
"Saya terima nikah dan kawinnya Ralin Aninta Wahyu binti Tamrin Wahyu dengan maskawin tersebut di bayar tunai."
"Sah" koor para saksi pernikahan Ralin dan Yaris.
Yaris akhirnya melafalkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas, tanpa ada pengulangan. Menurut pemahaman masyarakat, jika ijab qobul dilafalkan dalam satu tarikan nafas, tanpa kesalahan dan pengulangan, artinya sang laki-laki benar-benar mencintai wanitanya. Itu sih katanya.
Karena acara pernikahan yang tergolong mendadak, Ralin dan Yaris tidak mengundang banyak tamu, acara tersebut hanya dihadiri keluarga dan beberapa teman kedua mempelai. Meski begitu tidak mengurangi kemeriahan dan kesakralan dari acara sekali seumur hidup sang pengantin.
Yaris tampil gagah dengan setelan khas baju pengantin pria berwarna putih tulang dan Ralin tampil cantik dengan kebaya warna senada dihiasi payet dan kristal swarovski. Tadinya setelan baju pengantin tersebut adalah baju yang juga di sewa pada make up artist Ralin, tapi Yaris bersikeras membeli berapapun harganya, lagi pula baju itu baru selesai di buat, jadi belum ada pasangan lain yang memakainya dan sangat pas saat mereka kenakan. Katanya untuk kenang-kenangan ia dan Ralin.
Pasangan itu kini tengah menerima ucapan dari para tamu undangan, perasaan Ralin tamunya tidak terlalu banyak tapi entah kenapa yang datang salaman tidak putus-putus.
Ketika Rey datang mendekati mereka, Yaris sudah menyiapkan kepalan tangan untuk menyambutnya.
"Gue dateng bukan buat di aniaya ya, catet!"
Kepalan tangan Yarispun berubah jabatan khas anak muda disertai pelukan sahabat.
"Selamat ya bro, gue ga nyangka lo senekat ini, gercep lagi." ucap Rey pada sahabatnya itu.
"Thanks' udah sempat dateng juga. Dan lo kapan nyusul, kita nuntut penjelasan lo tentang Mega!"
"Lain kali deh, baru dua kali kencan juga." tolak Rey.
"Dokter Rey bukan player kan?" tanya Ralin tiba-tiba.
Rey dan Yaris tertawa mendengar pertanyaan Ralin.
"Dia player kelas berat sayang, tapi dulu waktu kuliah, sekarang udah tobat." jelas Yaris.
"Awas ya kalo nyakitin temen aku!" Ralin mengancam Ralin.
"Santai Lin, udah ga kok."
Rey masih berdiri di sana, mengobrol dengan pengantin baru, meski tidak penting Rey lebih merasa nyaman nicara dengan mereka daripada duduk dengan orang yang tidak ia kenal.
"Yundhi udah lo kabari?" pertanyaan lainnyang Rey ajukan pada Yaris dan membuat wajah Yaris berubah kesal.
"Sudah,tapi mana mau dia datang," Yaris meringis mengingat dimana sahabatnya itu berada sekarang, "sama Emmy mungkin, liburan ke luar, males gue sama tu anak, dunianya cuma dua, pesawat sama Emmy."
Rey mengangguk setuju.
"Siapa Yundhi?" tanya Ralin penasaran, baru kali ini dia mendengar nama itu.
"Temen ga penting," Yaris melingkarkan tangan pada pinggang istrinya, membuat Reyhan berdecih samar, "nanti juga kamu kenal."
Acara yang dimulai sejak pukul 10 pagi tersebut akhirnya berakhir pada jam 2 siang, para tamu juga telah meninggalkan tempat acara.
Rumah Ralin sudah tampak lengang, hanya beberapa sanak keluarga yang masih tinggal, mungkin untuk membahas acara inggasan (perayaan setelah akad nikah) pernikahan Ralin besok. Ralin memutuskan masuk kamar, ingin segera merebahkan diri karena pegal.
"Capek ya?" tanya Yaris ketika melihat Ralin memukul-mukul pundaknya dengan kepalan tangan "mau aku pijit?" tawarnya.
