Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Ibu Menteri Sosial


__ADS_3

Pagi ini baby D diperbolehkan pulang oleh dokter, Yaris dan Ralin tengah dalam perjalanan pulang menuju panti. Di dalam mobil suasana sangat hening, baby D sudah pasti tertidur sejak tadi, setelah Ralin memberinya satu botol susu formula. Ralin sibuk dengan pikirannya bagaimana caranya membantu panti agar bisa melewati keadaan sulit yang sedang terjadi, sedangkan Yaris masih mengkilas balik kejadian yang ia lihat di rumah sakit.


Yaris terus terbayang Ralin tadi pagi yang tidak henti-hentinya bersin setelah bangun tidur. Entah penyakit aneh apa yang dia derita, yang jelas setiap bangun tidur hidung Ralin pasti meler dan dia akan bersin secara terus menerus, bukan hanya lima atau sepuluh menit, bersinnya bisa sampai satu jam kata Ralin yang sempat memberitahunya.


Ralin terus saja bersin ketika baru membuka mata. Dia terus menyumpal hidungnya dengan tisu, entah sudah berapa lembar tisu yang dia habiskan sejak awal penyakitnya kumat. Suara bersin Ralin bahkan sampai membangunkan Yaris.


"Kamu udah bangun, sorry aku keluar dulu tolong jaga baby D sebentar." Ralin bicara sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tisu. Yaris yang masih setengah sadar hanya menganggukan kepala.


Suara bersin Ralin bisa Yaris dengar dari dalam kamar, ternyata Ralin duduk di luar kamar sambil membawa satu kotak tisu di tangannya. Yaris yang sudah sadar sepenuhnya setelah mencuci muka menyusul Ralin yang ada luar.


"Kamu kenapa? Sakit?"


"Enggak, ini udah kebiasaan setelah bangun aku pasti meler dan bersin-bersin."


Aneh ni orang.


"Udah pernah periksa ke dokter?"


Ralin mengangguk, "udah, ini kayak alergi, ntar berhenti sendiri kok."


Ralin terus saja bersin, Yaris sebenarnya kasian tapi sekaligus merasa geli melihat penampakan Ralin, hidungnya merah dan suara bersinnya sangat lucu di telinga Yaris.


Setelah bertarung hampir tiga puluh menit barulah Ralin kembali normal seperti semula.


Mobil Yaris berhenti tepat setelah lampu merah menyala. Matanya kembali melirik pada pada wanita yang duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Ralin sedikit heran melihat Yaris tersenyum bahkan hampir tertawa dari tadi.


"Ga apa-apa, emang ga boleh senyum, kan ibadah?"


"Iya kalo ada alasannya, ada orang yang mau disenyumin, kamu tu senyum- senyum ga jelas, disangka gila baru tau."


Yaris kembali tertawa kecil. Entah kenapa dia ingin sekali tertawa. Iya, hanya tertawa, di samping wanita ini.


Dasar cowok aneh.


***


Ralin terus memutar otak bagaimana caranya bisa membantu panti agar bisa melewati krisis gegara Yaris yang menghentikan donasinya.


Mega hanya bisa menggeleng kepala melihat sahabatnya yang terus saja memantangi laptop dari pagi hingga pagi lagi.


"Lin, lo boleh kepikiran ya masalah panti, tapi kesehatan juga penting lho. Sadar ga sih makan lho udah ga teratur belakangan ini."


"Makanya lo bantuin gue dong, kasih ide kek, usul apa kek."

__ADS_1


"Ide mbahmu, kalo saya ikutan pusing ini kedai ga keurus tau, lo mau jadi tunawisma "


"Ya Allah,, na'udzubillah, amit-amit ih."


"Lo udah bikin proposal?"


"Sempat mikir gitu, tapi kesannya kok kayak pengemis ya perasaan gue, ga mau deh. Lagian gue juga ga banyak kenalan kan di sini." Ralin merasa sangat putus asa, sampai dia merasa ingin menyerah.


Proposal?


Itu mungkin jalan yang paling akhir yang akan dia ambil.


"Aaaaaah gue ada ide, gimana kalo lho bikin pertunjukkan seni yang melibatkan anak-anak panti," tiba-tiba Mega mencetuskan ide yang menurut Ralin sangat brilian, tapi belum memahami dengan baik maksud perkataan sahabat karibnya.


"Pertunjukan seni, maksud lo?"


Dengan sabar Mega menjelaskan pada sahabat yang sekaligus bosnya.


"Jadi gini, untuk menarik minat para donatur, lo bikin pertunjukkan seni yang libatin anak-anak panti Lin, misalnya nari, drama ato nyanyi ato seni apapun yang menurut lo bisa dilakukan sama anak-anak."


"Gimana caranya?"


"Ya lo latih tu anak-anak, sesuai bakat mereka."


"Ini ni lo taunya masalah kopi doang ma ganti pampers," tanpa ragu Mega menyindir atasannya. Memang benar, dunia Ralin hanya dua, kopi dan anak-anak panti.


"Serius kali Ga, gue tu sarjana ekonomi."


"Iya, gelarnya doang. Nyatanya itu lo Sarjana Sosial." Kesal Mega, "lo lupa ya kalo ada di Bandung? Di sini banyak orang-orang kreatif Lin, terutama anak muda, makanya lo sekali-kali gaul coba ke dunia lain, dunia luar maksud hue, bukan dunia arwah." Mega menjeda sejenak, "gini deh masalah pelatih seninya gue nanti minta bantuan sama temen-temen kuliah gue, mereka ada kok yang bisa nari, drama, puisi, bahkan paduan suara. Lo tinggal nentuin seni apa yang mau dipertunjukkan dulu." Mega menjelaskan panjang lebar pada Ralin yang saat itu hanya bengong memperhatikan ocehannya.


