
Lombok
"Mamak gimana kabar? Bapak juga gimana?"
"Baik-baik aja mak, mamak sama bapak baik-baik aja, kamu gimana kabarnya? Suamimu bagaimana?"
"Yaris sama Ralin baik-baik aja mak, ini lagi persiapan resepsi di sini, nanti mamak sama bapak ke sini dampingi Ralin ya."
Lama tak menjawab permintaan sang putri Rani merasa ragu dia dan suaminya bisa menghadiri acara resepsi anaknya di tempat di Bandung. Sebenarnya ayah Ralin, pak Tamrin kini sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Lombok. Namun pak Tamrin melarang untuk memberitahu Ralin. Dia tidak mau anaknya yang baru menikah itu khawatir dengan keadaannya. Itulah alasan keterlambatan pengiriman kopi untuk kedai Ralin, karena biasanya pak Tamrinlah yang mengatur pengiriman kopi tersebut sampai ke tangan Ralin. Dan kini pak Tamrin telah mengutus seorang pegawainya untuk menggantikannya karena dalam keadaan sakit. Kemungkinan pegawai itu masih bingung dengan prosedur pengiriman sehingga membuat proses pengiriman terlambat.
"Hallo mak, Mamak ga apa-apa?"
"Iya nak , ga apa-apa, insha Allah nanti Mamak dan Bapak akan dampingi Ralin." Rani mencoba tenang agar Ralin tidak curiga dengan keadaan mereka di Lombok.
"Sudah ya nak, Mamak mau masak dulu, kamu jaga diri enggih, baik-baik sama suamimu."
Rani mengakhiri sambungan telepon dengan sang anak, tidak ingin lebih banyak berbohong lagi pada Ralin. Matanya kembali menatap Tamrin yang kini terbujur lemah di atas brangkar rumah sakit. Penyakit komplikasi yang di alami Tamrin membuatnya harus dirawat lebih lama. Rani terus menerus meneteskan air mata, bagaimana tidak sedih, Tamrin yang awalnya segar bugar tiba-tiba drop beberapa hari setelah hajatan pernikahan anaknya.
***
Pagi itu, seperti biasanya Ralin menyiapkan keperluan Yaris. Genap satu bulan sejak pernikahan mereka, pasangan itu banyak melewati quality time berdua. Tidak salah kata orang, pacaran setelah menikah itu menyenangkan. Yaris yang masih tertidur pulas tidak di bangunkannya mengingat beberapa hari ini suaminya itu sering pulang terlambat karena lembur. Yaris pernah mengusulkan kalau mereka menginap di rumah orang tuanya jika Ralin merasa kesepian saat Yaris sibuk dan pulang larut, tapi di tolak Ralin karena ingin lebih mandiri. Kesepian tidak masalah baginya.
Ralin kini telah berpindah ke dapur, menyiapkan sarapan untuknya dan Yaris. Sup jagung dan tempe bacem menjadi pilihannya kali ini. Semua bahan telah ia siapkan sejak tadi malam, pagi itu tinggal ia eksekusi di dapur hijaunya.
Asik dengan kesenangannya di dapur, Yaris tiba-tiba memberi back hug pada istrinya yang langsung disambut geraman oleh si pemilik tubuh.
"Hmmm jangan mulai deh, ini lagi goreng lho, ntar kecipratan!" ketus Ralin.
Seolah tidak mempedulikan pantangan sang istri, Yaris tetap saja pada pendiriannya.
"Biarin deh aku yang kena panas, daripada kamu yang sakit, lagian kamu sih kerajinan, bangunnya pagi langsung sibuk, ga ada gitu niat-niat peluk suami." ungkap Yaris yang masih pada posisi awalnya.
"Ini wasiat Mama lho, Mamak juga malah, katanya wanita tu wajib masakin suami sarapan biar inget istrinya sampai pagi lagi. Bener ga sih, kamu ada efek ga inget aku terus?"
"Kamu ga masakin sarapan juga pasti aku bakal inget kamu terus, aku ga masalah sarapannya simpel yang penting sama istriku."
"Mulai deh receh."
"Serius."
"Ini aku udah selesei lho kamu mau gini terus?"
"He eh."
"Yaris, lepasin ga?"
"Enggak."