"Ga usah, mas juga pasti capek!" tolak Ralin lembut, sebenarnya dia sangat gugup Yaris mengikutinya masuk kamar, ini telah mejadi hari pertama dan akan mejadi malam pertama bagi mereka sebagai pasangan pengantin, tentu saja Yaris berhak penuh atas raga Ralin. "Mau aku bikinin kopi?" tawar Ralin menyembunyikan rasa takutnya.
Yaris tersenyum melihat tingkah sang istri. Diapun mendekati Ralin yang terduduk di depan meja riasnya. Tangannya bergerak memegang pundak sang istri, memijitnya dengan lembut sebentar kemudian ia membungkukkan badan dan berbisik "Aku mintanya nanti setelah kita di hotel, jadi kamu masih punya waktu buat siap-siap," goda Yaris dan berhasil membuat bulu kuduk Ralin berdiri. Merindingggg.
Yarispun meninggalkan Ralin yang masih dengan mulut ternganga, dia menuju kamar mandi hendak membersihkan diri.
Hari beranjak petang, Yaris dan Ralin bersiap-siap berangkat menuju hotel, mereka akan menginap selama 3 hari sampai rentetan acara di tempat Ralin selesai. Ayah Ralin akan mengadakan acara pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahaan Ralin.
Acara akan dimulai besok pagi, mulai dari mengundang para kiai, tokoh agama dan masyarakat setempat. Khusus untuk tamu kiai akan dilakukan do'a bersama. Sore harinya di lanjutkan dengan menjamu tamu khusus perempuan di wilayah sekitar tempat tinggal orang tuanya. Dan keesokan harinya dilanjutkan dengan menjamu tamu luar daerah tempat tinggal yang mungkin terdiri dari teman atau relasi bisnis. Sudah menjadi tradisi bagi sebagian orang Lombok, memisahkan jadwal jamuan untuk jenis tamu berbeda, meski bisa saja di gabung menjadi satu dalam bentuk resepsi, tapi ayah Ralin tidak terlalu suka jika tamunya padat berdesakan, terbengkalai dan tidak menikmati acara.
Sebenarnya masih ada tradisi yang belum dilaksanskan yaitu bejango, pengantin laki-laki dan pengantin wanitanya datang ke rumah orang tua pengantin wanita membawa seserahan berupa makanan atau buah-buahan sebagai tanda bahwa pengantin laki-laki siap memenuhi kebutuhan pengantin wanita, juga sebagai simbol kemakmuran. Tapi berhubung Yaris berasal dari luar daerah dan acara juga dilaksanakan mendadak, maka ayah Ralin memutuskan meniadakan acara tersebut.
***
Setibanya di hotel.
"Kamu pesannya kamar apa sih, kok kita di lantai paling atas?" tanya Ralin. Mereka kini tengah menyusuri lorong menuju kamar yang akan mereka tempati.
"Suite room, kenapa? Mau pindah hotel?"
"Bukan gitu, jangan pake bunga ya, ntar aku bersin-bersin lagi?" tukas Ralin.
"Kalo udah disiapin dari pihak hotelnya, mau gimana lagi, lagian kan ada aku, obat alergi kamu," goda Yaris.
"Hm, modus."
"Modus sama istri sendiri, halal."
Benar saja dugaan Ralin, setibanya di kamar hotel, tempat tidur yang akan mereka tempati penuh dengan kelopak bunga mawar. Ralin tidak kaget, ini memang pasti disediakan untuk tamu pasangan baru menikah. Ada juga beberapa lilin aromateraphi yang di pasang di beberapa sudut, membuat hawa intim menyeruak di ruangan itu. Seperi di film-film roman yang ia tonton.
Setelah memberi tip pada porter hotel, Yaris segera menutup pintu. Di pandangnya Ralin yang sedang merapikan baju mereka dalam lemari. Wajahnya terlihat lelah, tapi itu tidak mengurangi niat Yaris meminta haknya. Dipeluknya sang istri dari belakang dan mulai mengecup bagian-bagian sensitif Ralin. Membuat desiran darah Ralin tidak beraturan rasanya dan organ di perutnya seperti saling pelintir satu sama lain.
"Mas, aku boleh mandi dulu?" kata Ralin dengan susah payah di tengah aksi tidak sabaran Yaris.