"Jadi kesannya ga ngemis-ngemis amat gitu, ada usahanya juga, gimana?"


"Ga, gue baru tau lo sepintar ini." Spontan saja Ralin memeluk Mega erat.


"Cih modus ya lo, tapi ini ga gratis ya Lin, ada syaratnya, lepas dulu, ih."


"Kok gitu? Apaan? Jangan aneh-aneh!"


"Ng... enggak sekarang gue kasih tau ntar aja." Mega menyunggingkan senyum misterius pada Ralin.


"Lo ga akan minta kedai ini jadi imbalannya kan Ga?"


"Kagaaaaaak, apaan sih, gue ga seserakah itu."


"Becanda."

__ADS_1


Mereka tertawa puas karena diskusi kecil itu menghasilkan faedah yang akan sangat membantu panti.


Mega tidak hanya teman, sekedar sahabat bagi Ralin, bahkan Mega sudah seperti saudara perempuannya. Ralin tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika tidak bertemu Mega. Banyak hal yang telah mereka lalui. Jatuh bangun bersama menaklukkan kota yang sama-sama asing bagi keduanya.


***


Keesokan harinya Ralin datang berkunjung ke panti dan segera menemui bunda Diah. Ia mengutarakan idenya tersebut dan di sambut baik oleh bunda Diah.


"Kebetulan lho nak Ralin, anak-anak kadang suka main drama-dramaan kalo ada waktu luang, nak Ralin nanti bisa tanya langsung sama anak-anak apa minat dan bakat mereka."


"Iya bun, tapi ini waktunya lumayan mepet ya, saya mungkin nanti mau mudik ke Lombok. Jadi sebelum itu saya akan usahakan pertunjukkan ini berlangsung.


"Terimakasih nak Ralin, Nanda sudah sangat membantu di panti. Bunda ga tau harus membalas nak Ralin dengan cara apa."


"Buda ga perlu, Ralin ga perlu balasan apapun, cukup sebut Ralin dalam do'a bunda, itu sudah cukup buat Ralin."


Tidak ada hadiah yang lebih indah dan romantis selain nama yang diucapkan dalam do'a. Cara lain seseorang mengungkapkan perasaannya selain dengan kata yang terucap, adalah dengan do'a dalam diam.


Ralin sudah merasa cukup dengan apa yang diraihnya sekarang. Usahanya cukup lancar. Ia merasa mapan dengan apa yang ia miliki.


Tidak semua manusia itu serakah, ada masa di mana seseorang merasa cukup untuk urusan dunia.


***


Setelah Ralin mengadakan observasi pada anak-anak panti dan mengadakan diskusi dengan para pegawai akhirnya diputuskan bahwa pertunjukan yang akan ditampilkan yaitu tarian, nyanyi, paduan suara dan drama. Ralin menyampaikan hasil observasinya pada Mega dan tanpa menunggu lama Mega menghubungi temannya yang bisa membantu melatih anak-anak panti tersebut. Diluar dugaan ternyata banyak pihak yang ingin membantu untuk sekedar melatih anak-anak, bahkan ada teman Mega yang mempunyai grup band juga ingin menyumbangkan aksi mereka jika di beri kesempatan. Tentu saja Ralin dan Mega menerima dengan senang hati.


Mega juga telah menyiapkan brosur yang akan diedarkan ke beberapa tempat strategis agar bisa dilihat orang banyak. Tak lupa undangan untuk diberikan kepada pemilik usaha disekitaran Bandung. Mereka menyasar pengusaha lokal yang di rasa sukses. Semoga saja usaha mereka membuahkan hasil.


"Gimana persiapannya Lin?"


"Bereslah Ga, hari ini anak-anak gladi resik. Panggung dan ruangan udah siap. Over all semua lancar, semoga besok banyak yang datang."


"Aamiiin, by the way gue juga udah nyebar pengumuman di medsos, eh narasi lo udah siap ga Lin? Apa ga lo rekam aja biar gampang."


"Ish, narasi gue tu acara penutup, ga seru dong kalo yang di puter cuma rekaman, ga nge-touch hati donatur dong ntar." Ralin menolak ide Mega.


"Ya udah up to you lah ibu MenSos."


***


Di tempat lain, Yaris menatap layar ponselnya hampir tak berkedip, temannya men-tag akun medsosnya dan sekarang ia tengah membaca poster pertunjukan yang akan diadakan Ralin.


"Wow, sebegitu besarnya pengaruh keisengan gue berhentiin donasi ke panti ini, ck." Terbersit rasa bersalah dalam hati Yaris saat itu, "tapi menarik juga ni."


Meski begitu, tanoa alasan yang ia tahu pasti, Yaris merasa senang akan adanya pertunjukkan di panti. Ia akan memastika dirinya akan menghadiri acara itu. Untuk ukuran orang sekelas Yaris, acara itu mungkin acara remeh yang tidak memberi keuntungan padanya atau perusahaannya, tapi Yaris merasa ada alasan kuat yang belum bisa ia ungkap bahwa kehadirannya dibutuhkan di sana.

__ADS_1


__ADS_2