"Kamu mending bikin kopi deh, aku ngatur meja, ya ya ya!"
Yaris semakin mengeratkan pelukan dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Ralin. Seperti anak kecil yang tidak mau mainannya di ambil. Susah untuk dihentikan. Ralin harus memutar otak agar Yaris menghentikan aksinya.
"Sayang, aku mau ngasih morning kiss lho, beneran kamu ga mau lepas nih?" dengan nada manja dan merayu Ralin akhirnya mengeluarkan kalimat itu, kalimat yang keramat baginya.
Dengan segera Yaris melepaskan back hugnya dari tubuh Ralin dan cup...
Kecupan singkat mendarat di pipi Yaris.
"Udah ya, yuk sarapan!" sambil menarik lengan sang suami dengan tangan kanan dan tangan kiri kembawa tempe bacemnya, Ralin menggeret Yaris ke meja makan. Kini semua menu sarapan sudah siap di meja makan.
"Masa cuma itu?" protes Yaris.
"Nanti kan juga bisa."
"Nanti ya nanti dong, ga masuk itungan sekarang."
"Masa belum puas juga?" balas Ralin.
"Laki-laki itu ga pernah puas sayang."
"Berarti kalo kamu ga pernah puas sama aku, kamu mau nyari yang lain?" Ralin semakin menggoda suaminya.
"Ya enggaklah, amit-amit, maksudnya bukan itu."
__ADS_1
"Teruuuusss?" sambil menghidangkan piring yang yang telah berisi nasi dan lauknya Ralin meladeni percakapan yang sebenarnya tidak penting untuk mereka bahas itu, tapi mengasikkan bagi Ralin.
"Kalo gitu kita praktek langsung," tanpa aba-aba Yaris menarik tubuh Ralin hingga dia terjatuh di atas pangkuan Yaris. "Maksudnya yang ini."
Ciuman mendalam di berikan Yaris langsung di bibir merah muda Ralin. Keduanya hanyut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri. Jika menyadari Ralin sudah lemah, malah Yaris akan lebih agresif.
Dengan nafas yang sedikit tersengal, Ralin mencoba menenangkan Yaris yang kini menggendongnya menuju kamar, "Supnya keburu dingin lho."
"Ga apa-apa dingin, kan kita yang panas."
Tu kan gagal.
"Kamu emang ga capek kemarin habis lembur?"
"Untuk yang ini ga ada istilah capek, salah sendiri kamu yang mancing."
Ga mempan, fine, aku nyerah.
Ralin membuka pintu kamar mereka dan Yaris yang menutupnya dengan kaki karena masih dalam posisi menggendong.
Acara sarapan itupun harus tertunda, karena jika sudah memulai pantang bagi Yaris untuk menyudahi jika belum tuntas. Berhubung sudah halal juga.
***
Ddrrrttt...ddrrrt
Getaran ponsel Yaris yang berada di atas meja kerja membuatnya harus menghentikan aktivitas membaca laporan saat itu. Tertera nama Mega di layar smartphonenya.
'Mega, kok tumben?'
"Ya Ega, tumben lo nelpon gue, mau minta restu?"
"Ris, lo di kantor?" Pertanyaan Yaris di abaikan.
"Iya, lo kesini aja bawa sajenan, kalo enak gue mulusin."
"Gue lagi ga mau becanda, Ralin dimana sekarang?"
"Ada di apatemen, kenapa lo ga langsung nelpon?"
"Ada apa sih, to the point deh!"
"Ris, mertua lo, Om Tamrin, meninggal tadi pagi."
"Lo jangan kelewatan Ga, kalo yang gini lo udah keterlaluan."
"Gue serius Ris, makanya gue bingung ngasih taunya ke Ralin."
Seketika itu juga Yaris membeku, antara percaya dan tidak pada kabar yang baru ia dengar.
"Hallo Ris, lo masih denger ga?"
"Hah, iya gue disini." Yaris gelagapan karena masih syok, terngiang segala pesan ayah mertuanya ketika acara pernikahannya sebulan lalu.
"Lo mending sekarang pulang, tapi jangan kasih tau Ralin dulu, ntar gue nyusul ke tempat lo. Kak Arya udah berangkat duluan dari subuh tadi."
"Ok, kita ketemu di tempat gue."
