dan gue mau serahin semua wewenang dan rencana pembukaan cabang kedai gue ke elo. Ibaratnya sekarang lo jadi direktur, manager sekaligus second owner, lo mending berhenti deh nyari-nyari kerjaan lain, kirim-kirim lamaran sana-sini. Apa jadi direktur di kedai gue belum cukup, atau gaji lo kurang?"


"Bukan gitu, Lin. Terus terang gue minder sama kak Rey, secara dia dokter, gue bukan apa-apa, remahan kerupuk istilahnya." curhat Mega sedikit bersedih.


"Jadi itu alasan lo nolak lamaran Rey kemarin-kemarin?"


Mega mengangguk lemah.


"Lo kenapa berkecil hati gitu? Kayak bukan Mega yang gue kenal. Lo harus rubah mind set lo yang kolot itu Ga! Coba lo pikir, Reyhan seorang dokter, pasti dia sibuk. Terus seandainya lo jadi wanita karir yang terikat dengan jam kerja tertentu, gimana jadinya kalau lo punya anak nanti, bakalan ga keurus anak plus rumah tangga lo," jelas Ralin sebagai pencerahan untuk Mega.


"Benar juga sih, Lin. Tapi enggak tahu kenapa gue ngerasa belum pantas aja jadi pendamping kak Rey."


"Mega sayang, please jangan mikir pantas ga pantas! Masih mending elo, elo ga nyadar gimana gue setidak pantasnya jadi istri Yaris karena kekurangan gue sebagai wanita?"


"Sayang, kok jadi bawa-bawa kita?" sela Yaris yang pura-pura asik memainkan ponselnya.


"Udah deh! Kalau Rey mencintai lo nerima lo tanpa syarat elo juga harus begitu! Kalian saling mencintai. Paham kan lo?" lanjut Ralin.


Tanpa mereka ketahui Rey mendengar semua pengakuan Mega karena Yaris telah menyambungkan mereka via telpon sejak awal percakapan dua sahabat itu. Tak lama bel apartemen milik Yaris pun berbunyi.


"Lo ada tamu lagi?"


"Iya."


"Gue pamit deh kalo gitu."


"Udah, diem aja, tamunya nyari lo kok," kata Ralin sok misterius.


Yaris segera baranjak membuka pintu, "masuk bro!"


Tanpa Mega sadari Reyhan telah berada di belakangnya.


"Hai!" sapa Reyhan.


"Kok kak Rey di sini?" seru Mega kaget.


"Gue sama Yaris masuk dulu ya, dan lo ingat kata-kata gue!" Ralin mengacungkan jari telunjuknya pada Mega.


"Kenapa kalian pergi?" tanya Mega tak mengerti.


"Tanya pacar lo, Rey jangan macem-macem ya di apartemen gue!" jawab Yaris sambil berlalu ke arah balkon dan segera menutup tirai dan pintu kaca yang memisahkan mereka.


***


"Kak Rey kok bisa di sini juga?"


"Memang aku yang minta Ralin nyuruh kamu kesini."


"Maksudnya gimana? Kenapa gabketemu di luar aja? Biasanya juga gitu"


Rey hanya menggeleng dan tersenyum melihat ekspresi Mega yang terlihat khawatir.


"Pengen aja ketemu di sini, mumpung Ralin masak enak, kita dapat makan gratis." Lagak Rey sok miskin.


"Tapi kenapa di sini sih? Buat apa minta tolong Ralin? Kita ganggu mereka malah"

__ADS_1


"Karena kalau aku yang minta pasti kamu nolak, dan maksud aku kesini mau lamar kamu, lagi. Masalah pasangan gila itu ga usah khawatir, mereka malah senang di gangguin."


Reyhan menjeda sebentar kalimatnya, dan hening itu membuat janting Mega bekerja tidak senormal biasa. Lagi-lagi dia akan dihadapkan pada lamaran Reyhan untuk yang ke tiga kalinya.