Yaris menggeleng, tanpa menghentikan aksinya, diputarnya tubuh sang istri agar mereka berhadapan. Ia mengecup bibir Ralin sekilas, kembali menciumnya dengan ******* lembut, Ralin kini mulai mengikuti nalurinya, melayani apa yang menjadi kemauan Yaris.
Yaris meraih tubuh Ralin, menggendongnya ala bridal style menuju tempat tidur. Ia memandang lekat wajah sang istri, mengecupnya mulai dari kening, mata, hidung, bibir, berlanjut mengabsen leher Ralin, membuat Ralin harus menahan geli dengan meremas pundak Yaris. "Aku takut mas," ucap Ralin ketika Yaris mulai meraba bagian dalam tubuh Ralin.
"It's okay, kita lakukan pelan-pelan."
Kini Yaris melucuti pakaian Ralin, hanya dalam hitungan detik tubuh Ralin kini tanpa sehelai benang. Yaris memperhatikan tubuh istrinya, ada beberapa bekas luka jahitan di sana yang mulai menghilang. Yaris bisa merasakan betapa sakit tubuh Ralin menahan luka itu. Di kecupnya tiap luka yang melekat pada tubuh sang istri, "aku akan menghilangkan luka ini selamanya," ujarnya lembut. Membuat Ralin terharu, dan meneteskan air mata. Ralin memasrahkan diri, berharap bisa memberi yang terbaik untuk suaminya.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka.
***
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, Ralin terbangun mendapati dirinya tertutup selimut dalam pelukan Yaris, matanya masih sangat berat untuk di buka. Bagaimana tidak, dia hanya baru tidur 2 jam setelah menuruti permintaan ke tiga Yaris. Tubuhnya terasa pegal, beberapa bagian terasa nyeri.
Ralin memindahkan tangan Yaris pelan-pelan agar tidak terbangun dan segera menuju kamar mandi.
"Ampuuuun, gini ya rasanya," Ralin bergumam sendiri di kamar mandi, sesekali merinhis menahan perih di area kewanitaannya. Yaris memang melakukannya dengan lembut dan memuja, tapi tetap saja menyakitkan karena itu yang pertama. Ralin segera menyiram tubuhnya dengan air hangat agar oegal dan rasa sakit itu menghilang. Sekilas perasaan itu datang lagi, rasa takut karena apa yang mereka lakukan akan sia-sia tanpa hasil. Buru-buru Ralin menepis pikiran buruknya. Mengingat masalah itu ternyata kebih menyakitkan dari rasa sakit yang di rasakannya sekarang.
***
Ralin mencoba membangunkan Yaris yang masih terlelap, inilah akibat lembur semalaman, susah bangun paginya.
"Mas bangun, udah mau siang nih, mandi gih!"
"Hemmm."
"Iiiiissshhh bangun ga, ato aku siram, mau?"
"Iya ini udah bangun, kok kamu mirip Mama sih, kalimatnya sama persis."
"Masa? Udah deh, cepetan mandi, ntar keburu siang."
"Kamu udah mandi?"
"Udah."
"Kok ga ngajak-ngajak?"
"Ngapain?"
"Aku maunya mandi berdua."
"Mas Yaris ih, jangan aneh deh!"
"Pokoknya besok mandinya berdua, ga ada protes, deal!"
Dengan malas dan masih menyandang muka bantal Yaris bergegas ke kamar mandi. Sebenarnya dia sudah berencana mandi berdua dengan sang istri sejak tadi malam, tapi Ralin malah curi start mandi duluan, buyarlah khaualannya menambah ronde pertarungan mereka.
Ralin memperhatikan tempat tidur yang berantakan dan terdapat noda bercak darah hasil pergulatan semalam. Segera Ralin menarik seprei dan bed cover itu untuk nanti di laundry oleh pegawai hotel.
Sekitar dua puluh menit Yaris telah selesai dari ritual mandi hingga berpakaian rapi. Wajahnya terlihat segar, dia segera mencari sang istri yang ternyata duduk di balkon.
"Hei, di sini ternyata."
"Udah selesei? mau sarapan sekarang?" tawar Ralin.