Tanpa berpikir panjang, Yaris meninggalkan segala pekerjaan yang ada dihadapannya. Dalam pikirannya kali ini hanya mencari cara bagaimana menyampaikan kabar duka ini pada sang istri.
Dalam perjalanan pulang Yaris masih belum menemukan alasan yang tepat jika nanti Ralin menanyakan kepulangannya yang lebih awal. Yaris terlebih dahulu menelpon Mama dan Papanya agar mereka juga bersiap mendampingi Ralin. Yaris juga membutuhkan pesawat pribadi sang Papa agar mereka bisa tiba di Lombok lebih cepat.
***
"Sayang, kamu dimana?"
Setibanya di apartemen Yaris langsung mencari keberadaan Ralin. Tidak menemukan Ralin di dapur, Yaris segera menuju kamar. Di lihatnya Ralin sedang sibuk merapikan baju-baju kerjanya di lemari. Yaris semakin tak tega harus memberitahu Ralin apa yang terjadi.
"Kamu kok udah pulang, ada yang kelupaan?"
"Enggak, tiba-tiba aku kangen kamu aja," jawab Yaris sedikit gugup.
Mendengat alasan Yaris, Ralin langsung memicingkan mata, menunjukkan tatapan tajamnya pada Yaris. Ini tidak seperti biasanya menurut Ralin, entah itu alasan Yaris atau nada bicara yang sangat aneh di telinganya.
__ADS_1
"Aku punya permintaan buat kamu, kita pergi jalan-jalan ya sekarang, kamu kemasi koper kita deh, yah!"
"Jangan aneh deh, ngomong aja sekarang, mau minta apa?" Ralin masih asik dengan kegiatannya merapikan baju-baju Yaris yang baru ia selesai setrika.
Yaris semakin bingung apa yang harus dikatakan pada istrinya, jika ia beritahu sekarang, tidak ayal Ralin akan histeris dan memperlambat perjalanan mereka.
"Kita bawa satu koper aja ya, baju aku sama baju kamu jadiin satu."
"Ini kamu serius kita mau pergi? Emang mau kemana bawa koper segala?" Ralin masih tidak percaya dengan Yaris yang mengemas baju mereka ke dalam koper berukuran besar.
"Kamu siap-siap aja, 10 menit lagi kita jalan, aku pengen kamu nemuin seseorang," jawab Yaris seadanya. Hanya kalimat itu yang terlintas di otaknya.
"Kok buru-buru sih, kamu aneh deh, muka kamu juga ga ada keliatan senengnya mau ngajak jalan-jalan."
Yaris tidak ingat mungkin wajahnya tidak pernah menyunggingkan senyuman sedari tadi. Bingung bagaimana harus mengekspresikan wajahnya di depan sang istri. Ia segera meraih kedua tangan Ralin agar bisa meyakinkannya.
Mencoba memasang wajah tenang, Yaris memandang lekat wajah sang istri.
"Sayang, kamu percaya kan sama aku, sekali ini aja, jangan tanya kenapa! Ada seseorang yang pengen ketemu kamu, secepatnya, ya."
Kalimat-kalimat Yaris masih menjadi teka-teki bagi Ralin. Entah kenapa Ralin merasa ada yang disembunyikan suaminya itu. Ia ingin jawaban, untuk mendapatkannya ia hanya menuruti kemauan Yaris.
Ralin segera berganti baju, memutuskan memakai blouse hitam selutut dengan motif bunga kecil dan celana jeans panjang. Tidak ingin kentara, Yaris hanya memakai kemeja putih dengan celana kain sebagai outfitnya. Setelah selesai bersiap-siap, mereka segera menuju mobil yang terparkir di basement.
"Kenapa buru-buru banget sih?" Ralin tampak tidak suka, apalagi dia tidak tau alasan Yaris mengajaknya pergi mendadak.
"Nanti aku jelasin, sabar ya!"
Yaris meminta Mega menunggu mereka di bandara agar tidak banyak waktu terbuang.
"Ini kita mau ke bandara?" karena arah yang mereka tuju memasuki wilayah Bandar Udara International Husein Sastranegara.
Yaris mengangguk, "Inget ya ga ada kata 'kanapa atau kemana'" pinta Yaris.