"Dulu aku belum tahu alasan kamu nolak lamaran aku karena kamu selalu menghindar dan selalu bilang belum siap. Tapi sekarang, malam ini aku ingin mematahkan semua alasan yang bikin kamu menolak ajakan aku untuk menikah."


"Aku tidah membutuhkan wanita yang memiliki jabatan, harta atau status sosial yang tinggi. Aku cuma butuh wanita yang mau menerima segala kekuranganku, menemaniku setiap saat, menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anak kami saat aku bekerja, dan aku merasa kamulah wanita itu, yang aku butuhkan untuk melangkah bersamaku menjalani sisa hidupku." Reyhan berhenti sejenak.


Ia lalu merosotkan badannya ke lantai dan mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya berisi sebuah cincin. Sontak saja Mega terkejut bukan main. Sudut matanya telah berair sedari awal Rey mengucapkan kalimat-kalimat romantis itu.


"Mega Damayanti, will you marry me?"


Mega menutup wajahnya tak percaya. Reyhan berhasil merobohkan dinding pertahanannya dengan ungkapan-ungkapan yang mematahkan alasannya selama ini menolak ajakan Reyhan menikah.


Reyhan bukan tipe pria romantis. Saat melamar sebelum-sebelumnya dia meminta hanya seperti mengobrol biasa, tidak seresmi seperti sekarang. Jadi untuk lamarannya kali ini sepertinya...


"Egaaaaaa jangan kelamaan mikir!" teriak Ralin yang sesekali mengintip dari balik tirai.


"Iya, aku mau," jawab Mega mantap.


"Yes!" teriak Reyhan sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara.


Lalu Reyhan meminta Mega berdiri dan memasangkan cincin tanda pengikat cinta mereka. Yaris dan Ralin tak kalah heboh. Mereka bersorak-sorak sambil bertepuk tangan. Tak lupa Yaris mengambil gambar dengan ponselnya sebagia kenangan mereka hari itu.


"Sebentar, biar gue video call Yundhi, Rey. Kita komporin dia."


***


Keesokan harinya Yaris dan Ralin bertolak ke Lombok. Mereka akan berada disana kurang lebih selama dua minggu. Rentetan acara pernikahan Arya memang lebih panjang dari Ralin karena Arya menikahi anak keturunan bangsawan daerah tersebut. Jadi, mereka harus melaksanakan tradisi yang benar-benar telah di tentukan oleh tokoh adat setempat.


Sampai pada hari terakhir, dua acara pernikahan akan dilakukan keluarga Arya yaitu nyongkolan dan bejango. Yaris paling antusias dengan adat nyongkolan. Pada acara adat tersebut Yaris dan Ralin berpakaian adat lengkap bak raja dan ratu. Begitupun para pengiring mereka juga memakai pakaian adat tapi tentu lebih sederhana dari pakaian pengantinnya. Yaris dan Ralinpun demikian, Ralin mengenakan kebaya dipadukan dengan kain songket khas Lombok, dan Yaris juga mengenakan sapuq pengikat kepala, baju adat berwarna hitam lengkap dengan kain tenun khas Lombok.


Mereka akan berkunjung ke rumah pengantin wanita, tapi diturunkan dintengah perjalanan, melanjutkannya dengan berjalan kaki diiringi para pemain musik tradisional bernama gendang beleq.


Iring-iringan nyongkolan tersebut menarik minat warga sekitar. Bahkan tak jarang turis lokal maupun asing mengambil gambar mereka.


***


Seminggu setelah kembali dari Lombok, Ralin dan Yaris resmi pindah ke rumah baru mereka. Mereka sangat senang dengan hasil kerja designer interior yang mereka sewa untuk menata rumah baru itu. Tak lupa mereka mengadakan syukuran atas kepindahan mereka. Semua telah di atur oleh Ayu. Mertua Rakin itu sangat baik. Dia lah yang mengatur acara itu dari A sampai Z, berinisiatif sendiri karena tahu pasti Ralin kelelahan mengurusi acara pernikahan kakaknya.