Yaris mengecup ujung kepala sang istri dan ikut duduk menikmati pemandangan indah dari balkon kamar mereka.
"Kita sarapan di kamar aja, aku udah pesen?"
"Oh, oke."
"Nanti siang anterin aku beli baju ya, baju yang bersih tinggal ini doang!"
"Itu baju formal semua. Kan rencananya kemarin di sini cuma tiga hari, taunya kebablasan, aku bawa baju santainya sedikit, tapi aku seneng deh bapak majuin pernikahan kita."
"Syukurlah, aku sempet mikir kamu bakal kesel."
"Sama suami ga boleh mikir negatif, bapak juga alasannya masuk akal kok."
"Kerjaan mas gimana?"
"Hari ini Papa pulang duluan, dia besok yang ngawasin kantor sementara aku disni, tinggal minta kirim laporannya via email aja."
"Mama juga ikut pulang?"
"Iyalah, Papa mana tahan jauh-jauh dari Mama. Aku juga kayaknya bakal gitu deh ke kamu, ga bisa jauh-jauh, nanti kalo aku dinas keluar kamu harus ikut!"
"Harus ya?"
"Wajib!"
Obrolan mereka terhenti oleh ketukan pintu pelayan hotel.
"Kayaknya makanannya udah dateng deh, aku buka dulu," Ralin beranjak dari tempat duduknya dan membukakan pintu pelayan yang datang membawa pesanan mereka.
"Silahkan dinikmati, ada lagi yang bisa saya bantu?" ucap pelayan itu dengan ramahnya.
"Ini aja deh kayaknya mba."
"Dompet aku di atas nakas, Sayang." ujar Yaris setengah berteriak dari arah balkon.
Seakan mengerti maksud suaminya yang ingin memberikan tip, Ralin segera meraih dompet Yaris, sedikit kaget setelah membuka dompet sang suami yang ternyata terdapat foto dirinya yang diambil secara diam-diam. Melihatnya membuat Ralin senyum sendiri.
"Ini buat..."
"Jangan Mba, ga usah, Mba pengantin baru ya?"
"Iya."
"Kalo gitu saya langsung permisi ya, mari!"
"Terima kasih." ucap Ralin sambil tersenyum dengan pelayan yang kira-kira seumuran dengannya.
Pelayan itupun keluar dan Ralin menyiapkan sarapan untuk dia dan suaminya.
***
"Yang ini bagus ga?" Yaris menunjukkan kaos oblong berwarna navy dengan tulisan gre*n l*ght di bagian dada pada Ralin.
__ADS_1
"Bagus."
"Kalo yang ini?" sebuah kemeja lengan pendek berwarna army di tunjukkan Yaris.
"Nggak."
"Yang ini aja, udah yuk, udah empat item lho nih!" pilihan Ralin jatuh pada kemeja kotak-kotak berwarna putih kombinasi.
"Mana cukup buat 3 hari ke depan?"
"Cukuplah, kan yang kotor udah di laundry, nanti malam juga di anterin."
"Oya ya, lupa. Ya udah yuk bayar!"
Setelah selesai bertransaksi, Yaris dan Ralin menuju sebuah restaurant untuk makan siang. Di tengah perjalanan Ralin bertemu sosok yang sangat ingin ia temui sejak 3 tahun lalu.
"Dokter Lian," gumamnya.
"Siapa sayang? Kamu kenal?"
"Itu dokter Lian, dia yang tangani aku waktu kecelakaan dulu. Ada yang aku mau tanyain sama dia."
Ralin segera mendekati orang yang bernama dokter Lian tersebut, dia adalah dokter yang mengoperasinya ketika rahimnya harus di angkat. Yaris hanya mengikuti kemauan sang istri yang terlihat antusias ketika melihat dokter itu yang tidak jauh dari posisi mereka.
"Dokter Lian?"
"Iya, maaf, dengan siapa ya?"
"Saya Ralin, pasien dokter 3 tahun lalu."
"Ralin?"
"Ralin Aninta Wahyu, pasien kecelakaan di Pusuk, Lombok Utara. Dokter ingat?"
Yaris memandangi Ralin dan dokter itu bergantian, dia menduga ada hal penting yang ingin istrinya bicarakan dengan dokter itu.