Sesampai di bandara, Yaris menggandeng Ralin menuju ruang tunggu khusus penumpang pesawat pribadi. Di sana sudah ada Mega dan kedua mertuanya. Ralin bertambah curiga, hanya dia yang tidak tahu kemana tujuan mereka. Ralin merasa seperti di kerjai.
"Ma, Pa. Ini sebenarnya kita mau kemana sih?"
Mama Ayu segera memeluk tubuh mungil Ralin, diusapnya punggung menantunya itu untuk menenangkan.
"Kamu tenang ya, nanti juga tahu, kita ngomong di pesawat."
Ralin mamandang wajah Mega menuntut penjelasan. Tapi seolah kompak dengan Yaris dan mertuanya, Megabpun bungkam, menambah tanda tanya besar pada diri Ralin. Tidak punya pilihan lain, Ralin mengikuti permainan orang-orang yang ada di sekitarnya itu.
Tak lama seorang petugas bandara memberitahukan bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi telah siap.
***
Di dalam pesawat keadaan masih hening, tidak ada yang berani bicara. Mega memilih duduk menyendiri jauh dari tempat Yaris dan Ralin, ia sebenarnya sudah tidak tahan ingin menangis. Matanya beberapa kali berkaca-kaca tapi segera ia hapus detik itu juga. Ia tidak akan tahan melihat Ralin nanti jika mengetahui apa yang terjadi.
Yaris masih berusaha tenang. Tangannya tak sedetikpun lepas dari genggaman Ralin. Tapi Ralin tentu saja resah, dalam pikirannya ini bukan perjalanan yang menyenangkan karena wajah orang-orang yang disekitarnya tidak memancarkan kesenangan.
Ralin sudah tidak tahan. Setidaknya dia harus tahu kemana tujuan mereka.
"Sayang tadi kamu bilang punya permintaan, sekarang kasih tahu aku deh! Ini sebenarnya kita mau kemana?"
Merasa tidak mungkin menyembunyikannya dari Ralin, Yaris mencoba mencari kata yang tepat agar Ralin tidak syok.
"Kita ke tempat kamu sayang...kita mau ke Lombok. Bapak pengen ketemu."
Seketika suasana hati Ralin berubah gusar. Ada rasa ngilu yang mendera. Jantungnya berdetak tak karuan, bukan seperti degupan orang yang jatuh cinta, tapi lebih seperti akan menghadapi perpisahan. Tanpa diminta, mata Ralin pun menghangat, ia berusaha menahan luapan cairan kesedihan itu.
"Bapak?" dada Ralin merasakan sesak ketika kata 'bapak' keluar dari mulutnya sendiri, "memang bapak kenapa?"
Instingnya benar, ini bukan hal yang menyenangkan.
"Sekarang aku boleh ngasih tahu ga permintaan aku?"
Ralin ragu, tapi ia mengangguk saja. Dia tidak ingin bicara banyak lagi.
"Kamu nanti di depan Bapak harus kuat ya, ga boleh cengeng atau histeris, bisa kan?!"
Untuk kali ini Ralin tidak menjawab. Dia hanya tertunduk. Memorinya memutar kembali kenangan-kenangangannya dengan sang ayah. Sampai kepulangannya diiringi dengan keikutsertaan Mega dan mertuanya, dia bisa menyimpulkan dua hal, ayahnya sakit parah atau ..., akh dia tidak mau memikirkannya. Air matanya terus mengalir, dadanya terasa di himpit, meski sudah menahan sekuat tenaga Ralin akhirnya menyerah, tangisnya pecah, Yaris segera memeluknya. Dia tidak bisa menyangkal, jika ayahnya hanya sekedar sakit, Mega dan mertuanya tidak mungkin ikut dengannya, tidak mungkin mereka mengajaknya pulang dengan pesawat pribadi. Logikanya tidak bisa lagi menyangkal kenyataan, Ralin semakin terguncang, tubuhnya bergetar, dia tidak siap jika ini adalah perpisahan.
__ADS_1
Perpisahan yang akan berlangsung selamanya dengan cinta pertamanya. 'Bapak maafkan Ralin' ucapnya terus dalam hati. Ralin ingin berteriak tapi tertahan, dan pandangannya mulai gelap lima belas menit sebelum mereka mendarat.