Ditengah-tengah acara syukuran Yaris dikagetkan dengan telpon dari suami Renata. Dia memberitahukan bahwa Renata akan masuk rumah sakit keesokan paginya, sehari berikutnya baru akan dilakukan tindakan. Renata memilih jalan kelahiran secar karena dirasa lebih aman untuk kelahiran anak kembarnya.


Tentu saja Yaris segera menyampaikan berita gembira itu pada Ralin, mendengarnya membuat Ralin menangis haru. Tak lupa ia meminta do'a dari tokoh pemuka agama dan warga yang hadir pada acara syukuran tersebut agar persalinan Kakak mereka nanti berjalan lancar.


Keesokan harinya Ralin, Yaris, mama Ayu dan tuan Sa'id bertolak dari Bandung menuju Palembang. Sesampainya di bandara mereka langsung menuju rumah sakit tempat Renata di rawat. Renata adalah anak dari saudara kandung tuan Sa'id. Jadi hubungan keluarga mereka memang sangat dekat.


Ralin tak henti-hentinya berdo'a sambil memegang tangan Yaris yang duduk di sampingnya.


"Tenang sayang, semua akan baik-baik aja, yakin deh!"


"Aku gugup Ris, semoga proses kelahirannya lancar."


"Aaamiin."


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit yang dimaksud. Di sana sudah menunggu anggota keluarga yang lainnya baik dari pihak Renata maupun suaminya.


Ketika memasuki kamar, Ralin langsung memeluk Renata yang sedang bersiap-siap akan dibawa ke ruang operasi. Kejadian itu membuat anggota keluarga yang melihat merasa terenyuh.


"Kakak nanti yang kuat ya! Ralin akan terus berdo'a buat kakak dan calon bayi kakak." ucap Ralin sambil berlinang air mata.


"Calon bayi kamu juga Sayang, kamu juga akan jadi ibu, harus kuat, ga boleh cengeng, oke!"


Setelah merasa puas saling memberi kekuatan, Ralin melepaskan pelukannya. Para suster jaga yang akan membantu persalinan Renata segera mendorong brangkar di bantu Yaris dan suami Renata, Rian, menuju ruang operasi.


Para anggota keluarga menunggu di luar ruangan. Ralin duduk lemas menyandarkan kepalanya pada bahu mama Ayu. Mama Ayu banyak memberinya wejangan bagaimana cara mengurus bayi yang benar. Yaris terlihat mengobrol denga Rian di dekat pintu ruang operasi.


Kurang lebih setengah jam mereka menunggu seorang dokter berpakaian hijau keluat dari pintu kamar operasi. Para anggota keluarga segera mendekati dokter itu. Satu pertanyaan yang mereka ajukan,


"Gimana operasinya dok?"


"Operasinya berjalan lancar, anak kembar ibu Renata berjenis kelamin laki-laki, ibu dan kedua bayinya dalam keadaan sehat."


"Alhamdulillah." koor para anggota keluarga.


Yaris dan Rian saling berpelukan dan memberi ucapan selamat. Begitupun anggota keluarga lainnya.


Satu jam kemudian bayi kembar itu di bawa ke kamar inap tempat Renata di rawat. Bayinya di bawa ke kamar terlebih dahulu sedangkan Renata masih menjalani tindakan pasca operasi.


Rian menarik tangan Yaris mendekati box bayi mereka.


"Kita azankan sama-sama ya!" ucap Rian pada Yaris.


Mendengar ajakan Rian, Yaris mendadak gugup, aliran darahnya mendesir hebat, jantungnya berdegup kencang, tapi segera ia berusaha normalkan. Yaris mengangkat tubuh bayi mungil yang ada dihadapannya dan mengazankannya di telinga kanan, kemudian iqomah di telinga kiri si bayi.

__ADS_1


Melihat pemandangan membuat Ralin meneteskan air mata haru. Penantian mereka berakhir hari itu, meski anak adopsi, mereka tetap resmi menjadi orang tua baru.


__ADS_2