"Oh ya, Ralin, maaf saya lupa, udah lama ya soalnya." dokter itu terlihat kaget ketika Ralin mengingatkannya tentang kecelakaan.
"Saya dulu nyari dokter setelah masa penyembuhan, tapi asisten dokter bilang dokter sedang dalam perjalanan ke luar negri."
"Memang ada apa?"
"Kenalkan, ini suami saya."
Yaris menjulurkan tangan menyalami sang dokter, "Yaris."
"Lian."
"Sayang, aku bisa minta waktu sebentar ga berdua sama dokter Lian?" Ralin dengan wajah yang entah gugup, khawatir atau antusias meminta izin pada suaminya untuk bicara empat mata.
"Ok, kamu bicaranya di dalam restaurant aja, nanti aku tunggu di meja lain."
Ralin segera mengangguk, dan mengajak dokter itu masuk ke dalam sebuah restaurant.
Ralin memilih meja di pojokan, dan Yaris menunggu jarak empat meja dari meja Ralin.
Posisi Ralin membelakangi Yaris, sehingga Yaris hanya bisa melihat wajah dokter Lian.
"Saya ingin menanyakan sesuatu sama dokter, semoga dokter bisa menjawab rasa penasaran saya selama tiga tahun ini."
"Iya, semoga saja, apa yang ingin Ralin tanyakan?"
"Tiga tahun lalu, operasi saya yang ke dua, operasi itu saat dimana rahim saya di angkat. Mungkin tidak ada yang menyadari, saat itu di tengah-tengah operasi saya tiba-tiba sadar, saya bisa mendengar percakapan dokter dengan orang-orang yang ada di ruangan itu, mungkin hanya berlangsung singkat, hanya satu menit. Tapi saya sangat jelas mendengar semua pembicaraan itu."
Mata Ralin mulai mengembun, sebelum melanjutkan ceritanya dia segeka menyeka matanya.
"Dokter berkata, tepatnya mungkin bertanya pada asisten atau entah siapa saat itu, 'kenapa pakai silet? harusnya tidak seperti ini'
dan yang lain membacakan denyut jantung, tekanan darah dan dokter juga meminta tambahan darah, setelah itu saya kembali tidak sadarkan diri."
Lagi-lagi air mata Ralin ingin keluar tapi segera ia cegah.
"Apa karena kejadian itu rahim saya harus di angkat? apakah itu sebuah kesalahan? saya sudah memaafkan jika itu memang tidak di sengaja, tapi saya ingin memastikan kebenarannya."
Dokter Lian tampak terkejut mendengar cerita dan pertanyaan Ralin. Dia mencoba berpikir dan memilih kata yang tepat untuk menjawab yang Ralin tanyakan.
"Saya pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya, dan sesuai kode etik kedokteran kami sudah memberi sanksi pada dokter tersebut saat itu."
Dokter Ralin mengambil napas dalam dan menghembuskannya.
"Memang benar ada kesalahan yang dilakukan asisten saya ketika melakukan pembedahan waktu itu, saya juga salah tidak mengawasi ketika saya meminta dia melakukan tindakan awal, saya benar-benar minta maaf. Karena kesalahan saya mengakibatkan hal yang fatal. Setelah itupun saya juga drop, hampir depresi dan pergi menenangkan diri."
Dokter Lian pun meneteskan air mata.
Yaris yang melihat kejadian itu di buat penasaran.
"Sekali lagi saya minta maaf!"
"Saya sudah memaafkan dokter, dan terimakasih sudah mengatakan kebenarannya."
Dokter Lian berdiri dari duduknya dan meraih tangan Ralin, segera di peluknya mantan pasiennya itu dengan berlinang air mata.
"Terima kasih, sekarang saya merasa lega, dan bisa hidup tenang, terima kasih Ralin."
"Sama-sama dok, mohon jangan di ulangi pada pasien yang lain!"
"Pasti. Saya akan mengingatnya, selalu. Kalau begitu saya pamit dulu, anak-anak menunggu saya di game center."
__ADS_1
"Iya dok, hati-hati."
Ralin menuju ke meja dimana Yaris menunggunya. Dia melihat suaminya yang sudah dilanda rasa penasaran